Jember dan Relevansi Kebudayaan

Mayoritas penduduk Jember adalah suku Jawa, dan menganut sebagian besar agama Islam. Selain itu terdapat suku Using dan Madura. Juga suku Tionghoa yang banyak bermukim di wilayah kota Jember. Suku Madura lebih di bagian utara sedangkan suku Jawa lebih dominan di daerah selatan dan pantai pesisir. Sehingga menjadi timbulnya sebuah kebudayaan bahasa yang dipadukan dalam suatu lingkup kemasyarakatan antara bahasa Jawa dan Madura.

Dua Bahasa inilah yang tidak bisa di pisahkan dan sangat kental di pakai orang Jember dalam komunikasi sehari- hari. Sehingga umum bagi masyarakat di Jember menguasai dua bahasa daerah tersebut dan juga saling memunculkan pengaruh yang terwujud sebagai ungkapan khas Jember. Karna pencampuran dua budaya Bahasa ini maka terciptalah sebuah kebudayaan baru yang di sebut budaya pendalungan.

Pendalungan sendiri adalah hasil dari penetrasi dari kedua budaya tersebut, sehingga menjadi ciri atau karakteristik yang unik serta relevan bagi masyarakat Jember sampai saat ini. Salah satu warisan kebudayaan dan seni di masyarakat Jember adalah jaran kencak. Kebudayaan yang saat ini masih bisa bertahan. Hal seperti ini banyak di minati di masyarakat desa Jember bagian selatan yang mempunyai kegemaran ketika ada kegiatan hajatan akan menggelar jaran kencak sebagai warna hiburan para tamu yang di undang. Namun, kuda yang di pakai bukanlah kuda sembarangan. Tetapi kuda sudah mahir dan di latih mulai dini untuk bagaimana bisa menari dan mengikuti irama musik yang ditabuh oleh pengiringnya. Untuk melengkapi keunikan dan menarik simpatisan maka kuda tersebut di hias rupa dengan berbagai cara agar kelihatan lebih indah dan mempesona. Maka dengan cara apa pun pemerintah dan masyarakat Jember selalu responsif dengan iklim kebudayaan agar warisan nenek moyang tidak vakum di telan masa. Sebab, dengan kebudayaan kita akan bisa bertahan dari hedonisme kehidupan sebagai jalan untuk mencari suasana yang lebih segar. Karena itulah kebudayaan hadir sebagai puncak kepedulian generasi masa depan.

*) Penulis adalah mahasiswa IAIN Jember Semester 4 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.