alexametrics
28.3 C
Jember
Saturday, 22 January 2022

Kurikulum 2022, Bagaimana Nasib Pendidikan Agama?

Mobile_AP_Rectangle 1

PEPATAH ganti menteri ganti kurikulum lagi-lagi menjadi guyonan sekaligus perbincangan serius dunia pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, belum sempurna Kurikulum 2013 diterapkan dengan berbagai dinamikanya, pemerintah sudah mengesahkan Kurikulum Prototipe pada bulan November 2021 sebagai opsi kurikulum pemulihan pendidikan karena dampak pandemi. Mulai tahun 2022, kurikulum ini akan diterapkan di Sekolah Penggerak dan SMK Pusat Keunggulan, serta menjadi opsi kurikulum untuk sekolah yang lain.

Selain karena dampak pandemi, pemerintah telah mencatat adanya titik-titik kelemahan pada kurikulum sebelumnya, seperti terlalu luas kompetensi kurikulumnya, dikesampingkannya kompetensi teknologi sebagai bekal menghadapi abad 21, kewajiban menerapkan kurikulum tanpa ada pilihan yang disesuaikan dengan satuan pendidikan, serta komponen perangkat pembelajaran yang ribet dan banyak, dan masih banyak lainnya. Hal ini disebabkan ketidakmampuan Kurikulum 2013 dalam mengoptimalkan tiga unsur pendukung keberhasilannya, yakni konsep bahan ajar, budaya sekolah, dan pembinaan pemerintah. Misalkan dalam lemahnya konsep mata pelajaran Pendidikan Agama, Kemendikbud menambahkan indikator budi pekerti (pendidikan karakter), jika memang Kurikulum 2013 ingin fokus pada pendidikan karakter, seharusnya konsep bahan ajarnya bukan hanya bertumpu pada pendidikan agama, tapi semua mata pelajaran.

Pendidikan agama seharusnya menjadi topik diskusi yang panjang. Karena diposisikan sebagai poros keberhasilan pendidikan karakter K-13. Tapi, pada kenyataannya, selama sembilan tahun diterapkan, pendidikan agama dan budi pekerti jarang sekali disentuh oleh pelatihan atau seminar, justru kegiatan tersebut diisi dengan materi keprofesian dan administrasi sekolah. Sehingga, pemerintah dan guru menjadi lupa tujuan awal diciptakannya Kurikulum 2013, bisa jadi pendidikan agama hanya sebagai pemanis kurikulum.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pendidikan karakter Kurikulum 2013 akan dikembangkan oleh Kurikulum Prototipe 2022. Arah pengembangannya meliputi orientasi holistik, yakni pendidikan harus bisa mencakup keseluruhan potensi siswa (kognitif, afektif, psikomotorik, akademik, dan nonakademik). Kedua, kurikulum berbasis kompetensi bukan berbasis konten dan materi tertentu. Ketiga, kurikulum yang kontekstual dan personal bahwa pembelajaran harus mengacu kepada potensi setiap individu peserta didik. Sehingga, karakter kurikulum ini terlihat lebih fleksibel terhadap pengembangan potensi dasar, serta mendorong pendidikan yang sesuai dengan fitrah setiap peserta didik.

Ada yang menarik pada kurikulum 2022. Untuk mewujudkan fleksibilitas dan personalitas kurikulum ini, profil pelajar Pancasila sebagai cabang pendidikan karakter menjadi poin utama. Nantinya 20–30 persen JP (Jam Pelajaran) akan digunakan untuk implementasi profil pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis proyek. Fungsi dari pembelajaran berbasis proyek ini adalah untuk memberikan pengalaman dalam belajar (experiential learning) serta mengintegrasikan materi esensial dari berbagai disiplin ilmu. Sedangkan tema profil pelajar Pancasila meliputi bangunlah jiwa dan raganya, berekayasa dan berteknologi untuk membangun NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, kewirausahaan, dan suara demokrasi. Harapan pemerintah dari kurikulum ini adalah dapat membantu guru dalam mengembangkan karakter dan soft skill siswa secara efektif dan fleksibel yang menghasilkan proyek.

- Advertisement -

PEPATAH ganti menteri ganti kurikulum lagi-lagi menjadi guyonan sekaligus perbincangan serius dunia pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, belum sempurna Kurikulum 2013 diterapkan dengan berbagai dinamikanya, pemerintah sudah mengesahkan Kurikulum Prototipe pada bulan November 2021 sebagai opsi kurikulum pemulihan pendidikan karena dampak pandemi. Mulai tahun 2022, kurikulum ini akan diterapkan di Sekolah Penggerak dan SMK Pusat Keunggulan, serta menjadi opsi kurikulum untuk sekolah yang lain.

Selain karena dampak pandemi, pemerintah telah mencatat adanya titik-titik kelemahan pada kurikulum sebelumnya, seperti terlalu luas kompetensi kurikulumnya, dikesampingkannya kompetensi teknologi sebagai bekal menghadapi abad 21, kewajiban menerapkan kurikulum tanpa ada pilihan yang disesuaikan dengan satuan pendidikan, serta komponen perangkat pembelajaran yang ribet dan banyak, dan masih banyak lainnya. Hal ini disebabkan ketidakmampuan Kurikulum 2013 dalam mengoptimalkan tiga unsur pendukung keberhasilannya, yakni konsep bahan ajar, budaya sekolah, dan pembinaan pemerintah. Misalkan dalam lemahnya konsep mata pelajaran Pendidikan Agama, Kemendikbud menambahkan indikator budi pekerti (pendidikan karakter), jika memang Kurikulum 2013 ingin fokus pada pendidikan karakter, seharusnya konsep bahan ajarnya bukan hanya bertumpu pada pendidikan agama, tapi semua mata pelajaran.

Pendidikan agama seharusnya menjadi topik diskusi yang panjang. Karena diposisikan sebagai poros keberhasilan pendidikan karakter K-13. Tapi, pada kenyataannya, selama sembilan tahun diterapkan, pendidikan agama dan budi pekerti jarang sekali disentuh oleh pelatihan atau seminar, justru kegiatan tersebut diisi dengan materi keprofesian dan administrasi sekolah. Sehingga, pemerintah dan guru menjadi lupa tujuan awal diciptakannya Kurikulum 2013, bisa jadi pendidikan agama hanya sebagai pemanis kurikulum.

Pendidikan karakter Kurikulum 2013 akan dikembangkan oleh Kurikulum Prototipe 2022. Arah pengembangannya meliputi orientasi holistik, yakni pendidikan harus bisa mencakup keseluruhan potensi siswa (kognitif, afektif, psikomotorik, akademik, dan nonakademik). Kedua, kurikulum berbasis kompetensi bukan berbasis konten dan materi tertentu. Ketiga, kurikulum yang kontekstual dan personal bahwa pembelajaran harus mengacu kepada potensi setiap individu peserta didik. Sehingga, karakter kurikulum ini terlihat lebih fleksibel terhadap pengembangan potensi dasar, serta mendorong pendidikan yang sesuai dengan fitrah setiap peserta didik.

Ada yang menarik pada kurikulum 2022. Untuk mewujudkan fleksibilitas dan personalitas kurikulum ini, profil pelajar Pancasila sebagai cabang pendidikan karakter menjadi poin utama. Nantinya 20–30 persen JP (Jam Pelajaran) akan digunakan untuk implementasi profil pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis proyek. Fungsi dari pembelajaran berbasis proyek ini adalah untuk memberikan pengalaman dalam belajar (experiential learning) serta mengintegrasikan materi esensial dari berbagai disiplin ilmu. Sedangkan tema profil pelajar Pancasila meliputi bangunlah jiwa dan raganya, berekayasa dan berteknologi untuk membangun NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, kewirausahaan, dan suara demokrasi. Harapan pemerintah dari kurikulum ini adalah dapat membantu guru dalam mengembangkan karakter dan soft skill siswa secara efektif dan fleksibel yang menghasilkan proyek.

PEPATAH ganti menteri ganti kurikulum lagi-lagi menjadi guyonan sekaligus perbincangan serius dunia pendidikan Indonesia. Bagaimana tidak, belum sempurna Kurikulum 2013 diterapkan dengan berbagai dinamikanya, pemerintah sudah mengesahkan Kurikulum Prototipe pada bulan November 2021 sebagai opsi kurikulum pemulihan pendidikan karena dampak pandemi. Mulai tahun 2022, kurikulum ini akan diterapkan di Sekolah Penggerak dan SMK Pusat Keunggulan, serta menjadi opsi kurikulum untuk sekolah yang lain.

Selain karena dampak pandemi, pemerintah telah mencatat adanya titik-titik kelemahan pada kurikulum sebelumnya, seperti terlalu luas kompetensi kurikulumnya, dikesampingkannya kompetensi teknologi sebagai bekal menghadapi abad 21, kewajiban menerapkan kurikulum tanpa ada pilihan yang disesuaikan dengan satuan pendidikan, serta komponen perangkat pembelajaran yang ribet dan banyak, dan masih banyak lainnya. Hal ini disebabkan ketidakmampuan Kurikulum 2013 dalam mengoptimalkan tiga unsur pendukung keberhasilannya, yakni konsep bahan ajar, budaya sekolah, dan pembinaan pemerintah. Misalkan dalam lemahnya konsep mata pelajaran Pendidikan Agama, Kemendikbud menambahkan indikator budi pekerti (pendidikan karakter), jika memang Kurikulum 2013 ingin fokus pada pendidikan karakter, seharusnya konsep bahan ajarnya bukan hanya bertumpu pada pendidikan agama, tapi semua mata pelajaran.

Pendidikan agama seharusnya menjadi topik diskusi yang panjang. Karena diposisikan sebagai poros keberhasilan pendidikan karakter K-13. Tapi, pada kenyataannya, selama sembilan tahun diterapkan, pendidikan agama dan budi pekerti jarang sekali disentuh oleh pelatihan atau seminar, justru kegiatan tersebut diisi dengan materi keprofesian dan administrasi sekolah. Sehingga, pemerintah dan guru menjadi lupa tujuan awal diciptakannya Kurikulum 2013, bisa jadi pendidikan agama hanya sebagai pemanis kurikulum.

Pendidikan karakter Kurikulum 2013 akan dikembangkan oleh Kurikulum Prototipe 2022. Arah pengembangannya meliputi orientasi holistik, yakni pendidikan harus bisa mencakup keseluruhan potensi siswa (kognitif, afektif, psikomotorik, akademik, dan nonakademik). Kedua, kurikulum berbasis kompetensi bukan berbasis konten dan materi tertentu. Ketiga, kurikulum yang kontekstual dan personal bahwa pembelajaran harus mengacu kepada potensi setiap individu peserta didik. Sehingga, karakter kurikulum ini terlihat lebih fleksibel terhadap pengembangan potensi dasar, serta mendorong pendidikan yang sesuai dengan fitrah setiap peserta didik.

Ada yang menarik pada kurikulum 2022. Untuk mewujudkan fleksibilitas dan personalitas kurikulum ini, profil pelajar Pancasila sebagai cabang pendidikan karakter menjadi poin utama. Nantinya 20–30 persen JP (Jam Pelajaran) akan digunakan untuk implementasi profil pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis proyek. Fungsi dari pembelajaran berbasis proyek ini adalah untuk memberikan pengalaman dalam belajar (experiential learning) serta mengintegrasikan materi esensial dari berbagai disiplin ilmu. Sedangkan tema profil pelajar Pancasila meliputi bangunlah jiwa dan raganya, berekayasa dan berteknologi untuk membangun NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, kewirausahaan, dan suara demokrasi. Harapan pemerintah dari kurikulum ini adalah dapat membantu guru dalam mengembangkan karakter dan soft skill siswa secara efektif dan fleksibel yang menghasilkan proyek.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca