alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Pekik Merdeka di Era Post-Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

Bulan ini adalah bulan Agustus. Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia. Waktu 77 tahun telah berlalu dari 1945 dan sekarang tahun 2022, 77 tahun juga umur bapak atau ibu kita yang lahir di zaman Indonesia memekikkan kata merdeka untuk pertama kali. Angka 77 menjadi cantik secantik kegembiraan kembali karena merupakan tahun setelah kita menghadapi Covid-19 terbatasi aktivitas demi keselamatan.

Bulan ini kita tiba pada waktu yang disebut post pandemi sebuah masa setelah pembatasan telah berlalu. Pembatasan meningkatkan produktivitas dunia melalui dunia online yang erat kaitannya dengan teknologi. Tak lupa Indonesia merupakan bagian dunia yang sudah terbuka melalui online dengan berbagai situs. Kita bisa memperoleh informasi yang terbuka sangat banyak. Semua ilmu tersedia tinggal kita ingin mengembangkan dibidang apa saja. Walaupun dunia tersebut telah terbuka, namun semangat mendasar dari Mahatma Gandi bahwa kemampuan terbesar sebagai manusia bukanlah untuk mengubah dunia, tetapi untuk mengubah diri sendiri. Atau Jack Ma yang menjelaskan jika ingin mengubah dunia, mulailah dari diri sendiri.

Kemajuan teknologi memang luar biasa. Percepatan informasi seperti berlari. Hari ini A adalah paling dicari dalam hitungan detik A bukan hal yang benar. Suatu fenomena Starup awalnya bersinar tak lama kemudian Starup menjadi redup dan bukan lagi peluang yang cemerlang. Menurut Kominfo (2017) terdapat 132 juta pengguna internet yang aktif atau sekitar 52 persen dari jumlah penduduk yang ada, terdapat 129 juta yang memiliki akun media sosial yang aktif dan rata-rata menghabiskan waktu 3,5 jam per hari untuk konsumsi internet melalui handphone. Generasi Z atau Gen Z disebut sebagai generasi yang lahir setelah generasi Y. Kumpulan orang yang termasuk ke dalam generasi ini adalah mereka yang lahir di tahun 1995 sampai dengan 2010. Generasi Z disebut juga sebagai I Generation atau generasi internet atau generasi net. Selain itu, terdapat individu yang lahir di atas tahun 2010 sampai 2025, mereka inilah yang disebut sebagai generasi Alpha. Mereka selalu terhubung dengan dunia maya dan dapat melakukan segala sesuatunya dengan menggunakan kecanggihan teknologi yang ada.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dan, karena saat ini teknologi telah terbuka artinya hal sebenarnya adalah peluang besar untuk sukses menjadi melimpah dibanding generasi sebelumnya. Kemudahan akses informasi sedunia merentang luas mulai dunia industri, pemasaran juga pendidikan. Kesempatan luas berbagai negara mulai dari universitas ternama hingga perusahaan hebat yang membuka peluang bisnis semakin berkembang pesat.

Sebesar peluang tersebut sebanding dengan kekhawatiran terhadap anak-anak bangsa mulai kecil hingga muda lebih suka berdiam di kamar hanya terkunci dengan kotak kecil yang sekarang menjadi super menarik. Bahkan tidak tidur bermalam-malam masih mengutak-atik benda kecil kunci dunia. Julukan remaja jompo mudah kelelahan, pegal, mudah sakit punggung dan pinggang, badan yang tidak bertenaga, lemas mudah pusing karena tidak mau beraktivitas fisik berlebih dan  jarang bergerak berolahraga. Hal tersebut menjadi lebih intens dengan adanya pandemi Covid-19 yang semua orang dilakukan pembatasan aktivitas luar. Semua aktivitas pendidikan, kerja, dan bersosial terhubung melalui media online.

Persoalannya adalah bagaimana generasi sekarang dapat memperoleh intisari positif di dunia online secara tepat sementara orang tua mereka kaum yang gaptek, kurang faham dan tidak paham dengan perkembangan. Akhirnya orang tua memberi kesan mengungkung kebebasan anak muda dalam berselancar di dunianya. Sementara orang tua juga khawatir generasi muda tidak mampu bertarung dalam dunia nyata karena pertarungan maya tidak ketara.

Semua lapisan generasi harus bercengkrama dengan teknologi. Melihat semuanya dari sudut peluang, tantangan dan sekaligus menjaga energi bahagia menjawab perubahan besar yang harus dihadapi. Orang-orang tua baik generasi baby boomers, generasi Y, atau milenial harus menyadari bahwa mereka generasi Z atau generasi alpha telah berbeda. Tidak sama dengan generasi sebelumnya yang bekerja keras dan tak kenal lelah agar anak cucu tidak susah. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang tetap harus dipersiapkan menjadi penerima estafet tongkat bangsa. Beberapa hal sebagai pertimbangan cengkerama teknologi itu sebagai berikut.

Pertama, memastikan nilai universal sebagai manusia tertanam kuat bagi generasi. Nilai-nilai kebaikan tidak merugikan orang lain dan nilai keberuntungan dalam dunia. Nilai bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Nilai-nilai basic ini adalah nilai-nilai yang berperan agar setiap pribadi memilih hal-hal benar dan selalu mampu berpikir untuk tidak terjerumus karena diakui atau tidak permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari (Pipit, 2018). Kita secara pribadi yang memiliki kemampuan terbesar melakukan intervensi untuk memastikan nilai-nilai karakter tersebut menginternalisasi setiap pribadi hingga tertanam dan terwujud dalam keseharian.

Kedua, memilih aktivitas yang memiliki nilai positif dan hal tersebut yang paling disukai. Motivasi terkuat seorang manusia berasal dari diri manusia. Setiap manusia memiliki nilai otonom yang unik. Kemampuan, keinginan, ambisi, harapan, dan cita-cita setiap orang berbeda. Semua kesukaan dan kemampuan seseorang dapat digali dengan berbagai cara.

Ketiga, menekankan kemampuan literasi selain dunia hiburan menunjukkan Indahnya informasi dari dunia kotak yang mereka pegang. Kemajuan teknologi sangat berpengaruh sehingga menekankan informasi yang sehat dan peluang-peluang dari situs-situs positif.

Keempat, memahami karena dunia lebih hebat dan terbuka artinya ambisi besar, persaingan juga lebih hebat. Kemampuan dalam menghadapi kehidupan menjadi lebih ketat. Mereka hidup di dunia teknologi gesekan tidak ketara antara dunia nyata dan dunia maya. Tak heran mereka mudah sekali butuh healing karena dunianya tidak hanya dunia nyata tapi berbarengan dengan itu mereka berhadapan dengan dunia maya. Kita bisa membayangkan anak-anak yang lagi bermain dengan kita ternyata mereka lagi bertengkar dengan temannya di chat karena sakit hati dengan berbagai komentar negatif. Itu sangat berpengaruh terhadap kita. Kadang kala kita memarahi anak yang lagi tidur di pagi hari padahal malam harinya mereka telah selesai bertarung mengerjakan tes online mencari beasiswa.

Kelima, keterampilan  digital  yang  dikombinasikan  dengan  kreativitas, rasa  ingin  tahu,  dan  kemampuan  beradaptasi  dapat  diharapkan  sebagai  kekuatan  dan  kompetensi inti  Generasi  Alpha (Rushan Ziatdinov,2021)

Penulis adalah dosen Institut Teknologi dan Sains Mandala

- Advertisement -

Bulan ini adalah bulan Agustus. Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia. Waktu 77 tahun telah berlalu dari 1945 dan sekarang tahun 2022, 77 tahun juga umur bapak atau ibu kita yang lahir di zaman Indonesia memekikkan kata merdeka untuk pertama kali. Angka 77 menjadi cantik secantik kegembiraan kembali karena merupakan tahun setelah kita menghadapi Covid-19 terbatasi aktivitas demi keselamatan.

Bulan ini kita tiba pada waktu yang disebut post pandemi sebuah masa setelah pembatasan telah berlalu. Pembatasan meningkatkan produktivitas dunia melalui dunia online yang erat kaitannya dengan teknologi. Tak lupa Indonesia merupakan bagian dunia yang sudah terbuka melalui online dengan berbagai situs. Kita bisa memperoleh informasi yang terbuka sangat banyak. Semua ilmu tersedia tinggal kita ingin mengembangkan dibidang apa saja. Walaupun dunia tersebut telah terbuka, namun semangat mendasar dari Mahatma Gandi bahwa kemampuan terbesar sebagai manusia bukanlah untuk mengubah dunia, tetapi untuk mengubah diri sendiri. Atau Jack Ma yang menjelaskan jika ingin mengubah dunia, mulailah dari diri sendiri.

Kemajuan teknologi memang luar biasa. Percepatan informasi seperti berlari. Hari ini A adalah paling dicari dalam hitungan detik A bukan hal yang benar. Suatu fenomena Starup awalnya bersinar tak lama kemudian Starup menjadi redup dan bukan lagi peluang yang cemerlang. Menurut Kominfo (2017) terdapat 132 juta pengguna internet yang aktif atau sekitar 52 persen dari jumlah penduduk yang ada, terdapat 129 juta yang memiliki akun media sosial yang aktif dan rata-rata menghabiskan waktu 3,5 jam per hari untuk konsumsi internet melalui handphone. Generasi Z atau Gen Z disebut sebagai generasi yang lahir setelah generasi Y. Kumpulan orang yang termasuk ke dalam generasi ini adalah mereka yang lahir di tahun 1995 sampai dengan 2010. Generasi Z disebut juga sebagai I Generation atau generasi internet atau generasi net. Selain itu, terdapat individu yang lahir di atas tahun 2010 sampai 2025, mereka inilah yang disebut sebagai generasi Alpha. Mereka selalu terhubung dengan dunia maya dan dapat melakukan segala sesuatunya dengan menggunakan kecanggihan teknologi yang ada.

Dan, karena saat ini teknologi telah terbuka artinya hal sebenarnya adalah peluang besar untuk sukses menjadi melimpah dibanding generasi sebelumnya. Kemudahan akses informasi sedunia merentang luas mulai dunia industri, pemasaran juga pendidikan. Kesempatan luas berbagai negara mulai dari universitas ternama hingga perusahaan hebat yang membuka peluang bisnis semakin berkembang pesat.

Sebesar peluang tersebut sebanding dengan kekhawatiran terhadap anak-anak bangsa mulai kecil hingga muda lebih suka berdiam di kamar hanya terkunci dengan kotak kecil yang sekarang menjadi super menarik. Bahkan tidak tidur bermalam-malam masih mengutak-atik benda kecil kunci dunia. Julukan remaja jompo mudah kelelahan, pegal, mudah sakit punggung dan pinggang, badan yang tidak bertenaga, lemas mudah pusing karena tidak mau beraktivitas fisik berlebih dan  jarang bergerak berolahraga. Hal tersebut menjadi lebih intens dengan adanya pandemi Covid-19 yang semua orang dilakukan pembatasan aktivitas luar. Semua aktivitas pendidikan, kerja, dan bersosial terhubung melalui media online.

Persoalannya adalah bagaimana generasi sekarang dapat memperoleh intisari positif di dunia online secara tepat sementara orang tua mereka kaum yang gaptek, kurang faham dan tidak paham dengan perkembangan. Akhirnya orang tua memberi kesan mengungkung kebebasan anak muda dalam berselancar di dunianya. Sementara orang tua juga khawatir generasi muda tidak mampu bertarung dalam dunia nyata karena pertarungan maya tidak ketara.

Semua lapisan generasi harus bercengkrama dengan teknologi. Melihat semuanya dari sudut peluang, tantangan dan sekaligus menjaga energi bahagia menjawab perubahan besar yang harus dihadapi. Orang-orang tua baik generasi baby boomers, generasi Y, atau milenial harus menyadari bahwa mereka generasi Z atau generasi alpha telah berbeda. Tidak sama dengan generasi sebelumnya yang bekerja keras dan tak kenal lelah agar anak cucu tidak susah. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang tetap harus dipersiapkan menjadi penerima estafet tongkat bangsa. Beberapa hal sebagai pertimbangan cengkerama teknologi itu sebagai berikut.

Pertama, memastikan nilai universal sebagai manusia tertanam kuat bagi generasi. Nilai-nilai kebaikan tidak merugikan orang lain dan nilai keberuntungan dalam dunia. Nilai bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Nilai-nilai basic ini adalah nilai-nilai yang berperan agar setiap pribadi memilih hal-hal benar dan selalu mampu berpikir untuk tidak terjerumus karena diakui atau tidak permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari (Pipit, 2018). Kita secara pribadi yang memiliki kemampuan terbesar melakukan intervensi untuk memastikan nilai-nilai karakter tersebut menginternalisasi setiap pribadi hingga tertanam dan terwujud dalam keseharian.

Kedua, memilih aktivitas yang memiliki nilai positif dan hal tersebut yang paling disukai. Motivasi terkuat seorang manusia berasal dari diri manusia. Setiap manusia memiliki nilai otonom yang unik. Kemampuan, keinginan, ambisi, harapan, dan cita-cita setiap orang berbeda. Semua kesukaan dan kemampuan seseorang dapat digali dengan berbagai cara.

Ketiga, menekankan kemampuan literasi selain dunia hiburan menunjukkan Indahnya informasi dari dunia kotak yang mereka pegang. Kemajuan teknologi sangat berpengaruh sehingga menekankan informasi yang sehat dan peluang-peluang dari situs-situs positif.

Keempat, memahami karena dunia lebih hebat dan terbuka artinya ambisi besar, persaingan juga lebih hebat. Kemampuan dalam menghadapi kehidupan menjadi lebih ketat. Mereka hidup di dunia teknologi gesekan tidak ketara antara dunia nyata dan dunia maya. Tak heran mereka mudah sekali butuh healing karena dunianya tidak hanya dunia nyata tapi berbarengan dengan itu mereka berhadapan dengan dunia maya. Kita bisa membayangkan anak-anak yang lagi bermain dengan kita ternyata mereka lagi bertengkar dengan temannya di chat karena sakit hati dengan berbagai komentar negatif. Itu sangat berpengaruh terhadap kita. Kadang kala kita memarahi anak yang lagi tidur di pagi hari padahal malam harinya mereka telah selesai bertarung mengerjakan tes online mencari beasiswa.

Kelima, keterampilan  digital  yang  dikombinasikan  dengan  kreativitas, rasa  ingin  tahu,  dan  kemampuan  beradaptasi  dapat  diharapkan  sebagai  kekuatan  dan  kompetensi inti  Generasi  Alpha (Rushan Ziatdinov,2021)

Penulis adalah dosen Institut Teknologi dan Sains Mandala

Bulan ini adalah bulan Agustus. Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia. Waktu 77 tahun telah berlalu dari 1945 dan sekarang tahun 2022, 77 tahun juga umur bapak atau ibu kita yang lahir di zaman Indonesia memekikkan kata merdeka untuk pertama kali. Angka 77 menjadi cantik secantik kegembiraan kembali karena merupakan tahun setelah kita menghadapi Covid-19 terbatasi aktivitas demi keselamatan.

Bulan ini kita tiba pada waktu yang disebut post pandemi sebuah masa setelah pembatasan telah berlalu. Pembatasan meningkatkan produktivitas dunia melalui dunia online yang erat kaitannya dengan teknologi. Tak lupa Indonesia merupakan bagian dunia yang sudah terbuka melalui online dengan berbagai situs. Kita bisa memperoleh informasi yang terbuka sangat banyak. Semua ilmu tersedia tinggal kita ingin mengembangkan dibidang apa saja. Walaupun dunia tersebut telah terbuka, namun semangat mendasar dari Mahatma Gandi bahwa kemampuan terbesar sebagai manusia bukanlah untuk mengubah dunia, tetapi untuk mengubah diri sendiri. Atau Jack Ma yang menjelaskan jika ingin mengubah dunia, mulailah dari diri sendiri.

Kemajuan teknologi memang luar biasa. Percepatan informasi seperti berlari. Hari ini A adalah paling dicari dalam hitungan detik A bukan hal yang benar. Suatu fenomena Starup awalnya bersinar tak lama kemudian Starup menjadi redup dan bukan lagi peluang yang cemerlang. Menurut Kominfo (2017) terdapat 132 juta pengguna internet yang aktif atau sekitar 52 persen dari jumlah penduduk yang ada, terdapat 129 juta yang memiliki akun media sosial yang aktif dan rata-rata menghabiskan waktu 3,5 jam per hari untuk konsumsi internet melalui handphone. Generasi Z atau Gen Z disebut sebagai generasi yang lahir setelah generasi Y. Kumpulan orang yang termasuk ke dalam generasi ini adalah mereka yang lahir di tahun 1995 sampai dengan 2010. Generasi Z disebut juga sebagai I Generation atau generasi internet atau generasi net. Selain itu, terdapat individu yang lahir di atas tahun 2010 sampai 2025, mereka inilah yang disebut sebagai generasi Alpha. Mereka selalu terhubung dengan dunia maya dan dapat melakukan segala sesuatunya dengan menggunakan kecanggihan teknologi yang ada.

Dan, karena saat ini teknologi telah terbuka artinya hal sebenarnya adalah peluang besar untuk sukses menjadi melimpah dibanding generasi sebelumnya. Kemudahan akses informasi sedunia merentang luas mulai dunia industri, pemasaran juga pendidikan. Kesempatan luas berbagai negara mulai dari universitas ternama hingga perusahaan hebat yang membuka peluang bisnis semakin berkembang pesat.

Sebesar peluang tersebut sebanding dengan kekhawatiran terhadap anak-anak bangsa mulai kecil hingga muda lebih suka berdiam di kamar hanya terkunci dengan kotak kecil yang sekarang menjadi super menarik. Bahkan tidak tidur bermalam-malam masih mengutak-atik benda kecil kunci dunia. Julukan remaja jompo mudah kelelahan, pegal, mudah sakit punggung dan pinggang, badan yang tidak bertenaga, lemas mudah pusing karena tidak mau beraktivitas fisik berlebih dan  jarang bergerak berolahraga. Hal tersebut menjadi lebih intens dengan adanya pandemi Covid-19 yang semua orang dilakukan pembatasan aktivitas luar. Semua aktivitas pendidikan, kerja, dan bersosial terhubung melalui media online.

Persoalannya adalah bagaimana generasi sekarang dapat memperoleh intisari positif di dunia online secara tepat sementara orang tua mereka kaum yang gaptek, kurang faham dan tidak paham dengan perkembangan. Akhirnya orang tua memberi kesan mengungkung kebebasan anak muda dalam berselancar di dunianya. Sementara orang tua juga khawatir generasi muda tidak mampu bertarung dalam dunia nyata karena pertarungan maya tidak ketara.

Semua lapisan generasi harus bercengkrama dengan teknologi. Melihat semuanya dari sudut peluang, tantangan dan sekaligus menjaga energi bahagia menjawab perubahan besar yang harus dihadapi. Orang-orang tua baik generasi baby boomers, generasi Y, atau milenial harus menyadari bahwa mereka generasi Z atau generasi alpha telah berbeda. Tidak sama dengan generasi sebelumnya yang bekerja keras dan tak kenal lelah agar anak cucu tidak susah. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang tetap harus dipersiapkan menjadi penerima estafet tongkat bangsa. Beberapa hal sebagai pertimbangan cengkerama teknologi itu sebagai berikut.

Pertama, memastikan nilai universal sebagai manusia tertanam kuat bagi generasi. Nilai-nilai kebaikan tidak merugikan orang lain dan nilai keberuntungan dalam dunia. Nilai bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Nilai-nilai basic ini adalah nilai-nilai yang berperan agar setiap pribadi memilih hal-hal benar dan selalu mampu berpikir untuk tidak terjerumus karena diakui atau tidak permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari (Pipit, 2018). Kita secara pribadi yang memiliki kemampuan terbesar melakukan intervensi untuk memastikan nilai-nilai karakter tersebut menginternalisasi setiap pribadi hingga tertanam dan terwujud dalam keseharian.

Kedua, memilih aktivitas yang memiliki nilai positif dan hal tersebut yang paling disukai. Motivasi terkuat seorang manusia berasal dari diri manusia. Setiap manusia memiliki nilai otonom yang unik. Kemampuan, keinginan, ambisi, harapan, dan cita-cita setiap orang berbeda. Semua kesukaan dan kemampuan seseorang dapat digali dengan berbagai cara.

Ketiga, menekankan kemampuan literasi selain dunia hiburan menunjukkan Indahnya informasi dari dunia kotak yang mereka pegang. Kemajuan teknologi sangat berpengaruh sehingga menekankan informasi yang sehat dan peluang-peluang dari situs-situs positif.

Keempat, memahami karena dunia lebih hebat dan terbuka artinya ambisi besar, persaingan juga lebih hebat. Kemampuan dalam menghadapi kehidupan menjadi lebih ketat. Mereka hidup di dunia teknologi gesekan tidak ketara antara dunia nyata dan dunia maya. Tak heran mereka mudah sekali butuh healing karena dunianya tidak hanya dunia nyata tapi berbarengan dengan itu mereka berhadapan dengan dunia maya. Kita bisa membayangkan anak-anak yang lagi bermain dengan kita ternyata mereka lagi bertengkar dengan temannya di chat karena sakit hati dengan berbagai komentar negatif. Itu sangat berpengaruh terhadap kita. Kadang kala kita memarahi anak yang lagi tidur di pagi hari padahal malam harinya mereka telah selesai bertarung mengerjakan tes online mencari beasiswa.

Kelima, keterampilan  digital  yang  dikombinasikan  dengan  kreativitas, rasa  ingin  tahu,  dan  kemampuan  beradaptasi  dapat  diharapkan  sebagai  kekuatan  dan  kompetensi inti  Generasi  Alpha (Rushan Ziatdinov,2021)

Penulis adalah dosen Institut Teknologi dan Sains Mandala

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/