alexametrics
23.5 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Kontribusi Video Journalist di Era Post-Truth

Mobile_AP_Rectangle 1

Tak dimungkiri, saat ini hampir setiap orang mulai generasi baby boomers hingga generasi Alpha sudah memiliki telepon pintar, smart phone. Hand phone saat ini sudah semakin pintar, tak sekadar untuk telepon, namun bisa untuk chat, video call, foto, video, editing, mengetik, browsing dan sebagainya. Kualitas perekaman foto dan video sudah semakin baik dengan format full HD bahkan 4K. Sementara para penggunanya, aktif bermain di media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, Tiktok, dan medsos lain. Aktif posting status atau story, tapi sayang tidak semua bermanfaat, hanya sekadar posting sedang galau, makanan, tiket bioskop, dan perilaku lain yang hedonisme dan flexing (pamer). Lantas muncul pertanyaan, apakah kita harus posting sebuah peristiwa saja dan sesuatu yang buruk agar status, story, konten media sosial kita seperti media arus utama?. Tentu tidak. Ingat, tidak selalu bad news is news, tapi good news is news too. Mengunggah kuliner misalnya, tetap menarik jika kuliner itu memiliki nilai berita (news value). Anda yang gemar traveling pun bisa menjadi liputan menarik.

Menulis di blog atau bergabung di komunitas jurnalis warga bisa menjadi pilihan untuk menyalurkan karya jurnalistik warga. Namun, menilik perkembangan minat netizen saat ini, rupanya informasi jenis video lebih diminati. Dewasa ini, netizen lebih memilih konten video durasi pendek. Aplikasi seperti Tiktok semakin diminati, bahkan di beberapa survei menempatkan Tiktok di posisi teratas mengalahkan Youtube dan Instagram. Maka tak heran jika para kompetitor Tiktok ikut-ikutan menyediakan platform video durasi pendek sekitar 3 menit. Instagram menyediakan reel dan Youtube punya shorts. Nah, platform itulah yang bisa dipergunakan untuk media jurnalis warga dalam format video jurnalistik.

Video jurnalistik sama dengan karya jurnalistik lain. Harus memenuhi kaidah jurnalistik dan paham nilai-nilai berita. Kaidah jurnalistik dikenal dengan Accurate-Balance-Clarity A-B-C.

Mobile_AP_Rectangle 2

Accurate (Akurasi). Mengambil gambar (record video) apa adanya. Jangan memanipulasi gambar dengan tujuan lebih dramatis. Rekamlah gambar apa adanya. Misalnya, ketika banjir melanda di kampung atau desa Anda. Ketinggian air hanya sebatas mata kaki. Jangan berbohong pada khalayak dengan memanipulasi gambar seolah-olah ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Jujurlah dengan publik.

Balance (Seimbang). Kalau Anda tertarik mempublikasikan peristiwa yang melibatkan kubu berbeda dan sedang berseteru, Anda sebaiknya lebih berhati-hati. Verifikasi adalah kuncinya. Tanya kedua kubu yang berseteru dan tampilkan apa adanya. Dalam dunia jurnalistik dikenal dengan cover both side (berimbang), tidak memihak. Pada perkembangannya tidak sekadar cover both side, tapi multiside dengan bertanya pada beberapa narasumber tepercaya (primer). Ini akan menambah kedalaman berita.

Clarity (Kejelasan). Berbeda dengan produk jurnalistik tulis (cetak dan online) atau audio (radio), jurnalistik video lebih mengandalkan gambar. Gambar harus berbicara. Artinya, setiap shot (rekaman gambar) harus memiliki arti. Walau tanpa narasi (dubbing maupun teks), khalayak paham dengan visual yang disajikan. Inilah kekuatan video jurnalistik, setiap detail gambar memiliki sebuah makna. Sehngga publik akan mendapatkan informasi yang akurat, berimbang, jelas dan utuh.

Video journalist (VJ) warga seyogyanya memahami nilai berita (magnitude/berpengaruh, aktual/baru, proximity/kedekatan, prominence/ketokohan, impact/dampak, conflict/konflik, human interest/kemanusiaan, unique/unik, sex/seks). Agar gambar bermakna, cukup dengan kunci W-M-C (wide-medium-close). Type of Shot W-M-C akan memberi makna pada sebuah gambar (video). Wide menunjukkan di mana subjek berada, Medium memperlihatkan aktivitas yang sedang dilakukan subjek dan Close akan memperlihatkan emosi/ekspresi subjek. Untuk proses editing bisa menggunakan aplikasi Capcut, Kinemaster, Alignmotion dan aplikasi lain. Penggunaannya pun mudah. Editlah gambar (footage) yang Anda miliki sependek mungkin namun penuh makna.

Smart phone telah mengubah peradaban, bahkan dunia pun dalam genggaman. Di mana Anda berada, Anda bisa berbagi kebaikan dan berkontribusi merekam sejarah. Kini saatnya mengisi media sosial dengan video-video bermakna. Jadilah video journalist warga dan turut berkontribusi menyehatkan ruang komunikasi dari hoax dan fake news. Meski durasi pendek, namun manfaatnya akan berimplikasi luas. Sampaikan kebenaran dengan video bermakna. Salam VJ.

Penulis adalah Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Jember

- Advertisement -

Tak dimungkiri, saat ini hampir setiap orang mulai generasi baby boomers hingga generasi Alpha sudah memiliki telepon pintar, smart phone. Hand phone saat ini sudah semakin pintar, tak sekadar untuk telepon, namun bisa untuk chat, video call, foto, video, editing, mengetik, browsing dan sebagainya. Kualitas perekaman foto dan video sudah semakin baik dengan format full HD bahkan 4K. Sementara para penggunanya, aktif bermain di media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, Tiktok, dan medsos lain. Aktif posting status atau story, tapi sayang tidak semua bermanfaat, hanya sekadar posting sedang galau, makanan, tiket bioskop, dan perilaku lain yang hedonisme dan flexing (pamer). Lantas muncul pertanyaan, apakah kita harus posting sebuah peristiwa saja dan sesuatu yang buruk agar status, story, konten media sosial kita seperti media arus utama?. Tentu tidak. Ingat, tidak selalu bad news is news, tapi good news is news too. Mengunggah kuliner misalnya, tetap menarik jika kuliner itu memiliki nilai berita (news value). Anda yang gemar traveling pun bisa menjadi liputan menarik.

Menulis di blog atau bergabung di komunitas jurnalis warga bisa menjadi pilihan untuk menyalurkan karya jurnalistik warga. Namun, menilik perkembangan minat netizen saat ini, rupanya informasi jenis video lebih diminati. Dewasa ini, netizen lebih memilih konten video durasi pendek. Aplikasi seperti Tiktok semakin diminati, bahkan di beberapa survei menempatkan Tiktok di posisi teratas mengalahkan Youtube dan Instagram. Maka tak heran jika para kompetitor Tiktok ikut-ikutan menyediakan platform video durasi pendek sekitar 3 menit. Instagram menyediakan reel dan Youtube punya shorts. Nah, platform itulah yang bisa dipergunakan untuk media jurnalis warga dalam format video jurnalistik.

Video jurnalistik sama dengan karya jurnalistik lain. Harus memenuhi kaidah jurnalistik dan paham nilai-nilai berita. Kaidah jurnalistik dikenal dengan Accurate-Balance-Clarity A-B-C.

Accurate (Akurasi). Mengambil gambar (record video) apa adanya. Jangan memanipulasi gambar dengan tujuan lebih dramatis. Rekamlah gambar apa adanya. Misalnya, ketika banjir melanda di kampung atau desa Anda. Ketinggian air hanya sebatas mata kaki. Jangan berbohong pada khalayak dengan memanipulasi gambar seolah-olah ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Jujurlah dengan publik.

Balance (Seimbang). Kalau Anda tertarik mempublikasikan peristiwa yang melibatkan kubu berbeda dan sedang berseteru, Anda sebaiknya lebih berhati-hati. Verifikasi adalah kuncinya. Tanya kedua kubu yang berseteru dan tampilkan apa adanya. Dalam dunia jurnalistik dikenal dengan cover both side (berimbang), tidak memihak. Pada perkembangannya tidak sekadar cover both side, tapi multiside dengan bertanya pada beberapa narasumber tepercaya (primer). Ini akan menambah kedalaman berita.

Clarity (Kejelasan). Berbeda dengan produk jurnalistik tulis (cetak dan online) atau audio (radio), jurnalistik video lebih mengandalkan gambar. Gambar harus berbicara. Artinya, setiap shot (rekaman gambar) harus memiliki arti. Walau tanpa narasi (dubbing maupun teks), khalayak paham dengan visual yang disajikan. Inilah kekuatan video jurnalistik, setiap detail gambar memiliki sebuah makna. Sehngga publik akan mendapatkan informasi yang akurat, berimbang, jelas dan utuh.

Video journalist (VJ) warga seyogyanya memahami nilai berita (magnitude/berpengaruh, aktual/baru, proximity/kedekatan, prominence/ketokohan, impact/dampak, conflict/konflik, human interest/kemanusiaan, unique/unik, sex/seks). Agar gambar bermakna, cukup dengan kunci W-M-C (wide-medium-close). Type of Shot W-M-C akan memberi makna pada sebuah gambar (video). Wide menunjukkan di mana subjek berada, Medium memperlihatkan aktivitas yang sedang dilakukan subjek dan Close akan memperlihatkan emosi/ekspresi subjek. Untuk proses editing bisa menggunakan aplikasi Capcut, Kinemaster, Alignmotion dan aplikasi lain. Penggunaannya pun mudah. Editlah gambar (footage) yang Anda miliki sependek mungkin namun penuh makna.

Smart phone telah mengubah peradaban, bahkan dunia pun dalam genggaman. Di mana Anda berada, Anda bisa berbagi kebaikan dan berkontribusi merekam sejarah. Kini saatnya mengisi media sosial dengan video-video bermakna. Jadilah video journalist warga dan turut berkontribusi menyehatkan ruang komunikasi dari hoax dan fake news. Meski durasi pendek, namun manfaatnya akan berimplikasi luas. Sampaikan kebenaran dengan video bermakna. Salam VJ.

Penulis adalah Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Jember

Tak dimungkiri, saat ini hampir setiap orang mulai generasi baby boomers hingga generasi Alpha sudah memiliki telepon pintar, smart phone. Hand phone saat ini sudah semakin pintar, tak sekadar untuk telepon, namun bisa untuk chat, video call, foto, video, editing, mengetik, browsing dan sebagainya. Kualitas perekaman foto dan video sudah semakin baik dengan format full HD bahkan 4K. Sementara para penggunanya, aktif bermain di media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, Tiktok, dan medsos lain. Aktif posting status atau story, tapi sayang tidak semua bermanfaat, hanya sekadar posting sedang galau, makanan, tiket bioskop, dan perilaku lain yang hedonisme dan flexing (pamer). Lantas muncul pertanyaan, apakah kita harus posting sebuah peristiwa saja dan sesuatu yang buruk agar status, story, konten media sosial kita seperti media arus utama?. Tentu tidak. Ingat, tidak selalu bad news is news, tapi good news is news too. Mengunggah kuliner misalnya, tetap menarik jika kuliner itu memiliki nilai berita (news value). Anda yang gemar traveling pun bisa menjadi liputan menarik.

Menulis di blog atau bergabung di komunitas jurnalis warga bisa menjadi pilihan untuk menyalurkan karya jurnalistik warga. Namun, menilik perkembangan minat netizen saat ini, rupanya informasi jenis video lebih diminati. Dewasa ini, netizen lebih memilih konten video durasi pendek. Aplikasi seperti Tiktok semakin diminati, bahkan di beberapa survei menempatkan Tiktok di posisi teratas mengalahkan Youtube dan Instagram. Maka tak heran jika para kompetitor Tiktok ikut-ikutan menyediakan platform video durasi pendek sekitar 3 menit. Instagram menyediakan reel dan Youtube punya shorts. Nah, platform itulah yang bisa dipergunakan untuk media jurnalis warga dalam format video jurnalistik.

Video jurnalistik sama dengan karya jurnalistik lain. Harus memenuhi kaidah jurnalistik dan paham nilai-nilai berita. Kaidah jurnalistik dikenal dengan Accurate-Balance-Clarity A-B-C.

Accurate (Akurasi). Mengambil gambar (record video) apa adanya. Jangan memanipulasi gambar dengan tujuan lebih dramatis. Rekamlah gambar apa adanya. Misalnya, ketika banjir melanda di kampung atau desa Anda. Ketinggian air hanya sebatas mata kaki. Jangan berbohong pada khalayak dengan memanipulasi gambar seolah-olah ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Jujurlah dengan publik.

Balance (Seimbang). Kalau Anda tertarik mempublikasikan peristiwa yang melibatkan kubu berbeda dan sedang berseteru, Anda sebaiknya lebih berhati-hati. Verifikasi adalah kuncinya. Tanya kedua kubu yang berseteru dan tampilkan apa adanya. Dalam dunia jurnalistik dikenal dengan cover both side (berimbang), tidak memihak. Pada perkembangannya tidak sekadar cover both side, tapi multiside dengan bertanya pada beberapa narasumber tepercaya (primer). Ini akan menambah kedalaman berita.

Clarity (Kejelasan). Berbeda dengan produk jurnalistik tulis (cetak dan online) atau audio (radio), jurnalistik video lebih mengandalkan gambar. Gambar harus berbicara. Artinya, setiap shot (rekaman gambar) harus memiliki arti. Walau tanpa narasi (dubbing maupun teks), khalayak paham dengan visual yang disajikan. Inilah kekuatan video jurnalistik, setiap detail gambar memiliki sebuah makna. Sehngga publik akan mendapatkan informasi yang akurat, berimbang, jelas dan utuh.

Video journalist (VJ) warga seyogyanya memahami nilai berita (magnitude/berpengaruh, aktual/baru, proximity/kedekatan, prominence/ketokohan, impact/dampak, conflict/konflik, human interest/kemanusiaan, unique/unik, sex/seks). Agar gambar bermakna, cukup dengan kunci W-M-C (wide-medium-close). Type of Shot W-M-C akan memberi makna pada sebuah gambar (video). Wide menunjukkan di mana subjek berada, Medium memperlihatkan aktivitas yang sedang dilakukan subjek dan Close akan memperlihatkan emosi/ekspresi subjek. Untuk proses editing bisa menggunakan aplikasi Capcut, Kinemaster, Alignmotion dan aplikasi lain. Penggunaannya pun mudah. Editlah gambar (footage) yang Anda miliki sependek mungkin namun penuh makna.

Smart phone telah mengubah peradaban, bahkan dunia pun dalam genggaman. Di mana Anda berada, Anda bisa berbagi kebaikan dan berkontribusi merekam sejarah. Kini saatnya mengisi media sosial dengan video-video bermakna. Jadilah video journalist warga dan turut berkontribusi menyehatkan ruang komunikasi dari hoax dan fake news. Meski durasi pendek, namun manfaatnya akan berimplikasi luas. Sampaikan kebenaran dengan video bermakna. Salam VJ.

Penulis adalah Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/