alexametrics
24.8 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Kontribusi Video Journalist di Era Post-Truth

Mobile_AP_Rectangle 1

Masyarakat informasi haus mengisi relung kehidupan mereka setiap hari dengan beragam informasi. Bergelut dengan bermacam aktivitas, dan terus memburu informasi terkini. Informasi menjadi barang berharga. Begitulah gaya hidup masyarakat informasi saat ini, information society. Pendek kata, manusia sangat bergantung pada media sebagai instrumen pemenuhan hasrat hidup. Misalnya untuk bisnis, pendidikan, hiburan, bahkan mencari jodoh.

Lantas media apa yang mereka pilih?

Kita tentu tahu, jika media sosial menguasai media saat ini. Hasil survei Data Reportal melaporkan pengguna media sosial di Indonesia saja sebesar 191,4 juta pada bulan Januari 2022, meningkat 21 juta atau 12,6 persen dibanding tahun 2021. Peningkatan pengguna itu akan terus terjadi seiring jaringan internet yang sudah merambah ke pelosok desa, dan masyarakat pun lebih suka mengonsumsi media sosial. Sedangkan media konvensional seperti koran, majalah, televisi, dan radio telah “dipaksa” untuk mendisrupsi dan beradaptasi dengan dunia digital. Itulah mediamorfosis, yakni konvergensi media konvensional dalam platform media internet.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pergeseran ini mengubah pula menu informasi yang dikonsumsi pengguna media. Ironinya, sajian informasi itu banyak yang tak layak konsumsi, karena tidak melalui proses produksi yang “higienis”. Bejibun informasi di media sosial tanpa gatekeeper yang bertugas menyaring informasi sebelum disebar. Dampaknya, bertebaran informasi salah, tidak akurat alias hoax dan fake news yang sengaja disebar untuk kepentingan tidak baik, atau sebagai propaganda politik. Inilah yang terjadi di era informasi saat ini. Begitu banyak disinformasi yang dikonsumsi pengguna media, hingga akhirnya dirasa sebuah kebenaran. Kondisi itu lazim disebut post-truth. Informasi yang seakan-akan benar, namun sesungguhnya tidak benar, dan kita hidup di era ini. Selamat datang. Istilah post-truth awalnya dipergunakan Steve Tesich pada tahun 1992 di majalah the nation dengan judul The Government of lies. Tulisan itu berkaitan dengan skandal Watergate.

Produk informasi “higienis” diproduksi oleh media-media yang memiliki kredibilitas dan integritas. Media arus utama yang memiliki kredibilitas dan integritas itu harus lebih mengemuka di media digital agar mampu menekan penyebaran misinformasi dan disinformasi. Aktif memainkan media sosial untuk menyebarkan produk jurnalistik. Mengedukasi pengguna media sosial untuk literasi media agar terhindar dari kesesatan informasi. Apalagi, kerap kali media arus utama masih dibutuhkan untuk menyelesaikan problematika yang dihadapi netizen, para pengguna media sosial.

Tonton saja film dokumenter yang kini sedang trending di Netflix berjudul The Tinder Swindler. Kisah nyata itu dikemas sinematik oleh sutradara Felicity Morris. Cerita diawali dari pengguna aplikasi media sosial mencari jodoh, Tinder, bernama Cecilie Fjellhoy. Korban menceritakan kegemarannya menggunakan Tinder. Maklum, wanita cantik itu ingin segera punya tambatan hati yang sesuai dengan seleranya. Cicilie mulai berselancar di Tinder dan swab right (geser ke kanan) jika foto lelaki yang diidamkannya muncul. Salah satunya pria tampan asal Israel bernama Simon Leviev. Ketertarikan Cicilie pada Simon Leviev bukan sekadar ketampanan, tapi juga gaya hidup yang ditampilkan di aplikasi Tinder dan Instagram. Tak hanya Cecilie Fjellhoy, tersebut juga nama Pernilla Sjoholm dan Ayleen Charlotte. Para wanita itu berasal dari Norwegia, Swedia dan Amsterdam. Simon berhasil membetot perhatian wanita-wanita cantik dengan cara flexing, memamerkan kekayaan dan gaya hidup. Menggunakan jet pribadi, mobil Lamborghini, kapal pesiar, traveling di berbagai negara dan menginap di hotel super mewah serta mengaku putra mahkota pengusaha berlian Israel, Lev Leviev. Padahal semua foto di Tinder dan Instagram itu adalah palsu, fake. Kemewahan itu berasal dari hasil menipu wanita-wanita di Tinder. Satu korban bisa tertipu 5 miliar rupiah, hasil meminjam dari kartu kredit. Simon menipu dengan skema Ponzi, yakni menipu wanita dengan pamer kekayaan, dan mentraktir kehidupan mewah dari hasil menipu wanita lain.

Terbongkarnya kedok Simon, terkuak setelah Cecilie “melapor” ke VG Newspaper, sebuah media besar di Norwegia. Cicilie menyerahkan semua jejak digital berupa chat WA (400 halaman) dan voice note WhatsApp, foto dan video saat naik jet pribadi, bermalam di hotel, serta apartemen mewah. Data-data itu selanjutnya diolah tim redaksi VG Newspaper dan diperkuat dengan investigasi para video journalist. Di sinilah peran video journalist begitu luar biasa. Dalam film dokumenter itu digambarkan bagaimana tim video journalist menjalankan jurnalisme investigasi dengan riset mendalam, membangun hipotesis dari merangkai data digital milik korban. Data digital itu komplet membentuk anatomi sehingga memudahkan tim investigasi melacak keberadaan Simon. Tim investigasi juga menelusuri rumah Simon di Israel. Melacak ke kepolisian setempat, dan diketahui berganti-ganti nama. Nama sebenarnya adalah Simon Yehuda Hayut bukan Simon Liviev. Simon pernah di penjara di Finlandia dan menjadi buron Israel. Dalam penelusuran itu, tim investigasi berhasil menemukan rumah Simon. Bahkan ibundanya sempat diwawancarai, meski hanya mengatakan Simon sudah lama meninggal rumah sejak 18 tahun dan berganti nama.

Selain kerja tim video journalist yang piawai, hal lain yang patut diapresiasi adalah kemasan (packaging) laporan investigasi. Media VG merilis di media online (https://www.vg.no › spesial › tindersvindleren › English) layaknya web series. Plot mengalir dan pesan mudah dicerna. Konvergensi media diramu sedemikian rupa, dari kumpulan video, teks, foto dan audio. Sungguh impressive! Selain film dokumenter The Tinder Swindler, ada pula film dokumenter berjudul Trust No One: The Hunt For The Crypto King, yang juga melibatkan jurnalis untuk menginvestigasi sebuah kasus. Film-film dokumenter (kisah nyata) itu memvisualisasikan peran dahsyat dari para jurnalis untuk membongkar kasus fenomenal.

Menyampaikan kebenaran dalam karya jurnalistik, tentu saja bukan hanya domain media arus utama, media mainstream. Namun, yang tak kalah penting adalah peran individu. Bukankah menyampaikan kebenaran itu wajib bagi setiap orang. Era informasi saat ini, setiap individu bisa menjadi jurnalis yang lazim disebut jurnalis warga, citizen journalist. Medianya? Bisa menggunakan situs/portal komunitas jurnalis warga atau media sosial.

- Advertisement -

Masyarakat informasi haus mengisi relung kehidupan mereka setiap hari dengan beragam informasi. Bergelut dengan bermacam aktivitas, dan terus memburu informasi terkini. Informasi menjadi barang berharga. Begitulah gaya hidup masyarakat informasi saat ini, information society. Pendek kata, manusia sangat bergantung pada media sebagai instrumen pemenuhan hasrat hidup. Misalnya untuk bisnis, pendidikan, hiburan, bahkan mencari jodoh.

Lantas media apa yang mereka pilih?

Kita tentu tahu, jika media sosial menguasai media saat ini. Hasil survei Data Reportal melaporkan pengguna media sosial di Indonesia saja sebesar 191,4 juta pada bulan Januari 2022, meningkat 21 juta atau 12,6 persen dibanding tahun 2021. Peningkatan pengguna itu akan terus terjadi seiring jaringan internet yang sudah merambah ke pelosok desa, dan masyarakat pun lebih suka mengonsumsi media sosial. Sedangkan media konvensional seperti koran, majalah, televisi, dan radio telah “dipaksa” untuk mendisrupsi dan beradaptasi dengan dunia digital. Itulah mediamorfosis, yakni konvergensi media konvensional dalam platform media internet.

Pergeseran ini mengubah pula menu informasi yang dikonsumsi pengguna media. Ironinya, sajian informasi itu banyak yang tak layak konsumsi, karena tidak melalui proses produksi yang “higienis”. Bejibun informasi di media sosial tanpa gatekeeper yang bertugas menyaring informasi sebelum disebar. Dampaknya, bertebaran informasi salah, tidak akurat alias hoax dan fake news yang sengaja disebar untuk kepentingan tidak baik, atau sebagai propaganda politik. Inilah yang terjadi di era informasi saat ini. Begitu banyak disinformasi yang dikonsumsi pengguna media, hingga akhirnya dirasa sebuah kebenaran. Kondisi itu lazim disebut post-truth. Informasi yang seakan-akan benar, namun sesungguhnya tidak benar, dan kita hidup di era ini. Selamat datang. Istilah post-truth awalnya dipergunakan Steve Tesich pada tahun 1992 di majalah the nation dengan judul The Government of lies. Tulisan itu berkaitan dengan skandal Watergate.

Produk informasi “higienis” diproduksi oleh media-media yang memiliki kredibilitas dan integritas. Media arus utama yang memiliki kredibilitas dan integritas itu harus lebih mengemuka di media digital agar mampu menekan penyebaran misinformasi dan disinformasi. Aktif memainkan media sosial untuk menyebarkan produk jurnalistik. Mengedukasi pengguna media sosial untuk literasi media agar terhindar dari kesesatan informasi. Apalagi, kerap kali media arus utama masih dibutuhkan untuk menyelesaikan problematika yang dihadapi netizen, para pengguna media sosial.

Tonton saja film dokumenter yang kini sedang trending di Netflix berjudul The Tinder Swindler. Kisah nyata itu dikemas sinematik oleh sutradara Felicity Morris. Cerita diawali dari pengguna aplikasi media sosial mencari jodoh, Tinder, bernama Cecilie Fjellhoy. Korban menceritakan kegemarannya menggunakan Tinder. Maklum, wanita cantik itu ingin segera punya tambatan hati yang sesuai dengan seleranya. Cicilie mulai berselancar di Tinder dan swab right (geser ke kanan) jika foto lelaki yang diidamkannya muncul. Salah satunya pria tampan asal Israel bernama Simon Leviev. Ketertarikan Cicilie pada Simon Leviev bukan sekadar ketampanan, tapi juga gaya hidup yang ditampilkan di aplikasi Tinder dan Instagram. Tak hanya Cecilie Fjellhoy, tersebut juga nama Pernilla Sjoholm dan Ayleen Charlotte. Para wanita itu berasal dari Norwegia, Swedia dan Amsterdam. Simon berhasil membetot perhatian wanita-wanita cantik dengan cara flexing, memamerkan kekayaan dan gaya hidup. Menggunakan jet pribadi, mobil Lamborghini, kapal pesiar, traveling di berbagai negara dan menginap di hotel super mewah serta mengaku putra mahkota pengusaha berlian Israel, Lev Leviev. Padahal semua foto di Tinder dan Instagram itu adalah palsu, fake. Kemewahan itu berasal dari hasil menipu wanita-wanita di Tinder. Satu korban bisa tertipu 5 miliar rupiah, hasil meminjam dari kartu kredit. Simon menipu dengan skema Ponzi, yakni menipu wanita dengan pamer kekayaan, dan mentraktir kehidupan mewah dari hasil menipu wanita lain.

Terbongkarnya kedok Simon, terkuak setelah Cecilie “melapor” ke VG Newspaper, sebuah media besar di Norwegia. Cicilie menyerahkan semua jejak digital berupa chat WA (400 halaman) dan voice note WhatsApp, foto dan video saat naik jet pribadi, bermalam di hotel, serta apartemen mewah. Data-data itu selanjutnya diolah tim redaksi VG Newspaper dan diperkuat dengan investigasi para video journalist. Di sinilah peran video journalist begitu luar biasa. Dalam film dokumenter itu digambarkan bagaimana tim video journalist menjalankan jurnalisme investigasi dengan riset mendalam, membangun hipotesis dari merangkai data digital milik korban. Data digital itu komplet membentuk anatomi sehingga memudahkan tim investigasi melacak keberadaan Simon. Tim investigasi juga menelusuri rumah Simon di Israel. Melacak ke kepolisian setempat, dan diketahui berganti-ganti nama. Nama sebenarnya adalah Simon Yehuda Hayut bukan Simon Liviev. Simon pernah di penjara di Finlandia dan menjadi buron Israel. Dalam penelusuran itu, tim investigasi berhasil menemukan rumah Simon. Bahkan ibundanya sempat diwawancarai, meski hanya mengatakan Simon sudah lama meninggal rumah sejak 18 tahun dan berganti nama.

Selain kerja tim video journalist yang piawai, hal lain yang patut diapresiasi adalah kemasan (packaging) laporan investigasi. Media VG merilis di media online (https://www.vg.no › spesial › tindersvindleren › English) layaknya web series. Plot mengalir dan pesan mudah dicerna. Konvergensi media diramu sedemikian rupa, dari kumpulan video, teks, foto dan audio. Sungguh impressive! Selain film dokumenter The Tinder Swindler, ada pula film dokumenter berjudul Trust No One: The Hunt For The Crypto King, yang juga melibatkan jurnalis untuk menginvestigasi sebuah kasus. Film-film dokumenter (kisah nyata) itu memvisualisasikan peran dahsyat dari para jurnalis untuk membongkar kasus fenomenal.

Menyampaikan kebenaran dalam karya jurnalistik, tentu saja bukan hanya domain media arus utama, media mainstream. Namun, yang tak kalah penting adalah peran individu. Bukankah menyampaikan kebenaran itu wajib bagi setiap orang. Era informasi saat ini, setiap individu bisa menjadi jurnalis yang lazim disebut jurnalis warga, citizen journalist. Medianya? Bisa menggunakan situs/portal komunitas jurnalis warga atau media sosial.

Masyarakat informasi haus mengisi relung kehidupan mereka setiap hari dengan beragam informasi. Bergelut dengan bermacam aktivitas, dan terus memburu informasi terkini. Informasi menjadi barang berharga. Begitulah gaya hidup masyarakat informasi saat ini, information society. Pendek kata, manusia sangat bergantung pada media sebagai instrumen pemenuhan hasrat hidup. Misalnya untuk bisnis, pendidikan, hiburan, bahkan mencari jodoh.

Lantas media apa yang mereka pilih?

Kita tentu tahu, jika media sosial menguasai media saat ini. Hasil survei Data Reportal melaporkan pengguna media sosial di Indonesia saja sebesar 191,4 juta pada bulan Januari 2022, meningkat 21 juta atau 12,6 persen dibanding tahun 2021. Peningkatan pengguna itu akan terus terjadi seiring jaringan internet yang sudah merambah ke pelosok desa, dan masyarakat pun lebih suka mengonsumsi media sosial. Sedangkan media konvensional seperti koran, majalah, televisi, dan radio telah “dipaksa” untuk mendisrupsi dan beradaptasi dengan dunia digital. Itulah mediamorfosis, yakni konvergensi media konvensional dalam platform media internet.

Pergeseran ini mengubah pula menu informasi yang dikonsumsi pengguna media. Ironinya, sajian informasi itu banyak yang tak layak konsumsi, karena tidak melalui proses produksi yang “higienis”. Bejibun informasi di media sosial tanpa gatekeeper yang bertugas menyaring informasi sebelum disebar. Dampaknya, bertebaran informasi salah, tidak akurat alias hoax dan fake news yang sengaja disebar untuk kepentingan tidak baik, atau sebagai propaganda politik. Inilah yang terjadi di era informasi saat ini. Begitu banyak disinformasi yang dikonsumsi pengguna media, hingga akhirnya dirasa sebuah kebenaran. Kondisi itu lazim disebut post-truth. Informasi yang seakan-akan benar, namun sesungguhnya tidak benar, dan kita hidup di era ini. Selamat datang. Istilah post-truth awalnya dipergunakan Steve Tesich pada tahun 1992 di majalah the nation dengan judul The Government of lies. Tulisan itu berkaitan dengan skandal Watergate.

Produk informasi “higienis” diproduksi oleh media-media yang memiliki kredibilitas dan integritas. Media arus utama yang memiliki kredibilitas dan integritas itu harus lebih mengemuka di media digital agar mampu menekan penyebaran misinformasi dan disinformasi. Aktif memainkan media sosial untuk menyebarkan produk jurnalistik. Mengedukasi pengguna media sosial untuk literasi media agar terhindar dari kesesatan informasi. Apalagi, kerap kali media arus utama masih dibutuhkan untuk menyelesaikan problematika yang dihadapi netizen, para pengguna media sosial.

Tonton saja film dokumenter yang kini sedang trending di Netflix berjudul The Tinder Swindler. Kisah nyata itu dikemas sinematik oleh sutradara Felicity Morris. Cerita diawali dari pengguna aplikasi media sosial mencari jodoh, Tinder, bernama Cecilie Fjellhoy. Korban menceritakan kegemarannya menggunakan Tinder. Maklum, wanita cantik itu ingin segera punya tambatan hati yang sesuai dengan seleranya. Cicilie mulai berselancar di Tinder dan swab right (geser ke kanan) jika foto lelaki yang diidamkannya muncul. Salah satunya pria tampan asal Israel bernama Simon Leviev. Ketertarikan Cicilie pada Simon Leviev bukan sekadar ketampanan, tapi juga gaya hidup yang ditampilkan di aplikasi Tinder dan Instagram. Tak hanya Cecilie Fjellhoy, tersebut juga nama Pernilla Sjoholm dan Ayleen Charlotte. Para wanita itu berasal dari Norwegia, Swedia dan Amsterdam. Simon berhasil membetot perhatian wanita-wanita cantik dengan cara flexing, memamerkan kekayaan dan gaya hidup. Menggunakan jet pribadi, mobil Lamborghini, kapal pesiar, traveling di berbagai negara dan menginap di hotel super mewah serta mengaku putra mahkota pengusaha berlian Israel, Lev Leviev. Padahal semua foto di Tinder dan Instagram itu adalah palsu, fake. Kemewahan itu berasal dari hasil menipu wanita-wanita di Tinder. Satu korban bisa tertipu 5 miliar rupiah, hasil meminjam dari kartu kredit. Simon menipu dengan skema Ponzi, yakni menipu wanita dengan pamer kekayaan, dan mentraktir kehidupan mewah dari hasil menipu wanita lain.

Terbongkarnya kedok Simon, terkuak setelah Cecilie “melapor” ke VG Newspaper, sebuah media besar di Norwegia. Cicilie menyerahkan semua jejak digital berupa chat WA (400 halaman) dan voice note WhatsApp, foto dan video saat naik jet pribadi, bermalam di hotel, serta apartemen mewah. Data-data itu selanjutnya diolah tim redaksi VG Newspaper dan diperkuat dengan investigasi para video journalist. Di sinilah peran video journalist begitu luar biasa. Dalam film dokumenter itu digambarkan bagaimana tim video journalist menjalankan jurnalisme investigasi dengan riset mendalam, membangun hipotesis dari merangkai data digital milik korban. Data digital itu komplet membentuk anatomi sehingga memudahkan tim investigasi melacak keberadaan Simon. Tim investigasi juga menelusuri rumah Simon di Israel. Melacak ke kepolisian setempat, dan diketahui berganti-ganti nama. Nama sebenarnya adalah Simon Yehuda Hayut bukan Simon Liviev. Simon pernah di penjara di Finlandia dan menjadi buron Israel. Dalam penelusuran itu, tim investigasi berhasil menemukan rumah Simon. Bahkan ibundanya sempat diwawancarai, meski hanya mengatakan Simon sudah lama meninggal rumah sejak 18 tahun dan berganti nama.

Selain kerja tim video journalist yang piawai, hal lain yang patut diapresiasi adalah kemasan (packaging) laporan investigasi. Media VG merilis di media online (https://www.vg.no › spesial › tindersvindleren › English) layaknya web series. Plot mengalir dan pesan mudah dicerna. Konvergensi media diramu sedemikian rupa, dari kumpulan video, teks, foto dan audio. Sungguh impressive! Selain film dokumenter The Tinder Swindler, ada pula film dokumenter berjudul Trust No One: The Hunt For The Crypto King, yang juga melibatkan jurnalis untuk menginvestigasi sebuah kasus. Film-film dokumenter (kisah nyata) itu memvisualisasikan peran dahsyat dari para jurnalis untuk membongkar kasus fenomenal.

Menyampaikan kebenaran dalam karya jurnalistik, tentu saja bukan hanya domain media arus utama, media mainstream. Namun, yang tak kalah penting adalah peran individu. Bukankah menyampaikan kebenaran itu wajib bagi setiap orang. Era informasi saat ini, setiap individu bisa menjadi jurnalis yang lazim disebut jurnalis warga, citizen journalist. Medianya? Bisa menggunakan situs/portal komunitas jurnalis warga atau media sosial.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/