alexametrics
25.6 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Apa Kabar Manusia Plastik?

Mobile_AP_Rectangle 1

Beberapa tahun terakhir, bumi pertiwi seperti tidak pernah absen dari rasa prihatin. Lingkungan semakin tak bersahabat,  bencana alam terjadi di mana-mana, limbah yang tidak dikelola dengan baik dan sampah plastik yang kian hari semakin menghawatirkan. Setelah ditemukannya plastik sebagai alat serbaguna dalam belanja dan mengemas segala kebutuhan manusia. Namun di balik plastik yang praktis banyak ancaman yang ditimbulkan. Kini sampah plastik yang digunakan sering tidak terhitung jumlahnya. Lebih dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menitnya, dan 50 persen dari kantong plastik tersebut hanya sekali pakai. Diperkirakan pada tahun 2040 jumlah sampah plastik di lautan jumlahnya meningkat, siapkah manusia mengalami berbagai krisis akibat sampah plastik?

World Economic Forum pada 2016 menyatakan bahwa ada lebih dari 150 juta ton plastik di samudra bumi ini. 8 juta ton plastik mengalir ke laut setiap tahunnya, padahal plastik bisa berumur ratusan tahun dan terurai menjadi partikel kecil dalam waktu yang lebih lama lagi. Sampah plastik yang telah dilepas secara perlahan akan merusak dan membinasakan bagian terkecil dari proses alam, bakteri, dan lain-lain. Plastik lambat laun akan terurai, namun tidak sepenuhnya plastik akan hilang. Hasil uraian plastik akan berubah menjadi mikroplastik yang akan termakan oleh organisme laut dan terakumulasi terus dan menerus di laut bahkan menjadi momok bagi banyak hewan laut hingga termakan oleh manusia sendiri.

Permasalahan sampah plastik terus terjadi, akhir-akhir ini semakin sering laporan ditemukannya sampah plastik dalam tubuh hewan laut, dan ini bukan hanya sekali ini terjadi. Ada sederet kasus seperti seekor penyu yang hidungnya tersumbat sedotan plastik, tetapi berhasil diselamatkan setelah sedotan itu ditarik keluar dari hidungnya, seekor paus sperma bahkan ditemukan mati terdampar di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dengan 5,9 kilogram sampah yang ada di tubuhnya. Botol minuman plastik, jaring, tali rafia, sobekan terpal, bahkan tutup galon ditemukan di dalam perut paus itu. Dan faktanya, berdasarkan data dari Departemen Perdagangan Amerika tahun 1999, sampah laut terdiri dari 80 persen sampah yang berasal dari manusia, dan sisanya 20 persen sampah berasal dari proses alam.

Mobile_AP_Rectangle 2

Manusia sebagai penyumbang terbesar sampah plastik bumi entah sampai kapan baru akan menyadari jika bumi ini sedang tidak baik-baik saja karena plastik. Dengan segala informasi yang sangat mudah diakses, bukan lagi menjadi batasan kita untuk tidak mengetahui dampak dari penggunaan plastik yang sangat mengerikan ini. Setelah mengetahui dampaknya, harusnya kita berpartisipasi mengurangi penggunaan plastik di kehidupan sehari-hari. Berawal dari diet plastik, kita sudah beraksi menjaga bumi ini. Lalu, apa itu terlalu sulit dilakukan?

Apresiasi cukup besar harus diberikan untuk pemerintah dan restoran dan toko-toko besar di Indonesia. Adanya fenomena sampah plastik ini memunculkan adanya kantong plastik berbayar di dunia, termasuk di Indonesia yang diberlakukan di toko-toko besar. Kantong plastik berbayar hanya dihargai 200 rupiah, namun cara ini dianggap kurang efektif untuk meminimalisasi penggunaan kantong plastik. Karena harganya yang sangat murah, masih banyak orang yang memilih kehilangan uang 200 rupiahnya. Namun apa salahnya jika kita memulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

- Advertisement -

Beberapa tahun terakhir, bumi pertiwi seperti tidak pernah absen dari rasa prihatin. Lingkungan semakin tak bersahabat,  bencana alam terjadi di mana-mana, limbah yang tidak dikelola dengan baik dan sampah plastik yang kian hari semakin menghawatirkan. Setelah ditemukannya plastik sebagai alat serbaguna dalam belanja dan mengemas segala kebutuhan manusia. Namun di balik plastik yang praktis banyak ancaman yang ditimbulkan. Kini sampah plastik yang digunakan sering tidak terhitung jumlahnya. Lebih dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menitnya, dan 50 persen dari kantong plastik tersebut hanya sekali pakai. Diperkirakan pada tahun 2040 jumlah sampah plastik di lautan jumlahnya meningkat, siapkah manusia mengalami berbagai krisis akibat sampah plastik?

World Economic Forum pada 2016 menyatakan bahwa ada lebih dari 150 juta ton plastik di samudra bumi ini. 8 juta ton plastik mengalir ke laut setiap tahunnya, padahal plastik bisa berumur ratusan tahun dan terurai menjadi partikel kecil dalam waktu yang lebih lama lagi. Sampah plastik yang telah dilepas secara perlahan akan merusak dan membinasakan bagian terkecil dari proses alam, bakteri, dan lain-lain. Plastik lambat laun akan terurai, namun tidak sepenuhnya plastik akan hilang. Hasil uraian plastik akan berubah menjadi mikroplastik yang akan termakan oleh organisme laut dan terakumulasi terus dan menerus di laut bahkan menjadi momok bagi banyak hewan laut hingga termakan oleh manusia sendiri.

Permasalahan sampah plastik terus terjadi, akhir-akhir ini semakin sering laporan ditemukannya sampah plastik dalam tubuh hewan laut, dan ini bukan hanya sekali ini terjadi. Ada sederet kasus seperti seekor penyu yang hidungnya tersumbat sedotan plastik, tetapi berhasil diselamatkan setelah sedotan itu ditarik keluar dari hidungnya, seekor paus sperma bahkan ditemukan mati terdampar di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dengan 5,9 kilogram sampah yang ada di tubuhnya. Botol minuman plastik, jaring, tali rafia, sobekan terpal, bahkan tutup galon ditemukan di dalam perut paus itu. Dan faktanya, berdasarkan data dari Departemen Perdagangan Amerika tahun 1999, sampah laut terdiri dari 80 persen sampah yang berasal dari manusia, dan sisanya 20 persen sampah berasal dari proses alam.

Manusia sebagai penyumbang terbesar sampah plastik bumi entah sampai kapan baru akan menyadari jika bumi ini sedang tidak baik-baik saja karena plastik. Dengan segala informasi yang sangat mudah diakses, bukan lagi menjadi batasan kita untuk tidak mengetahui dampak dari penggunaan plastik yang sangat mengerikan ini. Setelah mengetahui dampaknya, harusnya kita berpartisipasi mengurangi penggunaan plastik di kehidupan sehari-hari. Berawal dari diet plastik, kita sudah beraksi menjaga bumi ini. Lalu, apa itu terlalu sulit dilakukan?

Apresiasi cukup besar harus diberikan untuk pemerintah dan restoran dan toko-toko besar di Indonesia. Adanya fenomena sampah plastik ini memunculkan adanya kantong plastik berbayar di dunia, termasuk di Indonesia yang diberlakukan di toko-toko besar. Kantong plastik berbayar hanya dihargai 200 rupiah, namun cara ini dianggap kurang efektif untuk meminimalisasi penggunaan kantong plastik. Karena harganya yang sangat murah, masih banyak orang yang memilih kehilangan uang 200 rupiahnya. Namun apa salahnya jika kita memulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Beberapa tahun terakhir, bumi pertiwi seperti tidak pernah absen dari rasa prihatin. Lingkungan semakin tak bersahabat,  bencana alam terjadi di mana-mana, limbah yang tidak dikelola dengan baik dan sampah plastik yang kian hari semakin menghawatirkan. Setelah ditemukannya plastik sebagai alat serbaguna dalam belanja dan mengemas segala kebutuhan manusia. Namun di balik plastik yang praktis banyak ancaman yang ditimbulkan. Kini sampah plastik yang digunakan sering tidak terhitung jumlahnya. Lebih dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menitnya, dan 50 persen dari kantong plastik tersebut hanya sekali pakai. Diperkirakan pada tahun 2040 jumlah sampah plastik di lautan jumlahnya meningkat, siapkah manusia mengalami berbagai krisis akibat sampah plastik?

World Economic Forum pada 2016 menyatakan bahwa ada lebih dari 150 juta ton plastik di samudra bumi ini. 8 juta ton plastik mengalir ke laut setiap tahunnya, padahal plastik bisa berumur ratusan tahun dan terurai menjadi partikel kecil dalam waktu yang lebih lama lagi. Sampah plastik yang telah dilepas secara perlahan akan merusak dan membinasakan bagian terkecil dari proses alam, bakteri, dan lain-lain. Plastik lambat laun akan terurai, namun tidak sepenuhnya plastik akan hilang. Hasil uraian plastik akan berubah menjadi mikroplastik yang akan termakan oleh organisme laut dan terakumulasi terus dan menerus di laut bahkan menjadi momok bagi banyak hewan laut hingga termakan oleh manusia sendiri.

Permasalahan sampah plastik terus terjadi, akhir-akhir ini semakin sering laporan ditemukannya sampah plastik dalam tubuh hewan laut, dan ini bukan hanya sekali ini terjadi. Ada sederet kasus seperti seekor penyu yang hidungnya tersumbat sedotan plastik, tetapi berhasil diselamatkan setelah sedotan itu ditarik keluar dari hidungnya, seekor paus sperma bahkan ditemukan mati terdampar di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dengan 5,9 kilogram sampah yang ada di tubuhnya. Botol minuman plastik, jaring, tali rafia, sobekan terpal, bahkan tutup galon ditemukan di dalam perut paus itu. Dan faktanya, berdasarkan data dari Departemen Perdagangan Amerika tahun 1999, sampah laut terdiri dari 80 persen sampah yang berasal dari manusia, dan sisanya 20 persen sampah berasal dari proses alam.

Manusia sebagai penyumbang terbesar sampah plastik bumi entah sampai kapan baru akan menyadari jika bumi ini sedang tidak baik-baik saja karena plastik. Dengan segala informasi yang sangat mudah diakses, bukan lagi menjadi batasan kita untuk tidak mengetahui dampak dari penggunaan plastik yang sangat mengerikan ini. Setelah mengetahui dampaknya, harusnya kita berpartisipasi mengurangi penggunaan plastik di kehidupan sehari-hari. Berawal dari diet plastik, kita sudah beraksi menjaga bumi ini. Lalu, apa itu terlalu sulit dilakukan?

Apresiasi cukup besar harus diberikan untuk pemerintah dan restoran dan toko-toko besar di Indonesia. Adanya fenomena sampah plastik ini memunculkan adanya kantong plastik berbayar di dunia, termasuk di Indonesia yang diberlakukan di toko-toko besar. Kantong plastik berbayar hanya dihargai 200 rupiah, namun cara ini dianggap kurang efektif untuk meminimalisasi penggunaan kantong plastik. Karena harganya yang sangat murah, masih banyak orang yang memilih kehilangan uang 200 rupiahnya. Namun apa salahnya jika kita memulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/