alexametrics
26.6 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Ikhtiar Bersama Mewujudkan Sekolah Ramah Bencana

Mobile_AP_Rectangle 1

Erupsi gunung Semeru pada 4 Desember 2021 masih terekam dan melekat di pikiran dan benak Martoyo SPd, Kepala SDN Supit Urang 02, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Saat itu di pagi hari sudah terlihat mendung di langit sekolah, semakin lama semakin hitam pekat. Melihat tanda-tanda alam tersebut, sekitar pukul sembilan pagi siswa-siswi dipulangkan. Intuisi Martoyo membaca sesuatu yang tidak wajar tentang kondisi alam. Benar, pada sore harinya gunung Semeru mengeluarkan erupsi hebat. Bagi Martoyo, memutuskan untuk memulangkan anak didik sebelum waktunya bukanlah sesuatu yang luar biasa dengan pertimbangan kondisi alam. Baginya keselamatan anak didik menjadi prioritas. SDN ini terletak kurang lebih 750 meter dari bibir Curahkobokan, salah satu aliran lahar Semeru.

Dampak awan panas dan guguran erupsi Gunung Semeru yang melanda Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur pada 4 Desember 2021, mengakibatkan satu sekolah rusak berat, lima rusak sedang, dan 19 terdampak debu, sebanyak 3.398 siswa dan 262 guru mengungsi, dan 6 siswa meninggal (data per 18 Desember 2021). Kemendikbudristek juga telah mengirimkan 2.223 paket perlengkapan belajar siswa (https://spab.kemdikbud.go.id, 18/12/2021).

Pada konteks yang lebih luas, Indonesia merupakan negara dengan risiko yang tidak main-main terhadap bencana. Wilayah Indonesia secara geografis bertemu dengan 3 lempeng tektonik dunia yaitu Lempeng Hindia-Australia yang berada di bagian selatan, kedua Lempeng Eurasia yang terletak di sebelah barat dan ketiga adalah Lempeng Pasifik yang terletak di sebelah timur. Lempeng tersebut memiliki batas yaitu rangkaian gunung api, gunung api tersebut disebut Pacific Ring of Fire karena berada dan mengelilingi samudera pasifik. Rangkaian tersebut kemudian bertemu dengan rangkaian Mediteran dan membentuk gunung api yang membentang dari ujung Sumatera sampai dengan Nusa Tenggara (Wibowo dan Sembri 2016). Kondisi ini membuat Indonesia memiliki ancaman yang tidak main-main dan kerentanan seperti gempa, banjir, tanah longsor, wabah penyakit, angin kencang, kekeringan, erupsi gunung api dan tsunami (Afik dkk, 2021).

Mobile_AP_Rectangle 2

Ilustrasi di atas seolah membuka mata dampak hebat dari bencana alam bukan hanya erupsi gunung tertinggi di pulau Jawa ini namun juga seantero nusantara. Bukan hanya ancaman korban jiwa dan benda namun juga terhadap kelangsungan pendidikan yang berada di wilayah kawasan rawan bencana. Ada ribuan anak didik yang tidak bisa menikmati hak pendidikan secara normal. Belum lagi dampak psikologis baik bagi anak didik maupun orang tuanya.

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan tentunya tidak boleh berdiam diri. Sudah waktunya untuk terus melakukan langkah-langkah strategis dan cepat tanggap agar tetap mampu melaksanakan pendidikan khususnya di daerah rawan bencana. Meski demikian, tidak bijak manakala hanya menggantungkan pihak sekolah untuk berbenah tanpa dukungan dari pihak-pihak lain.

- Advertisement -

Erupsi gunung Semeru pada 4 Desember 2021 masih terekam dan melekat di pikiran dan benak Martoyo SPd, Kepala SDN Supit Urang 02, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Saat itu di pagi hari sudah terlihat mendung di langit sekolah, semakin lama semakin hitam pekat. Melihat tanda-tanda alam tersebut, sekitar pukul sembilan pagi siswa-siswi dipulangkan. Intuisi Martoyo membaca sesuatu yang tidak wajar tentang kondisi alam. Benar, pada sore harinya gunung Semeru mengeluarkan erupsi hebat. Bagi Martoyo, memutuskan untuk memulangkan anak didik sebelum waktunya bukanlah sesuatu yang luar biasa dengan pertimbangan kondisi alam. Baginya keselamatan anak didik menjadi prioritas. SDN ini terletak kurang lebih 750 meter dari bibir Curahkobokan, salah satu aliran lahar Semeru.

Dampak awan panas dan guguran erupsi Gunung Semeru yang melanda Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur pada 4 Desember 2021, mengakibatkan satu sekolah rusak berat, lima rusak sedang, dan 19 terdampak debu, sebanyak 3.398 siswa dan 262 guru mengungsi, dan 6 siswa meninggal (data per 18 Desember 2021). Kemendikbudristek juga telah mengirimkan 2.223 paket perlengkapan belajar siswa (https://spab.kemdikbud.go.id, 18/12/2021).

Pada konteks yang lebih luas, Indonesia merupakan negara dengan risiko yang tidak main-main terhadap bencana. Wilayah Indonesia secara geografis bertemu dengan 3 lempeng tektonik dunia yaitu Lempeng Hindia-Australia yang berada di bagian selatan, kedua Lempeng Eurasia yang terletak di sebelah barat dan ketiga adalah Lempeng Pasifik yang terletak di sebelah timur. Lempeng tersebut memiliki batas yaitu rangkaian gunung api, gunung api tersebut disebut Pacific Ring of Fire karena berada dan mengelilingi samudera pasifik. Rangkaian tersebut kemudian bertemu dengan rangkaian Mediteran dan membentuk gunung api yang membentang dari ujung Sumatera sampai dengan Nusa Tenggara (Wibowo dan Sembri 2016). Kondisi ini membuat Indonesia memiliki ancaman yang tidak main-main dan kerentanan seperti gempa, banjir, tanah longsor, wabah penyakit, angin kencang, kekeringan, erupsi gunung api dan tsunami (Afik dkk, 2021).

Ilustrasi di atas seolah membuka mata dampak hebat dari bencana alam bukan hanya erupsi gunung tertinggi di pulau Jawa ini namun juga seantero nusantara. Bukan hanya ancaman korban jiwa dan benda namun juga terhadap kelangsungan pendidikan yang berada di wilayah kawasan rawan bencana. Ada ribuan anak didik yang tidak bisa menikmati hak pendidikan secara normal. Belum lagi dampak psikologis baik bagi anak didik maupun orang tuanya.

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan tentunya tidak boleh berdiam diri. Sudah waktunya untuk terus melakukan langkah-langkah strategis dan cepat tanggap agar tetap mampu melaksanakan pendidikan khususnya di daerah rawan bencana. Meski demikian, tidak bijak manakala hanya menggantungkan pihak sekolah untuk berbenah tanpa dukungan dari pihak-pihak lain.

Erupsi gunung Semeru pada 4 Desember 2021 masih terekam dan melekat di pikiran dan benak Martoyo SPd, Kepala SDN Supit Urang 02, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Saat itu di pagi hari sudah terlihat mendung di langit sekolah, semakin lama semakin hitam pekat. Melihat tanda-tanda alam tersebut, sekitar pukul sembilan pagi siswa-siswi dipulangkan. Intuisi Martoyo membaca sesuatu yang tidak wajar tentang kondisi alam. Benar, pada sore harinya gunung Semeru mengeluarkan erupsi hebat. Bagi Martoyo, memutuskan untuk memulangkan anak didik sebelum waktunya bukanlah sesuatu yang luar biasa dengan pertimbangan kondisi alam. Baginya keselamatan anak didik menjadi prioritas. SDN ini terletak kurang lebih 750 meter dari bibir Curahkobokan, salah satu aliran lahar Semeru.

Dampak awan panas dan guguran erupsi Gunung Semeru yang melanda Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur pada 4 Desember 2021, mengakibatkan satu sekolah rusak berat, lima rusak sedang, dan 19 terdampak debu, sebanyak 3.398 siswa dan 262 guru mengungsi, dan 6 siswa meninggal (data per 18 Desember 2021). Kemendikbudristek juga telah mengirimkan 2.223 paket perlengkapan belajar siswa (https://spab.kemdikbud.go.id, 18/12/2021).

Pada konteks yang lebih luas, Indonesia merupakan negara dengan risiko yang tidak main-main terhadap bencana. Wilayah Indonesia secara geografis bertemu dengan 3 lempeng tektonik dunia yaitu Lempeng Hindia-Australia yang berada di bagian selatan, kedua Lempeng Eurasia yang terletak di sebelah barat dan ketiga adalah Lempeng Pasifik yang terletak di sebelah timur. Lempeng tersebut memiliki batas yaitu rangkaian gunung api, gunung api tersebut disebut Pacific Ring of Fire karena berada dan mengelilingi samudera pasifik. Rangkaian tersebut kemudian bertemu dengan rangkaian Mediteran dan membentuk gunung api yang membentang dari ujung Sumatera sampai dengan Nusa Tenggara (Wibowo dan Sembri 2016). Kondisi ini membuat Indonesia memiliki ancaman yang tidak main-main dan kerentanan seperti gempa, banjir, tanah longsor, wabah penyakit, angin kencang, kekeringan, erupsi gunung api dan tsunami (Afik dkk, 2021).

Ilustrasi di atas seolah membuka mata dampak hebat dari bencana alam bukan hanya erupsi gunung tertinggi di pulau Jawa ini namun juga seantero nusantara. Bukan hanya ancaman korban jiwa dan benda namun juga terhadap kelangsungan pendidikan yang berada di wilayah kawasan rawan bencana. Ada ribuan anak didik yang tidak bisa menikmati hak pendidikan secara normal. Belum lagi dampak psikologis baik bagi anak didik maupun orang tuanya.

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan tentunya tidak boleh berdiam diri. Sudah waktunya untuk terus melakukan langkah-langkah strategis dan cepat tanggap agar tetap mampu melaksanakan pendidikan khususnya di daerah rawan bencana. Meski demikian, tidak bijak manakala hanya menggantungkan pihak sekolah untuk berbenah tanpa dukungan dari pihak-pihak lain.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/