alexametrics
24.8 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Proyek IKN di Kalimantan, Terjaminkah Keamanan Satwa?

Mobile_AP_Rectangle 1

Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang berlokasi di Kalimantan Timur akan membutuhkan waktu yang sangat lama hingga puluhan tahun, diperkirakan pembangunan ini akan rampung pada 2045 nanti. Seperti yang diketahui juga, bahwa lokasi pembangunan IKN ini berada di Pulau Kalimantan yang sangat banyak hutan dan satwa. Beberapa satwa khas Kalimantan antara lain orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus), beruang madu (Helarctos malayanus), dan burung rangkong (Buceros sp.). Satwa-satwa tersebut tentu saja tersebar di sepanjang lahan konservasi seperti lokasi Tahura Bukit Soeharto, Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), dan Cagar Alam Teluk Adang. Namun, apakah dengan jangka waktu yang sangat panjang untuk pembangunan IKN tersebut, satwa-satwa akan aman habitat dan ruang tinggalnya? Apakah tidak berpotensi untuk mengalami kepunahan?

Pembangunan IKN ini tentu melibatkan sejumlah ahli mulai dari ahli lingkungan, arsitek yang profesional, dan ahli gedung dan bangunan. Pembangunan dengan jangka waktu yang panjang tentu sudah dianalisis bagaimana dampak-dampak yang dihasilkan dari pembangunan. Seperti analisis mengenai dampak lingkungan, bagaimana pembangunan tersebut akan menyerap tenaga kerja, dan seperti apa sumber daya alam yang dibutuhkan. Sejumlah ahli diterjunkan untuk menganalisis semua kemungkinan dan dampak yang dihasilkan, karena apabila dilihat konsep pembangunan IKN ini berdampingan dengan alam.

Apabila ditelaah lebih jauh, tentu pembangunan IKN ini tidak hanya proses membangun gedung-gedung pemerintah saja, tak lama pasti akan ada pembangunan gedung lainnya, seperti hotel, pusat belanja, restoran, bendungan air dan masih banyak lagi fasilitas penunjang yang akan dibangun. Dengan diiringi pembangunan mega proyek tentu saja perluasan daerah yang akan dibangun menjadi lebih luas. Seperti pembangunan Bendungan Sepaku Semoi yang bisa mengancam kehidupan hewan air seperti pesut dan dugong yang berada di Teluk Balikpapan. Tentu di sekitar teluk juga terdapat mangrove yang bisa berpotensi rusak atau bahkan berkurang populasinya karena pembangunan proyek-proyek lain IKN.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam beberapa jumpa pers antara Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Timur (Kaltim) Yohana Tiko dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 14 Maret 2022 mengonfirmasi bahwa pembangunan IKN ini menerapkan konsep Forest City. Seperti apa Forest City tersebut? Berdasarkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Forest City adalah sebuah konsep yang diusung dalam pembangunan IKN dengan mendorong penerapan teknologi terkini untuk memulihkan, dan melestarikan kondisi lingkungan. Terdapat juga wacana pembangunan koridor satwa. Koridor satwa sendiri adalah area bervegetasi yang  cukup lebar baik alami maupun buatan untuk menghubungkan dua atau lebih habitat konservasi atau ruang terbuka dan sumber daya lainnya.

Pembangunan koridor satwa ini akan memberi beberapa standar pembangunan, sehingga satwa akan tetap bebas melakukan aktivitasnya seperti mencari makan, minum, bermigrasi, dan proses kawin. Koridor satwa ini juga menjadi sarana untuk pertumbuhan flora. Pembangunan koridor satwa ini juga sepertinya akan menjadi jawaban atas pertanyaan WALHI Kaltim tentang bagaimana keamanan flora dan satwa di Kalimantan tersebut.

- Advertisement -

Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang berlokasi di Kalimantan Timur akan membutuhkan waktu yang sangat lama hingga puluhan tahun, diperkirakan pembangunan ini akan rampung pada 2045 nanti. Seperti yang diketahui juga, bahwa lokasi pembangunan IKN ini berada di Pulau Kalimantan yang sangat banyak hutan dan satwa. Beberapa satwa khas Kalimantan antara lain orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus), beruang madu (Helarctos malayanus), dan burung rangkong (Buceros sp.). Satwa-satwa tersebut tentu saja tersebar di sepanjang lahan konservasi seperti lokasi Tahura Bukit Soeharto, Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), dan Cagar Alam Teluk Adang. Namun, apakah dengan jangka waktu yang sangat panjang untuk pembangunan IKN tersebut, satwa-satwa akan aman habitat dan ruang tinggalnya? Apakah tidak berpotensi untuk mengalami kepunahan?

Pembangunan IKN ini tentu melibatkan sejumlah ahli mulai dari ahli lingkungan, arsitek yang profesional, dan ahli gedung dan bangunan. Pembangunan dengan jangka waktu yang panjang tentu sudah dianalisis bagaimana dampak-dampak yang dihasilkan dari pembangunan. Seperti analisis mengenai dampak lingkungan, bagaimana pembangunan tersebut akan menyerap tenaga kerja, dan seperti apa sumber daya alam yang dibutuhkan. Sejumlah ahli diterjunkan untuk menganalisis semua kemungkinan dan dampak yang dihasilkan, karena apabila dilihat konsep pembangunan IKN ini berdampingan dengan alam.

Apabila ditelaah lebih jauh, tentu pembangunan IKN ini tidak hanya proses membangun gedung-gedung pemerintah saja, tak lama pasti akan ada pembangunan gedung lainnya, seperti hotel, pusat belanja, restoran, bendungan air dan masih banyak lagi fasilitas penunjang yang akan dibangun. Dengan diiringi pembangunan mega proyek tentu saja perluasan daerah yang akan dibangun menjadi lebih luas. Seperti pembangunan Bendungan Sepaku Semoi yang bisa mengancam kehidupan hewan air seperti pesut dan dugong yang berada di Teluk Balikpapan. Tentu di sekitar teluk juga terdapat mangrove yang bisa berpotensi rusak atau bahkan berkurang populasinya karena pembangunan proyek-proyek lain IKN.

Dalam beberapa jumpa pers antara Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Timur (Kaltim) Yohana Tiko dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 14 Maret 2022 mengonfirmasi bahwa pembangunan IKN ini menerapkan konsep Forest City. Seperti apa Forest City tersebut? Berdasarkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Forest City adalah sebuah konsep yang diusung dalam pembangunan IKN dengan mendorong penerapan teknologi terkini untuk memulihkan, dan melestarikan kondisi lingkungan. Terdapat juga wacana pembangunan koridor satwa. Koridor satwa sendiri adalah area bervegetasi yang  cukup lebar baik alami maupun buatan untuk menghubungkan dua atau lebih habitat konservasi atau ruang terbuka dan sumber daya lainnya.

Pembangunan koridor satwa ini akan memberi beberapa standar pembangunan, sehingga satwa akan tetap bebas melakukan aktivitasnya seperti mencari makan, minum, bermigrasi, dan proses kawin. Koridor satwa ini juga menjadi sarana untuk pertumbuhan flora. Pembangunan koridor satwa ini juga sepertinya akan menjadi jawaban atas pertanyaan WALHI Kaltim tentang bagaimana keamanan flora dan satwa di Kalimantan tersebut.

Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang berlokasi di Kalimantan Timur akan membutuhkan waktu yang sangat lama hingga puluhan tahun, diperkirakan pembangunan ini akan rampung pada 2045 nanti. Seperti yang diketahui juga, bahwa lokasi pembangunan IKN ini berada di Pulau Kalimantan yang sangat banyak hutan dan satwa. Beberapa satwa khas Kalimantan antara lain orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus), beruang madu (Helarctos malayanus), dan burung rangkong (Buceros sp.). Satwa-satwa tersebut tentu saja tersebar di sepanjang lahan konservasi seperti lokasi Tahura Bukit Soeharto, Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW), dan Cagar Alam Teluk Adang. Namun, apakah dengan jangka waktu yang sangat panjang untuk pembangunan IKN tersebut, satwa-satwa akan aman habitat dan ruang tinggalnya? Apakah tidak berpotensi untuk mengalami kepunahan?

Pembangunan IKN ini tentu melibatkan sejumlah ahli mulai dari ahli lingkungan, arsitek yang profesional, dan ahli gedung dan bangunan. Pembangunan dengan jangka waktu yang panjang tentu sudah dianalisis bagaimana dampak-dampak yang dihasilkan dari pembangunan. Seperti analisis mengenai dampak lingkungan, bagaimana pembangunan tersebut akan menyerap tenaga kerja, dan seperti apa sumber daya alam yang dibutuhkan. Sejumlah ahli diterjunkan untuk menganalisis semua kemungkinan dan dampak yang dihasilkan, karena apabila dilihat konsep pembangunan IKN ini berdampingan dengan alam.

Apabila ditelaah lebih jauh, tentu pembangunan IKN ini tidak hanya proses membangun gedung-gedung pemerintah saja, tak lama pasti akan ada pembangunan gedung lainnya, seperti hotel, pusat belanja, restoran, bendungan air dan masih banyak lagi fasilitas penunjang yang akan dibangun. Dengan diiringi pembangunan mega proyek tentu saja perluasan daerah yang akan dibangun menjadi lebih luas. Seperti pembangunan Bendungan Sepaku Semoi yang bisa mengancam kehidupan hewan air seperti pesut dan dugong yang berada di Teluk Balikpapan. Tentu di sekitar teluk juga terdapat mangrove yang bisa berpotensi rusak atau bahkan berkurang populasinya karena pembangunan proyek-proyek lain IKN.

Dalam beberapa jumpa pers antara Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Timur (Kaltim) Yohana Tiko dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 14 Maret 2022 mengonfirmasi bahwa pembangunan IKN ini menerapkan konsep Forest City. Seperti apa Forest City tersebut? Berdasarkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Forest City adalah sebuah konsep yang diusung dalam pembangunan IKN dengan mendorong penerapan teknologi terkini untuk memulihkan, dan melestarikan kondisi lingkungan. Terdapat juga wacana pembangunan koridor satwa. Koridor satwa sendiri adalah area bervegetasi yang  cukup lebar baik alami maupun buatan untuk menghubungkan dua atau lebih habitat konservasi atau ruang terbuka dan sumber daya lainnya.

Pembangunan koridor satwa ini akan memberi beberapa standar pembangunan, sehingga satwa akan tetap bebas melakukan aktivitasnya seperti mencari makan, minum, bermigrasi, dan proses kawin. Koridor satwa ini juga menjadi sarana untuk pertumbuhan flora. Pembangunan koridor satwa ini juga sepertinya akan menjadi jawaban atas pertanyaan WALHI Kaltim tentang bagaimana keamanan flora dan satwa di Kalimantan tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/