alexametrics
24.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Mengulas Narasi Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 sudah menjadi narasi global. Setiap hari, bahkan setiap saat, ia selalu menjadi berita dan perbincangan, entah sampai kapan. Di lingkup masyarakat lokal, cerita tentang paparan pandemi Covid-19 sudah bukan lagi hal baru. Begitu pun perjuangan para tenaga medis. Pemerintah yang sibuk menerapkan berbagai kebijakan terkait pandemi menjadi informasi yang selalu ditunggu. Media arus utama (mainstream) pun mengulasnya. Media sosial memperbincangkannya. Teknologi informasi membantu menjadikannya narasi global dalam waktu yang relatif sangat cepat.

Setahun lebih pandemi Covid-19 masih berlangsung. Berbagai peristiwa terkait pandemi sudah meninggalkan jejaknya yang akan selalu terekam dalam benak dan menjadi narasi global. Ingatan dibuka, narasi pun mengalir ke mana-mana. Narasi yang sudah tercetak atau tergores di berbagai media dapat dilacak kembali dan dapat menjadi referensi bagi siapa pun. Narasi pandemi sangat dekat dengan pembatasan aktivitas manusia dari segala aspek. Di sini, logika kesehatan mendominasi berbagai kebijakan terkait pandemi.

Manusia tidak bisa melakukan aktivitasnya dengan bebas karena potensi transmisi pandemi. Protokol kesehatan adalah jargon yang selalu didengungkan demi menunjukkan bagaimana pembatasan itu dihadirkan dalam setiap kegiatan manusia. Masker, cuci tangan, jaga jarak, dan disinfektan adalah sebagian istilah yang sudah sangat populer dalam narasi pandemi ini dan senantiasa mewarnai kebijakan yang diambil penguasa wilayah dalam penanganan pandemi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sayangnya, narasi pandemi tidak selalu hadir mulus tanpa perlawanan. Di berbagai wilayah, narasi pandemi ini berhadapan dengan narasi-narasi lainnya, khususnya yang merasa terusik dengan kehadiran pandemi. Dengan logika yang meyakinkan, narasi ini melakukan perlawanan terhadap hegemoni narasi pandemi yang didasarkan pada logika kesehatan.

Setidaknya, ada dua logika yang selalu mengambil posisi berlawanan dengan narasi pandemi. Pertama, logika ekonomi. Logika ini yang paling kuat melawan logika kesehatan/medis. Betapa pun kuatnya kebijakan yang dibuat terkait pandemi ini tidak akan mampu mengintervensi penuh logika ekonomi. Kebutuhan manusia, khususnya kebutuhan dasar, adalah energi pertama dan utama yang menggerakkan setiap sendi kehidupan manusia. Upaya pemenuhan kebutuhan ini membentuk sistem dan mata rantai yang saling terkait. Kehadiran pandemi dianggap sebagai pengganggu hubungan mata rantai ekonomi.

Kebijakan pandemi di berbagai wilayah pun tidak sepenuhnya mampu meniadakan hubungan tersebut. Yang paling mungkin dilakukan adalah pembatasan. Itu pun masih belum mampu menahan gejolak sosial akibat pembatasan tersebut. Kedua, logika spiritualitas. Dalam pemahaman yang lebih operasional, spiritualitas lebih banyak dikaitkan dengan kehidupan agama dan keyakinan tertentu yang biasanya dilaksanakan di tempat ibadah, baik sendiri maupun bersama manusia lainnya. Rasa dekat kepada Sang Pencipta menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kelompok agamawan. Situasi ini meningkatkan kebahagiaan manusia sebagai puncak pencapaian terpenuhinya kebutuhan jiwa. Selain itu, naluri bertemu manusia lainnya dalam berbagai momen, termasuk di tempat ibadah baik dalam skala terbatas maupun masif, mendukung pencapaian kebahagiaan tersebut. Kebijakan atas pandemi yang membatasi kontak antarmanusia secara masif membuat pemenuhan kebutuhan spiritualitas ini menjadi terganggu. Konflik yang timbul karena pembatasan di ranah ini pun sudah tidak terhitung lagi. Gejolak di tempat ibadah akibat pembatasan kegiatan sudah menjadi konsumsi informasi di berbagai media, khususnya di awal terjadinya pandemi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 sudah menjadi narasi global. Setiap hari, bahkan setiap saat, ia selalu menjadi berita dan perbincangan, entah sampai kapan. Di lingkup masyarakat lokal, cerita tentang paparan pandemi Covid-19 sudah bukan lagi hal baru. Begitu pun perjuangan para tenaga medis. Pemerintah yang sibuk menerapkan berbagai kebijakan terkait pandemi menjadi informasi yang selalu ditunggu. Media arus utama (mainstream) pun mengulasnya. Media sosial memperbincangkannya. Teknologi informasi membantu menjadikannya narasi global dalam waktu yang relatif sangat cepat.

Setahun lebih pandemi Covid-19 masih berlangsung. Berbagai peristiwa terkait pandemi sudah meninggalkan jejaknya yang akan selalu terekam dalam benak dan menjadi narasi global. Ingatan dibuka, narasi pun mengalir ke mana-mana. Narasi yang sudah tercetak atau tergores di berbagai media dapat dilacak kembali dan dapat menjadi referensi bagi siapa pun. Narasi pandemi sangat dekat dengan pembatasan aktivitas manusia dari segala aspek. Di sini, logika kesehatan mendominasi berbagai kebijakan terkait pandemi.

Manusia tidak bisa melakukan aktivitasnya dengan bebas karena potensi transmisi pandemi. Protokol kesehatan adalah jargon yang selalu didengungkan demi menunjukkan bagaimana pembatasan itu dihadirkan dalam setiap kegiatan manusia. Masker, cuci tangan, jaga jarak, dan disinfektan adalah sebagian istilah yang sudah sangat populer dalam narasi pandemi ini dan senantiasa mewarnai kebijakan yang diambil penguasa wilayah dalam penanganan pandemi.

Sayangnya, narasi pandemi tidak selalu hadir mulus tanpa perlawanan. Di berbagai wilayah, narasi pandemi ini berhadapan dengan narasi-narasi lainnya, khususnya yang merasa terusik dengan kehadiran pandemi. Dengan logika yang meyakinkan, narasi ini melakukan perlawanan terhadap hegemoni narasi pandemi yang didasarkan pada logika kesehatan.

Setidaknya, ada dua logika yang selalu mengambil posisi berlawanan dengan narasi pandemi. Pertama, logika ekonomi. Logika ini yang paling kuat melawan logika kesehatan/medis. Betapa pun kuatnya kebijakan yang dibuat terkait pandemi ini tidak akan mampu mengintervensi penuh logika ekonomi. Kebutuhan manusia, khususnya kebutuhan dasar, adalah energi pertama dan utama yang menggerakkan setiap sendi kehidupan manusia. Upaya pemenuhan kebutuhan ini membentuk sistem dan mata rantai yang saling terkait. Kehadiran pandemi dianggap sebagai pengganggu hubungan mata rantai ekonomi.

Kebijakan pandemi di berbagai wilayah pun tidak sepenuhnya mampu meniadakan hubungan tersebut. Yang paling mungkin dilakukan adalah pembatasan. Itu pun masih belum mampu menahan gejolak sosial akibat pembatasan tersebut. Kedua, logika spiritualitas. Dalam pemahaman yang lebih operasional, spiritualitas lebih banyak dikaitkan dengan kehidupan agama dan keyakinan tertentu yang biasanya dilaksanakan di tempat ibadah, baik sendiri maupun bersama manusia lainnya. Rasa dekat kepada Sang Pencipta menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kelompok agamawan. Situasi ini meningkatkan kebahagiaan manusia sebagai puncak pencapaian terpenuhinya kebutuhan jiwa. Selain itu, naluri bertemu manusia lainnya dalam berbagai momen, termasuk di tempat ibadah baik dalam skala terbatas maupun masif, mendukung pencapaian kebahagiaan tersebut. Kebijakan atas pandemi yang membatasi kontak antarmanusia secara masif membuat pemenuhan kebutuhan spiritualitas ini menjadi terganggu. Konflik yang timbul karena pembatasan di ranah ini pun sudah tidak terhitung lagi. Gejolak di tempat ibadah akibat pembatasan kegiatan sudah menjadi konsumsi informasi di berbagai media, khususnya di awal terjadinya pandemi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 sudah menjadi narasi global. Setiap hari, bahkan setiap saat, ia selalu menjadi berita dan perbincangan, entah sampai kapan. Di lingkup masyarakat lokal, cerita tentang paparan pandemi Covid-19 sudah bukan lagi hal baru. Begitu pun perjuangan para tenaga medis. Pemerintah yang sibuk menerapkan berbagai kebijakan terkait pandemi menjadi informasi yang selalu ditunggu. Media arus utama (mainstream) pun mengulasnya. Media sosial memperbincangkannya. Teknologi informasi membantu menjadikannya narasi global dalam waktu yang relatif sangat cepat.

Setahun lebih pandemi Covid-19 masih berlangsung. Berbagai peristiwa terkait pandemi sudah meninggalkan jejaknya yang akan selalu terekam dalam benak dan menjadi narasi global. Ingatan dibuka, narasi pun mengalir ke mana-mana. Narasi yang sudah tercetak atau tergores di berbagai media dapat dilacak kembali dan dapat menjadi referensi bagi siapa pun. Narasi pandemi sangat dekat dengan pembatasan aktivitas manusia dari segala aspek. Di sini, logika kesehatan mendominasi berbagai kebijakan terkait pandemi.

Manusia tidak bisa melakukan aktivitasnya dengan bebas karena potensi transmisi pandemi. Protokol kesehatan adalah jargon yang selalu didengungkan demi menunjukkan bagaimana pembatasan itu dihadirkan dalam setiap kegiatan manusia. Masker, cuci tangan, jaga jarak, dan disinfektan adalah sebagian istilah yang sudah sangat populer dalam narasi pandemi ini dan senantiasa mewarnai kebijakan yang diambil penguasa wilayah dalam penanganan pandemi.

Sayangnya, narasi pandemi tidak selalu hadir mulus tanpa perlawanan. Di berbagai wilayah, narasi pandemi ini berhadapan dengan narasi-narasi lainnya, khususnya yang merasa terusik dengan kehadiran pandemi. Dengan logika yang meyakinkan, narasi ini melakukan perlawanan terhadap hegemoni narasi pandemi yang didasarkan pada logika kesehatan.

Setidaknya, ada dua logika yang selalu mengambil posisi berlawanan dengan narasi pandemi. Pertama, logika ekonomi. Logika ini yang paling kuat melawan logika kesehatan/medis. Betapa pun kuatnya kebijakan yang dibuat terkait pandemi ini tidak akan mampu mengintervensi penuh logika ekonomi. Kebutuhan manusia, khususnya kebutuhan dasar, adalah energi pertama dan utama yang menggerakkan setiap sendi kehidupan manusia. Upaya pemenuhan kebutuhan ini membentuk sistem dan mata rantai yang saling terkait. Kehadiran pandemi dianggap sebagai pengganggu hubungan mata rantai ekonomi.

Kebijakan pandemi di berbagai wilayah pun tidak sepenuhnya mampu meniadakan hubungan tersebut. Yang paling mungkin dilakukan adalah pembatasan. Itu pun masih belum mampu menahan gejolak sosial akibat pembatasan tersebut. Kedua, logika spiritualitas. Dalam pemahaman yang lebih operasional, spiritualitas lebih banyak dikaitkan dengan kehidupan agama dan keyakinan tertentu yang biasanya dilaksanakan di tempat ibadah, baik sendiri maupun bersama manusia lainnya. Rasa dekat kepada Sang Pencipta menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kelompok agamawan. Situasi ini meningkatkan kebahagiaan manusia sebagai puncak pencapaian terpenuhinya kebutuhan jiwa. Selain itu, naluri bertemu manusia lainnya dalam berbagai momen, termasuk di tempat ibadah baik dalam skala terbatas maupun masif, mendukung pencapaian kebahagiaan tersebut. Kebijakan atas pandemi yang membatasi kontak antarmanusia secara masif membuat pemenuhan kebutuhan spiritualitas ini menjadi terganggu. Konflik yang timbul karena pembatasan di ranah ini pun sudah tidak terhitung lagi. Gejolak di tempat ibadah akibat pembatasan kegiatan sudah menjadi konsumsi informasi di berbagai media, khususnya di awal terjadinya pandemi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/