Mengenalkan Kemiskinan Transient di Jember

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, ada tahun 2018 turun dibandingkan 2017. Persentase penduduk miskin 2018 mencapai 9,98 persen atau 243.420 jiwa. Sedangkan tahun 2017 mencapai 11,00 persen atau 266,990 jiwa. Dari data menunjukan masih banyak penduduk miskin di Jember. Sehingga masih menarik pembahasan tentang kemiskinan. Namun perlu adanya pemahaman menyeluruh tentang konsepsi dan klasifikasi kemiskinan. Sehingga tidak bias dalam pelaksanaan program pengentasan kemiskinan di kabupaten Jember.

IKLAN

Djonet Santoso dalam buku Penduduk Miskin Transient Masalah Kemiskinan yang Terabaikan (2018) menjelaskan fokus kajian tentang kemiskinan dijadikan dua bagian. Pertama mengenai ukuran dan kriteria miskin. Topiknya berkembang di sekitar garis kemiskinan, pendapatan, pengeluaran, jumlah anggota keluarga, kebutuhan dasar, pendidikan, rumah tinggal, dan permukiman. Kajian ini lebih berkembang di wilayah argumentatif ekonomi.

Kajian kedua fokusnya argumentatif data kemiskinan yang lebih mengarah pada perilaku dengan penjelasan antropologis, psikologis, dan sosiologis. Kajian pada perilaku miskin menyebabkan munculnya masalah kemiskinan, reason behind the behavior, reason behind the number. Masalah kemiskinan muncul disebabkan ketidakmampuan individu melawan tekanan-tekanan dalam sistem tersebut.  Kajian berkembang di wilayah argumentasi sosial humaniora.

Dua wilayah kajian tersebut tidak bisa dipisahkan dan lepas satu sama lainnya. Masalah kemiskinan hanya bisa dituntaskan, jika kedua wilayah kajian dipertemukan. Kondisi miskin selalu bergerak, dapat bergerak ke atas yang lebih baik atau justru ke bawah ke arah yang lebih memprihatinkan. Dengan menggunakan pedoman garis kemiskinan, bisa ditemukan dua fenomena kemiskinan, yaitu kemiskinan kronis (cronic poverty) dan kemiskinan transient (transient poverty). Beberapa pihak menggunakan istilah rentan miskin sebagai padanan menggambarkan kemiskinan transient.

Revalion dalam buku Expected Poverty Under Risk-induced Welfare Variability (1988) membedakan kemiskinan transient dan kemiskinan kronis. Revalion membagi penduduk miskin menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama, kelompok penduduk yang teridentifikasi selalu berada di bawah garis kemiskinan pada setiap periode survei. Kedua, kelompok penduduk miskin yang saat survei sebelumnya diidentifikasi sebagai warga miskin berada sedikit di bawah garis kemiskinan, tetapi pada survei selanjutnya penduduk tersebut berada sedikit di atas garis kemiskinan.

Ketiga, kelompok penduduk tidak miskin berdasarkan garis kemiskinan (sedikit di atas). Tetapi pernah mengalami pergerakan ke bawah garis kemiskinan, meskipun pada periode yang lain bisa teridentifikasi naik lagi. Menurut Revalion dari pembagian ini, kelompok kedua dan ketiga disebut kelompok penduduk miskin transient (transient poor). Transient Poverty atau kemiskinan musiman yaitu kelompok sosial yang terkadang miskin dan terkadang tidak miskin

Menurut Revalion, kondisi kemiskinan transient menunjukan fakta empiris adanya penduduk miskin yang mengalami kemiskinan bergerak ke atas dan ke bawah di sekitar garis kemiskinan. Kondisi bergerak ini hanya bisa ditemukenali (recognized), apabila terdapat kesepakatan bahwa memahami masalah kemiskinan tidak cukup hanya mengandalkan survei. Tetapi justru penting terkait proses munculnya angka-angka tersebut. Memahami masalah kemiskinan tidak cukup hanya dengan membaca data statisitik penduduk miskin. Tetapi harus berusaha mengerti siapa saja (by name by address), mengapa, dan bagaimana dia bergerak. Data ini dapat ditemukan dengan menggunakan metode longitudinal.

Selama ini data penduduk miskin yang dikenal adalah data penduduk miskin statis, bukan data penduduk yang bergerak atau dinamis. Data penduduk miskin statis dihasilkan dari perhitungan dengan metode crosssectional. Caranya mengumpulkan data di setiap periode survei dengan pengambilan sampel yang berbeda. Data yang diperoleh tidak dapat menjelaskan by name by address penduduk atau rumah tangga miskin yang keluar maupun masuk garis kemiskinan di setiap periodenya. Fakta empirisnya bahwa data continum tidak ditemukan dalam publikasi statistik resmi. Fakta ini menunjukan selama ini berbagai kajian kemiskinan lebih melihat dalam perspektif jumlah penduduk miskin.

Disebabkan keterbatasan data resmi longitudinal, jumlah penelitian yang melakukan kajian kemiskinan dalam bingkai kemiskinan bergerak di Jember masih sangat terbatas. Bahkan data khusus tentang kelompok penduduk dan rumah tangga transient yang tidak ditemukan dalam statistik resmi. Penggambaran kemiskinan kronis dan transient dipaksakan menggunakan asumsi dari data statistik yang menggambarkan lapisan-lapisan penduduk maupun rumah tangga miskin dengan mengelompokan penduduk berdasarkan tingkat pendapatan.

Tidak mengherankan, apabila selama ini istilah kemiskinan transient kurang familiar di berbagai stakeholder, terutama pemerintah dan masyarakat. Dampaknya kelompok kemiskinan transient di Jember cenderung terabaikan. Disebabkan keterbatasan data kemiskinan transient. Oleh karena itu, perlu adanya evaluasi data kemiskinan dari pemerintah Kabupaten Jember. Sehingga kelompok kemiskinan transient mendapatkan perhatian dan tersentuh program pemerintah kabupaten Jember. Karena kelompok dan rumah tangga yang mengalami kemiskinan transient, rentan tenggelam ke dalam samudra kemiskinan kronis.

*) Penulis adalah Pemerhati Program Pengentasan Kemiskinan dan Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial

Reporter :

Fotografer :

Editor :