Puasanya Politisi

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ramadan 1442 Hijriah sudah hampir berakhir. Tak terasa umat Islam sudah memasuki 10 malam terakhir. Pertanda hari kemenangan di 1 Syawal hampir menjelang.

Walau Ramadan tahun ini kali kedua di masa Alquran-19, umat Islam tetap melewatinya dengan penuh bahagia. Rutinitas Ramadan  seperti Tarawih, tadarus, bagi takjil, bukber dan seterusnya sebagai bentuk ibadah tetap berjalan di seluruh nusantara.

Esensi Puasa

Ibadah puasa sebagai rukun Islam ketiga adalah kewajiban bagi seluruh umat Islam. Alquran surat Al-Baqarah  ayat 183, 184, 185, dan 187 menjelaskan lengkap perihal kewajiban berpuasa itu.

Dengan berpuasa manusia melatih kesabaran, pengendalian diri, empati, solidaritas dan kepedulian kepada sesama. Manusia yang cenderung bebas, dengan berpuasa akan terbiasa mengontrol syahwat yang dikendalikan oleh hawa nafsu. Penyakit hati seperti sombong, dengki, iri, dendam, cinta dunia (materialistik), riya, dan sebagainya diredam sedemikian rupa selama sebulan penuh dengan berpuasa. Penyakit lidah seperti gibah, fitnah, bohong (hoax),  mengolok-olok (bullying), caci-maki, menghujat dan sejenisnya juga diobati dengan puasa Ramadan..

Sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu’anhu:  “Puasa itu bukan hanya dari makan dan minum, namun puasa itu juga dari laghwun (hal yang tidak bermanfaat) dan rafats (semua perbuatan yang buruk). Jika ada orang yang mencelamu atau berbuat suatu kebodohan kepadamu, maka katakanlah: saya sedang berpuasa“ [Al Mustadrak, 1/595, no. 1570].

Puasa Sebagai Obat

Ramadan berfungsi sebagai madrasah atau sekolah kehidupan bagi umat Islam. Dalam Islam, interaksi manusia setahun penuh perlu direvitalisasi dengan berpuasa selama bulan Ramadan. Dengan puasa Ramadan, umat Islam dilatih untuk mengendalikan hawa nafsunya yang cenderung materialistik sekaligus mengajari pribadinya sendiri dengan perilaku yang islami.

Puasa adalah penyucian jiwa yang secara bertahun-tahun barangkali sudah dikuasai syahwat. Nafsu duniawi, ambisi dan kecenderungan kebebasan hidup yang hewani  lainnya dicuci total dengan berpuasa. Tak heran Ibnu Qayyim mengatakan siapa memiliki keinginan besar, ambisi tak terkendali, ia harus berpuasa sebab puasa adalah penawar bagi itu semua.

Sehingga pasca Ramadan, perilaku manusia menjadi lebih baik, lebih terhormat dan lebih bijak. Kematangan perilaku manusia akan terus terasah dari Ramadan ke Ramadan  berikutnya. Puncaknya ialah terbentuknya manusia paripurna yang dalam Islam disebut Insan Kamil. Ibnu Al Farabi mendefinisikannya sebagai insan yang sempurna dari segi wujud dan pengetahuannya sebagai manifestasi sempurna dari citra Tuhan.

Politik sebagai Ilmu dan Perilaku Hidup Politisi

Setiap umat Islam yang beriman tentu menjalankan puasa dengan baik. Tidak terkecuali seorang politisi sekalipun.

Bagi seorang politisi, selain sebagai media meningkatkan laku spiritualnya, Ramadan juga menjadi momentum mengasah kepeduliannya kepada umat, mentalitasnya sebagai seorang pejabat publik serta nalar pengabdiannya kepada rakyat.

Melalui Ramadan, politisi dapat mengobati penyakit hati dan lidah yang kerap menderanya secara akut. Tanpa disadari, selama setahun penuh, kadang kala derajat politisi turun ke level tukang politik. Yakni kebiasaan jilat atas injak bawah, sikut kanan sikat kiri dan pukul depan tendang belakang. Sebuah kebiasaan yang berporos pada kebebasan manusia dan cenderung menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan politik.