alexametrics
29.3 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Memahami Konflik

Mobile_AP_Rectangle 1

Dalam kehidupan sehari-hari manusia akan senantiasa melakukan interaksi sosial dengan orang lain. Manusia melakukan proses interaksi sosial agar dapat memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan hidupnya. Namun dalam proses interaksi sosial juga menyisakan masalah yaitu terjadinya konflik.

Konflik terjadi disebabkan karena adanya salah paham, mis-komunikasi, saling mempertahankan kebenaran menurut versinya masing-masing, dan benturan kepentingan yang lainnya. Bila dilacak dari sejarah konflik, maka konflik sudah ada bersamaan dengan adanya peradaban manusia. Kisah anak Adam, yang bernama Habil dan Qobil sudah membuat drama awal mula konflik, bahkan salah satunya terbunuh akibat konflik tersebut.

Dikisahkan bahwa setiap Siti Hawa melahirkan, yang keluar adalah dua bayi, yang satu berjenis kelamin laki-laki dan satunya perempuan. Kedua bayi yang lahir bersamaan itu selanjutnya disebut saudara kandung. Sejak dulu sudah ada ketentuan bahwa saudara kandung hukumnya terlarang untuk dinikahi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Suatu waktu lahirlah Qobil Bersama dengan saudara kandungnya yang bernama Iqlima. Iqlima tumbuhkembang menjadi gadis yang cantik dan rupawan. Pada waktu berikutnya lahirlah Habil, dengan saudara kandungnya yang bernama Labuda. Labuda tumbuhkembang sebagai wanita, yang ternyata parasnya tidak secantik Iqlima. Kembali pada aturan, maka Qobil harus menikah dengan Labuda, yang parasnya pas-pasan. Pada sisi yang lain Habil harus menikahi Iqlima.

Nasib mujur Habil nampaknya menjadikan Qobil marah, sakit hati dan tidak terima atas keputusan tersebut. Qobil berpandangan bahwa aturan yang dibuat tersebut tidak adil, karena tidak menguntungkan dirinya. Qobilpun  protes pada Adam, “Saya lebih berhak untuk Iqlima. Dan Habilpun lebih berhak dengan saudari perempuan sekandungnya. Ketentuan ini sebenarnya bukan dari Tuhan, melainkan hanya akal-akalanmu (Adam) saja”. Qobil tetap iri dan menyimpan dendam terhadap Habil.  Dipenuhi perasaan emosi, maka Qobil mengambil batu besar dan memukulkan ke kepala Habil, sampai Habil mati.

Pertikaian antara Qobil dan Habil merupakan konflik  yang dipicu oleh aturan agama yang dianggap tidak adil. Aturan memang dibuat bukan untuk memuaskan semua pihak. Aturan  agama dibuat untuk menegakkan kebenaran. Aturan agamapun masih ada yang menggugat, karena dianggap tidak memuaskan dan belum menjamin rasa keadilan bagi mereka. Belum lagi bila muncul pemahaman yang merasa kelompoknyalah yang paling benar. Pandangan kelompok lain dianggap salah, dan bahkan sesat. Dalam kondisi seperti ini maka tafsir terhadap agama bisa menjadi sumber pemicu konflik di masyarakat.

Dahrendorf memberikan pemahaman bahwa dalam masyarakat itu akan senantiasa terjadi konflik. Kekuasaan, bisa dalam bentuk tafsir dari aturan dalam agama, yang memiliki otoritas akan mendominasi dalam kehidupan di masyarakat. Namun kelompok yang didominasi atau tersubornisasi juga akan melakukan resistensi dan melawan bila terdapat praktek koersif dalam sistem kehidupan bersama.

Agar tercipta relasi yang harmoni dan dinamis, maka  perlu konsensus dalam membangun kerjasama sesama warga komunitas. Dalam berinteraksi sosial harus diciptakan tatanan yang didasari oleh terakomodasinya berbagai kepentingan. Tiap orang punya kepentingan, sehingga asumsinya yang langgeng dalam kehidupan ini adalah kepentingan.

Dalam hal ini Dahrendorf menawarkan konsep resolusi konflik dengan pendekatan “konflik dialektika”. Masyarakat yang dinamis dan secara konsisten melakukan perubahan, akan muncul konflik. Konflik harus dikelola dengan memberi ruang negosiasi, sehingga disepakati tatanan baru yang relevan dengan harapan bersama.

Agama bisa sebagai akar pemicu munculnya konflik, untuk itu perlu dihadirkan sikap ikhlas menerima aturan agama yang baku. Dalam hal yang terkait dengan tatanan kehidupan bersama, harus dijaga sikap saling menghargai konsensus yang telah disepakatinya. Sudah saatnya mengakhiri berebut benar, agar konflik dapat lerai. Berpikir dan bertindak khidmat (selalu mengambil hikmah) dan bijak merupakan solusi dalam mengatasi konflik.

Akar konflik berikutnya adalah persoalan perebutan sumber daya ekonomi. Manusia dalam hidupnya hampir selalu mengandung motif ekonomi. Marx menyatakan bahwa eksistensi hidup itu bekerja. Jadi orang hidup itu motivasi yang paling dominan adalah kepentingan ekonomi. Orang akan mengisi seluruh potensi hidupnya untuk mencari kekayaan. Orang yang berdaya adalah mereka yang menguasai sumber daya ekonomi.

- Advertisement -

Dalam kehidupan sehari-hari manusia akan senantiasa melakukan interaksi sosial dengan orang lain. Manusia melakukan proses interaksi sosial agar dapat memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan hidupnya. Namun dalam proses interaksi sosial juga menyisakan masalah yaitu terjadinya konflik.

Konflik terjadi disebabkan karena adanya salah paham, mis-komunikasi, saling mempertahankan kebenaran menurut versinya masing-masing, dan benturan kepentingan yang lainnya. Bila dilacak dari sejarah konflik, maka konflik sudah ada bersamaan dengan adanya peradaban manusia. Kisah anak Adam, yang bernama Habil dan Qobil sudah membuat drama awal mula konflik, bahkan salah satunya terbunuh akibat konflik tersebut.

Dikisahkan bahwa setiap Siti Hawa melahirkan, yang keluar adalah dua bayi, yang satu berjenis kelamin laki-laki dan satunya perempuan. Kedua bayi yang lahir bersamaan itu selanjutnya disebut saudara kandung. Sejak dulu sudah ada ketentuan bahwa saudara kandung hukumnya terlarang untuk dinikahi.

Suatu waktu lahirlah Qobil Bersama dengan saudara kandungnya yang bernama Iqlima. Iqlima tumbuhkembang menjadi gadis yang cantik dan rupawan. Pada waktu berikutnya lahirlah Habil, dengan saudara kandungnya yang bernama Labuda. Labuda tumbuhkembang sebagai wanita, yang ternyata parasnya tidak secantik Iqlima. Kembali pada aturan, maka Qobil harus menikah dengan Labuda, yang parasnya pas-pasan. Pada sisi yang lain Habil harus menikahi Iqlima.

Nasib mujur Habil nampaknya menjadikan Qobil marah, sakit hati dan tidak terima atas keputusan tersebut. Qobil berpandangan bahwa aturan yang dibuat tersebut tidak adil, karena tidak menguntungkan dirinya. Qobilpun  protes pada Adam, “Saya lebih berhak untuk Iqlima. Dan Habilpun lebih berhak dengan saudari perempuan sekandungnya. Ketentuan ini sebenarnya bukan dari Tuhan, melainkan hanya akal-akalanmu (Adam) saja”. Qobil tetap iri dan menyimpan dendam terhadap Habil.  Dipenuhi perasaan emosi, maka Qobil mengambil batu besar dan memukulkan ke kepala Habil, sampai Habil mati.

Pertikaian antara Qobil dan Habil merupakan konflik  yang dipicu oleh aturan agama yang dianggap tidak adil. Aturan memang dibuat bukan untuk memuaskan semua pihak. Aturan  agama dibuat untuk menegakkan kebenaran. Aturan agamapun masih ada yang menggugat, karena dianggap tidak memuaskan dan belum menjamin rasa keadilan bagi mereka. Belum lagi bila muncul pemahaman yang merasa kelompoknyalah yang paling benar. Pandangan kelompok lain dianggap salah, dan bahkan sesat. Dalam kondisi seperti ini maka tafsir terhadap agama bisa menjadi sumber pemicu konflik di masyarakat.

Dahrendorf memberikan pemahaman bahwa dalam masyarakat itu akan senantiasa terjadi konflik. Kekuasaan, bisa dalam bentuk tafsir dari aturan dalam agama, yang memiliki otoritas akan mendominasi dalam kehidupan di masyarakat. Namun kelompok yang didominasi atau tersubornisasi juga akan melakukan resistensi dan melawan bila terdapat praktek koersif dalam sistem kehidupan bersama.

Agar tercipta relasi yang harmoni dan dinamis, maka  perlu konsensus dalam membangun kerjasama sesama warga komunitas. Dalam berinteraksi sosial harus diciptakan tatanan yang didasari oleh terakomodasinya berbagai kepentingan. Tiap orang punya kepentingan, sehingga asumsinya yang langgeng dalam kehidupan ini adalah kepentingan.

Dalam hal ini Dahrendorf menawarkan konsep resolusi konflik dengan pendekatan “konflik dialektika”. Masyarakat yang dinamis dan secara konsisten melakukan perubahan, akan muncul konflik. Konflik harus dikelola dengan memberi ruang negosiasi, sehingga disepakati tatanan baru yang relevan dengan harapan bersama.

Agama bisa sebagai akar pemicu munculnya konflik, untuk itu perlu dihadirkan sikap ikhlas menerima aturan agama yang baku. Dalam hal yang terkait dengan tatanan kehidupan bersama, harus dijaga sikap saling menghargai konsensus yang telah disepakatinya. Sudah saatnya mengakhiri berebut benar, agar konflik dapat lerai. Berpikir dan bertindak khidmat (selalu mengambil hikmah) dan bijak merupakan solusi dalam mengatasi konflik.

Akar konflik berikutnya adalah persoalan perebutan sumber daya ekonomi. Manusia dalam hidupnya hampir selalu mengandung motif ekonomi. Marx menyatakan bahwa eksistensi hidup itu bekerja. Jadi orang hidup itu motivasi yang paling dominan adalah kepentingan ekonomi. Orang akan mengisi seluruh potensi hidupnya untuk mencari kekayaan. Orang yang berdaya adalah mereka yang menguasai sumber daya ekonomi.

Dalam kehidupan sehari-hari manusia akan senantiasa melakukan interaksi sosial dengan orang lain. Manusia melakukan proses interaksi sosial agar dapat memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan hidupnya. Namun dalam proses interaksi sosial juga menyisakan masalah yaitu terjadinya konflik.

Konflik terjadi disebabkan karena adanya salah paham, mis-komunikasi, saling mempertahankan kebenaran menurut versinya masing-masing, dan benturan kepentingan yang lainnya. Bila dilacak dari sejarah konflik, maka konflik sudah ada bersamaan dengan adanya peradaban manusia. Kisah anak Adam, yang bernama Habil dan Qobil sudah membuat drama awal mula konflik, bahkan salah satunya terbunuh akibat konflik tersebut.

Dikisahkan bahwa setiap Siti Hawa melahirkan, yang keluar adalah dua bayi, yang satu berjenis kelamin laki-laki dan satunya perempuan. Kedua bayi yang lahir bersamaan itu selanjutnya disebut saudara kandung. Sejak dulu sudah ada ketentuan bahwa saudara kandung hukumnya terlarang untuk dinikahi.

Suatu waktu lahirlah Qobil Bersama dengan saudara kandungnya yang bernama Iqlima. Iqlima tumbuhkembang menjadi gadis yang cantik dan rupawan. Pada waktu berikutnya lahirlah Habil, dengan saudara kandungnya yang bernama Labuda. Labuda tumbuhkembang sebagai wanita, yang ternyata parasnya tidak secantik Iqlima. Kembali pada aturan, maka Qobil harus menikah dengan Labuda, yang parasnya pas-pasan. Pada sisi yang lain Habil harus menikahi Iqlima.

Nasib mujur Habil nampaknya menjadikan Qobil marah, sakit hati dan tidak terima atas keputusan tersebut. Qobil berpandangan bahwa aturan yang dibuat tersebut tidak adil, karena tidak menguntungkan dirinya. Qobilpun  protes pada Adam, “Saya lebih berhak untuk Iqlima. Dan Habilpun lebih berhak dengan saudari perempuan sekandungnya. Ketentuan ini sebenarnya bukan dari Tuhan, melainkan hanya akal-akalanmu (Adam) saja”. Qobil tetap iri dan menyimpan dendam terhadap Habil.  Dipenuhi perasaan emosi, maka Qobil mengambil batu besar dan memukulkan ke kepala Habil, sampai Habil mati.

Pertikaian antara Qobil dan Habil merupakan konflik  yang dipicu oleh aturan agama yang dianggap tidak adil. Aturan memang dibuat bukan untuk memuaskan semua pihak. Aturan  agama dibuat untuk menegakkan kebenaran. Aturan agamapun masih ada yang menggugat, karena dianggap tidak memuaskan dan belum menjamin rasa keadilan bagi mereka. Belum lagi bila muncul pemahaman yang merasa kelompoknyalah yang paling benar. Pandangan kelompok lain dianggap salah, dan bahkan sesat. Dalam kondisi seperti ini maka tafsir terhadap agama bisa menjadi sumber pemicu konflik di masyarakat.

Dahrendorf memberikan pemahaman bahwa dalam masyarakat itu akan senantiasa terjadi konflik. Kekuasaan, bisa dalam bentuk tafsir dari aturan dalam agama, yang memiliki otoritas akan mendominasi dalam kehidupan di masyarakat. Namun kelompok yang didominasi atau tersubornisasi juga akan melakukan resistensi dan melawan bila terdapat praktek koersif dalam sistem kehidupan bersama.

Agar tercipta relasi yang harmoni dan dinamis, maka  perlu konsensus dalam membangun kerjasama sesama warga komunitas. Dalam berinteraksi sosial harus diciptakan tatanan yang didasari oleh terakomodasinya berbagai kepentingan. Tiap orang punya kepentingan, sehingga asumsinya yang langgeng dalam kehidupan ini adalah kepentingan.

Dalam hal ini Dahrendorf menawarkan konsep resolusi konflik dengan pendekatan “konflik dialektika”. Masyarakat yang dinamis dan secara konsisten melakukan perubahan, akan muncul konflik. Konflik harus dikelola dengan memberi ruang negosiasi, sehingga disepakati tatanan baru yang relevan dengan harapan bersama.

Agama bisa sebagai akar pemicu munculnya konflik, untuk itu perlu dihadirkan sikap ikhlas menerima aturan agama yang baku. Dalam hal yang terkait dengan tatanan kehidupan bersama, harus dijaga sikap saling menghargai konsensus yang telah disepakatinya. Sudah saatnya mengakhiri berebut benar, agar konflik dapat lerai. Berpikir dan bertindak khidmat (selalu mengambil hikmah) dan bijak merupakan solusi dalam mengatasi konflik.

Akar konflik berikutnya adalah persoalan perebutan sumber daya ekonomi. Manusia dalam hidupnya hampir selalu mengandung motif ekonomi. Marx menyatakan bahwa eksistensi hidup itu bekerja. Jadi orang hidup itu motivasi yang paling dominan adalah kepentingan ekonomi. Orang akan mengisi seluruh potensi hidupnya untuk mencari kekayaan. Orang yang berdaya adalah mereka yang menguasai sumber daya ekonomi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/