alexametrics
28 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Menunda Berkurban

Oleh: Lilis Styaningsih SPd

Mobile_AP_Rectangle 1

Ketika Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih putra tercintanya yaitu Nabi Ismail, apa reaksi beliau? Pun Nabi Ismail, saat sang ayah menyampaikan perintah itu, bagaimana perasaannya? Masyaallah, tiada cela, tiada pertanyaan, bahkan penolakan dari keduanya. Mereka patuh dan bersegera menunaikan perintah. Indah sekali mereka mewujudkan ketakwaan pada Sang Ilahi, meski mereka tidak pernah menduga “kejutan” yang Allah berikan yaitu menggantikan Ismail dengan seekor kambing besar.

Lalu, bagaimana dengan kita? Ibadah kurban yang kita tahu manfaat, hikmah, dan pahala yang akan Allah beri. Adakah kita berat menunaikan dan enggan untuk mengupayakannya?

Salah satu ibadah yang membutuhkan sejumlah biaya untuk menjalaninya adalah berkurban. Harga hewan kurban memang tak bisa dibilang murah. Untuk membeli satu ekor kambing saja dengan kualitas baik, diperlukan uang setidaknya dua juta rupiah. Apalagi seekor sapi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mereka yang memiliki kecukupan harta tentu mudah untuk membeli hewan kurban, bahkan yang paling mahal sekalipun. Berbeda dengan orang yang tak punya. Jangankan membeli hewan kurban senilai jutaan rupiah, untuk makan sehari-hari saja susah. Itulah mengapa, kurban diwajibkan untuk orang yang berharta, sementara yang tidak mampu tidak diwajibkan.

Namun, kepemilikan harta dan pelaksanaan ibadah kurban ternyata tidak selamanya berbanding lurus. Sebab, terkadang berbagi itu tidak hanya persoalan mampu atau tidak mampu, tapi juga mau atau tidak mau. Ada yang mampu tapi tidak mau, ada yang mau tapi tidak mampu.

Karenanya, meskipun punya harta, ada saja orang yang tidak melaksanakan ibadah kurban. Alasannya beragam. Di samping belum memiliki ilmu tentang kurban, tidak mengetahui apa manfaat dan keutamaan yang akan diperoleh dengan berkurban. Banyak pula yang masih disibukkan untuk mengejar kesenangan dunia yang fana.

Kondisi mampu tapi tidak mau lebih sulit diperbaiki daripada mau tapi tidak mampu. Jika orang sudah tidak mau, tidak memiliki motivasi, akan sulit walaupun mampu. Di situlah kemauan kita, niat, kesadaran, dan spiritualitas kita dipertaruhkan. Sejauh mana kita mau berkorban untuk melaksanakan apa yang dianjurkan agama.

Belakangan yang justru menjadi fenomena di masyarakat kita, adalah orang yang tidak punya, malah sanggup melaksanakan ibadah kurban. Mereka mampu berkurban meski ekonomi mereka sangat terbatas. Sebelumnya mereka setiap tahun menanti jatah daging kurban, namun mereka malu jika seperti itu terus. Dengan niat yang kuat agar mampu berkurban mereka menyisihkan hasil dari kerjanya, berjuang mengorbankan keinginan, bahkan kebutuhan hidup lainnya.

Hati siapa yang tidak bergetar kala mengetahui para duafa memiliki keikhlasan yang tinggi untuk menunaikan ibadah kurban, meski harus berikhtiar dengan cara menabung bertahun-tahun. Inilah bukti kesungguhan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

- Advertisement -

Ketika Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih putra tercintanya yaitu Nabi Ismail, apa reaksi beliau? Pun Nabi Ismail, saat sang ayah menyampaikan perintah itu, bagaimana perasaannya? Masyaallah, tiada cela, tiada pertanyaan, bahkan penolakan dari keduanya. Mereka patuh dan bersegera menunaikan perintah. Indah sekali mereka mewujudkan ketakwaan pada Sang Ilahi, meski mereka tidak pernah menduga “kejutan” yang Allah berikan yaitu menggantikan Ismail dengan seekor kambing besar.

Lalu, bagaimana dengan kita? Ibadah kurban yang kita tahu manfaat, hikmah, dan pahala yang akan Allah beri. Adakah kita berat menunaikan dan enggan untuk mengupayakannya?

Salah satu ibadah yang membutuhkan sejumlah biaya untuk menjalaninya adalah berkurban. Harga hewan kurban memang tak bisa dibilang murah. Untuk membeli satu ekor kambing saja dengan kualitas baik, diperlukan uang setidaknya dua juta rupiah. Apalagi seekor sapi.

Mereka yang memiliki kecukupan harta tentu mudah untuk membeli hewan kurban, bahkan yang paling mahal sekalipun. Berbeda dengan orang yang tak punya. Jangankan membeli hewan kurban senilai jutaan rupiah, untuk makan sehari-hari saja susah. Itulah mengapa, kurban diwajibkan untuk orang yang berharta, sementara yang tidak mampu tidak diwajibkan.

Namun, kepemilikan harta dan pelaksanaan ibadah kurban ternyata tidak selamanya berbanding lurus. Sebab, terkadang berbagi itu tidak hanya persoalan mampu atau tidak mampu, tapi juga mau atau tidak mau. Ada yang mampu tapi tidak mau, ada yang mau tapi tidak mampu.

Karenanya, meskipun punya harta, ada saja orang yang tidak melaksanakan ibadah kurban. Alasannya beragam. Di samping belum memiliki ilmu tentang kurban, tidak mengetahui apa manfaat dan keutamaan yang akan diperoleh dengan berkurban. Banyak pula yang masih disibukkan untuk mengejar kesenangan dunia yang fana.

Kondisi mampu tapi tidak mau lebih sulit diperbaiki daripada mau tapi tidak mampu. Jika orang sudah tidak mau, tidak memiliki motivasi, akan sulit walaupun mampu. Di situlah kemauan kita, niat, kesadaran, dan spiritualitas kita dipertaruhkan. Sejauh mana kita mau berkorban untuk melaksanakan apa yang dianjurkan agama.

Belakangan yang justru menjadi fenomena di masyarakat kita, adalah orang yang tidak punya, malah sanggup melaksanakan ibadah kurban. Mereka mampu berkurban meski ekonomi mereka sangat terbatas. Sebelumnya mereka setiap tahun menanti jatah daging kurban, namun mereka malu jika seperti itu terus. Dengan niat yang kuat agar mampu berkurban mereka menyisihkan hasil dari kerjanya, berjuang mengorbankan keinginan, bahkan kebutuhan hidup lainnya.

Hati siapa yang tidak bergetar kala mengetahui para duafa memiliki keikhlasan yang tinggi untuk menunaikan ibadah kurban, meski harus berikhtiar dengan cara menabung bertahun-tahun. Inilah bukti kesungguhan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Ketika Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih putra tercintanya yaitu Nabi Ismail, apa reaksi beliau? Pun Nabi Ismail, saat sang ayah menyampaikan perintah itu, bagaimana perasaannya? Masyaallah, tiada cela, tiada pertanyaan, bahkan penolakan dari keduanya. Mereka patuh dan bersegera menunaikan perintah. Indah sekali mereka mewujudkan ketakwaan pada Sang Ilahi, meski mereka tidak pernah menduga “kejutan” yang Allah berikan yaitu menggantikan Ismail dengan seekor kambing besar.

Lalu, bagaimana dengan kita? Ibadah kurban yang kita tahu manfaat, hikmah, dan pahala yang akan Allah beri. Adakah kita berat menunaikan dan enggan untuk mengupayakannya?

Salah satu ibadah yang membutuhkan sejumlah biaya untuk menjalaninya adalah berkurban. Harga hewan kurban memang tak bisa dibilang murah. Untuk membeli satu ekor kambing saja dengan kualitas baik, diperlukan uang setidaknya dua juta rupiah. Apalagi seekor sapi.

Mereka yang memiliki kecukupan harta tentu mudah untuk membeli hewan kurban, bahkan yang paling mahal sekalipun. Berbeda dengan orang yang tak punya. Jangankan membeli hewan kurban senilai jutaan rupiah, untuk makan sehari-hari saja susah. Itulah mengapa, kurban diwajibkan untuk orang yang berharta, sementara yang tidak mampu tidak diwajibkan.

Namun, kepemilikan harta dan pelaksanaan ibadah kurban ternyata tidak selamanya berbanding lurus. Sebab, terkadang berbagi itu tidak hanya persoalan mampu atau tidak mampu, tapi juga mau atau tidak mau. Ada yang mampu tapi tidak mau, ada yang mau tapi tidak mampu.

Karenanya, meskipun punya harta, ada saja orang yang tidak melaksanakan ibadah kurban. Alasannya beragam. Di samping belum memiliki ilmu tentang kurban, tidak mengetahui apa manfaat dan keutamaan yang akan diperoleh dengan berkurban. Banyak pula yang masih disibukkan untuk mengejar kesenangan dunia yang fana.

Kondisi mampu tapi tidak mau lebih sulit diperbaiki daripada mau tapi tidak mampu. Jika orang sudah tidak mau, tidak memiliki motivasi, akan sulit walaupun mampu. Di situlah kemauan kita, niat, kesadaran, dan spiritualitas kita dipertaruhkan. Sejauh mana kita mau berkorban untuk melaksanakan apa yang dianjurkan agama.

Belakangan yang justru menjadi fenomena di masyarakat kita, adalah orang yang tidak punya, malah sanggup melaksanakan ibadah kurban. Mereka mampu berkurban meski ekonomi mereka sangat terbatas. Sebelumnya mereka setiap tahun menanti jatah daging kurban, namun mereka malu jika seperti itu terus. Dengan niat yang kuat agar mampu berkurban mereka menyisihkan hasil dari kerjanya, berjuang mengorbankan keinginan, bahkan kebutuhan hidup lainnya.

Hati siapa yang tidak bergetar kala mengetahui para duafa memiliki keikhlasan yang tinggi untuk menunaikan ibadah kurban, meski harus berikhtiar dengan cara menabung bertahun-tahun. Inilah bukti kesungguhan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/