alexametrics
26.4 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Ini JKlab: Jember Kreatif Laboratorium!

Mobile_AP_Rectangle 1

Jadi tidak perlu tergesa-gesa untuk memaknai atau menafsirkan penamaan JKlab. Tak perlu tergesa-gesa untuk menafsirkan tanpa wawasan atau informasi yang cukup. Penafsiran atau pemaknaan yang tergesa-gesa akan cenderung jatuh pada pereduksian; sikap kritis tanpa dasar yang dapat berujung pada pendiskreditan yang tak tepat seperti seloroh (meskipun diharapkan tidak terjadi) yang mengira gedung kesenian akan jadi butik pakain.

Untuk membangun iklim kesenian yang sehat di Jember, gedung kesenian atau JKlab, adalah ruang. Ruang tersebut tidak akan bekerja dengan sendirinya tanpa lembaga yang mengelola dan sistem pengelolaan, orang-orang yang mengelola, dan, sudah barang tentu, kehidupan seni yang melingkupinya. Saya berharap kita bisa bersabar, tidak grusa-grusu, memberikan waktu dan ruang yang cukup bagi pihak-pihak yang mendapat amanat untuk mewujudkan konsep tata kelola, tata organisasi, skema pembiayaan lembaga seni (Dewan Kesenian Kabupaten Jember) yang akan menjadi lembaga pengelola gedung kesenian tersebut. Kita berharap JKlab akan menjadi “ruang kecil” yang dapat menyebarkan dan menumbuhkan sensibilitas artistik di tengah-tengah masyarakat, menjadi “ruang kecil” bagi para seniman Jember untuk berdialog dengan masyarakat dan para seniman luar Jember, melalui karya maupun secara langsung. Meskipun kita harus insyaf bahwa JKlab tidak mungkin akan memuaskan semua pihak.
*) Penulis adalah Kritikus Sastra

- Advertisement -

Jadi tidak perlu tergesa-gesa untuk memaknai atau menafsirkan penamaan JKlab. Tak perlu tergesa-gesa untuk menafsirkan tanpa wawasan atau informasi yang cukup. Penafsiran atau pemaknaan yang tergesa-gesa akan cenderung jatuh pada pereduksian; sikap kritis tanpa dasar yang dapat berujung pada pendiskreditan yang tak tepat seperti seloroh (meskipun diharapkan tidak terjadi) yang mengira gedung kesenian akan jadi butik pakain.

Untuk membangun iklim kesenian yang sehat di Jember, gedung kesenian atau JKlab, adalah ruang. Ruang tersebut tidak akan bekerja dengan sendirinya tanpa lembaga yang mengelola dan sistem pengelolaan, orang-orang yang mengelola, dan, sudah barang tentu, kehidupan seni yang melingkupinya. Saya berharap kita bisa bersabar, tidak grusa-grusu, memberikan waktu dan ruang yang cukup bagi pihak-pihak yang mendapat amanat untuk mewujudkan konsep tata kelola, tata organisasi, skema pembiayaan lembaga seni (Dewan Kesenian Kabupaten Jember) yang akan menjadi lembaga pengelola gedung kesenian tersebut. Kita berharap JKlab akan menjadi “ruang kecil” yang dapat menyebarkan dan menumbuhkan sensibilitas artistik di tengah-tengah masyarakat, menjadi “ruang kecil” bagi para seniman Jember untuk berdialog dengan masyarakat dan para seniman luar Jember, melalui karya maupun secara langsung. Meskipun kita harus insyaf bahwa JKlab tidak mungkin akan memuaskan semua pihak.
*) Penulis adalah Kritikus Sastra

Jadi tidak perlu tergesa-gesa untuk memaknai atau menafsirkan penamaan JKlab. Tak perlu tergesa-gesa untuk menafsirkan tanpa wawasan atau informasi yang cukup. Penafsiran atau pemaknaan yang tergesa-gesa akan cenderung jatuh pada pereduksian; sikap kritis tanpa dasar yang dapat berujung pada pendiskreditan yang tak tepat seperti seloroh (meskipun diharapkan tidak terjadi) yang mengira gedung kesenian akan jadi butik pakain.

Untuk membangun iklim kesenian yang sehat di Jember, gedung kesenian atau JKlab, adalah ruang. Ruang tersebut tidak akan bekerja dengan sendirinya tanpa lembaga yang mengelola dan sistem pengelolaan, orang-orang yang mengelola, dan, sudah barang tentu, kehidupan seni yang melingkupinya. Saya berharap kita bisa bersabar, tidak grusa-grusu, memberikan waktu dan ruang yang cukup bagi pihak-pihak yang mendapat amanat untuk mewujudkan konsep tata kelola, tata organisasi, skema pembiayaan lembaga seni (Dewan Kesenian Kabupaten Jember) yang akan menjadi lembaga pengelola gedung kesenian tersebut. Kita berharap JKlab akan menjadi “ruang kecil” yang dapat menyebarkan dan menumbuhkan sensibilitas artistik di tengah-tengah masyarakat, menjadi “ruang kecil” bagi para seniman Jember untuk berdialog dengan masyarakat dan para seniman luar Jember, melalui karya maupun secara langsung. Meskipun kita harus insyaf bahwa JKlab tidak mungkin akan memuaskan semua pihak.
*) Penulis adalah Kritikus Sastra

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/