Jangan Remehkan Mudik Lebaran

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Guna mencegah Covid-19 merambah, masyarakat dilarang keras untuk mudik. Setiap tapal batas kota disekat. Semua kendaraan dilarang keras melintas. Pengamanan ketat dengan mengerahkan aparat, meskipun mall tetap beroperasi dengan pengunjung padat merapat. Dua kali Lebaran larangan ini diterapkan. Padahal mudik adalah esensi Lebaran. Lebaran merupakan abstraksi kultural Idul Fitri yang hanya ada di Indonesia. Lebaran tidak lebih sebagai pengejawantahan idiom-idiom islami dalam bingkai budaya. Lebaran hanya tumbuh dan berkembang di bumi Nusantara. Karenanya, justifikasi Lebaran tidak terdapat dalam Islam. Lebaran hanya ada dalam perspektif sosio-ekonomi dan antropologis.

Mendekati Lebaran, potret mudik adalah gambaran arus lalulintas padat merayap. Macet di berbagai simpul jalanan karena volume kendaraan bertambah secara signifikan. Lalu lalang orang dengan beratnya tentengan tas bawaan. Terminal menjadi wahana sumber rejeki bagi tukang ojek berikut jasa layanan antar jemput daring. Sontak dinamika perekonomian dalam berbagai sektor naik tajam.

Mudik adalah kesadaran humanistik untuk kembali menemukan hakikat manusiawinya karena selama ini orang telah menjadi robot kapitalistik. Lewis Yablonsky menyebut manusia-manusia modern ini sebagai ‘robophats’. Kehilangan spontanitas dan kreativitasnya. Menjadi mesin, ritualistik dan monoton. Bergulat dengan landasan spirit individualis, miskin empati karena tuntutan beragam target dalam dimensi kerja sebagai alat produksi. Terjebak rutinitas yang tidak berkesudahan. Jumud dalam sistem kompetitif yang membebani dan siap menerkam siapa pun. Terintegrasi dengan waktu bahkan diatur oleh waktu sehingga tidak menyadari bahwa orang-orang kini kehilangan kodrati esensinya sebagai manusia. Orang cenderung menjadi materialistis, mengorbankan perasaannya guna menggali keuntungan material tanpa batas. Orang-orang menjadi angka-angka yang dipandang seolah tanpa rasa dan sanak famili. Rasa kekeluargaan menjadi terbunuh demi sesuap nasi dan kebutuhan hidup dan kehidupannya yang disorientasi terhadap nilai-nilai.

Kota-kota besar sebagai sentral modernisasi tidak lebih sebagai rumah sakit jiwa. Komunitas penghuninya adalah orang-orang sakit termasuk dokter dan petugas rumah sakitnya. Penyembuhan individual tidaklah mungkin dilakukan. Penyembuhan massal adalah kebutuhan. Akurasi terapinya tidak ada lain adalah treatment untuk mengembalikan aspek manusiawi dengan langkah-langkah yang manusiawi pula. Melepaskan aspek material menuju semangat kekeluargaan yang spiritual.

Atas dasar realitas di atas, urgensi mudik menjadi penting, mendasar bahkan sebagai kebutuhan. Lebih dari itu mudik adalah terapi psikologis yang paling murah. Tidak perlu menguras biaya negara. Betapa tidak? Mudik adalah perjalanan lintas waktu karena orang ingin mewujudkan kerinduannya pada kampung halaman. Menikmati jajanan kampung, mengunjungi  sanak famili, berjabat tangan dengan teman dan tetangga. Mudik adalah momentum untuk kembali bersimpuh di hadapan orang tua sebagai aksi yang sakral. Berkunjung ke makam orang tua yang telah dipanggil Tuhan dan leluhur. Duduk dengan tangan menengadah dan berdoa dengan bacaan apa adanya. Tidak hanya kunjung sesama, dengan mudik binatang pun dikunjungi karena pada saat mudik orang-orang datang ke kebun binatang dengan sanak keluarga yang tidak setiap hari bisa diajak untuk piknik dan rekreasi. Suami istri menjalin kembali cinta kasih setelah setahun, mungkin bertahun-tahun menjadi orang asing. Para tetangga dan sahabat saling menegur dan saling memberi setelah sekian lama saling bersaing. Pendek kata, mudik itu tidak hanya tujuan. Namun, secara edukatif merupakan proses penyucian jiwa untuk kembali ke titik nol. Inilah makna silaturrahmi dalam halalbilhalal, meskipun istilah ini tidak akan pernah dipahami oleh masyarakat Arab. Seolah dengan halalbilhalal, momentum Lebaran menjadi tempat prilaku yang halal.

Karena itu biarkan orang-orang mengarungi darat, laut dan udara. Bersimbah keringat dalam kendaraan, berpayah-payah menempuh jauhnya perjalanan. Perjalan itu adalah perjalanan waktu yang berurat berakar pada historis yang menyimpan nilai-nilai sebagai energi. Orang-orang membawa masa kini ke masa lalu, dengan harapan mendapatkan kekuatan untuk menempuh masa depan.