alexametrics
23.1 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

MEMAHAMI KONFLIK

Dr. Sukidin, MPd

Mobile_AP_Rectangle 1

Munculnya konflik yang dipicu oleh faktor agama dan ekonomi, akhir-akhir ini sering terjadi dalam kehidupan sosial kita. Doktrin agama yang sangat kuat pengaruhnya pada kesadaran  mental, karena berkaitan dengan iman, dapat sebagai faktor pendorong orang memilki keberanian bertindak tentang sesuatu yang diyakini benar. Orang rela berkonflik, bahkan bertikai dengan orang lain, yang sebenarnya hanya gara-gara perbedaan pandangan saja. Masing-masing bertahan dengan kebenaran pada pandangannya, dan menganggap salah pandangan orang lain. Bila perbedaan ini yang diekpose, kemudian berlanjut dipertajam, maka akan muncul konflik. Konflik yang awalnya bersifat tersembunyi (laten) bisa berkembang, bahkan sering meletus menjadi konflik terbuka (manifest). Seperti pertikaian antara Qobil dan Habil, konflik di Poso, dan konflik yang dipicu oleh faktor beda pemahaman agama lainnya. Konflik yang paling baru yaitu munculnya pernyataan Menag tentang suara toa di masjid.

Faktor ekonomi juga rentan sebagai pemicu munculnya konflik. Konflik antara buruh dan pemodal akan terus terjadi karena adanya pola pembagian hasil yang dianggap tidak adil bagi kaum buruh. Marx menggambarkan fenomena ini sebagai pertentangan kelas. Kelas buruh akan terus berjuang menentang kapitalis (pemilik perusahaan) dengan tuntutan kenaikan upah dan tuntutan kesejahteraan lainnya. Konflik antar kelas tersebut akan terus terjadi sampai kaum buruh merasa diperlakukan secara adil dan manusiawi. Masih banyak fenomena konflik yang sebagai pemicunya adalah aspek ekonomi.

Konflik itu tidak akan pernah berakhir, karena selalu melekat menyertai kehidupan dalam masyarakat. Konflik tidak bisa dihilangkan, karena akan selalu hadir dalam kehidupan. Konflik juga bukan untuk diminimalisir, tapi konflik harus dikelola dengan baik. Manajemen konflik yang berbasis pendekatan dialog untuk mencapai konsensus, merupakan jalan tengah yang paling efektif. Upaya penyelesaian dengan resolusi konflik dapat sebagai alternatif untuk menuju perdamaian. Sudah saatnya kita memahami konflik sebagai bagian dari dinamika kehidupan. Hidup dalam suasana damai, rukun, dan sejahtera merupakan mimpi kita semua. Jadikanlan agama sebagai sumber kedamaian, bukan sumber pertikaian. Jadikanlah ekonomi sebagai sumber kemakmuran, bukan sebagai pemicu tawuran dan kehancuran. Berdamailah dengan konflik, karena dunia akan berubah menjadi kehidupan yang dipenuhi pembaharuan hanya bila diawali adanya konflik. Sebenarnya konflik itu dibutuhkan untuk perubahan kehidupan agar menjadi lebih baik.

Mobile_AP_Rectangle 2

*Penulis adalah dosen Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember

- Advertisement -

Munculnya konflik yang dipicu oleh faktor agama dan ekonomi, akhir-akhir ini sering terjadi dalam kehidupan sosial kita. Doktrin agama yang sangat kuat pengaruhnya pada kesadaran  mental, karena berkaitan dengan iman, dapat sebagai faktor pendorong orang memilki keberanian bertindak tentang sesuatu yang diyakini benar. Orang rela berkonflik, bahkan bertikai dengan orang lain, yang sebenarnya hanya gara-gara perbedaan pandangan saja. Masing-masing bertahan dengan kebenaran pada pandangannya, dan menganggap salah pandangan orang lain. Bila perbedaan ini yang diekpose, kemudian berlanjut dipertajam, maka akan muncul konflik. Konflik yang awalnya bersifat tersembunyi (laten) bisa berkembang, bahkan sering meletus menjadi konflik terbuka (manifest). Seperti pertikaian antara Qobil dan Habil, konflik di Poso, dan konflik yang dipicu oleh faktor beda pemahaman agama lainnya. Konflik yang paling baru yaitu munculnya pernyataan Menag tentang suara toa di masjid.

Faktor ekonomi juga rentan sebagai pemicu munculnya konflik. Konflik antara buruh dan pemodal akan terus terjadi karena adanya pola pembagian hasil yang dianggap tidak adil bagi kaum buruh. Marx menggambarkan fenomena ini sebagai pertentangan kelas. Kelas buruh akan terus berjuang menentang kapitalis (pemilik perusahaan) dengan tuntutan kenaikan upah dan tuntutan kesejahteraan lainnya. Konflik antar kelas tersebut akan terus terjadi sampai kaum buruh merasa diperlakukan secara adil dan manusiawi. Masih banyak fenomena konflik yang sebagai pemicunya adalah aspek ekonomi.

Konflik itu tidak akan pernah berakhir, karena selalu melekat menyertai kehidupan dalam masyarakat. Konflik tidak bisa dihilangkan, karena akan selalu hadir dalam kehidupan. Konflik juga bukan untuk diminimalisir, tapi konflik harus dikelola dengan baik. Manajemen konflik yang berbasis pendekatan dialog untuk mencapai konsensus, merupakan jalan tengah yang paling efektif. Upaya penyelesaian dengan resolusi konflik dapat sebagai alternatif untuk menuju perdamaian. Sudah saatnya kita memahami konflik sebagai bagian dari dinamika kehidupan. Hidup dalam suasana damai, rukun, dan sejahtera merupakan mimpi kita semua. Jadikanlan agama sebagai sumber kedamaian, bukan sumber pertikaian. Jadikanlah ekonomi sebagai sumber kemakmuran, bukan sebagai pemicu tawuran dan kehancuran. Berdamailah dengan konflik, karena dunia akan berubah menjadi kehidupan yang dipenuhi pembaharuan hanya bila diawali adanya konflik. Sebenarnya konflik itu dibutuhkan untuk perubahan kehidupan agar menjadi lebih baik.

*Penulis adalah dosen Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember

Munculnya konflik yang dipicu oleh faktor agama dan ekonomi, akhir-akhir ini sering terjadi dalam kehidupan sosial kita. Doktrin agama yang sangat kuat pengaruhnya pada kesadaran  mental, karena berkaitan dengan iman, dapat sebagai faktor pendorong orang memilki keberanian bertindak tentang sesuatu yang diyakini benar. Orang rela berkonflik, bahkan bertikai dengan orang lain, yang sebenarnya hanya gara-gara perbedaan pandangan saja. Masing-masing bertahan dengan kebenaran pada pandangannya, dan menganggap salah pandangan orang lain. Bila perbedaan ini yang diekpose, kemudian berlanjut dipertajam, maka akan muncul konflik. Konflik yang awalnya bersifat tersembunyi (laten) bisa berkembang, bahkan sering meletus menjadi konflik terbuka (manifest). Seperti pertikaian antara Qobil dan Habil, konflik di Poso, dan konflik yang dipicu oleh faktor beda pemahaman agama lainnya. Konflik yang paling baru yaitu munculnya pernyataan Menag tentang suara toa di masjid.

Faktor ekonomi juga rentan sebagai pemicu munculnya konflik. Konflik antara buruh dan pemodal akan terus terjadi karena adanya pola pembagian hasil yang dianggap tidak adil bagi kaum buruh. Marx menggambarkan fenomena ini sebagai pertentangan kelas. Kelas buruh akan terus berjuang menentang kapitalis (pemilik perusahaan) dengan tuntutan kenaikan upah dan tuntutan kesejahteraan lainnya. Konflik antar kelas tersebut akan terus terjadi sampai kaum buruh merasa diperlakukan secara adil dan manusiawi. Masih banyak fenomena konflik yang sebagai pemicunya adalah aspek ekonomi.

Konflik itu tidak akan pernah berakhir, karena selalu melekat menyertai kehidupan dalam masyarakat. Konflik tidak bisa dihilangkan, karena akan selalu hadir dalam kehidupan. Konflik juga bukan untuk diminimalisir, tapi konflik harus dikelola dengan baik. Manajemen konflik yang berbasis pendekatan dialog untuk mencapai konsensus, merupakan jalan tengah yang paling efektif. Upaya penyelesaian dengan resolusi konflik dapat sebagai alternatif untuk menuju perdamaian. Sudah saatnya kita memahami konflik sebagai bagian dari dinamika kehidupan. Hidup dalam suasana damai, rukun, dan sejahtera merupakan mimpi kita semua. Jadikanlan agama sebagai sumber kedamaian, bukan sumber pertikaian. Jadikanlah ekonomi sebagai sumber kemakmuran, bukan sebagai pemicu tawuran dan kehancuran. Berdamailah dengan konflik, karena dunia akan berubah menjadi kehidupan yang dipenuhi pembaharuan hanya bila diawali adanya konflik. Sebenarnya konflik itu dibutuhkan untuk perubahan kehidupan agar menjadi lebih baik.

*Penulis adalah dosen Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/