alexametrics
23.1 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Perdukunan

Dr Sukidin MPd Penulis sebagai Koordinator Program Studi Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember.

Mobile_AP_Rectangle 1

Istilah perdukunan rasanya sudah familier di masyarakat kita. Dukun itu ada sejak adanya peradaban manusia. Tradisi nenek moyang kita mayoritas mempercayai dukun sebagai penasihat dalam hidupnya. Dukun dianggap sebagai orang linuwih atau orang pintar. Dukun adalah profesi yang sangat popular di masyarakat waktu itu, bahkan sampai sekarang. Keterlibatan dukun dalam kehidupan masyarakat selama ini dinilai sangat dominan.

Di Jawa dikenal bermacam-macam tipe dukun, antara lain dukun siwer (pencegah kemalangan), dukun prewangan (penghubung manusia dengan roh), dukun beranak (membantu persalinan), dan dukun susuk. Dukun susuk memiliki kemampuan dalam memasukkan, membenamkan semacam jarum pendek, berukuran sekitar satu sentimeter yang amat halus yang terbuat dari bahan emas, berlian, ataupun batu kristal ke bagian tubuh manusia untuk kepentingan kecantikan, karir, kewibawaan, dan sebagainya.

Perdukunan terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan masyarakat. Ternyata dunia perdukunan tidak lekang oleh perubahan zaman. Meski saat ini kita hidup pada era globalisasi yang komunikasinya berbasis digital, tetapi sebagian masyarakat Indonesia masih banyak yang mempercayai bahwa dukun adalah sosok yang bisa dimintai jasa untuk kepentingan tertentu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebagian masyarakat beranggapan bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan cara yang rasional. Ketika metode rasional mengalami jalan buntu, mereka akan menempuh cara yang irasional. Pada masa Covid-19 ini, tren dunia perdukunan justru mengalami peningkatan. Ketika masyarakat banyak yang mengalami PHK, dan berlanjut pada kesulitan ekonomi, maka pergi meminta bantuan dukun dianggap mampu menjawab problem yang sedang menderanya. Dukun dianggap mampu memberi solusi yang riil, cepat, dan tepat. Dukun adalah seseorang yang dianggap mampu membantu masyarakat dalam upaya penyembuhan penyakit melalui tenaga supranatural. Dukun dapat membantu masyarakat dalam hal masalah menemukan jodoh, pelaris bagi pedagang, kekuasaan politik, karir, kesulitan ekonomi, sampai bagaimana menjadi disukai atau dihormati masyarakat.

Manusia dalam menghadapi berbagai permasalahan umumnya memilih solusi yang rasional, namun ada pula yang menempuh cara gaib. Metode yang rasional dilakukan melalui cara berpikir logis, sistematis, praktis, dan empiris. Namun, faktanya menunjukkan bahwa masih marak di masyarakat, mereka berusaha mengatasi masalah kehidupannya dengan cara mistis. Pergi ke dukun dianggap sebagai alternatif solusi untuk mengatasi masalah dalam hidupnya.

Dukun dipahami sebagai orang yang memiliki kelebihan dalam hal kemampuan supranatural, memahami hal yang tidak kasat mata. Dukun dinilai mampu berkomunikasi dengan arwah dan alam gaib, yang dipergunakan untuk membantu menyelesaikan masalah di masyarakat. Seperti penyakit, gangguan sihir, kehilangan barang, kesialan hidup, usaha selalu merugi, dan lain-lain. Dukun masih memiliki peranan strategis dalam masyarakat. Penyembuhan penyakit secara nonmedis masih dipraktikkan dan masih menjadi alternatif masyarakat karena lebih murah dan lebih mudah. Dukun yang membantu menyembuhkan penyakit sangat dibutuhkan dan dihormati di masyarakat, sehingga mereka memegang peranan sosial yang cukup penting.

Dunia perdukunan dalam perkembangannya menjadi suatu dilema. Dukun tidak hanya melakukan praktik ilmu putih, yang digunakan untuk membantu orang lain. Namun, peran dukun berkembang menjadi ilmu kuning, bahkan menjadi ilmu hitam. Dukun telah berubah menjadi aktivitas yang “kotor”, telah terjadi cultural capital, yang diakumulasikan untuk mendominasi masyarakat. Secara keseluruhan, kemampuan gaib yang dimiliki di antara para dukun, sesuai dengan konsep Pierre Bourdieu tentang cultural capital, yaitu karena kemampuan tersebut diturunkan atau dipelajari dalam rentang waktu tertentu.

- Advertisement -

Istilah perdukunan rasanya sudah familier di masyarakat kita. Dukun itu ada sejak adanya peradaban manusia. Tradisi nenek moyang kita mayoritas mempercayai dukun sebagai penasihat dalam hidupnya. Dukun dianggap sebagai orang linuwih atau orang pintar. Dukun adalah profesi yang sangat popular di masyarakat waktu itu, bahkan sampai sekarang. Keterlibatan dukun dalam kehidupan masyarakat selama ini dinilai sangat dominan.

Di Jawa dikenal bermacam-macam tipe dukun, antara lain dukun siwer (pencegah kemalangan), dukun prewangan (penghubung manusia dengan roh), dukun beranak (membantu persalinan), dan dukun susuk. Dukun susuk memiliki kemampuan dalam memasukkan, membenamkan semacam jarum pendek, berukuran sekitar satu sentimeter yang amat halus yang terbuat dari bahan emas, berlian, ataupun batu kristal ke bagian tubuh manusia untuk kepentingan kecantikan, karir, kewibawaan, dan sebagainya.

Perdukunan terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan masyarakat. Ternyata dunia perdukunan tidak lekang oleh perubahan zaman. Meski saat ini kita hidup pada era globalisasi yang komunikasinya berbasis digital, tetapi sebagian masyarakat Indonesia masih banyak yang mempercayai bahwa dukun adalah sosok yang bisa dimintai jasa untuk kepentingan tertentu.

Sebagian masyarakat beranggapan bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan cara yang rasional. Ketika metode rasional mengalami jalan buntu, mereka akan menempuh cara yang irasional. Pada masa Covid-19 ini, tren dunia perdukunan justru mengalami peningkatan. Ketika masyarakat banyak yang mengalami PHK, dan berlanjut pada kesulitan ekonomi, maka pergi meminta bantuan dukun dianggap mampu menjawab problem yang sedang menderanya. Dukun dianggap mampu memberi solusi yang riil, cepat, dan tepat. Dukun adalah seseorang yang dianggap mampu membantu masyarakat dalam upaya penyembuhan penyakit melalui tenaga supranatural. Dukun dapat membantu masyarakat dalam hal masalah menemukan jodoh, pelaris bagi pedagang, kekuasaan politik, karir, kesulitan ekonomi, sampai bagaimana menjadi disukai atau dihormati masyarakat.

Manusia dalam menghadapi berbagai permasalahan umumnya memilih solusi yang rasional, namun ada pula yang menempuh cara gaib. Metode yang rasional dilakukan melalui cara berpikir logis, sistematis, praktis, dan empiris. Namun, faktanya menunjukkan bahwa masih marak di masyarakat, mereka berusaha mengatasi masalah kehidupannya dengan cara mistis. Pergi ke dukun dianggap sebagai alternatif solusi untuk mengatasi masalah dalam hidupnya.

Dukun dipahami sebagai orang yang memiliki kelebihan dalam hal kemampuan supranatural, memahami hal yang tidak kasat mata. Dukun dinilai mampu berkomunikasi dengan arwah dan alam gaib, yang dipergunakan untuk membantu menyelesaikan masalah di masyarakat. Seperti penyakit, gangguan sihir, kehilangan barang, kesialan hidup, usaha selalu merugi, dan lain-lain. Dukun masih memiliki peranan strategis dalam masyarakat. Penyembuhan penyakit secara nonmedis masih dipraktikkan dan masih menjadi alternatif masyarakat karena lebih murah dan lebih mudah. Dukun yang membantu menyembuhkan penyakit sangat dibutuhkan dan dihormati di masyarakat, sehingga mereka memegang peranan sosial yang cukup penting.

Dunia perdukunan dalam perkembangannya menjadi suatu dilema. Dukun tidak hanya melakukan praktik ilmu putih, yang digunakan untuk membantu orang lain. Namun, peran dukun berkembang menjadi ilmu kuning, bahkan menjadi ilmu hitam. Dukun telah berubah menjadi aktivitas yang “kotor”, telah terjadi cultural capital, yang diakumulasikan untuk mendominasi masyarakat. Secara keseluruhan, kemampuan gaib yang dimiliki di antara para dukun, sesuai dengan konsep Pierre Bourdieu tentang cultural capital, yaitu karena kemampuan tersebut diturunkan atau dipelajari dalam rentang waktu tertentu.

Istilah perdukunan rasanya sudah familier di masyarakat kita. Dukun itu ada sejak adanya peradaban manusia. Tradisi nenek moyang kita mayoritas mempercayai dukun sebagai penasihat dalam hidupnya. Dukun dianggap sebagai orang linuwih atau orang pintar. Dukun adalah profesi yang sangat popular di masyarakat waktu itu, bahkan sampai sekarang. Keterlibatan dukun dalam kehidupan masyarakat selama ini dinilai sangat dominan.

Di Jawa dikenal bermacam-macam tipe dukun, antara lain dukun siwer (pencegah kemalangan), dukun prewangan (penghubung manusia dengan roh), dukun beranak (membantu persalinan), dan dukun susuk. Dukun susuk memiliki kemampuan dalam memasukkan, membenamkan semacam jarum pendek, berukuran sekitar satu sentimeter yang amat halus yang terbuat dari bahan emas, berlian, ataupun batu kristal ke bagian tubuh manusia untuk kepentingan kecantikan, karir, kewibawaan, dan sebagainya.

Perdukunan terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan masyarakat. Ternyata dunia perdukunan tidak lekang oleh perubahan zaman. Meski saat ini kita hidup pada era globalisasi yang komunikasinya berbasis digital, tetapi sebagian masyarakat Indonesia masih banyak yang mempercayai bahwa dukun adalah sosok yang bisa dimintai jasa untuk kepentingan tertentu.

Sebagian masyarakat beranggapan bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan cara yang rasional. Ketika metode rasional mengalami jalan buntu, mereka akan menempuh cara yang irasional. Pada masa Covid-19 ini, tren dunia perdukunan justru mengalami peningkatan. Ketika masyarakat banyak yang mengalami PHK, dan berlanjut pada kesulitan ekonomi, maka pergi meminta bantuan dukun dianggap mampu menjawab problem yang sedang menderanya. Dukun dianggap mampu memberi solusi yang riil, cepat, dan tepat. Dukun adalah seseorang yang dianggap mampu membantu masyarakat dalam upaya penyembuhan penyakit melalui tenaga supranatural. Dukun dapat membantu masyarakat dalam hal masalah menemukan jodoh, pelaris bagi pedagang, kekuasaan politik, karir, kesulitan ekonomi, sampai bagaimana menjadi disukai atau dihormati masyarakat.

Manusia dalam menghadapi berbagai permasalahan umumnya memilih solusi yang rasional, namun ada pula yang menempuh cara gaib. Metode yang rasional dilakukan melalui cara berpikir logis, sistematis, praktis, dan empiris. Namun, faktanya menunjukkan bahwa masih marak di masyarakat, mereka berusaha mengatasi masalah kehidupannya dengan cara mistis. Pergi ke dukun dianggap sebagai alternatif solusi untuk mengatasi masalah dalam hidupnya.

Dukun dipahami sebagai orang yang memiliki kelebihan dalam hal kemampuan supranatural, memahami hal yang tidak kasat mata. Dukun dinilai mampu berkomunikasi dengan arwah dan alam gaib, yang dipergunakan untuk membantu menyelesaikan masalah di masyarakat. Seperti penyakit, gangguan sihir, kehilangan barang, kesialan hidup, usaha selalu merugi, dan lain-lain. Dukun masih memiliki peranan strategis dalam masyarakat. Penyembuhan penyakit secara nonmedis masih dipraktikkan dan masih menjadi alternatif masyarakat karena lebih murah dan lebih mudah. Dukun yang membantu menyembuhkan penyakit sangat dibutuhkan dan dihormati di masyarakat, sehingga mereka memegang peranan sosial yang cukup penting.

Dunia perdukunan dalam perkembangannya menjadi suatu dilema. Dukun tidak hanya melakukan praktik ilmu putih, yang digunakan untuk membantu orang lain. Namun, peran dukun berkembang menjadi ilmu kuning, bahkan menjadi ilmu hitam. Dukun telah berubah menjadi aktivitas yang “kotor”, telah terjadi cultural capital, yang diakumulasikan untuk mendominasi masyarakat. Secara keseluruhan, kemampuan gaib yang dimiliki di antara para dukun, sesuai dengan konsep Pierre Bourdieu tentang cultural capital, yaitu karena kemampuan tersebut diturunkan atau dipelajari dalam rentang waktu tertentu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/