alexametrics
28.4 C
Jember
Monday, 27 June 2022

Toxic Masculinity: Hilangkan Nilai Kemanusiaan

Mobile_AP_Rectangle 1

Dalam perkembangannya, toxic masculinity membawa dampak bagi kehidupan. Baik kepada perempuan maupun laki-laki. Dengan mendikte bahwa pria harus kuat, tidak memiliki perasaan, dan mendominasi wanita, cita-cita maskulinitas membuat pria kehilangan aspek kehidupan yang harus tersedia untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, serta yang paling buruk yakni dapat mendorong kekerasan.

Suzannah Weiss dalam tulisannya Harmful Effects of Toxic masculinity menyebutkan beberapa dampak negatif akibat toxic masculinity, antaranya; 1) Dapat menindas emosi, hal ini karena toxic masculinity menyatakan bahwa satu-satunya emosi yang diungkapkan pria hanyalah kemarahan, sehingga menghalangi pria untuk berhubungan dengan hal lain yang mereka rasakan. 2) Mendorong adanya kekerasan, sebab toxic masculinity mengajarkan bahwa kekerasan adalah cara terbaik untuk laki-laki membuktikan kekuatan dan kekuasaan mereka. 3) Melestarikan budaya pemerkosaan. Toxic masculinity mengajarkan pria bahwa identitas mereka bergantung pada kemampuan untuk mendominasi perempuan, dan satu cara umum bagi laki-laki untuk menegaskan dominasi mereka adalah serangan dan pelecehan seksual. 4) Misogini, dalam hal ini toxic masculinity mengajarkan bahwa laki-laki yang berkuasa, yang berarti perempuan tidak; bahwa laki-laki memimpin dan perempuan hanya mengikuti yang laki-laki katakan; bahwa laki-laki lebih unggul dan perempuan lebih rendah; bahwa laki-laki kuat dan wanita itu lemah.

Singkatnya, dengan melampirkan karakteristik tertentu kepada pria dan menilai mereka di atas kualitas perempuan, sehingga bukan hanya mendorong budaya yang menentang feminism, tetapi juga merendahkan perempuan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Secara jelas toxic Masculinity telah meninggalkan nilai kemanusiaan dan memberi dampak negatif baik kepada laki-laki maupun perempuan. Maka, sebisa mungkin pemikiran yang mengarah pada toxic masculinity dihindarkan dan dicegah. Adapun cara yang bisa dilakukan untuk membunuh toxic masculinity dengan mengubah pola asuh anak yang salah. Sedari kecil orang tua bisa menyampaikan kepada anak bahwa seorang anak laki-laki boleh menangis dan bebas mencurahkan apa yang ia rasakan. Selain itu, orang tua perlu mengajari konsep konsensual sejak dini kepada seorang anak. Misalnya, menyampaikan bahwa setiap orang memiliki batasan yang tidak bisa sembarangan dilewati dan juga mengajarkan bahwa tubuh setiap orang adalah milik orang tersebut, sehingga ia tak bisa sembarangan menyentuh atau memeluk tanpa izin. Selanjutnya, orang tua perlu berhati-hati dalam memberikan media hiburan pada anak. Apabila mendeteksi elemen toxic masculinity dalam film atau buku kesukaannya, orang tua bisa memberikan intervensi bahwa elemen tersebut tidak patut untuk dicontoh.

Selain cara di atas, dalam media Medical News Today disampaikan bahwa cara yang bisa dilakukan untuk mengubur pemikiran toxic Masculinity pada tingkat pribadi yaitu dengan mendidik diri tentang sikapnya terhadap maskulinitas dan memberi ruang bagi orang lain untuk membantu mengubah definisi yang tertanam di dalam dirinya. Contohnya; mengundang seorang teman untuk berbagi emosi atau perasaan tentang berbagai topik dan mendiskusikannya secara terbuka tanpa menghakimi ataupun mengkritik orang lain. Dengan berbagai cara yang bisa dilakukan sebagai alternatif membuka pemenjaraan manusia berdasar adanya toxic masculinity, maka diharapkan tidak ada lagi pihak yang dilanggar kemanusiaannya, baik laki-laki maupun perempuan.

(* Penulis adalah Ketua PMII Rayon FKIP Komisariat Universitas Islam Jember

- Advertisement -

Dalam perkembangannya, toxic masculinity membawa dampak bagi kehidupan. Baik kepada perempuan maupun laki-laki. Dengan mendikte bahwa pria harus kuat, tidak memiliki perasaan, dan mendominasi wanita, cita-cita maskulinitas membuat pria kehilangan aspek kehidupan yang harus tersedia untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, serta yang paling buruk yakni dapat mendorong kekerasan.

Suzannah Weiss dalam tulisannya Harmful Effects of Toxic masculinity menyebutkan beberapa dampak negatif akibat toxic masculinity, antaranya; 1) Dapat menindas emosi, hal ini karena toxic masculinity menyatakan bahwa satu-satunya emosi yang diungkapkan pria hanyalah kemarahan, sehingga menghalangi pria untuk berhubungan dengan hal lain yang mereka rasakan. 2) Mendorong adanya kekerasan, sebab toxic masculinity mengajarkan bahwa kekerasan adalah cara terbaik untuk laki-laki membuktikan kekuatan dan kekuasaan mereka. 3) Melestarikan budaya pemerkosaan. Toxic masculinity mengajarkan pria bahwa identitas mereka bergantung pada kemampuan untuk mendominasi perempuan, dan satu cara umum bagi laki-laki untuk menegaskan dominasi mereka adalah serangan dan pelecehan seksual. 4) Misogini, dalam hal ini toxic masculinity mengajarkan bahwa laki-laki yang berkuasa, yang berarti perempuan tidak; bahwa laki-laki memimpin dan perempuan hanya mengikuti yang laki-laki katakan; bahwa laki-laki lebih unggul dan perempuan lebih rendah; bahwa laki-laki kuat dan wanita itu lemah.

Singkatnya, dengan melampirkan karakteristik tertentu kepada pria dan menilai mereka di atas kualitas perempuan, sehingga bukan hanya mendorong budaya yang menentang feminism, tetapi juga merendahkan perempuan.

Secara jelas toxic Masculinity telah meninggalkan nilai kemanusiaan dan memberi dampak negatif baik kepada laki-laki maupun perempuan. Maka, sebisa mungkin pemikiran yang mengarah pada toxic masculinity dihindarkan dan dicegah. Adapun cara yang bisa dilakukan untuk membunuh toxic masculinity dengan mengubah pola asuh anak yang salah. Sedari kecil orang tua bisa menyampaikan kepada anak bahwa seorang anak laki-laki boleh menangis dan bebas mencurahkan apa yang ia rasakan. Selain itu, orang tua perlu mengajari konsep konsensual sejak dini kepada seorang anak. Misalnya, menyampaikan bahwa setiap orang memiliki batasan yang tidak bisa sembarangan dilewati dan juga mengajarkan bahwa tubuh setiap orang adalah milik orang tersebut, sehingga ia tak bisa sembarangan menyentuh atau memeluk tanpa izin. Selanjutnya, orang tua perlu berhati-hati dalam memberikan media hiburan pada anak. Apabila mendeteksi elemen toxic masculinity dalam film atau buku kesukaannya, orang tua bisa memberikan intervensi bahwa elemen tersebut tidak patut untuk dicontoh.

Selain cara di atas, dalam media Medical News Today disampaikan bahwa cara yang bisa dilakukan untuk mengubur pemikiran toxic Masculinity pada tingkat pribadi yaitu dengan mendidik diri tentang sikapnya terhadap maskulinitas dan memberi ruang bagi orang lain untuk membantu mengubah definisi yang tertanam di dalam dirinya. Contohnya; mengundang seorang teman untuk berbagi emosi atau perasaan tentang berbagai topik dan mendiskusikannya secara terbuka tanpa menghakimi ataupun mengkritik orang lain. Dengan berbagai cara yang bisa dilakukan sebagai alternatif membuka pemenjaraan manusia berdasar adanya toxic masculinity, maka diharapkan tidak ada lagi pihak yang dilanggar kemanusiaannya, baik laki-laki maupun perempuan.

(* Penulis adalah Ketua PMII Rayon FKIP Komisariat Universitas Islam Jember

Dalam perkembangannya, toxic masculinity membawa dampak bagi kehidupan. Baik kepada perempuan maupun laki-laki. Dengan mendikte bahwa pria harus kuat, tidak memiliki perasaan, dan mendominasi wanita, cita-cita maskulinitas membuat pria kehilangan aspek kehidupan yang harus tersedia untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, serta yang paling buruk yakni dapat mendorong kekerasan.

Suzannah Weiss dalam tulisannya Harmful Effects of Toxic masculinity menyebutkan beberapa dampak negatif akibat toxic masculinity, antaranya; 1) Dapat menindas emosi, hal ini karena toxic masculinity menyatakan bahwa satu-satunya emosi yang diungkapkan pria hanyalah kemarahan, sehingga menghalangi pria untuk berhubungan dengan hal lain yang mereka rasakan. 2) Mendorong adanya kekerasan, sebab toxic masculinity mengajarkan bahwa kekerasan adalah cara terbaik untuk laki-laki membuktikan kekuatan dan kekuasaan mereka. 3) Melestarikan budaya pemerkosaan. Toxic masculinity mengajarkan pria bahwa identitas mereka bergantung pada kemampuan untuk mendominasi perempuan, dan satu cara umum bagi laki-laki untuk menegaskan dominasi mereka adalah serangan dan pelecehan seksual. 4) Misogini, dalam hal ini toxic masculinity mengajarkan bahwa laki-laki yang berkuasa, yang berarti perempuan tidak; bahwa laki-laki memimpin dan perempuan hanya mengikuti yang laki-laki katakan; bahwa laki-laki lebih unggul dan perempuan lebih rendah; bahwa laki-laki kuat dan wanita itu lemah.

Singkatnya, dengan melampirkan karakteristik tertentu kepada pria dan menilai mereka di atas kualitas perempuan, sehingga bukan hanya mendorong budaya yang menentang feminism, tetapi juga merendahkan perempuan.

Secara jelas toxic Masculinity telah meninggalkan nilai kemanusiaan dan memberi dampak negatif baik kepada laki-laki maupun perempuan. Maka, sebisa mungkin pemikiran yang mengarah pada toxic masculinity dihindarkan dan dicegah. Adapun cara yang bisa dilakukan untuk membunuh toxic masculinity dengan mengubah pola asuh anak yang salah. Sedari kecil orang tua bisa menyampaikan kepada anak bahwa seorang anak laki-laki boleh menangis dan bebas mencurahkan apa yang ia rasakan. Selain itu, orang tua perlu mengajari konsep konsensual sejak dini kepada seorang anak. Misalnya, menyampaikan bahwa setiap orang memiliki batasan yang tidak bisa sembarangan dilewati dan juga mengajarkan bahwa tubuh setiap orang adalah milik orang tersebut, sehingga ia tak bisa sembarangan menyentuh atau memeluk tanpa izin. Selanjutnya, orang tua perlu berhati-hati dalam memberikan media hiburan pada anak. Apabila mendeteksi elemen toxic masculinity dalam film atau buku kesukaannya, orang tua bisa memberikan intervensi bahwa elemen tersebut tidak patut untuk dicontoh.

Selain cara di atas, dalam media Medical News Today disampaikan bahwa cara yang bisa dilakukan untuk mengubur pemikiran toxic Masculinity pada tingkat pribadi yaitu dengan mendidik diri tentang sikapnya terhadap maskulinitas dan memberi ruang bagi orang lain untuk membantu mengubah definisi yang tertanam di dalam dirinya. Contohnya; mengundang seorang teman untuk berbagi emosi atau perasaan tentang berbagai topik dan mendiskusikannya secara terbuka tanpa menghakimi ataupun mengkritik orang lain. Dengan berbagai cara yang bisa dilakukan sebagai alternatif membuka pemenjaraan manusia berdasar adanya toxic masculinity, maka diharapkan tidak ada lagi pihak yang dilanggar kemanusiaannya, baik laki-laki maupun perempuan.

(* Penulis adalah Ketua PMII Rayon FKIP Komisariat Universitas Islam Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/