alexametrics
23.9 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Toxic Masculinity: Hilangkan Nilai Kemanusiaan

Mobile_AP_Rectangle 1

TOXIC (racun) dalam kamus Merriam Webster diartikan sebagai hal yang mengandung bahan yang berbahaya terutama ketika mampu menyebabkan kematian, kelemahan, dan kekerasan. Sedangkan, masculinity diartikan sebagai kualitas yang sering dikaitkan dengan laki-laki seperti kejantanan, dll. Sehingga, secara harfiah toxic masculinity dapat diartikan sebagai budaya atau lingkungan sekitar yang melihat seseorang berdasarkan sifat kejantanan yang dimiliki. Dengan demikian, toxic masculinity berjalan sebagai perilaku sempit dalam memaknai peran gender dan sifat laki-laki.

Hal ini selaras dengan pemaparan sebuah studi yang dimuat dalam Journal of Psychology yang mengartikan bahwa toxic masculinity merupakan kumpulan sifat maskulin dalam konstruksi sosial yang difungsikan untuk mendorong dominasi, kekerasan, homophobia, dan perendahan terhadap perempuan. Sebagaimana yang ditulis oleh Jaclyn Friedman dalam Toxic Masculinity yang diunggah pada media The American Prospect bahwa toxic masculinity mendefinisikan dirinya tidak hanya bertentangan dengan perempuan, tetapi secara inheren mengunggulkan diri dan menarik kekuatannya dari dominasi atas kelemahan perempuan dan menciptakan laki-laki yang senang hati merusak kekuasaan perempuan.

Lebih lanjut, Amanda Marcotte, seorang penulis feminism, politisi, dan budaya, mengatakan bahwa toxic masculinity adalah model spesifik kejantanan yang diarahkan pada dominasi dan kontrol. Ini adalah kejantanan yang memandang perempuan dan orang-orang LGBT sebagai bukan manusia yang saling kasih dan sayang, tetapi sebagai dominasi atas dirinya dan menghargai tindakan (kekerasan) sebagai cara pembuktian diri kepada dunia. Toxic masculinity pada mulanya bercita-cita untuk sebuah ketangguhan, namun pada kenyataannya menjadi sebuah ideologi hidup dalam ketakutan; ketakutan akan sifat lembut, lemah, atau anggapan lain yang kurang jantan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Toxic masculinity diawali dengan kebangkitan gerakan laki-laki Mythopoetic tahun 80-an dan 90-an. Gerakan ini sebagai tanggapan dari adanya gerakan feminisme dan sebagian besar didukung oleh buku Robert Bly yang berjudul Iron John. Dalam buku ini, Bly menegaskan bahwa gerakan feminisme menyebabkan laki-laki untuk memeriksa sisi feminisnya dengan meninggalkan kebiasaan atau ritual laki-laki yang sering mereka lakukan. Dalam pengantar bukunya, Bly menuliskan bahwa “Laki-laki dalam dua puluh tahun terakhir telah menjadi lebih bijaksana dan lembut, sehingga dalam proses ini dia tidak menjadi lebih bebas.”

Seiring perjalanannya, toxic masculinity mendekonstruksikan maskulinitas sebagai topeng performatif daripada sebatas keharusan biologis. Menurut Erick Mankowski, Ketua Asosiasi Departemen Psikologi Portland dan kepala Tim Penelitian Intervensi Gender dan kekerasan, ada empat komponen utama yang membalut toxic masculinity, antaranya; 1) Penindasan terhadap segala sesuatu yang secara stereotip feminisme. 2) Penekanan emosi yang berhubungan dengan kerentanan, seperti ketakutan, ketidakberdayaan, dll. 3) Dominasi laki-laki atas perempuan dan laki-laki lain. Dan 4) Agresi. Dari empat komponen distal tersebut, tentunya akan memunculkan sikap dan perilaku proksimal seperti anggapan “saya berhak memiliki akses ke tubuh perempuan,” dll. Hal ini senada dengan hasil penelitian yang dilakukan Y. Joel Wong bahwa toxic masculinity bercirikan seperti keinginan untuk menang, kekerasan, dan kekuasaan atas perempuan, serta penghinaan terhadap homoseksual, dll.

Adapun penanaman pemahaman toxic masculinity dimulai dari pola asuh orang tua terhadap anak. Biasanya anak laki-laki diajarkan bahwa mereka akan dihukum karena melakukan sesuatu yang bersifat “perempuan”, mulai dari main boneka, menangis, dll. Selanjutnya, Frank Pittman berpendapat bahwa toxic masculinity dihasilkan dari perempuan yang membesarkan anak laki-laki tanpa kehadiran panutan laki-laki, sehingga menyalahkan perempuan atas keberadaannya.

Selain itu, laki-laki sangat menyukai kejantanannya karena laki-laki telah diajarkan untuk mengorbankan hidup mereka demi kejantanannya. Seperti contoh; tidak boleh mengeluh dan menangis, melakukan tindak kekerasan pada orang lain sebagai pembuktian atas kejantanannya, menunjukkan dominasi dan kekuasaan terhadap orang lain, merasa tidak perlu membela hak perempuan atau kaum marginal lain, mengagungkan tindakan berisiko seperti menyetir dengan kecepatan tinggi dan mengonsumsi obat terlarang, serta enggan untuk melakukan aktivitas yang dianggap hanya milik perempuan seperti menyapu, berkebun, dan mengasuh anak.

- Advertisement -

TOXIC (racun) dalam kamus Merriam Webster diartikan sebagai hal yang mengandung bahan yang berbahaya terutama ketika mampu menyebabkan kematian, kelemahan, dan kekerasan. Sedangkan, masculinity diartikan sebagai kualitas yang sering dikaitkan dengan laki-laki seperti kejantanan, dll. Sehingga, secara harfiah toxic masculinity dapat diartikan sebagai budaya atau lingkungan sekitar yang melihat seseorang berdasarkan sifat kejantanan yang dimiliki. Dengan demikian, toxic masculinity berjalan sebagai perilaku sempit dalam memaknai peran gender dan sifat laki-laki.

Hal ini selaras dengan pemaparan sebuah studi yang dimuat dalam Journal of Psychology yang mengartikan bahwa toxic masculinity merupakan kumpulan sifat maskulin dalam konstruksi sosial yang difungsikan untuk mendorong dominasi, kekerasan, homophobia, dan perendahan terhadap perempuan. Sebagaimana yang ditulis oleh Jaclyn Friedman dalam Toxic Masculinity yang diunggah pada media The American Prospect bahwa toxic masculinity mendefinisikan dirinya tidak hanya bertentangan dengan perempuan, tetapi secara inheren mengunggulkan diri dan menarik kekuatannya dari dominasi atas kelemahan perempuan dan menciptakan laki-laki yang senang hati merusak kekuasaan perempuan.

Lebih lanjut, Amanda Marcotte, seorang penulis feminism, politisi, dan budaya, mengatakan bahwa toxic masculinity adalah model spesifik kejantanan yang diarahkan pada dominasi dan kontrol. Ini adalah kejantanan yang memandang perempuan dan orang-orang LGBT sebagai bukan manusia yang saling kasih dan sayang, tetapi sebagai dominasi atas dirinya dan menghargai tindakan (kekerasan) sebagai cara pembuktian diri kepada dunia. Toxic masculinity pada mulanya bercita-cita untuk sebuah ketangguhan, namun pada kenyataannya menjadi sebuah ideologi hidup dalam ketakutan; ketakutan akan sifat lembut, lemah, atau anggapan lain yang kurang jantan.

Toxic masculinity diawali dengan kebangkitan gerakan laki-laki Mythopoetic tahun 80-an dan 90-an. Gerakan ini sebagai tanggapan dari adanya gerakan feminisme dan sebagian besar didukung oleh buku Robert Bly yang berjudul Iron John. Dalam buku ini, Bly menegaskan bahwa gerakan feminisme menyebabkan laki-laki untuk memeriksa sisi feminisnya dengan meninggalkan kebiasaan atau ritual laki-laki yang sering mereka lakukan. Dalam pengantar bukunya, Bly menuliskan bahwa “Laki-laki dalam dua puluh tahun terakhir telah menjadi lebih bijaksana dan lembut, sehingga dalam proses ini dia tidak menjadi lebih bebas.”

Seiring perjalanannya, toxic masculinity mendekonstruksikan maskulinitas sebagai topeng performatif daripada sebatas keharusan biologis. Menurut Erick Mankowski, Ketua Asosiasi Departemen Psikologi Portland dan kepala Tim Penelitian Intervensi Gender dan kekerasan, ada empat komponen utama yang membalut toxic masculinity, antaranya; 1) Penindasan terhadap segala sesuatu yang secara stereotip feminisme. 2) Penekanan emosi yang berhubungan dengan kerentanan, seperti ketakutan, ketidakberdayaan, dll. 3) Dominasi laki-laki atas perempuan dan laki-laki lain. Dan 4) Agresi. Dari empat komponen distal tersebut, tentunya akan memunculkan sikap dan perilaku proksimal seperti anggapan “saya berhak memiliki akses ke tubuh perempuan,” dll. Hal ini senada dengan hasil penelitian yang dilakukan Y. Joel Wong bahwa toxic masculinity bercirikan seperti keinginan untuk menang, kekerasan, dan kekuasaan atas perempuan, serta penghinaan terhadap homoseksual, dll.

Adapun penanaman pemahaman toxic masculinity dimulai dari pola asuh orang tua terhadap anak. Biasanya anak laki-laki diajarkan bahwa mereka akan dihukum karena melakukan sesuatu yang bersifat “perempuan”, mulai dari main boneka, menangis, dll. Selanjutnya, Frank Pittman berpendapat bahwa toxic masculinity dihasilkan dari perempuan yang membesarkan anak laki-laki tanpa kehadiran panutan laki-laki, sehingga menyalahkan perempuan atas keberadaannya.

Selain itu, laki-laki sangat menyukai kejantanannya karena laki-laki telah diajarkan untuk mengorbankan hidup mereka demi kejantanannya. Seperti contoh; tidak boleh mengeluh dan menangis, melakukan tindak kekerasan pada orang lain sebagai pembuktian atas kejantanannya, menunjukkan dominasi dan kekuasaan terhadap orang lain, merasa tidak perlu membela hak perempuan atau kaum marginal lain, mengagungkan tindakan berisiko seperti menyetir dengan kecepatan tinggi dan mengonsumsi obat terlarang, serta enggan untuk melakukan aktivitas yang dianggap hanya milik perempuan seperti menyapu, berkebun, dan mengasuh anak.

TOXIC (racun) dalam kamus Merriam Webster diartikan sebagai hal yang mengandung bahan yang berbahaya terutama ketika mampu menyebabkan kematian, kelemahan, dan kekerasan. Sedangkan, masculinity diartikan sebagai kualitas yang sering dikaitkan dengan laki-laki seperti kejantanan, dll. Sehingga, secara harfiah toxic masculinity dapat diartikan sebagai budaya atau lingkungan sekitar yang melihat seseorang berdasarkan sifat kejantanan yang dimiliki. Dengan demikian, toxic masculinity berjalan sebagai perilaku sempit dalam memaknai peran gender dan sifat laki-laki.

Hal ini selaras dengan pemaparan sebuah studi yang dimuat dalam Journal of Psychology yang mengartikan bahwa toxic masculinity merupakan kumpulan sifat maskulin dalam konstruksi sosial yang difungsikan untuk mendorong dominasi, kekerasan, homophobia, dan perendahan terhadap perempuan. Sebagaimana yang ditulis oleh Jaclyn Friedman dalam Toxic Masculinity yang diunggah pada media The American Prospect bahwa toxic masculinity mendefinisikan dirinya tidak hanya bertentangan dengan perempuan, tetapi secara inheren mengunggulkan diri dan menarik kekuatannya dari dominasi atas kelemahan perempuan dan menciptakan laki-laki yang senang hati merusak kekuasaan perempuan.

Lebih lanjut, Amanda Marcotte, seorang penulis feminism, politisi, dan budaya, mengatakan bahwa toxic masculinity adalah model spesifik kejantanan yang diarahkan pada dominasi dan kontrol. Ini adalah kejantanan yang memandang perempuan dan orang-orang LGBT sebagai bukan manusia yang saling kasih dan sayang, tetapi sebagai dominasi atas dirinya dan menghargai tindakan (kekerasan) sebagai cara pembuktian diri kepada dunia. Toxic masculinity pada mulanya bercita-cita untuk sebuah ketangguhan, namun pada kenyataannya menjadi sebuah ideologi hidup dalam ketakutan; ketakutan akan sifat lembut, lemah, atau anggapan lain yang kurang jantan.

Toxic masculinity diawali dengan kebangkitan gerakan laki-laki Mythopoetic tahun 80-an dan 90-an. Gerakan ini sebagai tanggapan dari adanya gerakan feminisme dan sebagian besar didukung oleh buku Robert Bly yang berjudul Iron John. Dalam buku ini, Bly menegaskan bahwa gerakan feminisme menyebabkan laki-laki untuk memeriksa sisi feminisnya dengan meninggalkan kebiasaan atau ritual laki-laki yang sering mereka lakukan. Dalam pengantar bukunya, Bly menuliskan bahwa “Laki-laki dalam dua puluh tahun terakhir telah menjadi lebih bijaksana dan lembut, sehingga dalam proses ini dia tidak menjadi lebih bebas.”

Seiring perjalanannya, toxic masculinity mendekonstruksikan maskulinitas sebagai topeng performatif daripada sebatas keharusan biologis. Menurut Erick Mankowski, Ketua Asosiasi Departemen Psikologi Portland dan kepala Tim Penelitian Intervensi Gender dan kekerasan, ada empat komponen utama yang membalut toxic masculinity, antaranya; 1) Penindasan terhadap segala sesuatu yang secara stereotip feminisme. 2) Penekanan emosi yang berhubungan dengan kerentanan, seperti ketakutan, ketidakberdayaan, dll. 3) Dominasi laki-laki atas perempuan dan laki-laki lain. Dan 4) Agresi. Dari empat komponen distal tersebut, tentunya akan memunculkan sikap dan perilaku proksimal seperti anggapan “saya berhak memiliki akses ke tubuh perempuan,” dll. Hal ini senada dengan hasil penelitian yang dilakukan Y. Joel Wong bahwa toxic masculinity bercirikan seperti keinginan untuk menang, kekerasan, dan kekuasaan atas perempuan, serta penghinaan terhadap homoseksual, dll.

Adapun penanaman pemahaman toxic masculinity dimulai dari pola asuh orang tua terhadap anak. Biasanya anak laki-laki diajarkan bahwa mereka akan dihukum karena melakukan sesuatu yang bersifat “perempuan”, mulai dari main boneka, menangis, dll. Selanjutnya, Frank Pittman berpendapat bahwa toxic masculinity dihasilkan dari perempuan yang membesarkan anak laki-laki tanpa kehadiran panutan laki-laki, sehingga menyalahkan perempuan atas keberadaannya.

Selain itu, laki-laki sangat menyukai kejantanannya karena laki-laki telah diajarkan untuk mengorbankan hidup mereka demi kejantanannya. Seperti contoh; tidak boleh mengeluh dan menangis, melakukan tindak kekerasan pada orang lain sebagai pembuktian atas kejantanannya, menunjukkan dominasi dan kekuasaan terhadap orang lain, merasa tidak perlu membela hak perempuan atau kaum marginal lain, mengagungkan tindakan berisiko seperti menyetir dengan kecepatan tinggi dan mengonsumsi obat terlarang, serta enggan untuk melakukan aktivitas yang dianggap hanya milik perempuan seperti menyapu, berkebun, dan mengasuh anak.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/