Kedua, apabila kita beranggapan dan percaya bahwa korupsi merupakan bagian dari budaya, maka kita adalah bangsa yang pesimis dan takluk terhadap korupsi. Berarti sama saja kita menganggap korupsi sebagai hal yang biasa dan amat sulit diberantas, sebab yang namanya budaya itu sudah dihayati sebagai kebiasaan hidup yang tumbuh dan berkembang selama berabad-abad sehingga sulit dihentikan juga sampai berabad-abad ke depannya. Dengan sikap seperti itu bagaimana mungkin kita akan memerangi korupsi?

Ketiga, dalam perjalanan bangsa Indonesia pada awal kemerdekaan kenyataan menunjukkan korupsi bisa diatasi atau diminimalisasikan melalui konfigurasi dan kebijakan-kebijakan politik. Pada awal kemerdekaan sampai menjelang tahun 1950-an, negara kita relatif bisa memerangi korupsi. Pada era itu korupsi besar bisa dihitung dengan jari dan tetap mudah diadili sesuai dengan hukum yang berlaku. Ada menteri-menteri diajukan ke pengadilan dan dihukum karena tindak pidana korupsi (seperti Menteri Agama dan Menteri Kehakiman).

Sejatinya korupsi bukan merupakan budaya bangsa Indonesia, tetapi merupakan suatu penyakit yang menggerogoti bangsa. Bagaikan penyakit yang kondisinya memerlukan pengobatan ataupun penanganan yang serius untuk kesembuhannya. Virus korupsi di Indonesia salah satunya ditularkan oleh penjajah Belanda. Sejarah mencatat bahwa Belanda dengan organisasi dagangnya Vereenigde Oostindische Compagnie yang disingkat dengan “VOC” inilah yang membawa virus korupsi. Sebagai sebuah perusahaan multi nasional pertama di dunia yang didirikan pada 20 Maret 1602, perusahaan tersebut memiliki monopoli untuk aktifitas perdagangan di Asia itu hampir dua abad menguasai Indonesia. Di masa kejayaannya, VOC memiliki keuntungan selangit dari hasil monopoli dan menjual rempah-rempah nusantara ke Eropa. Namun kejayaan VOC diiringi dengan suburnya praktek korupsi pada perusahaan tersebut. Seseorang yang ingin menjadi pegawai ataupun pejabat di VOC wajib menyuap ataupun memberikan upeti kepada atasannya. Korupsi pun merajalela di perusahaan multinasional pertama itu. Penyakit korupsi inilah yang mengakibatkan VOC bangkrut, disamping disebabkan karena perang dengan masyarakat pribumi yang jelas-jelas menyedot keuangan dalam jumlah yang luar biasa besar.

Penyakit korupsi juga telah menjangkit pada masa kerajaan-kerajaan nusantara di masa lalu. Pada zaman tersebut telah terjadi pengemplangan pajak oleh petugas pajak yang diberikan tugas kerajaan untuk memungut pajak dari masyarakat, demikian juga para bangsawan kerap menumpuk uang dengan mengemplang pajak atau menipu kerajaan secara besar-besaran, dan budaya titip saudara di lingkungan kerajaan juga telah banyak dilakukan. Kondisi lebih miris lagi, ada kerajaan-kerajaan yang menyuap Belanda agar menjadi sekutu dan tidak diserang oleh Belanda. Kondisi-kondisi itu telah mengakibatkan kerajaan- kerajaan di nusantara penuh dengan intrik-intrik politik busuk dan mudah diadu domba oleh Belanda, sehingga berdampak pada kehancuran kerajaan-kerajaan tersebut. Begitu pula robohnya rezim orde baru, penyebab utamanya adalah penyakit korupsi, kolusi dan nepotisme.

Melihat fakta-fakta di atas, tentu kita sepakat bahwa korupsi di negeri ini harus segera diberantas. Pemerintah harus senantiasa menyempurnakan tata kelola pemerintahan untuk menutup sama sekali ruang bagi aparatur pemerintah dan para pejabat yang sedang berkuasa untuk melakukan tindakan korupsi. Politisi, akademisi, pakar hukum, mahasiswa dan seluruh masyarakat mari kita bersama-sama berkontribusi menyumbang peran untuk pemberantasan korupsi sesuai posisi kita masing-masing. Hanya dengan itu korupsi bisa diberantas, uang rakyat bisa diselamatkan, pembangunan berjalan dengan baik, dan masyarakat pun makmur sejahtera.