KKN Partisipatoris dan Benchmark IAIN Jember

Oleh: Moh. Abd. Rauf *)

Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali (Tan Malaka). Itulah kuotasi oleh seorang filsuf Indonesia yang sering didengar di lingkungan kampus. Memang, menyandang status mahasiswa sangat berbeda daripada siswa yang berada di bangku sekolah. Salah satu hal yang melatarbelakangi diferensiasi tersebut ialah adanya tugas pengabdian yang harus terjun di tengah masyarakat atau biasa disebut kuliah kerja nyata (KKN). KKN hadir sebagai bentuk manifestasi peran mahasiswa, agent of change serta social control yang dapat memberikan perubahan secara signifikan dan komprehensif terhadap problem masyarakat. Maka dari itu, mahasiswa dituntut untuk mengultuskan sikap sosial dan menguburkan belenggu individualis.

IKLAN

Kuliah kerja nyata (KKN) adalah bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral pada waktu dan daerah tertentu. Secara historis, KKN pertama kali dilaksanakan pada tahun 1971 oleh Direktur Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Kemenristekdikti) yang menetapkan tiga universitas di tiga bagian daerah sebagai proyek perintis. Universitas Andalas di bagian barat, Universitas Gadjah Mada di bagian tengah, dan Universitas Hasanuddin di bagian timur. Pada awalnya, program KKN disebut sebagai kegiatan pengabdian masyarakat. Seiring berjalannya waktu dengan bertambahnya perguruan tinggi (PT) maka semakin masif pula kontribusi mahasiswa terhadap tuntutan dan kebutuhan masyarakat.

Beberapa hari yang lalu, salah satu PT ternama di Kabupaten Jember baru saja melaksanakan program KKN. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember adalah kampus perguruan tinggi keagamaan negeri (PTKIN) memiliki distingsi khusus dalam melaksanakan kegiatan pengabdian tersebut. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Jember yakni berbasis Participatory Action Research (PAR) atau disebut KKN Partisipatoris. KKN Partisipatoris memiliki perbedaan fundamental dengan KKN yang dilaksanakan oleh PT pada umumnya.

Biasanya, kampus-kampus telah menyepakati dan menentukan grand theme sebelum pelepasan mahasiswa ke lapangan. Sehingga mahasiswa dalam membuat program-program akan mengacu kepada tema tersebut. Berbeda dengan model pengabdian PAR ini, di mana mahasiswa harus mandiri dan lebih peka dalam mengamati isu-isu strategis untuk dijadikan program.

Secara garis besar, KKN Partisipatoris diorientasikan pada integrasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dan penguatan aspek metodologi, baik dosen pembimbing lapangan (DPL) maupun mahasiswa. Dalam orientasi tersebut mahasiswa dapat belajar serta membangun kerja sama dengan masyarakat untuk menemukan masalah secara detail. Pada konteks lain juga bertumpu terhadap penanganan (problem solving) secara partisipatif. Selain itu, mahasiswa tidak hanya menjadi konseptor atau operator melainkan dapat memfungsikan peranannya sebagai fasilitator (fasilitasi pertemuan) dan katalisator (sumber ide pengetahuan) perubahan sosial.

Sebanyak 874 mahasiswa berasal dari berbagai fakultas ditempatkan di 75 dusun. Dari berbagai sumber, di minggu pertama pelaksanaan KKN Partisipatoris ini mendapatkan respons positif oleh penduduk setempat. Pasalnya, mahasiswa IAIN Jember yang mayoritas berasal dari suku Jawa dan Madura mengedepankan sifat ramah, tenggang rasa (tepo seliro), dan arif sehingga lebih mudah untuk akrab dengan masyarakat.

Alhasil, setengah perjalanan waktu mahasiswa IAIN Jember dapat membuktikan kepada publik bahwa mereka mempersembahkan program-program yang bermutu kepada masyarakat sesuai kondisi tempat. Hal tersebut terlihat saat mendapatkan respons oleh khalayak umum. Mulai disorot oleh media online maupun cetak, apresiasi langsung oleh pejabat pemerintah, dan dijadikan produk lokal Kabupaten Jember. Tentu, semua berangkat dari inovasi dan kreativitas mahasiswa dalam mengonstruksi ide-ide yang berangkat dari persoalan masyarakat.

Memang, memandang sesuatu yang baik tidak lepas dari kekurangan. KKN Partisipatoris secara teoretis dapat menjamah problem sosial tetapi dalam konteks praktis masih perlu penyeimbangan (check and balances) dengan kebutuhan lapangan. Beberapa kekurangan yang dirasakan langsung oleh penulis ialah pertama, waktu (timing), 40 hari menjalankan program berbasis PAR merupakan waktu yang sangat singkat. Sehingga kurangnya manajemen waktu yang dialami oleh mahasiswa dalam menyukseskan program secara tuntas. Kedua, pembekalan (preparation), sebelum terjun ke lapangan tentu dibutuhkan modal (knowledge) yang sangat maksimal. Selama dua hari adanya pembekalan di kampus masih belum menjawab kesiapan para mahasiswa dalam menyaring persoalan yang ada.

Semoga ke depan IAIN Jember terus mengoptimalkan sistem program pengabdian masyarakat dengan melandasi penguatan dan penyeimbangan yang mengacu kepada pengalaman sebelumnya. Terima kasih telah memberikan waktu kepada kami (mahasiswa) untuk mengonversi ilmu-ilmu di bangku perkuliahan menjadi hasil riil dan nyata terhadap kebutuhan dan keluhan masyarakat (powerless).

*) Penulis adalah Koordinator Posko 27 KKN IAIN Jember 2019.

Reporter :

Fotografer :

Editor :