Menelusur Keniscayaan Mata Uang Digital Bank Sentral

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pesatnya teknologi digital dan internet dewasa ini mengarus pada keharusan untuk adaptasi dan gerakan inovasi di sektor-sektor terkait, tidak terkecuali sektor keuangan. Semua demi efisiensi, maka munculkan inovasi di sektor keuangan seperti bitcoin dan cryptocurrency.  Sebuah rupa mata uang virtual, yang sangat beda dengan mata uang fisik, baik kertas atau koin, yang sering kita simpan di dompet. Keberadaannya disambut gempita oleh publik, meski menyisakan pro dan kontra. Realitas ini tak ayal menyebabkan Bank Sentral beberapa negara di dunia berpikir ulang urgensi penciptaan bentuk mata uang digital.

Galibnya bitcoin dan cryptocurrency yang diterbitkan secara “pribadi”  dan alih-alih sebagai motif transaksi pembayaran digital tapi malah mengarah pada motif investasi dan spekulasi. Di sinilah letak hiruk pikuknya dengan segala plus minusnya. Satu catatan dari Nakamoto (2008) dalam makalahnya  bertajuk “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash” menegaskan bahwa usulannya melalui kriptografi dan algoritma konsensus baru akan masif mengundang sistem anyar yaitu sistem baru desentralisasi pembayaran yang bertujuan menggantikan pihak ketiga yang terlibat dalam transaksi. Artinya, sistem ini menaruh kepercayaan pada jaringan peer to peer yang sepenuhnya terdesentralisasi dan terbuka.  Pada titik ini, khalayak mulai mafhum dan bitcoin sebagai uang produk teknologi menemukan popularitasnya.

Mendompleng maraknya bitcoin ini, maka muncullah teknologi baru yang berbentuk sistem penyimpanan data digital yang terdiri dari banyak server yang disebut blockchain. Sejurus kemudian menarik perhatian industri besar di sektor keuangan misalnya, Facebook yang telah meluncurkan inisiatif cryptocurrency yaitu Libra. Mata uang virtual semacam itu telah mendapatkan popularitas yang luar biasa, karena sifatnya yang terdesentralisasi dan bebas regulasi. Berbarengan dengan hal ini juga menjadi ancaman bagi sistem perbankan tradisional yang beroperasi di bawah kendali otoritas pengatur keuangan suatu negara, seperti bank sentral. Tidak ada kejelasan tentang pemeliharaan cadangan yang cocok untuk mendukung penilaian mata uang kripto. Selain itu, peluncuran cryptocurrency baru yang berkelanjutan juga telah menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan penipuan, pencurian, dan peretasan.

Peluang selanjutnya

Pertanyaan apakah bank sentral harus menerbitkan mata uang digital atau tidak merupakan pertimbangan penting. Per konsepsi, uang mempunyai beberapa fungsi, misalnya, alat tukar, unit akun, dan penyimpan nilai. Pada aras ini, bitcoin dan cryptocurrency cenderung  berfungsi sebagai penyimpan nilai (spekulatif). Tetapi apakah instrumen ini dapat berkembang menjadi alat tukar atau unit hitung masih meragukan. Cryptocurrency pasti akan berkembang lebih jauh, tetapi sebagian besar akan berlabuh di unit moneter yang ada seperti dolar AS. Karena tak mampu mengontrol geliat pertumbuhan cryptocurrency, maka banyak bank sentral mulai mempertimbangkan peluncuran versi cryptocurrency mereka sendiri yaitu Central Bank Digital Currency (CBDC).

Motivasi hadirnya CBDC sangatlah majemuk tidak semata demi mata uang kripto baru. Namun realita ekonomi, menunjukkan adanya kecenderungan penurunan penggunaan uang tunai. Di sini berharap CBDC bisa menjadi alternatif untuk menjaga agar mata uang fiat tetap relevan dalam penggunaan di masyarakat tanpa menggunakan uang tunai. Juga beberapa negara lain, semisal stagnasi ekonomi di negara maju dengan pertumbuhan ekonomi yang meluncur ke bawah, pergerakan suku bunga bank sentral mendekati nilai nol atau bahkan negatif, hingga penurunan efektivitas suku bunga kebijakan karena adanya gagasan Zero Lower Bound (ZLB). Kebijakan Quantitative Easing (QE) kemudian menjadi andalan untuk bisa menjadi stimulan perekonomian ketika suku bunga berada di ZLB, tetapi ada skeptisisme seputar kebijakan ini. Tegasnya, CBDC berpotensi menurunkan ZLB dan meningkatkan efektivitas suku bunga kebijakan sebagai alternatif QE, tetapi CBDC juga bisa membuka kemungkinan alat moneter baru, yang tidak didukung oleh sistem keuangan saat ini.