alexametrics
27.3 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Gedung Kesenian dan Momentum Kebangkitan Seni di Kabupaten Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

Para pelaku seni di Jember akhirnya bisa bernapas lega setelah Bupati Jember Hendy Siswanto merealisasikan pengadaan gedung kesenian di Jember. Adanya gedung tersebut sangat dibutuhkan oleh para pelaku seni yang nantinya dijadikan sebagai ruang dalam menuangkan ide dan gagasan kreatifnya. Di Beberapa media, Bupati Hendy Siswanto mengatakan eks kantor Dinas Sosial akan dijadikan sebagai ruang kreatif milenial. Pernyataan bupati tidak hanya membawa angin segar bagi pelaku seni, melainkan juga para penikmat seni sebagai sinyal bahwa ekosistem dan aktivitas kesenian di kabupaten Jember segera bangkit.

Bagi para pelaku seni, gedung kesenian sebagai infrastruktur sentral dalam mengaktualisasikan berbagai gagasan seni yang dapat diwujudkan ke dalam pergelaran atau pertunjukan, dan pameran. Sebelumnya, kekosongan gedung kesenian menjadi salah satu permasalahan bagi pelaku seni yang hendak melakukan pertunjukkan atau pameran. Akibatnya, pertunjukan hanya dapat dilakukan di tempat-tempat yang mungkin memiliki keterbatasan artistik.

Persoalan kekosongan gedung kesenian yang representatif tidak hanya berdampak pada aktivitas seni saja, melainkan pada wilayah apresiasi seni. Masih minimnya apresiasi seni bisa disinyalir karena minimnya sajian pertunjukan atau pameran yang dapat dinikmati oleh khalayak umum. Bahkan tidak hanya produk kesenian tradisi, melainkan seni kontemporer yang tidak melulu persoalan teknis tapi sudah masuk pada eksplorasi artistik.

Mobile_AP_Rectangle 2

Gedung kesenian ke depan diharapkan menjadi ruang dalam mengekspresikan seni yang tidak hanya pada tatanan formal atau hanya berkutat pada wilayah teknis, melainkan karya seni dengan muatan isu atau gagasan lebih mutakhir.  Hal ini akan mendorong para pelaku seni lebih produktif berkarya sehingga kegiatan kesenian di Jember akan kembali bangkit. Selain itu, ekosistem seni yang produktif tentu akan beriringan dengan pembentukan selera terhadap produk kesenian yang berujung pada apresiasi seni.

Jika kita bisa mengacu di beberapa kota yang memiliki ekosistem seni yang baik, pada tatanan karya memiliki keberagaman karya seni mulai dari yang ajeg hingga tak beraturan. Ide dan gagasan dari karya tersebut tentu memiliki estetikanya masing-masing. Sebagai contoh musik seni Barat yang berasal dari periode klasik memiliki struktur bentuk yang sangat kaku. Mulai dari harmoni, progresi akor, hingga tekstur musiknya. Bahkan beberapa kritikus musik mengatakan bahwa musiknya Mozart yang notabene lahir dari periode klasik sangat membosankan. Kemudian dilanjutkan pada era romantik, di mana  salah satu gagasan pada era ini adalah kebebasan dalam mengekspresikan emosi.

Pada era klasik tidak ada karya musik baik simfoni atau solo instrumental yang memiliki lompatan dinamika dari keras ke lembut. Ludwig van Beethoven mempelopori dalam perluasan dinamika, bahkan di masa akhir hidupnya ia mengalami berbagai gejolak emosi yang dituangkan ke dalam karya-karyanya dengan ciri khas memainkan gradasi dinamika, penggunaan akor minor dan diminished yang mampu memunculkan kesan emosional. Namun keteraturan dan kebakuan tersebut hilang sama sekali ketika masuk pada periode avant-garde, gagasan yang diusung adalah eksplorasi artistik. Artinya, musik tidak hanya seputar teori dan bunyi-bunyian teratur sehingga wilayah pengkaryaannya tidak terbatas pada keselarasan nada. Sebagai contoh, gagasan yang diusung oleh komponis Jerman, yaitu twelve tone (dua belas nada).

Selain itu komponis kontemporer Indonesia Gatot Danar Sulistyo mengusung konsep, ngawur tapi terukur. Pastinya banyak sekali gagasan-gagasan dalam berkarya dari komponis atau “pencipta” lainnya yang menarik untuk disimak dan ditelaah yang mampu memberikan stimulus bagi para “pencipta” atau pelaku seni di Jember. Kekosongan gedung kesenian sebagai ruang aktualisasi para pelaku seni cukup memberikan dampak bagi ekosistem seni di Jember, khususnya pada wilayah pertunjukkan.

Hal serupa juga pernah dialami para musisi klasik di Jakarta, yaitu belum adanya gedung pertunjukan yang memiliki standar pertunjukkan musik klasik. Namun setelah diresmikannya Aula Simfonia Jakarta pada tahun 2009, seolah memberikan rumah baru bagi musisi klasik di Jakarta sekaligus satu-satunya gedung pertunjukkan yang memiliki akustik terbaik se-Asia Tenggara. Keberadaan Aula Simfonia Jakarta memang diperuntukkan konser musik klasik, mulai dari konser simfoni orkestra, chamber music, dan konser solo musik klasik lainnya. Beberapa kelompok orkestra yang pernah melakukan konser di Aula Simfoni Jakarta, seperti Jakarta City Philharmonic Orchestra, Jakarta Simfoni Orkestra, hingga Gita Bahana Nusantara Orkestra.

Langkah Bupati Jember Hendy Siswanto dalam mewujudkan gedung kesenian Jember merupakan upaya konkret dalam mengembalikan produktivitas kesenian dan membangun kembali ekosistem seni di Jember.  Selain pengadaan gedung kesenian, pemerintah daerah bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember (Disparbud) juga menginisiasi pembenahan lembaga Dewan Kesenian Kabupaten Jember. Pasalnya, keberadaan lembaga tersebut juga sangat dibutuhkan dalam kaitan ekosistem seni yang ada di Jember.

- Advertisement -

Para pelaku seni di Jember akhirnya bisa bernapas lega setelah Bupati Jember Hendy Siswanto merealisasikan pengadaan gedung kesenian di Jember. Adanya gedung tersebut sangat dibutuhkan oleh para pelaku seni yang nantinya dijadikan sebagai ruang dalam menuangkan ide dan gagasan kreatifnya. Di Beberapa media, Bupati Hendy Siswanto mengatakan eks kantor Dinas Sosial akan dijadikan sebagai ruang kreatif milenial. Pernyataan bupati tidak hanya membawa angin segar bagi pelaku seni, melainkan juga para penikmat seni sebagai sinyal bahwa ekosistem dan aktivitas kesenian di kabupaten Jember segera bangkit.

Bagi para pelaku seni, gedung kesenian sebagai infrastruktur sentral dalam mengaktualisasikan berbagai gagasan seni yang dapat diwujudkan ke dalam pergelaran atau pertunjukan, dan pameran. Sebelumnya, kekosongan gedung kesenian menjadi salah satu permasalahan bagi pelaku seni yang hendak melakukan pertunjukkan atau pameran. Akibatnya, pertunjukan hanya dapat dilakukan di tempat-tempat yang mungkin memiliki keterbatasan artistik.

Persoalan kekosongan gedung kesenian yang representatif tidak hanya berdampak pada aktivitas seni saja, melainkan pada wilayah apresiasi seni. Masih minimnya apresiasi seni bisa disinyalir karena minimnya sajian pertunjukan atau pameran yang dapat dinikmati oleh khalayak umum. Bahkan tidak hanya produk kesenian tradisi, melainkan seni kontemporer yang tidak melulu persoalan teknis tapi sudah masuk pada eksplorasi artistik.

Gedung kesenian ke depan diharapkan menjadi ruang dalam mengekspresikan seni yang tidak hanya pada tatanan formal atau hanya berkutat pada wilayah teknis, melainkan karya seni dengan muatan isu atau gagasan lebih mutakhir.  Hal ini akan mendorong para pelaku seni lebih produktif berkarya sehingga kegiatan kesenian di Jember akan kembali bangkit. Selain itu, ekosistem seni yang produktif tentu akan beriringan dengan pembentukan selera terhadap produk kesenian yang berujung pada apresiasi seni.

Jika kita bisa mengacu di beberapa kota yang memiliki ekosistem seni yang baik, pada tatanan karya memiliki keberagaman karya seni mulai dari yang ajeg hingga tak beraturan. Ide dan gagasan dari karya tersebut tentu memiliki estetikanya masing-masing. Sebagai contoh musik seni Barat yang berasal dari periode klasik memiliki struktur bentuk yang sangat kaku. Mulai dari harmoni, progresi akor, hingga tekstur musiknya. Bahkan beberapa kritikus musik mengatakan bahwa musiknya Mozart yang notabene lahir dari periode klasik sangat membosankan. Kemudian dilanjutkan pada era romantik, di mana  salah satu gagasan pada era ini adalah kebebasan dalam mengekspresikan emosi.

Pada era klasik tidak ada karya musik baik simfoni atau solo instrumental yang memiliki lompatan dinamika dari keras ke lembut. Ludwig van Beethoven mempelopori dalam perluasan dinamika, bahkan di masa akhir hidupnya ia mengalami berbagai gejolak emosi yang dituangkan ke dalam karya-karyanya dengan ciri khas memainkan gradasi dinamika, penggunaan akor minor dan diminished yang mampu memunculkan kesan emosional. Namun keteraturan dan kebakuan tersebut hilang sama sekali ketika masuk pada periode avant-garde, gagasan yang diusung adalah eksplorasi artistik. Artinya, musik tidak hanya seputar teori dan bunyi-bunyian teratur sehingga wilayah pengkaryaannya tidak terbatas pada keselarasan nada. Sebagai contoh, gagasan yang diusung oleh komponis Jerman, yaitu twelve tone (dua belas nada).

Selain itu komponis kontemporer Indonesia Gatot Danar Sulistyo mengusung konsep, ngawur tapi terukur. Pastinya banyak sekali gagasan-gagasan dalam berkarya dari komponis atau “pencipta” lainnya yang menarik untuk disimak dan ditelaah yang mampu memberikan stimulus bagi para “pencipta” atau pelaku seni di Jember. Kekosongan gedung kesenian sebagai ruang aktualisasi para pelaku seni cukup memberikan dampak bagi ekosistem seni di Jember, khususnya pada wilayah pertunjukkan.

Hal serupa juga pernah dialami para musisi klasik di Jakarta, yaitu belum adanya gedung pertunjukan yang memiliki standar pertunjukkan musik klasik. Namun setelah diresmikannya Aula Simfonia Jakarta pada tahun 2009, seolah memberikan rumah baru bagi musisi klasik di Jakarta sekaligus satu-satunya gedung pertunjukkan yang memiliki akustik terbaik se-Asia Tenggara. Keberadaan Aula Simfonia Jakarta memang diperuntukkan konser musik klasik, mulai dari konser simfoni orkestra, chamber music, dan konser solo musik klasik lainnya. Beberapa kelompok orkestra yang pernah melakukan konser di Aula Simfoni Jakarta, seperti Jakarta City Philharmonic Orchestra, Jakarta Simfoni Orkestra, hingga Gita Bahana Nusantara Orkestra.

Langkah Bupati Jember Hendy Siswanto dalam mewujudkan gedung kesenian Jember merupakan upaya konkret dalam mengembalikan produktivitas kesenian dan membangun kembali ekosistem seni di Jember.  Selain pengadaan gedung kesenian, pemerintah daerah bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember (Disparbud) juga menginisiasi pembenahan lembaga Dewan Kesenian Kabupaten Jember. Pasalnya, keberadaan lembaga tersebut juga sangat dibutuhkan dalam kaitan ekosistem seni yang ada di Jember.

Para pelaku seni di Jember akhirnya bisa bernapas lega setelah Bupati Jember Hendy Siswanto merealisasikan pengadaan gedung kesenian di Jember. Adanya gedung tersebut sangat dibutuhkan oleh para pelaku seni yang nantinya dijadikan sebagai ruang dalam menuangkan ide dan gagasan kreatifnya. Di Beberapa media, Bupati Hendy Siswanto mengatakan eks kantor Dinas Sosial akan dijadikan sebagai ruang kreatif milenial. Pernyataan bupati tidak hanya membawa angin segar bagi pelaku seni, melainkan juga para penikmat seni sebagai sinyal bahwa ekosistem dan aktivitas kesenian di kabupaten Jember segera bangkit.

Bagi para pelaku seni, gedung kesenian sebagai infrastruktur sentral dalam mengaktualisasikan berbagai gagasan seni yang dapat diwujudkan ke dalam pergelaran atau pertunjukan, dan pameran. Sebelumnya, kekosongan gedung kesenian menjadi salah satu permasalahan bagi pelaku seni yang hendak melakukan pertunjukkan atau pameran. Akibatnya, pertunjukan hanya dapat dilakukan di tempat-tempat yang mungkin memiliki keterbatasan artistik.

Persoalan kekosongan gedung kesenian yang representatif tidak hanya berdampak pada aktivitas seni saja, melainkan pada wilayah apresiasi seni. Masih minimnya apresiasi seni bisa disinyalir karena minimnya sajian pertunjukan atau pameran yang dapat dinikmati oleh khalayak umum. Bahkan tidak hanya produk kesenian tradisi, melainkan seni kontemporer yang tidak melulu persoalan teknis tapi sudah masuk pada eksplorasi artistik.

Gedung kesenian ke depan diharapkan menjadi ruang dalam mengekspresikan seni yang tidak hanya pada tatanan formal atau hanya berkutat pada wilayah teknis, melainkan karya seni dengan muatan isu atau gagasan lebih mutakhir.  Hal ini akan mendorong para pelaku seni lebih produktif berkarya sehingga kegiatan kesenian di Jember akan kembali bangkit. Selain itu, ekosistem seni yang produktif tentu akan beriringan dengan pembentukan selera terhadap produk kesenian yang berujung pada apresiasi seni.

Jika kita bisa mengacu di beberapa kota yang memiliki ekosistem seni yang baik, pada tatanan karya memiliki keberagaman karya seni mulai dari yang ajeg hingga tak beraturan. Ide dan gagasan dari karya tersebut tentu memiliki estetikanya masing-masing. Sebagai contoh musik seni Barat yang berasal dari periode klasik memiliki struktur bentuk yang sangat kaku. Mulai dari harmoni, progresi akor, hingga tekstur musiknya. Bahkan beberapa kritikus musik mengatakan bahwa musiknya Mozart yang notabene lahir dari periode klasik sangat membosankan. Kemudian dilanjutkan pada era romantik, di mana  salah satu gagasan pada era ini adalah kebebasan dalam mengekspresikan emosi.

Pada era klasik tidak ada karya musik baik simfoni atau solo instrumental yang memiliki lompatan dinamika dari keras ke lembut. Ludwig van Beethoven mempelopori dalam perluasan dinamika, bahkan di masa akhir hidupnya ia mengalami berbagai gejolak emosi yang dituangkan ke dalam karya-karyanya dengan ciri khas memainkan gradasi dinamika, penggunaan akor minor dan diminished yang mampu memunculkan kesan emosional. Namun keteraturan dan kebakuan tersebut hilang sama sekali ketika masuk pada periode avant-garde, gagasan yang diusung adalah eksplorasi artistik. Artinya, musik tidak hanya seputar teori dan bunyi-bunyian teratur sehingga wilayah pengkaryaannya tidak terbatas pada keselarasan nada. Sebagai contoh, gagasan yang diusung oleh komponis Jerman, yaitu twelve tone (dua belas nada).

Selain itu komponis kontemporer Indonesia Gatot Danar Sulistyo mengusung konsep, ngawur tapi terukur. Pastinya banyak sekali gagasan-gagasan dalam berkarya dari komponis atau “pencipta” lainnya yang menarik untuk disimak dan ditelaah yang mampu memberikan stimulus bagi para “pencipta” atau pelaku seni di Jember. Kekosongan gedung kesenian sebagai ruang aktualisasi para pelaku seni cukup memberikan dampak bagi ekosistem seni di Jember, khususnya pada wilayah pertunjukkan.

Hal serupa juga pernah dialami para musisi klasik di Jakarta, yaitu belum adanya gedung pertunjukan yang memiliki standar pertunjukkan musik klasik. Namun setelah diresmikannya Aula Simfonia Jakarta pada tahun 2009, seolah memberikan rumah baru bagi musisi klasik di Jakarta sekaligus satu-satunya gedung pertunjukkan yang memiliki akustik terbaik se-Asia Tenggara. Keberadaan Aula Simfonia Jakarta memang diperuntukkan konser musik klasik, mulai dari konser simfoni orkestra, chamber music, dan konser solo musik klasik lainnya. Beberapa kelompok orkestra yang pernah melakukan konser di Aula Simfoni Jakarta, seperti Jakarta City Philharmonic Orchestra, Jakarta Simfoni Orkestra, hingga Gita Bahana Nusantara Orkestra.

Langkah Bupati Jember Hendy Siswanto dalam mewujudkan gedung kesenian Jember merupakan upaya konkret dalam mengembalikan produktivitas kesenian dan membangun kembali ekosistem seni di Jember.  Selain pengadaan gedung kesenian, pemerintah daerah bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember (Disparbud) juga menginisiasi pembenahan lembaga Dewan Kesenian Kabupaten Jember. Pasalnya, keberadaan lembaga tersebut juga sangat dibutuhkan dalam kaitan ekosistem seni yang ada di Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/