alexametrics
23 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

GIGO dalam Sekolah

Iffan Gallant El Muhammady SSos MSi

Mobile_AP_Rectangle 1

Tulisan ini bukan bermakna peyoratif mengenai sekolah. Apabila membaca dengan ketidaktelitian, maka pembaca akan terpeleset dalam sebuah diksi yang negatif. Tulisan ini ingin mengajak pembaca untuk memahami lebih dalam mengenai manajemen pendidikan sehingga timbul insight yang baik mengenai pendidikan di era Covid-19.

Demokrasi, bila benar dijalankan dengan baik, tentunya akan masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan. Tidak hanya di dunia politik, sosial, dan ekonomi saja. Demokrasi memiliki enter pass yang tidak lagi diragukan atau dipertanyakan untuk masuk di dunia pendidikan.

Sejak dini kita diajarkan di alam demokrasi. Pemilihan ketua kelas, kesempatan bertanya setelah materi, penghargaan terhadap harkat dan martabat guru maupun siswa, sikap rela berkorban, dan lainnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Nilai yang baik coba dikonstruksi di dunia pendidikan sebagai sebuah pembelajaran tidak hanya bagi siswa, akan tetapi juga gurunya. Sebenarnya guru menjadi pembelajar yang baik dengan adanya konstruksi pendidikan di sekolah.

Bagaimana tidak? Sebenarnya guru pun belajar dan menerima pembelajaran dengan mengajarkan ilmu yang sudah diserap di universitas pendidikan yang pernah ditempuh. Ilmu akan bermanfaat ketika diajarkan. Apalagi mengajar itu tidak segampang membaca buku panduan, lalu berharap siswa mengerti. Tidak demikian.

Guru yang baik akan selalu melakukan sebuah eksperimen berdasarkan teori pendidikan dan melakukan refleksi. Sebagaimana ucapan Albert Einstein yang mengatakan bahwa semua orang itu unik. Mereka memiliki tingkat kejeniusan yang khas. Tidak adil bila membandingkan kemampuan satu orang dengan orang lain. Seperti menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon.

Nah karena individu itu unik, maka guru selalu melakukan sebuah evaluasi yang terus-menerus untuk memastikan bahwa siswa memahami materi dengan caranya sendiri, namun tidak keluar dari tujuan pembelajaran. Apa yang dilakukan guru ini adalah sebuah bentuk adopsi dari ilmu manajemen yang diterapkan di dunia pendidikan. Guru melakukan perencanaan, mengorganisasikan, melaksanakan, mengontrol, serta melakukan evaluasi. Diksi mengontrol bukan untuk melakukan kontrol terhadap siswa. Namun, mengupayakan agar seluruh tahapan manajemen dilakukan dengan baik.

Di dunia manajemen, kita mengenal P-O-A-C yang terdiri atas planning, organizing, actuating, and controlling. Di dunia pendidikan pun sama. Planning oleh guru dilakukan dengan rencana pelaksanaan pembelajaran atau dikenal dengan RPP, dan seterusnya. Yang paling penting guru diharapkan melakukan proses evaluasi. Bukan evaluasi terhadap siswa, akan tetapi evaluasi proses belajar mengajar dengan kolega guru yang lain dan dibentuk dalam karya tulis ilmiah atau dikenal penelitian tindakan kelas atau PTK.

Maka, bila kita simpulkan cepat-cepat, bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan guru itu sudah bisa mencerminkan proses manajemen yang baik.

Supaya tidak menjadi salah kaprah dalam memahami tulisan ini, mari kita bahas, apakah itu GIGO? GIGO memiliki kepanjangan Garbage In Garbage Out. Istilah GIGO sebenarnya dipakai di dunia komputasi, di mana kode yang salah akibat kecerobohan teknisi yang dimasukkan dalam sebuah string ternyata bisa mengganggu algoritma dan mengganggu aplikasi sehingga tidak berjalan dengan baik.

Istilah ini pun cepat terserap dengan baik di dunia manajemen, di mana informasi masuk kepada pimpinan suatu manajemen, yang kemudian diolah dan menjadi keputusan-keputusan strategis. Apabila data informasi yang masuk didapati data yang tidak valid dan reliabel, maka keputusan yang muncul pastilah keputusan yang tidak valid dan reliabel pula. Akhirnya membawa kepada bencana manajemen. Bencana kesalahan mengambil keputusan. Dapat dipastikan bila kesalahan mengambil keputusan tidak segera ditangani, maka akan mengganggu gerak organisasi. Bahasa kasarnya, informasi sampah akan menghasilkan keputusan sampah.

Begitu pula dengan manajemen pendidikan. Apabila dalam proses manajemen pendidikan terdiri atas informasi-informasi yang tidak valid dan reliabel, tentu akan mengganggu proses manajemen pendidikan.

- Advertisement -

Tulisan ini bukan bermakna peyoratif mengenai sekolah. Apabila membaca dengan ketidaktelitian, maka pembaca akan terpeleset dalam sebuah diksi yang negatif. Tulisan ini ingin mengajak pembaca untuk memahami lebih dalam mengenai manajemen pendidikan sehingga timbul insight yang baik mengenai pendidikan di era Covid-19.

Demokrasi, bila benar dijalankan dengan baik, tentunya akan masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan. Tidak hanya di dunia politik, sosial, dan ekonomi saja. Demokrasi memiliki enter pass yang tidak lagi diragukan atau dipertanyakan untuk masuk di dunia pendidikan.

Sejak dini kita diajarkan di alam demokrasi. Pemilihan ketua kelas, kesempatan bertanya setelah materi, penghargaan terhadap harkat dan martabat guru maupun siswa, sikap rela berkorban, dan lainnya.

Nilai yang baik coba dikonstruksi di dunia pendidikan sebagai sebuah pembelajaran tidak hanya bagi siswa, akan tetapi juga gurunya. Sebenarnya guru menjadi pembelajar yang baik dengan adanya konstruksi pendidikan di sekolah.

Bagaimana tidak? Sebenarnya guru pun belajar dan menerima pembelajaran dengan mengajarkan ilmu yang sudah diserap di universitas pendidikan yang pernah ditempuh. Ilmu akan bermanfaat ketika diajarkan. Apalagi mengajar itu tidak segampang membaca buku panduan, lalu berharap siswa mengerti. Tidak demikian.

Guru yang baik akan selalu melakukan sebuah eksperimen berdasarkan teori pendidikan dan melakukan refleksi. Sebagaimana ucapan Albert Einstein yang mengatakan bahwa semua orang itu unik. Mereka memiliki tingkat kejeniusan yang khas. Tidak adil bila membandingkan kemampuan satu orang dengan orang lain. Seperti menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon.

Nah karena individu itu unik, maka guru selalu melakukan sebuah evaluasi yang terus-menerus untuk memastikan bahwa siswa memahami materi dengan caranya sendiri, namun tidak keluar dari tujuan pembelajaran. Apa yang dilakukan guru ini adalah sebuah bentuk adopsi dari ilmu manajemen yang diterapkan di dunia pendidikan. Guru melakukan perencanaan, mengorganisasikan, melaksanakan, mengontrol, serta melakukan evaluasi. Diksi mengontrol bukan untuk melakukan kontrol terhadap siswa. Namun, mengupayakan agar seluruh tahapan manajemen dilakukan dengan baik.

Di dunia manajemen, kita mengenal P-O-A-C yang terdiri atas planning, organizing, actuating, and controlling. Di dunia pendidikan pun sama. Planning oleh guru dilakukan dengan rencana pelaksanaan pembelajaran atau dikenal dengan RPP, dan seterusnya. Yang paling penting guru diharapkan melakukan proses evaluasi. Bukan evaluasi terhadap siswa, akan tetapi evaluasi proses belajar mengajar dengan kolega guru yang lain dan dibentuk dalam karya tulis ilmiah atau dikenal penelitian tindakan kelas atau PTK.

Maka, bila kita simpulkan cepat-cepat, bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan guru itu sudah bisa mencerminkan proses manajemen yang baik.

Supaya tidak menjadi salah kaprah dalam memahami tulisan ini, mari kita bahas, apakah itu GIGO? GIGO memiliki kepanjangan Garbage In Garbage Out. Istilah GIGO sebenarnya dipakai di dunia komputasi, di mana kode yang salah akibat kecerobohan teknisi yang dimasukkan dalam sebuah string ternyata bisa mengganggu algoritma dan mengganggu aplikasi sehingga tidak berjalan dengan baik.

Istilah ini pun cepat terserap dengan baik di dunia manajemen, di mana informasi masuk kepada pimpinan suatu manajemen, yang kemudian diolah dan menjadi keputusan-keputusan strategis. Apabila data informasi yang masuk didapati data yang tidak valid dan reliabel, maka keputusan yang muncul pastilah keputusan yang tidak valid dan reliabel pula. Akhirnya membawa kepada bencana manajemen. Bencana kesalahan mengambil keputusan. Dapat dipastikan bila kesalahan mengambil keputusan tidak segera ditangani, maka akan mengganggu gerak organisasi. Bahasa kasarnya, informasi sampah akan menghasilkan keputusan sampah.

Begitu pula dengan manajemen pendidikan. Apabila dalam proses manajemen pendidikan terdiri atas informasi-informasi yang tidak valid dan reliabel, tentu akan mengganggu proses manajemen pendidikan.

Tulisan ini bukan bermakna peyoratif mengenai sekolah. Apabila membaca dengan ketidaktelitian, maka pembaca akan terpeleset dalam sebuah diksi yang negatif. Tulisan ini ingin mengajak pembaca untuk memahami lebih dalam mengenai manajemen pendidikan sehingga timbul insight yang baik mengenai pendidikan di era Covid-19.

Demokrasi, bila benar dijalankan dengan baik, tentunya akan masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan. Tidak hanya di dunia politik, sosial, dan ekonomi saja. Demokrasi memiliki enter pass yang tidak lagi diragukan atau dipertanyakan untuk masuk di dunia pendidikan.

Sejak dini kita diajarkan di alam demokrasi. Pemilihan ketua kelas, kesempatan bertanya setelah materi, penghargaan terhadap harkat dan martabat guru maupun siswa, sikap rela berkorban, dan lainnya.

Nilai yang baik coba dikonstruksi di dunia pendidikan sebagai sebuah pembelajaran tidak hanya bagi siswa, akan tetapi juga gurunya. Sebenarnya guru menjadi pembelajar yang baik dengan adanya konstruksi pendidikan di sekolah.

Bagaimana tidak? Sebenarnya guru pun belajar dan menerima pembelajaran dengan mengajarkan ilmu yang sudah diserap di universitas pendidikan yang pernah ditempuh. Ilmu akan bermanfaat ketika diajarkan. Apalagi mengajar itu tidak segampang membaca buku panduan, lalu berharap siswa mengerti. Tidak demikian.

Guru yang baik akan selalu melakukan sebuah eksperimen berdasarkan teori pendidikan dan melakukan refleksi. Sebagaimana ucapan Albert Einstein yang mengatakan bahwa semua orang itu unik. Mereka memiliki tingkat kejeniusan yang khas. Tidak adil bila membandingkan kemampuan satu orang dengan orang lain. Seperti menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon.

Nah karena individu itu unik, maka guru selalu melakukan sebuah evaluasi yang terus-menerus untuk memastikan bahwa siswa memahami materi dengan caranya sendiri, namun tidak keluar dari tujuan pembelajaran. Apa yang dilakukan guru ini adalah sebuah bentuk adopsi dari ilmu manajemen yang diterapkan di dunia pendidikan. Guru melakukan perencanaan, mengorganisasikan, melaksanakan, mengontrol, serta melakukan evaluasi. Diksi mengontrol bukan untuk melakukan kontrol terhadap siswa. Namun, mengupayakan agar seluruh tahapan manajemen dilakukan dengan baik.

Di dunia manajemen, kita mengenal P-O-A-C yang terdiri atas planning, organizing, actuating, and controlling. Di dunia pendidikan pun sama. Planning oleh guru dilakukan dengan rencana pelaksanaan pembelajaran atau dikenal dengan RPP, dan seterusnya. Yang paling penting guru diharapkan melakukan proses evaluasi. Bukan evaluasi terhadap siswa, akan tetapi evaluasi proses belajar mengajar dengan kolega guru yang lain dan dibentuk dalam karya tulis ilmiah atau dikenal penelitian tindakan kelas atau PTK.

Maka, bila kita simpulkan cepat-cepat, bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan guru itu sudah bisa mencerminkan proses manajemen yang baik.

Supaya tidak menjadi salah kaprah dalam memahami tulisan ini, mari kita bahas, apakah itu GIGO? GIGO memiliki kepanjangan Garbage In Garbage Out. Istilah GIGO sebenarnya dipakai di dunia komputasi, di mana kode yang salah akibat kecerobohan teknisi yang dimasukkan dalam sebuah string ternyata bisa mengganggu algoritma dan mengganggu aplikasi sehingga tidak berjalan dengan baik.

Istilah ini pun cepat terserap dengan baik di dunia manajemen, di mana informasi masuk kepada pimpinan suatu manajemen, yang kemudian diolah dan menjadi keputusan-keputusan strategis. Apabila data informasi yang masuk didapati data yang tidak valid dan reliabel, maka keputusan yang muncul pastilah keputusan yang tidak valid dan reliabel pula. Akhirnya membawa kepada bencana manajemen. Bencana kesalahan mengambil keputusan. Dapat dipastikan bila kesalahan mengambil keputusan tidak segera ditangani, maka akan mengganggu gerak organisasi. Bahasa kasarnya, informasi sampah akan menghasilkan keputusan sampah.

Begitu pula dengan manajemen pendidikan. Apabila dalam proses manajemen pendidikan terdiri atas informasi-informasi yang tidak valid dan reliabel, tentu akan mengganggu proses manajemen pendidikan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/