Menggairahkan Semangat Literasi di Bondowoso

Oleh: Nurtaufik

BEBERAPA hari lalu, saya mendapat kiriman WA dari seseorang yang sebelumnya tidak saya kenal. Ternyata ia salah seorang guru di sebuah Madrasah Aliyah yang ada di Kabupaten Bondowoso. Dia mengajak saya berkolaborasi berkaitan dengan literasi siswa.  Mendapat tawaran itu saya begitu senang dan menyatakan kesiapan sekaligus mengapresiasi niat baiknya. Saya termasuk orang yang mendukung dan bangga ketika ada seorang guru memikirkan nasib literasi siswanya.

IKLAN

Teman saya itu bilang, kalau ia akan mengkonsultasikan dengan guru yang mengajar Bahasa Indonesia terkait rencana dan keinginannya berkenaan dengan literasi siswa. Dia sendiri ternyata mengajar agama di sekolahnya. Sebenarnya tidak ada jaminan guru Bahasa Indonesia mempunyai keinginan yang sama, bagaimana intens mengawal kegiatan literasi siswa. Itu tentu berkaitan dengan kecenderungan individu masing-masing dalam memandang sejauh mana pentingnya literasi. Saya menyampaikan kepada teman baru saya itu, bahwa gerakan literasi bisa dilakukan siapapun dengan latar belakang apapun tanpa memandang apakah pendidikannya linier atau tidak. Gerakan literasi bukanlah gerakan yang menuntut linier tidaknya pendidikan seseorang. Tentu itu tidak harus sama dengan beberapa hal yang menjadikan pendidikan linier menjadi persyaratan.

Kalau teman saya bilang akan melakukan konsultasi dengan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolahnya sebagai salah satu etika. Adanya konsultasi atau komunikasi tersebut, diharapkan bisa saling mendukung terutama berkenaan dengan literasi siswa. Tentu itu yang diharapkan dalam gerakan apapun yang dilakukan selama hal itu positif.  Dia sendiri beranggapan bahwa kegiatan literasi siswa masih berkaitan dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Di antara yang menjadi harapan semua pihak bagaimana ikut menumbuhkan semangat, memberikan dukungan yang kuat dan mendidik hal apapun yang bermamfaat atau memberi manfaat.

Itu sekilas gambaran beberapa hal menyangkut kepedulian guru terhadap literasi siswa di lingkungan pendidikan khususnya di sekolah. Berbicara literasi di tingkat sekolah, saya di antara orang yang masih percaya bahwa ada gerakan literasi yang masih hidup dan tetap berusaha dihidupkan. Beberapa sekolah sampai saat ini masih eksis menampilkan karya siswanya seperti majalah, majalah dinding (mading), buletin dan semacamnya. Terkadang ada sekolah yang begitu antusias memberikan pembinaan literasi karena tuntutan intruksi atau himbauan dari lembaga yang menaunginya untuk mengikuti sebagai bentuk partisipasi pada even kompetisi terstruktur dari skala lokal sampai nasional.

Ketika ada even literasi di kabupaten, saya sempat mengusulkan kepada panitia bagaimana karya-karya siswa yang menjadi peserta even tersebut dikumpulkan kemudian secara bertahap penulisnya diundang untuk diberi pembinaan bersama sebagai komitmen follow up gerakan literasi. Terlebih bagaimana juri yang ditunjuk panitia bisa diajak membenahi karya siswa secara inten sebelum mengikuti even pada jenjang diatasnya sehingga memiliki daya saing di even yang lebih besar. Namun belum bisa terealisasi hingga sekarang.

Kalau mau beranjak membaca gerakan literasi khususnya  tulis menulis dalam skala luas saat ini, bisa dikatakan sangat menggembirakan. Berbagai komunitas berlomba-lomba mengadakan even literasi dengan bermacam-macam bentuknya. Mulai pembuatan buku bersama-sama atau antologi bersama, gerakan membaca dan mendiskusikan buku, lomba literasi online yang begitu semarak saat ini dan semacamnya.

Sejak semua orang bisa mengakses internet, lomba literasi online bisa dikatakan cukup diminati para pengguna dunia maya. Sekedar berbagi pengalaman, beberapa tahun lalu, saya diminta ikut terlibat menangani lomba cipta puisi tingkat nasional oleh komunitas santri asal Bondowoso. Awalnya inisiatif itu muncul setelah beberapa kali saya ikut menjadi peserta di berbagai kompetisi literasi online.

Saya sampaikan dalam rapat di komunitas santri tersebut beberapa hal. Pertama, mengadakan literasi online lebih mudah dilakukan terutama dalam hal teknis yang tidak memerlukan tenaga dan banyak orang. Panitia cukup membentuk tim IT untuk mengunduh karya peserta yang dikirim melalui email. Kedua, pengumuman lomba cukup melalui online dengan memanfaatkan media sosial seperti website, WA, FB, IG dan twitter. Begitu juga dengan pengumuman pemenang. Ketiga, peserta lebih antusias mengikuti lomba karena tidak perlu buang-buang waktu dan tenaga untuk datang ke lokasi. Pengalaman saya ketika mengikuti lomba literasi online dalam hal ini menulis puisi jumlah peserta sampai ribuan.

Untuk itu, saya kira penting rasanya semua pihak pemerintah atau komunitas menggairahkan semangat gerakan literasi dalam bentuk apapun. Misalnya menggelar even Menulis Bondowoso atau mempertemukan penulis Bondowoso untuk membicarakan bagaimana gerakan literasi di Bondowoso dalam rangka menghidupkan sejarah, menggali budaya dan potensi kekayaan yang ada. Saya sangat mengapresiasi ketika komunitas santri pada Ramadhan kemarin merilis buku puisi tentang Bondowoso berjudul Bondowoso Dalam Ingatan. Itu sebagai langkah awal untuk gerakan selanjutnya yang perlu diawali dan dikawal.

Bondowoso melesat dengan literasi yang kuat. Semoga bermamfaat!

*) Penulis adalah guru Bahasa Indonesia dan Aswaja MA Nurut Taqwa Grujugan Cermee Bondowoso serta sekretaris Pengurus Sub Rayon IKSASS Kecamatan Cermee.

Reporter :

Fotografer :

Editor :