alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Mari Tergerak untuk Bergerak dan Menggerakkan

Mobile_AP_Rectangle 1

Betapa seringnya kita terpukau pada anak orang lain. Anak bapak itu meraih medali emas pada olimpiade matematika. Anak ibu itu dapat beasiswa prestasi karena selalu peringkat satu. Anak tetanggaku diterima di universitas ternama dengan beasiswa. Bla, bla, bla. Perasaan terpukau itu juga ditambah sambil mendongak ke atas, artinya apa? Kita menginginkan anak-anak kita sama seperti mereka dan luar biasanya lagi kita menjadikan anak-anak hebat sebagai standar kompetensi yang harus (dianjurkan dengan sangat, jika dalam bahasa yang lebih permisif) dicapai oleh anak-anak kita. Anak-anak hebat menurut frame kita masing-masing adalah contoh dan patokan, yang dijadikan patron agar anak-anak kita juga mencapai prestasi yang sama.

Akhirnya, apa yang dilakukan? Pemerkosaan pada banyak hal. Mulai dari mengikutkan anak-anak les privat yang materi pelajarannya tidak sesuai dengan minat dan bakat mereka, mengikutkan berbagai kegiatan dari A hingga Z. Biaya mahal? Bukan masalah. Berapa pun sanggup dibayar agar anak-anak bisa menjadi seperti apa yang diinginkan.

Dampaknya? Mereka menjadi super sibuk dan kelelahan karena banyaknya kegiatan yang menjadi rutinitas dari pagi hingga sore. Waktu bermain hampir tidak ada. Orang tua menjadi tidak mengenali anak-anaknya sendiri. Mereka lebih kenal sosok anak-anak yang menurut mereka hebat,  dan mereka terus-menerus berharap anak-anaknya  menjadi seperti anak-anak itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebenarnya populasi terbesar dari manusia adalah manusia yang memiliki intelegensia rata-rata. Suka atau tidak itulah realitanya. Hukum alam telah menetapkan hal itu. Anak-anak kita besar kemungkinan adalah juga anak-anak yang tergolong mempuyai intelegensia rata-rata. Dengan kondisi rata-rata tersebut justru kita menginginkan kondisi yang istimewa. Bisa dibayangkan betapa beratnya beban hidup yang harus ditanggung anak-anak kita. Dipaksa untuk berada dalam kondisi yang secara kodrati bukan tempatnya.

Alih-alih menyadari kesalahan diri, yang ada justru perasaan menyesali diri. Kenapa sih, anak-anak saya tidak seperti anak bapak itu? Kenapa sih anak-anak saya tidak sehebat anak ibu itu? Kenapa sih, anak-anak saya kok tidak bisa seperti anak tetangga saya? Dan banyak lagi gerutuan-gerutuan unfaedah lainnya.

Jika kita para orang tua mau merefleksikan kembali apa yang dirasakan tersebut, maka itu sebenarnya adalah kesalahan berpikir orang tua sendiri. Manusia cenderung melihat apa yang ingin mereka lihat saja. Bukan melihat apa yang nampak nyata di depan mata. Mereka menilai anak-anak istimewa impian mereka adalah berkah. Ya, hanya anak istimewa itu saja yang berkah. Anak-anak yang lain tidak menyandang titel berkah tadi.

Sebuah kisah yang diadopsi dari seseorang yang menerima konsultasi (lebih tepatnya sih, keluhan) dari para orangtua yang anaknya istimewa, yaitu anak yang punya kecerdasan tinggi. Alih-alih bergembira, mereka justru kewalahan dalam mendampingi anak-anaknya. Bahkan ada yang secara khusus minta waktu bertemu. Mereka rela datang dari luar kota, menempuh perjalanan jauh agar anaknya bisa berbicara padanya, curhat tentang beberapa kegelisahan anaknya, kegelisahan yang hanya dimiliki oleh anak-anak istimewa dan tidak dimiliki oleh anak rata-rata. Ada juga seorang ibu yang bercerita bahwa ia harus meninggalkan pekerjaan selama hampir dua tahun guna mendampingi anaknya yang sangat cerdas. Hampir dua tahun! Bukan waktu yang sebentar. Bayangkan saya, jika ibunya termasuk kategori rata-rata seperti yang disebut tadi, kemudian dia harus mendampingi anaknya yang mempunyai kategori istimewa, waah betapa rempongnya. Tentunya dia harus pontang-panting melakukan semua hal yang di luar kapasitasnya.

Maka pelajaran yang bisa kita petik pada intinya adalah bahwa setiap anak, setiap manusia punya masalahnya sendiri. Setiap orang secara kodrat dan hukum alam punya kelebihan, dan tentu juga punya kekurangan. Bahkan juga ditemui suatu kasus bahwa kelebihan seseorang justru sekaligus merupakan kekurangannya. Peran utama orangtua adalah menemukan kelebihan anak-anaknya, dan mengawal agar kelebihan itu tumbuh secara positif dan berkontribusi positif bagi masa depan anak. Jangan sampai kelebihan itu justru menjadi sesuatu yang destruktif.

Dalam konteks tulisan ini, setiap anak sebenarnya istimewa. Anak kita mungkin saja rata-rata. Tapi, justru karena itu dia istimewa. Anak rata-rata adalah anak yang secara potensi tidak menonjol dalam suatu hal. Mereka berpikir dan hidup dengan cara anak-anak pada umumnya. Bagaimana mendidik mereka? Tadi saya menyebut potensi. Ya, potensi yang dimaksud itu adalah, apa yang kita lihat: kecerdasan, bakat, sosok fisik, sifat-sifat, dan sebagainya. Potensi bukanlah segalanya. Yang membuatnya jadi berarti adalah bagaimana anak-anak itu mengambil sikap terhadap potensi yang mereka miliki. Membangun sikap inilah yang sangat penting.

Ada begitu banyak kisah tragis soal anak berbakat yang akhirnya justru menjadi masalah dalam hidupnya. Sebaliknya, ada lebih banyak lagi cerita soal anak-anak yang rata-rata, tidak menonjol, justru sukses. Bahkan sangat banyak cerita soal anak-anak yang dianggap di bawah rata-rata, dan direndahkan, tapi justru menjadi orang hebat.

- Advertisement -

Betapa seringnya kita terpukau pada anak orang lain. Anak bapak itu meraih medali emas pada olimpiade matematika. Anak ibu itu dapat beasiswa prestasi karena selalu peringkat satu. Anak tetanggaku diterima di universitas ternama dengan beasiswa. Bla, bla, bla. Perasaan terpukau itu juga ditambah sambil mendongak ke atas, artinya apa? Kita menginginkan anak-anak kita sama seperti mereka dan luar biasanya lagi kita menjadikan anak-anak hebat sebagai standar kompetensi yang harus (dianjurkan dengan sangat, jika dalam bahasa yang lebih permisif) dicapai oleh anak-anak kita. Anak-anak hebat menurut frame kita masing-masing adalah contoh dan patokan, yang dijadikan patron agar anak-anak kita juga mencapai prestasi yang sama.

Akhirnya, apa yang dilakukan? Pemerkosaan pada banyak hal. Mulai dari mengikutkan anak-anak les privat yang materi pelajarannya tidak sesuai dengan minat dan bakat mereka, mengikutkan berbagai kegiatan dari A hingga Z. Biaya mahal? Bukan masalah. Berapa pun sanggup dibayar agar anak-anak bisa menjadi seperti apa yang diinginkan.

Dampaknya? Mereka menjadi super sibuk dan kelelahan karena banyaknya kegiatan yang menjadi rutinitas dari pagi hingga sore. Waktu bermain hampir tidak ada. Orang tua menjadi tidak mengenali anak-anaknya sendiri. Mereka lebih kenal sosok anak-anak yang menurut mereka hebat,  dan mereka terus-menerus berharap anak-anaknya  menjadi seperti anak-anak itu.

Sebenarnya populasi terbesar dari manusia adalah manusia yang memiliki intelegensia rata-rata. Suka atau tidak itulah realitanya. Hukum alam telah menetapkan hal itu. Anak-anak kita besar kemungkinan adalah juga anak-anak yang tergolong mempuyai intelegensia rata-rata. Dengan kondisi rata-rata tersebut justru kita menginginkan kondisi yang istimewa. Bisa dibayangkan betapa beratnya beban hidup yang harus ditanggung anak-anak kita. Dipaksa untuk berada dalam kondisi yang secara kodrati bukan tempatnya.

Alih-alih menyadari kesalahan diri, yang ada justru perasaan menyesali diri. Kenapa sih, anak-anak saya tidak seperti anak bapak itu? Kenapa sih anak-anak saya tidak sehebat anak ibu itu? Kenapa sih, anak-anak saya kok tidak bisa seperti anak tetangga saya? Dan banyak lagi gerutuan-gerutuan unfaedah lainnya.

Jika kita para orang tua mau merefleksikan kembali apa yang dirasakan tersebut, maka itu sebenarnya adalah kesalahan berpikir orang tua sendiri. Manusia cenderung melihat apa yang ingin mereka lihat saja. Bukan melihat apa yang nampak nyata di depan mata. Mereka menilai anak-anak istimewa impian mereka adalah berkah. Ya, hanya anak istimewa itu saja yang berkah. Anak-anak yang lain tidak menyandang titel berkah tadi.

Sebuah kisah yang diadopsi dari seseorang yang menerima konsultasi (lebih tepatnya sih, keluhan) dari para orangtua yang anaknya istimewa, yaitu anak yang punya kecerdasan tinggi. Alih-alih bergembira, mereka justru kewalahan dalam mendampingi anak-anaknya. Bahkan ada yang secara khusus minta waktu bertemu. Mereka rela datang dari luar kota, menempuh perjalanan jauh agar anaknya bisa berbicara padanya, curhat tentang beberapa kegelisahan anaknya, kegelisahan yang hanya dimiliki oleh anak-anak istimewa dan tidak dimiliki oleh anak rata-rata. Ada juga seorang ibu yang bercerita bahwa ia harus meninggalkan pekerjaan selama hampir dua tahun guna mendampingi anaknya yang sangat cerdas. Hampir dua tahun! Bukan waktu yang sebentar. Bayangkan saya, jika ibunya termasuk kategori rata-rata seperti yang disebut tadi, kemudian dia harus mendampingi anaknya yang mempunyai kategori istimewa, waah betapa rempongnya. Tentunya dia harus pontang-panting melakukan semua hal yang di luar kapasitasnya.

Maka pelajaran yang bisa kita petik pada intinya adalah bahwa setiap anak, setiap manusia punya masalahnya sendiri. Setiap orang secara kodrat dan hukum alam punya kelebihan, dan tentu juga punya kekurangan. Bahkan juga ditemui suatu kasus bahwa kelebihan seseorang justru sekaligus merupakan kekurangannya. Peran utama orangtua adalah menemukan kelebihan anak-anaknya, dan mengawal agar kelebihan itu tumbuh secara positif dan berkontribusi positif bagi masa depan anak. Jangan sampai kelebihan itu justru menjadi sesuatu yang destruktif.

Dalam konteks tulisan ini, setiap anak sebenarnya istimewa. Anak kita mungkin saja rata-rata. Tapi, justru karena itu dia istimewa. Anak rata-rata adalah anak yang secara potensi tidak menonjol dalam suatu hal. Mereka berpikir dan hidup dengan cara anak-anak pada umumnya. Bagaimana mendidik mereka? Tadi saya menyebut potensi. Ya, potensi yang dimaksud itu adalah, apa yang kita lihat: kecerdasan, bakat, sosok fisik, sifat-sifat, dan sebagainya. Potensi bukanlah segalanya. Yang membuatnya jadi berarti adalah bagaimana anak-anak itu mengambil sikap terhadap potensi yang mereka miliki. Membangun sikap inilah yang sangat penting.

Ada begitu banyak kisah tragis soal anak berbakat yang akhirnya justru menjadi masalah dalam hidupnya. Sebaliknya, ada lebih banyak lagi cerita soal anak-anak yang rata-rata, tidak menonjol, justru sukses. Bahkan sangat banyak cerita soal anak-anak yang dianggap di bawah rata-rata, dan direndahkan, tapi justru menjadi orang hebat.

Betapa seringnya kita terpukau pada anak orang lain. Anak bapak itu meraih medali emas pada olimpiade matematika. Anak ibu itu dapat beasiswa prestasi karena selalu peringkat satu. Anak tetanggaku diterima di universitas ternama dengan beasiswa. Bla, bla, bla. Perasaan terpukau itu juga ditambah sambil mendongak ke atas, artinya apa? Kita menginginkan anak-anak kita sama seperti mereka dan luar biasanya lagi kita menjadikan anak-anak hebat sebagai standar kompetensi yang harus (dianjurkan dengan sangat, jika dalam bahasa yang lebih permisif) dicapai oleh anak-anak kita. Anak-anak hebat menurut frame kita masing-masing adalah contoh dan patokan, yang dijadikan patron agar anak-anak kita juga mencapai prestasi yang sama.

Akhirnya, apa yang dilakukan? Pemerkosaan pada banyak hal. Mulai dari mengikutkan anak-anak les privat yang materi pelajarannya tidak sesuai dengan minat dan bakat mereka, mengikutkan berbagai kegiatan dari A hingga Z. Biaya mahal? Bukan masalah. Berapa pun sanggup dibayar agar anak-anak bisa menjadi seperti apa yang diinginkan.

Dampaknya? Mereka menjadi super sibuk dan kelelahan karena banyaknya kegiatan yang menjadi rutinitas dari pagi hingga sore. Waktu bermain hampir tidak ada. Orang tua menjadi tidak mengenali anak-anaknya sendiri. Mereka lebih kenal sosok anak-anak yang menurut mereka hebat,  dan mereka terus-menerus berharap anak-anaknya  menjadi seperti anak-anak itu.

Sebenarnya populasi terbesar dari manusia adalah manusia yang memiliki intelegensia rata-rata. Suka atau tidak itulah realitanya. Hukum alam telah menetapkan hal itu. Anak-anak kita besar kemungkinan adalah juga anak-anak yang tergolong mempuyai intelegensia rata-rata. Dengan kondisi rata-rata tersebut justru kita menginginkan kondisi yang istimewa. Bisa dibayangkan betapa beratnya beban hidup yang harus ditanggung anak-anak kita. Dipaksa untuk berada dalam kondisi yang secara kodrati bukan tempatnya.

Alih-alih menyadari kesalahan diri, yang ada justru perasaan menyesali diri. Kenapa sih, anak-anak saya tidak seperti anak bapak itu? Kenapa sih anak-anak saya tidak sehebat anak ibu itu? Kenapa sih, anak-anak saya kok tidak bisa seperti anak tetangga saya? Dan banyak lagi gerutuan-gerutuan unfaedah lainnya.

Jika kita para orang tua mau merefleksikan kembali apa yang dirasakan tersebut, maka itu sebenarnya adalah kesalahan berpikir orang tua sendiri. Manusia cenderung melihat apa yang ingin mereka lihat saja. Bukan melihat apa yang nampak nyata di depan mata. Mereka menilai anak-anak istimewa impian mereka adalah berkah. Ya, hanya anak istimewa itu saja yang berkah. Anak-anak yang lain tidak menyandang titel berkah tadi.

Sebuah kisah yang diadopsi dari seseorang yang menerima konsultasi (lebih tepatnya sih, keluhan) dari para orangtua yang anaknya istimewa, yaitu anak yang punya kecerdasan tinggi. Alih-alih bergembira, mereka justru kewalahan dalam mendampingi anak-anaknya. Bahkan ada yang secara khusus minta waktu bertemu. Mereka rela datang dari luar kota, menempuh perjalanan jauh agar anaknya bisa berbicara padanya, curhat tentang beberapa kegelisahan anaknya, kegelisahan yang hanya dimiliki oleh anak-anak istimewa dan tidak dimiliki oleh anak rata-rata. Ada juga seorang ibu yang bercerita bahwa ia harus meninggalkan pekerjaan selama hampir dua tahun guna mendampingi anaknya yang sangat cerdas. Hampir dua tahun! Bukan waktu yang sebentar. Bayangkan saya, jika ibunya termasuk kategori rata-rata seperti yang disebut tadi, kemudian dia harus mendampingi anaknya yang mempunyai kategori istimewa, waah betapa rempongnya. Tentunya dia harus pontang-panting melakukan semua hal yang di luar kapasitasnya.

Maka pelajaran yang bisa kita petik pada intinya adalah bahwa setiap anak, setiap manusia punya masalahnya sendiri. Setiap orang secara kodrat dan hukum alam punya kelebihan, dan tentu juga punya kekurangan. Bahkan juga ditemui suatu kasus bahwa kelebihan seseorang justru sekaligus merupakan kekurangannya. Peran utama orangtua adalah menemukan kelebihan anak-anaknya, dan mengawal agar kelebihan itu tumbuh secara positif dan berkontribusi positif bagi masa depan anak. Jangan sampai kelebihan itu justru menjadi sesuatu yang destruktif.

Dalam konteks tulisan ini, setiap anak sebenarnya istimewa. Anak kita mungkin saja rata-rata. Tapi, justru karena itu dia istimewa. Anak rata-rata adalah anak yang secara potensi tidak menonjol dalam suatu hal. Mereka berpikir dan hidup dengan cara anak-anak pada umumnya. Bagaimana mendidik mereka? Tadi saya menyebut potensi. Ya, potensi yang dimaksud itu adalah, apa yang kita lihat: kecerdasan, bakat, sosok fisik, sifat-sifat, dan sebagainya. Potensi bukanlah segalanya. Yang membuatnya jadi berarti adalah bagaimana anak-anak itu mengambil sikap terhadap potensi yang mereka miliki. Membangun sikap inilah yang sangat penting.

Ada begitu banyak kisah tragis soal anak berbakat yang akhirnya justru menjadi masalah dalam hidupnya. Sebaliknya, ada lebih banyak lagi cerita soal anak-anak yang rata-rata, tidak menonjol, justru sukses. Bahkan sangat banyak cerita soal anak-anak yang dianggap di bawah rata-rata, dan direndahkan, tapi justru menjadi orang hebat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/