Sketsa Kultus Tradisi Pesantren

Tanpa dimungkiri memang kadang atau bahkan sering kali terjadi benturan antara intelektualitas dan moralitas santri. Seorang santri kadang dihadapkan dengan dilema antara tetap berada dalam jalar intelektual atau moral. Dalam kasus ilmu pengetahuan, benturan ini sudah biasa terjadi dan seorang guru akan sangat memaklumi bahkan bangga jika ada murid yang mengkritisi dan tidak satu paham dengan pendapat gurunya. Namun dalam masalah tertentu, adakalanya seorang santri menutup rapat-rapat dan mengesampingkan kemapanan intelektualitas mereka dan mengedepankan moralitas. Seorang santri tidak akan bertanya jika seorang guru memerintahkan apa pun selama tidak dilarang oleh agama meski perintah itu tidak masuk akal, sebab kepatuhan berada di atas akal. Seorang guru memerintahkan murid melompat ke dalam sumur, tanpa berpikir panjang seorang murid langsung melompat tanpa berpikir bagaimana nanti ketika di dalam sumur.

Integritas dan kepatuhan murid terhadap guru itulah yang kemudian menjadi buah pemanis yang tidak terlihat secara kasat mata namun akan terasa nanti ketika sudah pulang ke tengah-tengah masyarakat. Ilmunya akan bermanfaat, menjadi orang yang berguna bagi sesama dan otomatis akan ditokohkan oleh masyarakat. Embrio manis dari kepatuhan dan ketaatan akan dirasakan nanti ketika seorang santri sudah selesai dari pendidikan pesantren dan mengabdikan dirinya di tengah kehidupan masyarakat. Tentu perasaan berat hati, tidak nyaman, dan sebagainya yang menjurus pada ketidakpuasan terhadap apa pun yang menjadi perintah kiai akan timbul dalam diri seorang santri. Namun bukankah itu menjadi ujian sendiri bagi seorang murid sejauh mana kesabarannya dalam menuntut ilmu. Sejauh mana kekuatan dan kesabaran seorang santri dalam menjalani proses pendidikan yang dalam perjalanannya kadang mengalami sesuatu yang kurang nyaman.

Dalam hal ini kemudian dikenallah istilah tirakat, yaitu kesabaran pada kondisi yang kurang nyaman. Tirakat merupakan tahapan yang harus dilalui oleh seorang santri. Semacam sebuah keadaan di mana dia harus menahan atau setidaknya berpura-pura normal padahal kondisinya sedang tidak normal. Contoh sederhananya berpura-pura normal dan nyaman padahal ketika makan dengan lauk biasa saja bahkan kadang nasinya kurang matang. Pada kondisi itulah jiwa kesantrian akan teruji. Sekian, semoga kita sama-sama mendapatkan berkah dari pesantren dan guru-guru kita. Amiiin. Wallahu alam bis shawab.

*) Penulis adalah direktur Ali Mustafa Yaqub (AMY) Institute Pondok Darus Sunnah Jakarta.