alexametrics
24.1 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Pasar Koi Jember, Kapan?

Mobile_AP_Rectangle 1

Kira-kira pemikirannya begini, bidang perikanan koi di Jember khan pertumbuhannya pesat (paling tidak dua tahun akhir-akhir ini). Lahan ada, air cukup, pembudi daya bertumbuh, petani mulai melirik sawahnya untuk lahan penebaran koi, penjual tambah banyak, dan menariknya para penjual didominasi anak muda. Ini nilai plus dan potensial di masa mendatang.

Pemikirannya lagi, bila dikelola dengan baik, bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat dan sumber penghasilan pula untuk daerah Jember (PAD). Caranya bagaimana? Misalnya saja ada pasar koi minimal bisa menarik retribusi dari kegiatan tersebut. Kira-kira demikian alur pikirnya.

Adanya pasar koi sebenarnya jadi bahasan dan idaman lama bagi pehobi, pegiat koi, juga bagi Jember Koi Club (JeKC). Mengapa butuh pasar? Mereka butuh pangsa pasar, tempat memasok ikan hias koi di Jember. Mereka butuh bertemu pembeli, dan bisa akad jual beli di tempat tersebut. Pertanyaan lagi: apakah tidak cukup online saja, mengingat sekarang dengan online bisa melayani? Pembeli memilih ikan koi, membayar, lalu mengirim via jasa transportasi online. Cukup.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bila dipandang cukup, bisa cukup. Bila dipandang tidak cukup, bisa tidak cukup dengan adanya pasar online saja. Begini kira-kira pemikirannya, jual koi atau jual ikan hias lainnya tidak bisa atau sulit berkembang bila di pasar induk. Dicampur dengan pasar ikan konsumsi lain misalnya, ikan asin, ikan tengiri, ikan lele, nila. Keberadaan pasar ikan koi biasanya spesifik, ikan koi saja, atau bisa juga campur dengan ikan hias lainnya. Di beberapa daerah bisa berkembang.

Saya memandangnya simpel saja akan harapan pasar koi. Kebutuhan pasar koi offline dipandang perlu karena masih adanya warga yang ingin mendapatkan ikan hias koi secara langsung. Pembeli bisa memastikan bahwa ikannya benar-benar ada, dan keadaanya seperti yang dilihat. Beberapa foto/video jualan online via Android salah satu kelemahannya pada hasil foto video.

Terkadang tidak sesuai dengan harapan, utamanya dalam hal warna. Juga dalam hal kesehatan. Benar-benar sangat mengandalkan kejujuran pembelinya, karena dia juga menjadi “wakil pembeli” atas koi jualannya. Di sisi lain, pembeli kadang hanya ingin melihat (wisata mata), jadi tidak segan bertanya langsung ke pembeli.

Pasar Koi di Daerah lain
Pasar Koi Jogjakarta. Pasar koi ini terletak di Pasar Koi Jogja yang terletak di Sendangtirto, Berbah, Sleman. Berdiri pada tahun 2016 silam. Salah satu penggeraknya Suryo Jatmiko mengembangkan budi daya ikan koi dengan memberdayakan warga desa Sendangtirto. Karena prihatin selama ini, kebutuhan ikan koi di Jogjakarta dipenuhi dari luar daerah.

Dalam menerapkan pemberdayaan Suryo Jatmiko membagi dalam tiga fase plasma koi. Untuk fase satu diberikan bibit-bibit hibah agar tertarik untuk melakukan budi daya. Dari mitra plasma fase satu yang sudah berbakat dan lebih mahir dikelompokkan ke dalam fase dua. Dalam fase ini telah diajarkan konsep bisnis. Terakhir, bagi yang sudah mahir dalam budi daya dan bisnis, dijaring dalam fase tiga. Dalam fase ini sudah harus berani spekulasi berinvestasi.

Pasar koi Jogjakarta menerapkan penjualan satu pintu dalam mengendalikan harga. Selain itu, kualitas produk yang dijual pun terjaga. Sehingga konsumen dapat membeli ikan koi sesuai dengan anggaran mereka. Semakin tinggi kualitas maka semakin tinggi pula harganya.

Dasar lainnya, permintaan koi di Jogjakarta cukup besar, yakni 5000 ekor ikan per bulannya dengan harga dibawah 100 ribuan. Sampai saat ini berjalan dengan baik.

- Advertisement -

Kira-kira pemikirannya begini, bidang perikanan koi di Jember khan pertumbuhannya pesat (paling tidak dua tahun akhir-akhir ini). Lahan ada, air cukup, pembudi daya bertumbuh, petani mulai melirik sawahnya untuk lahan penebaran koi, penjual tambah banyak, dan menariknya para penjual didominasi anak muda. Ini nilai plus dan potensial di masa mendatang.

Pemikirannya lagi, bila dikelola dengan baik, bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat dan sumber penghasilan pula untuk daerah Jember (PAD). Caranya bagaimana? Misalnya saja ada pasar koi minimal bisa menarik retribusi dari kegiatan tersebut. Kira-kira demikian alur pikirnya.

Adanya pasar koi sebenarnya jadi bahasan dan idaman lama bagi pehobi, pegiat koi, juga bagi Jember Koi Club (JeKC). Mengapa butuh pasar? Mereka butuh pangsa pasar, tempat memasok ikan hias koi di Jember. Mereka butuh bertemu pembeli, dan bisa akad jual beli di tempat tersebut. Pertanyaan lagi: apakah tidak cukup online saja, mengingat sekarang dengan online bisa melayani? Pembeli memilih ikan koi, membayar, lalu mengirim via jasa transportasi online. Cukup.

Bila dipandang cukup, bisa cukup. Bila dipandang tidak cukup, bisa tidak cukup dengan adanya pasar online saja. Begini kira-kira pemikirannya, jual koi atau jual ikan hias lainnya tidak bisa atau sulit berkembang bila di pasar induk. Dicampur dengan pasar ikan konsumsi lain misalnya, ikan asin, ikan tengiri, ikan lele, nila. Keberadaan pasar ikan koi biasanya spesifik, ikan koi saja, atau bisa juga campur dengan ikan hias lainnya. Di beberapa daerah bisa berkembang.

Saya memandangnya simpel saja akan harapan pasar koi. Kebutuhan pasar koi offline dipandang perlu karena masih adanya warga yang ingin mendapatkan ikan hias koi secara langsung. Pembeli bisa memastikan bahwa ikannya benar-benar ada, dan keadaanya seperti yang dilihat. Beberapa foto/video jualan online via Android salah satu kelemahannya pada hasil foto video.

Terkadang tidak sesuai dengan harapan, utamanya dalam hal warna. Juga dalam hal kesehatan. Benar-benar sangat mengandalkan kejujuran pembelinya, karena dia juga menjadi “wakil pembeli” atas koi jualannya. Di sisi lain, pembeli kadang hanya ingin melihat (wisata mata), jadi tidak segan bertanya langsung ke pembeli.

Pasar Koi di Daerah lain
Pasar Koi Jogjakarta. Pasar koi ini terletak di Pasar Koi Jogja yang terletak di Sendangtirto, Berbah, Sleman. Berdiri pada tahun 2016 silam. Salah satu penggeraknya Suryo Jatmiko mengembangkan budi daya ikan koi dengan memberdayakan warga desa Sendangtirto. Karena prihatin selama ini, kebutuhan ikan koi di Jogjakarta dipenuhi dari luar daerah.

Dalam menerapkan pemberdayaan Suryo Jatmiko membagi dalam tiga fase plasma koi. Untuk fase satu diberikan bibit-bibit hibah agar tertarik untuk melakukan budi daya. Dari mitra plasma fase satu yang sudah berbakat dan lebih mahir dikelompokkan ke dalam fase dua. Dalam fase ini telah diajarkan konsep bisnis. Terakhir, bagi yang sudah mahir dalam budi daya dan bisnis, dijaring dalam fase tiga. Dalam fase ini sudah harus berani spekulasi berinvestasi.

Pasar koi Jogjakarta menerapkan penjualan satu pintu dalam mengendalikan harga. Selain itu, kualitas produk yang dijual pun terjaga. Sehingga konsumen dapat membeli ikan koi sesuai dengan anggaran mereka. Semakin tinggi kualitas maka semakin tinggi pula harganya.

Dasar lainnya, permintaan koi di Jogjakarta cukup besar, yakni 5000 ekor ikan per bulannya dengan harga dibawah 100 ribuan. Sampai saat ini berjalan dengan baik.

Kira-kira pemikirannya begini, bidang perikanan koi di Jember khan pertumbuhannya pesat (paling tidak dua tahun akhir-akhir ini). Lahan ada, air cukup, pembudi daya bertumbuh, petani mulai melirik sawahnya untuk lahan penebaran koi, penjual tambah banyak, dan menariknya para penjual didominasi anak muda. Ini nilai plus dan potensial di masa mendatang.

Pemikirannya lagi, bila dikelola dengan baik, bisa menjadi sumber penghasilan masyarakat dan sumber penghasilan pula untuk daerah Jember (PAD). Caranya bagaimana? Misalnya saja ada pasar koi minimal bisa menarik retribusi dari kegiatan tersebut. Kira-kira demikian alur pikirnya.

Adanya pasar koi sebenarnya jadi bahasan dan idaman lama bagi pehobi, pegiat koi, juga bagi Jember Koi Club (JeKC). Mengapa butuh pasar? Mereka butuh pangsa pasar, tempat memasok ikan hias koi di Jember. Mereka butuh bertemu pembeli, dan bisa akad jual beli di tempat tersebut. Pertanyaan lagi: apakah tidak cukup online saja, mengingat sekarang dengan online bisa melayani? Pembeli memilih ikan koi, membayar, lalu mengirim via jasa transportasi online. Cukup.

Bila dipandang cukup, bisa cukup. Bila dipandang tidak cukup, bisa tidak cukup dengan adanya pasar online saja. Begini kira-kira pemikirannya, jual koi atau jual ikan hias lainnya tidak bisa atau sulit berkembang bila di pasar induk. Dicampur dengan pasar ikan konsumsi lain misalnya, ikan asin, ikan tengiri, ikan lele, nila. Keberadaan pasar ikan koi biasanya spesifik, ikan koi saja, atau bisa juga campur dengan ikan hias lainnya. Di beberapa daerah bisa berkembang.

Saya memandangnya simpel saja akan harapan pasar koi. Kebutuhan pasar koi offline dipandang perlu karena masih adanya warga yang ingin mendapatkan ikan hias koi secara langsung. Pembeli bisa memastikan bahwa ikannya benar-benar ada, dan keadaanya seperti yang dilihat. Beberapa foto/video jualan online via Android salah satu kelemahannya pada hasil foto video.

Terkadang tidak sesuai dengan harapan, utamanya dalam hal warna. Juga dalam hal kesehatan. Benar-benar sangat mengandalkan kejujuran pembelinya, karena dia juga menjadi “wakil pembeli” atas koi jualannya. Di sisi lain, pembeli kadang hanya ingin melihat (wisata mata), jadi tidak segan bertanya langsung ke pembeli.

Pasar Koi di Daerah lain
Pasar Koi Jogjakarta. Pasar koi ini terletak di Pasar Koi Jogja yang terletak di Sendangtirto, Berbah, Sleman. Berdiri pada tahun 2016 silam. Salah satu penggeraknya Suryo Jatmiko mengembangkan budi daya ikan koi dengan memberdayakan warga desa Sendangtirto. Karena prihatin selama ini, kebutuhan ikan koi di Jogjakarta dipenuhi dari luar daerah.

Dalam menerapkan pemberdayaan Suryo Jatmiko membagi dalam tiga fase plasma koi. Untuk fase satu diberikan bibit-bibit hibah agar tertarik untuk melakukan budi daya. Dari mitra plasma fase satu yang sudah berbakat dan lebih mahir dikelompokkan ke dalam fase dua. Dalam fase ini telah diajarkan konsep bisnis. Terakhir, bagi yang sudah mahir dalam budi daya dan bisnis, dijaring dalam fase tiga. Dalam fase ini sudah harus berani spekulasi berinvestasi.

Pasar koi Jogjakarta menerapkan penjualan satu pintu dalam mengendalikan harga. Selain itu, kualitas produk yang dijual pun terjaga. Sehingga konsumen dapat membeli ikan koi sesuai dengan anggaran mereka. Semakin tinggi kualitas maka semakin tinggi pula harganya.

Dasar lainnya, permintaan koi di Jogjakarta cukup besar, yakni 5000 ekor ikan per bulannya dengan harga dibawah 100 ribuan. Sampai saat ini berjalan dengan baik.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/