alexametrics
23.5 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Ayo Bangkit dari Keterbuaian

Mobile_AP_Rectangle 1

Kondisi ini mengalami beberapa situasi atau tahapan. Pertama adalah honeymoon stage. Kondisi ini memberi pengalaman pertama kepada semua pihak dalam dunia pendidikan. Pembelajaran yang awalnya berlangsung dengan moda tatap muka, berubah karena situasi yang tidak memungkinkan. Muncullah moda dalam jaringan (daring) dengan memanfaatkan teknologi, pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan segala keunikannya. Kondisi ini satu sisi memberi euforia kepada sebagian pihak karena merasa “merdeka” dari rutinitas kegiatan di dalam kelas, meskipun kondisi ini tidak akan berlangsung lama.

Kedua adalah negotiation stage. Keberlangsungan situasi euforia tersebut tidak berlangsung lama, pembelajaran di luar kelas dengan moda daring dalam pembelajaran jarak jauh ada pada posisi di mana guru juga mengalami kejenuhan. Ini karena banyaknya kesenjangan yang terjadi, materi tidak tersampaikan dengan maksimal. Apalagi tersampaikannya nilai-nilai pembelajaran kehidupan dalam bingkai pembentukan karakter. Dua hal ini menjadi sulit untuk terlaksana karena keterbatasan ruang dan waktu. Situasi ini menggugah nurani untuk segera bisa kembali bisa melaksanakan pembelajaran sebagaimana biasanya sebelum pandemi melanda.

Selanjutnya adjustment stage. Upaya yang sudah dilakukan oleh semua pihak untuk mengembalikan pembelajaran secara langsung dengan tatap muka tentunya adalah sebuah kondisi yang disadari oleh semua. Mulai dari peserta didik, guru, orang tua, Dinas Pendidikan, dan pemerintah. Seluruhnya haruslah bersinergi agar kesenjangan yang terjadi dalam pembelajaran masa pandemi bisa terurai, dan segara bisa dilakukan pembelajaran tatap muka yang full. Tidak lagi dengan model sif dibatasi jumlah dalam pelaksanaannya. Meskipun sebenarnya kondisi pandemi masih belum aman, sehingga perilaku yang sudah berlangsung saat ini dengan konsep 3M+2M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas) sebagai wujud protokol kesehatan haruslah tetap dijalankan dan dipatuhi dengan penuh tanggung jawab.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kemudian adaptation stage. Perubahan situasi ini tentu menuntut keberpihakan semua unsur dalam mengembalikan ruh pendidikan sebagai usaha sadar mengembangkan potensi peserta didik dalam wujud transfer knowledge, lebih-lebih dalam upaya transfer value dalam membentuk karakter dan mewujudkan profil pelajar Pancasila yang menjadi harapan pemerintah menyongsong era digitalisasi. Karena karakter inilah yang akan menjadi fondasi terkuat dalam mewujudkan eksistensi bangsa menjadi bermartabat.

Transisi dari masa pandemi menuju endemi haruslah dengan kesiapan dan kebulatan tekad, serta tanggung jawab dari semua pihak. Ini agar pendidikan bisa berjalan dengan baik bukan sebaliknya malah memunculkan klaster baru penyebaran wabah virus yang tidak berkesudahan laksana benang kusut.

Pada akhirnya kegiatan belajar mengajar dalam pendidikan haruslah berlangsung dengan baik. Kalaupun masa pandemi menyisakan banyak cerita dan kesenjangan, tetapi masih ada segi positif yang bisa kita rengkuh darinya. yaitu peningkatan kompetensi tenaga pendidik khususnya dalam memanfaatkan perkembangan teknologi. Hal ini akan menjadi sangat bernilai saat bisa diimplementasikan dalam membersamai peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar di masa yang akan datang, saat semua betul-betul bisa belajar tanpa halangan.

 

*) Penulis adalah pendidik di SMPN 1 Balung dan Sekretaris MGMP PAI SMP Kabupaten Jember.

- Advertisement -

Kondisi ini mengalami beberapa situasi atau tahapan. Pertama adalah honeymoon stage. Kondisi ini memberi pengalaman pertama kepada semua pihak dalam dunia pendidikan. Pembelajaran yang awalnya berlangsung dengan moda tatap muka, berubah karena situasi yang tidak memungkinkan. Muncullah moda dalam jaringan (daring) dengan memanfaatkan teknologi, pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan segala keunikannya. Kondisi ini satu sisi memberi euforia kepada sebagian pihak karena merasa “merdeka” dari rutinitas kegiatan di dalam kelas, meskipun kondisi ini tidak akan berlangsung lama.

Kedua adalah negotiation stage. Keberlangsungan situasi euforia tersebut tidak berlangsung lama, pembelajaran di luar kelas dengan moda daring dalam pembelajaran jarak jauh ada pada posisi di mana guru juga mengalami kejenuhan. Ini karena banyaknya kesenjangan yang terjadi, materi tidak tersampaikan dengan maksimal. Apalagi tersampaikannya nilai-nilai pembelajaran kehidupan dalam bingkai pembentukan karakter. Dua hal ini menjadi sulit untuk terlaksana karena keterbatasan ruang dan waktu. Situasi ini menggugah nurani untuk segera bisa kembali bisa melaksanakan pembelajaran sebagaimana biasanya sebelum pandemi melanda.

Selanjutnya adjustment stage. Upaya yang sudah dilakukan oleh semua pihak untuk mengembalikan pembelajaran secara langsung dengan tatap muka tentunya adalah sebuah kondisi yang disadari oleh semua. Mulai dari peserta didik, guru, orang tua, Dinas Pendidikan, dan pemerintah. Seluruhnya haruslah bersinergi agar kesenjangan yang terjadi dalam pembelajaran masa pandemi bisa terurai, dan segara bisa dilakukan pembelajaran tatap muka yang full. Tidak lagi dengan model sif dibatasi jumlah dalam pelaksanaannya. Meskipun sebenarnya kondisi pandemi masih belum aman, sehingga perilaku yang sudah berlangsung saat ini dengan konsep 3M+2M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas) sebagai wujud protokol kesehatan haruslah tetap dijalankan dan dipatuhi dengan penuh tanggung jawab.

Kemudian adaptation stage. Perubahan situasi ini tentu menuntut keberpihakan semua unsur dalam mengembalikan ruh pendidikan sebagai usaha sadar mengembangkan potensi peserta didik dalam wujud transfer knowledge, lebih-lebih dalam upaya transfer value dalam membentuk karakter dan mewujudkan profil pelajar Pancasila yang menjadi harapan pemerintah menyongsong era digitalisasi. Karena karakter inilah yang akan menjadi fondasi terkuat dalam mewujudkan eksistensi bangsa menjadi bermartabat.

Transisi dari masa pandemi menuju endemi haruslah dengan kesiapan dan kebulatan tekad, serta tanggung jawab dari semua pihak. Ini agar pendidikan bisa berjalan dengan baik bukan sebaliknya malah memunculkan klaster baru penyebaran wabah virus yang tidak berkesudahan laksana benang kusut.

Pada akhirnya kegiatan belajar mengajar dalam pendidikan haruslah berlangsung dengan baik. Kalaupun masa pandemi menyisakan banyak cerita dan kesenjangan, tetapi masih ada segi positif yang bisa kita rengkuh darinya. yaitu peningkatan kompetensi tenaga pendidik khususnya dalam memanfaatkan perkembangan teknologi. Hal ini akan menjadi sangat bernilai saat bisa diimplementasikan dalam membersamai peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar di masa yang akan datang, saat semua betul-betul bisa belajar tanpa halangan.

 

*) Penulis adalah pendidik di SMPN 1 Balung dan Sekretaris MGMP PAI SMP Kabupaten Jember.

Kondisi ini mengalami beberapa situasi atau tahapan. Pertama adalah honeymoon stage. Kondisi ini memberi pengalaman pertama kepada semua pihak dalam dunia pendidikan. Pembelajaran yang awalnya berlangsung dengan moda tatap muka, berubah karena situasi yang tidak memungkinkan. Muncullah moda dalam jaringan (daring) dengan memanfaatkan teknologi, pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan segala keunikannya. Kondisi ini satu sisi memberi euforia kepada sebagian pihak karena merasa “merdeka” dari rutinitas kegiatan di dalam kelas, meskipun kondisi ini tidak akan berlangsung lama.

Kedua adalah negotiation stage. Keberlangsungan situasi euforia tersebut tidak berlangsung lama, pembelajaran di luar kelas dengan moda daring dalam pembelajaran jarak jauh ada pada posisi di mana guru juga mengalami kejenuhan. Ini karena banyaknya kesenjangan yang terjadi, materi tidak tersampaikan dengan maksimal. Apalagi tersampaikannya nilai-nilai pembelajaran kehidupan dalam bingkai pembentukan karakter. Dua hal ini menjadi sulit untuk terlaksana karena keterbatasan ruang dan waktu. Situasi ini menggugah nurani untuk segera bisa kembali bisa melaksanakan pembelajaran sebagaimana biasanya sebelum pandemi melanda.

Selanjutnya adjustment stage. Upaya yang sudah dilakukan oleh semua pihak untuk mengembalikan pembelajaran secara langsung dengan tatap muka tentunya adalah sebuah kondisi yang disadari oleh semua. Mulai dari peserta didik, guru, orang tua, Dinas Pendidikan, dan pemerintah. Seluruhnya haruslah bersinergi agar kesenjangan yang terjadi dalam pembelajaran masa pandemi bisa terurai, dan segara bisa dilakukan pembelajaran tatap muka yang full. Tidak lagi dengan model sif dibatasi jumlah dalam pelaksanaannya. Meskipun sebenarnya kondisi pandemi masih belum aman, sehingga perilaku yang sudah berlangsung saat ini dengan konsep 3M+2M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas) sebagai wujud protokol kesehatan haruslah tetap dijalankan dan dipatuhi dengan penuh tanggung jawab.

Kemudian adaptation stage. Perubahan situasi ini tentu menuntut keberpihakan semua unsur dalam mengembalikan ruh pendidikan sebagai usaha sadar mengembangkan potensi peserta didik dalam wujud transfer knowledge, lebih-lebih dalam upaya transfer value dalam membentuk karakter dan mewujudkan profil pelajar Pancasila yang menjadi harapan pemerintah menyongsong era digitalisasi. Karena karakter inilah yang akan menjadi fondasi terkuat dalam mewujudkan eksistensi bangsa menjadi bermartabat.

Transisi dari masa pandemi menuju endemi haruslah dengan kesiapan dan kebulatan tekad, serta tanggung jawab dari semua pihak. Ini agar pendidikan bisa berjalan dengan baik bukan sebaliknya malah memunculkan klaster baru penyebaran wabah virus yang tidak berkesudahan laksana benang kusut.

Pada akhirnya kegiatan belajar mengajar dalam pendidikan haruslah berlangsung dengan baik. Kalaupun masa pandemi menyisakan banyak cerita dan kesenjangan, tetapi masih ada segi positif yang bisa kita rengkuh darinya. yaitu peningkatan kompetensi tenaga pendidik khususnya dalam memanfaatkan perkembangan teknologi. Hal ini akan menjadi sangat bernilai saat bisa diimplementasikan dalam membersamai peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar di masa yang akan datang, saat semua betul-betul bisa belajar tanpa halangan.

 

*) Penulis adalah pendidik di SMPN 1 Balung dan Sekretaris MGMP PAI SMP Kabupaten Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/