alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Ayo Bangkit dari Keterbuaian

Mobile_AP_Rectangle 1

DUNIA pendidikan yang terguncang dampak pandemi Covid-19 masih terasa di tahun kedua ini. Semua bertanya, kapankah pembelajaran betul-betul bisa kembali normal seperti dulu kala, sebelum wabah ini melanda. Peserta didik bisa berinteraksi dengan temannya dalam dimensi ruang dan waktu mengukir kebermaknaan hidup sesuai dengan usianya, agar bisa menjadi cerita di masa yang akan datang untuk dikenang dalam sejarah dan dinamikanya.

Kerinduan akan kondisi sebelum pandemi dalam pembelajaran menjadi tanggung jawab bersama. Semua upaya telah dikerahkan. pemikiran telah dicurahkan untuk mencari solusi sebagai jalan keluar dari fenomena yang belum ketemu ujung pangkalnya. Meskipun secara perlahan mulai terurai, mulai dari keharusan vaksin untuk guru, serbuan vaksin untuk peserta didik adalah bentuk ikhtiar lain menyongsong new normal dalam kegiatan belajar mengajar.

Sampai saat ini kita bisa melihat pemandangan, hampir di semua lembaga pendidikan, adanya aktivitas pembelajaran yang setengah hati atas nama kewaspadaan dalam kerinduan pembelajaran langsung luar jaringan (luring). Tentunya dengan mematuhi aturan dalam menjalankan protokol kesehatan, sehingga keinginan untuk pembelajaran tatap muka dilakukan dengan berbagai problematikanya berwujud pembelajaran dalam bentuk pembagian sif. Ini merujuk pada SKB 3 Menteri (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri) Nomor 440-842 Tahun 2020 Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Masa Pandemi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Keputusan bersama yang dimaksud mensyaratkan kepada sekolah agar mendapatkan izin dari pihak berbagai pihak. Di antaranya pemerintah daerah, Dinas Pendidikan Kabupaten, dan perwakilan orang tua melalui komite sekolah. Jika ada orang tua yang keberatan anaknya ke sekolah, maka diizinkan untuk tidak ikut tatap muka dalam pembelajaran.

Syarat berikutnya, sekolah juga harus memaksimalkan sarana prasarana pendukung dalam menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Hal ini tentu tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dari semua pihak, baik orang tua maupun masyarakat, dalam memantau perilaku baik, sehat dan bertanggung jawab kepada anak-anak atau peserta didik. Karena sejatinya pembelajaran ada di masyarakat. Komitmen ini adalah bentuk ikhtiar membuka pendidikan di sekolah dan menjadi tempat yang aman bagi semua dengan tidak menimbulkan klaster baru yang lebih luas.

Implementasi dari peraturan ini, bagi sekolah yang memenuhi syarat, bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan berbagai rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh semua pihak. Siswa penuh tanggung jawab dan disiplin untuk mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak aman (3M). Pendidik dan tenaga pendidik memilki peran sangat fundamental dalam memberi keteladanan kepada peserta didik.

Pada praktiknya, pembelajaran tatap muka yang konon katanya menjadi kerinduan semua pihak mengalami dinamika dalam keunikannya masing-masing. Semacam gayung tidak bersambut ketika kesempatan untuk tatap muka tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh semuanya. Siswa yang diberi kesempatan datang ke sekolah ternyata masih ada saja yang tidak masuk tanpa ada keterangan. Ada juga siswa yang datang, tapi tidak langsung masuk ke sekolah sehingga masuknya terlambat dengan berbagai argumentasi saat ditanya kenapa terlambat datang dan masuk kelas.

Dinamika ini tentu menjadi bahan renungan bagi semuanya. Apakah ini yang disebut dengan sindrom keterbuaian dalam kenyamanan setelah beberapa waktu semua terlena dengan pembelajaran jarak jauh yang menyebabkan kecenderungan malas bagi semua pihak. Baik peserta didik atau bahkan tidak menutup kemungkinan gurunya juga. Kalau kondisi ini dibiarkan, maka apa yang terjadi tidak bisa kita bayangkan, culture shock dunia pendidikan.

- Advertisement -

DUNIA pendidikan yang terguncang dampak pandemi Covid-19 masih terasa di tahun kedua ini. Semua bertanya, kapankah pembelajaran betul-betul bisa kembali normal seperti dulu kala, sebelum wabah ini melanda. Peserta didik bisa berinteraksi dengan temannya dalam dimensi ruang dan waktu mengukir kebermaknaan hidup sesuai dengan usianya, agar bisa menjadi cerita di masa yang akan datang untuk dikenang dalam sejarah dan dinamikanya.

Kerinduan akan kondisi sebelum pandemi dalam pembelajaran menjadi tanggung jawab bersama. Semua upaya telah dikerahkan. pemikiran telah dicurahkan untuk mencari solusi sebagai jalan keluar dari fenomena yang belum ketemu ujung pangkalnya. Meskipun secara perlahan mulai terurai, mulai dari keharusan vaksin untuk guru, serbuan vaksin untuk peserta didik adalah bentuk ikhtiar lain menyongsong new normal dalam kegiatan belajar mengajar.

Sampai saat ini kita bisa melihat pemandangan, hampir di semua lembaga pendidikan, adanya aktivitas pembelajaran yang setengah hati atas nama kewaspadaan dalam kerinduan pembelajaran langsung luar jaringan (luring). Tentunya dengan mematuhi aturan dalam menjalankan protokol kesehatan, sehingga keinginan untuk pembelajaran tatap muka dilakukan dengan berbagai problematikanya berwujud pembelajaran dalam bentuk pembagian sif. Ini merujuk pada SKB 3 Menteri (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri) Nomor 440-842 Tahun 2020 Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Masa Pandemi.

Keputusan bersama yang dimaksud mensyaratkan kepada sekolah agar mendapatkan izin dari pihak berbagai pihak. Di antaranya pemerintah daerah, Dinas Pendidikan Kabupaten, dan perwakilan orang tua melalui komite sekolah. Jika ada orang tua yang keberatan anaknya ke sekolah, maka diizinkan untuk tidak ikut tatap muka dalam pembelajaran.

Syarat berikutnya, sekolah juga harus memaksimalkan sarana prasarana pendukung dalam menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Hal ini tentu tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dari semua pihak, baik orang tua maupun masyarakat, dalam memantau perilaku baik, sehat dan bertanggung jawab kepada anak-anak atau peserta didik. Karena sejatinya pembelajaran ada di masyarakat. Komitmen ini adalah bentuk ikhtiar membuka pendidikan di sekolah dan menjadi tempat yang aman bagi semua dengan tidak menimbulkan klaster baru yang lebih luas.

Implementasi dari peraturan ini, bagi sekolah yang memenuhi syarat, bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan berbagai rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh semua pihak. Siswa penuh tanggung jawab dan disiplin untuk mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak aman (3M). Pendidik dan tenaga pendidik memilki peran sangat fundamental dalam memberi keteladanan kepada peserta didik.

Pada praktiknya, pembelajaran tatap muka yang konon katanya menjadi kerinduan semua pihak mengalami dinamika dalam keunikannya masing-masing. Semacam gayung tidak bersambut ketika kesempatan untuk tatap muka tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh semuanya. Siswa yang diberi kesempatan datang ke sekolah ternyata masih ada saja yang tidak masuk tanpa ada keterangan. Ada juga siswa yang datang, tapi tidak langsung masuk ke sekolah sehingga masuknya terlambat dengan berbagai argumentasi saat ditanya kenapa terlambat datang dan masuk kelas.

Dinamika ini tentu menjadi bahan renungan bagi semuanya. Apakah ini yang disebut dengan sindrom keterbuaian dalam kenyamanan setelah beberapa waktu semua terlena dengan pembelajaran jarak jauh yang menyebabkan kecenderungan malas bagi semua pihak. Baik peserta didik atau bahkan tidak menutup kemungkinan gurunya juga. Kalau kondisi ini dibiarkan, maka apa yang terjadi tidak bisa kita bayangkan, culture shock dunia pendidikan.

DUNIA pendidikan yang terguncang dampak pandemi Covid-19 masih terasa di tahun kedua ini. Semua bertanya, kapankah pembelajaran betul-betul bisa kembali normal seperti dulu kala, sebelum wabah ini melanda. Peserta didik bisa berinteraksi dengan temannya dalam dimensi ruang dan waktu mengukir kebermaknaan hidup sesuai dengan usianya, agar bisa menjadi cerita di masa yang akan datang untuk dikenang dalam sejarah dan dinamikanya.

Kerinduan akan kondisi sebelum pandemi dalam pembelajaran menjadi tanggung jawab bersama. Semua upaya telah dikerahkan. pemikiran telah dicurahkan untuk mencari solusi sebagai jalan keluar dari fenomena yang belum ketemu ujung pangkalnya. Meskipun secara perlahan mulai terurai, mulai dari keharusan vaksin untuk guru, serbuan vaksin untuk peserta didik adalah bentuk ikhtiar lain menyongsong new normal dalam kegiatan belajar mengajar.

Sampai saat ini kita bisa melihat pemandangan, hampir di semua lembaga pendidikan, adanya aktivitas pembelajaran yang setengah hati atas nama kewaspadaan dalam kerinduan pembelajaran langsung luar jaringan (luring). Tentunya dengan mematuhi aturan dalam menjalankan protokol kesehatan, sehingga keinginan untuk pembelajaran tatap muka dilakukan dengan berbagai problematikanya berwujud pembelajaran dalam bentuk pembagian sif. Ini merujuk pada SKB 3 Menteri (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri) Nomor 440-842 Tahun 2020 Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Masa Pandemi.

Keputusan bersama yang dimaksud mensyaratkan kepada sekolah agar mendapatkan izin dari pihak berbagai pihak. Di antaranya pemerintah daerah, Dinas Pendidikan Kabupaten, dan perwakilan orang tua melalui komite sekolah. Jika ada orang tua yang keberatan anaknya ke sekolah, maka diizinkan untuk tidak ikut tatap muka dalam pembelajaran.

Syarat berikutnya, sekolah juga harus memaksimalkan sarana prasarana pendukung dalam menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Hal ini tentu tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dari semua pihak, baik orang tua maupun masyarakat, dalam memantau perilaku baik, sehat dan bertanggung jawab kepada anak-anak atau peserta didik. Karena sejatinya pembelajaran ada di masyarakat. Komitmen ini adalah bentuk ikhtiar membuka pendidikan di sekolah dan menjadi tempat yang aman bagi semua dengan tidak menimbulkan klaster baru yang lebih luas.

Implementasi dari peraturan ini, bagi sekolah yang memenuhi syarat, bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan berbagai rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh semua pihak. Siswa penuh tanggung jawab dan disiplin untuk mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak aman (3M). Pendidik dan tenaga pendidik memilki peran sangat fundamental dalam memberi keteladanan kepada peserta didik.

Pada praktiknya, pembelajaran tatap muka yang konon katanya menjadi kerinduan semua pihak mengalami dinamika dalam keunikannya masing-masing. Semacam gayung tidak bersambut ketika kesempatan untuk tatap muka tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh semuanya. Siswa yang diberi kesempatan datang ke sekolah ternyata masih ada saja yang tidak masuk tanpa ada keterangan. Ada juga siswa yang datang, tapi tidak langsung masuk ke sekolah sehingga masuknya terlambat dengan berbagai argumentasi saat ditanya kenapa terlambat datang dan masuk kelas.

Dinamika ini tentu menjadi bahan renungan bagi semuanya. Apakah ini yang disebut dengan sindrom keterbuaian dalam kenyamanan setelah beberapa waktu semua terlena dengan pembelajaran jarak jauh yang menyebabkan kecenderungan malas bagi semua pihak. Baik peserta didik atau bahkan tidak menutup kemungkinan gurunya juga. Kalau kondisi ini dibiarkan, maka apa yang terjadi tidak bisa kita bayangkan, culture shock dunia pendidikan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/