Masih banyak lagi akun media sosial yang menjelma menjadi media namun sejatinya belum sah menjadi media massa namun itu banyak diminati masyarakat. Beranjak dari hal itu, kita akhirnya tahu bahwa era disrupsi tentunya berdampak besar pada perkembangan media hari ini. Lantas apa yang perlu dilakukan media? Jawabannya adalah inovasi.

Namun memaknai apa itu inovasi, terkadang salah sasaran, padahal inovasi yang baik idealnya bukan merubah keseluruhan pola media massanya, karena setiap media punya keunggulan dan punya ciri. Banyak kita temui sejumlah media dengan dalih berinovasi malah menurunkan kualitas isi kontennya. Dengan anggapan yang penting “kekinian” dan mencoba memfasilitasi kebutuhan generasi milenial, malah akhirnya tidak jelas tujuan dan “kebablasan”. Perkembangan teknologi dan perilaku disrupsi ini bukan hanya untuk sebagian kalangan saja terutama yang sering jadi patokannya adalah generasi milenial. Padahal tidak seperti itu, imbas disrupsi itu universal jadi jangan lupakan siapa pecinta media anda, siapa target, segmentasi dan lainnya yang selama ini membuat media massa dibutuhkan oleh mereka.

Globalisasi merupakan suatu proses yan menyebarkan perkembangan iptek, dan dari proses globalisasi tersebut menyebabkan arus pedoman hidup menjadi berubah. Masyarakat lebih memilih mengikuti arus gaya hidup budaya luar dari pada memikirkan untuk melestarikan budaya sendiri. Seperti negara Indonesia, yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan kekayaan budaya. Akibat dari masuknya budaya luar, budaya asli Indonesia banyak yang telah berubah atau kehilangan jati diri dan bahkan adapula beberapa budaya yang hilang. Padahal di Indonesia banyak generasi muda yang kreatif yang dapat membantu menjaga pelestarian budaya Indonesia. Tetapi generasi muda sekarang ini lebih suka mengikuti perkembangan gaya hidup budaya luar yang bebas. Memang tidak ada salahnya untuk terus mengikuti perkembangan globalisasi dunia agar dapat bersaing dengan negara maju yang lainnya, tetapi kita tetap harus sadar dan selektif dalam menerima pergaulan budaya luar.

Kembali pada apa yang dimaksud era disrupsi adalah fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata berlaih ke dunia maya. Dari sini kita semestinya tahu bahwa yang dibutuhkan adalah platform medianya dari yang dahulu konvensional kemudian ada kebutuhan dan ada harapan agar itu berpindah ke dunia maya (digital). Jadi inovasi seharusnya lebih diarahkan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat akan platform baru yaitu platform digital. Misalnya, koran hari ini selayaknya sudah memiliki koran digital kemudian radio yang biasanya hanya mengandalkan frekuensi terestrial (analog) kini juga menyediakan radio streaming digital.

Istilah konten adalah raja “content is the king” nampaknya cukup relevan dengan hal ini. Sebaiknya Inovasi diringi dengan mempertahakan konten yang sudah baik dan disukai selama ini atau mencoba memikirkan konten apa lagi yang layak dan memiliki daya jual di masyarakat tanpa menghilangkan marwah media massa. Jangan sampai kita hanya panik saja dengan keadaan sehingga lupa akan peran media massa selama ini. Kita pun perlu mencermati jika media hanya menghadirkan sebatas informasi, sudah banyak audiens yang bisa melakukan itu dengan adanya perkembangan teknologi saat ini. Disrupsi memang membawa konsekuensi pada cara dan pendekatan baru, hal ini karena khalayak dan lanskap yang berubah baik itu dibidang komunikasi, bisnis dan lainnya. Namun itu membawa kita pada era yang mengasah kemampuan berfikir dan berinovasi manusia lebih maju.