MEMPERJUANGKAN kondisi suatu bangsa menjadi lebih baik merupakan tugas mulia, asalkan konstitusional. Selain melalui perjuangan konstitusional, juga tidak kalah pentingnya adalah memperjuangkan kondisi generasi penerus bangsa. Setidaknya, mewujudkan generasi masa depan sebagai penerus harapan bangsa harus lebih sehat, cerdas, kreatif, produktif dan berakhlak mulia.

IKLAN

Jika anak-anak terlahir sehat, tumbuh dengan baik sekaligus berakhlak mulia, dan didukung oleh pendidikan yang berkualitas, maka mereka dapat menjadi generasi yang menunjang kesuksesan pembangunan bangsa. Sebaliknya, jika anak-anak terlahir dan tumbuh dalam situasi kekurangan gizi kronis, mereka akan menjadi anak kerdil (stunting).

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, data stunting di Indonesia termasuk kategori tinggi yakni 30,8 persen. Sedangkan di Provinsi Jawa Timur, angka prevalensi stunting tahun 2013-2018 berdasarkan hasil Riskesdas mengalami penurunan dari 35,8 persen menjadi 32,7 persen penurunan tersebut sebesar 3,1 persen. Di Kabupaten Bondowoso berdasarkan Riskesdas tahun 2013 angka prevalensi stunting 56,4 persen termasuk kategori sangat tinggi dan pada tahun 2018 menjadi 38 persen masuk kategori tinggi yang artinya ada penurunan signifikan sebesar 18,4 persen.

Hasil Riskesdas tentang stunting butuh perhatian khusus. Kabupaten Bondowoso masuk ke tiga besar di Jawa Timur dengan prevalensi stunting sebesar 38 persen. Tentu ini menjadi preseden buruk bila dibiarkan dan tidak dicegah. Pasalnya, presiden dan wakil presiden juga sangat memperhatikan terkait masalah stunting ini.

Kenapa demikian penting untuk memperoleh perhatian khusus?? Kalau boleh menyebut alasannya adalah stunting merupakan dampak kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama atau kronis, terutama yang terjadi sebelum usia dua tahun, anak akan terhambat pertumbuhan fisiknya sehingga menjadi pendek (stunted). Adapun dampak stunting bagi masa depan anak, di antaranya: Kognitif lemah dan psikomotorik terhambat; Kesulitan menguasai sains dan berprestasi dalam olahraga; Lebih mudah kena penyakit degeneratif; SDM berkualitas rendah.

Masalah stunting ini tidak luput dari perhatian Bupati Kabupaten Bondowoso, Drs KH Salwa Arifin. Bahkan, di acara Rembug Stunting, Bupati menghendaki di tahun 2020 angka stunting di Bondowoso turun signifikan. Namun pertanyaannya di sini, bagaimana konsep pemikiran efektif dan efisien dalam mencegah stunting ini?

Sekadar diketahui, analisis situasi program penurunan stunting di Kabupaten Bondowoso, meliputi akses air minum dan sanitasi, kesehatan ibu dan anak, konseling gizi, kebersihan dan pengasuhan orang tua, PAUD, perlindungan sosial, serta analisis ketahanan pangan.

Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Kesehatan mengupayakan segala cara kebaikan untuk menjadikan masyarakat sehat. Dari ‘zero sum game’ menjadi ‘positive sum game’.

Bung Karno pernah berkata, “There is no nation building without character building” pada pidato kepresidenan 17 Agustus 1962. Sepertinya apa yang dikatakan Bung Karno benar. Membangun negara, juga harus melibatkan pembangunan karakter manusianya, yakni perubahan perilaku (Nugroho:2018).

Upaya ini terus dilakukan. Kerja sama Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso dengan GAIN Indonesia, disambut penuh kehangatan oleh Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Secara administratif berkaitan dengan regulasi dipermudah, menunjukkan kepedulian (responsif) pemerintah Kabupaten Bondowoso terhadap kehadiran NGO internasional pemberi bantuan dari Swiss ini.

Walhasil, Rp 3 Miliar rupiah digelontorkan ke Bondowoso untuk wilayah intervensi oleh GAIN Indonesia atas rekomendasi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Guna perubahan perilaku yang dampaknya bisa cegah stunting di Bondowoso, bantuan itu perlu disambut dengan mewujudkan cita-cita Bondowoso sehat sehingga menjadi Bondowoso Melesat unggul.

Visi dan Misi Bupati Drs. KH. Salwa Arifin periode 2018-2023 adalah mewujudkan Bondowoso Melesat. Dalam administrasi pembangunan, kata Melesat dapat disepadankan dengan kata akselerasi atau maju dengan cepat.

Menurut penulis, makna dari membawa Bondowoso Melesat, punya makna yang sangat dalam dan istimewa. Membawa berarti menuju ke arah. Sedangkan Bondowoso berarti kesatuan masyarakat hukum yang berwenang mengatur dan mengurus rumah tangganya. Terdepan adalah berdaya saing (unggul). Sehingga terwujud Bondowoso yang mandiri ekonomi, lestari, sejahtera, adil dan terdepan serta berdaya saing dalam kehidupan masyarakat yang beriman dan bertakwa.

Berangkat dari visi tersebut, maka hadirnya pemerintah diharapkan mampu memberikan solusi dari permasalahan yang ada di masyarakat. Fungsi utama pemerintah daerah ada tiga hal yakni pelayanan publik, pemberdayaan aparatur masyarakat, dan pembangunan bertumpu rakyat. Tujuannya, pelayanan yang menghadirkan keadilan bagi masyarakat, pemberdayaan aparatur adalah menumbuhkan kemandirian atau sikap mental, dan pembangunan bertumpu pada rakyat artinya dapat mewujudkan kesejahteraan ekonomi, sosial dan politik.

Visi merupakan pandangan dalam mewujudkan kondisi daerah yang dicita-citakan dalam lima tahun ke depan. Sisa waktu yang tidak lama, tapi juga tidak cepat, membutuhkan akselerasi yang cepat pula. Visi Melesat tidak cukup hanya dalam kata-kata dan simbol, melainkan wajib ‘ain dan kifayah dilaksanakan dalam amal perbuatan.

Salah satunya adalah mengajak masyarakat Bondowoso melalui pemberdayaan masyarakat yang disampaikan dengan cara komunikatif, persuasif, partisipatif, menarik dan menggugah emosi agar tumbuh kesadaran sosial dalam melakukan sebuah perubahan.

Menurut pakar manajemen perubahan (Herakleitos), justru perubahan abadi itu adalah perubahan itu sendiri. Oleh karenanya, masyarakat harus diajak untuk mau melakukan perubahan perilaku. Dari tidak baik menjadi baik. Dari sakit menjadi sehat. Dari cuek menjadi peduli melakukan perubahan perilaku yang awalnya biasa saja atau malah tidak baik, menjadi lebih baik secara kualitas maupun kuantitas. Sehingga masyarakat menjadi tahu, mampu dan mau.

Emo Demo (Emosional Demonstration) sebagai alternatif metode perubahan perilaku, menurut penulis, layak dipertimbangkan. Mengubah masyarakat melalui pendekatan emosional inteligensi, merupakan cara cerdas dalam memunculkan sebuah kesadaran individu dan sosial.

Adalah Daniel Goleman mematahkan teori kesuksesan yang hanya diukur dengan IQ tinggi. Sebaliknya, kata dia, banyak orang sukses gara-gara Emotional Quotient (EQ) tinggi yakni sabar, santun, rajin, cerdas, dan istiqamah.

GAIN Indonesia mengadopsi Teori BCD dengan pendekatan Emotional Demonstration (Emo Demo) terdiri dari berupa 12 modul perubahan perilaku.

Alternatif pendekatan yang penulis tawarkan adalah pendekatan perubahan perilaku yang lebih mengedepankan tumbuhnya kesadaran bersama (collective), baik individu maupun kelompok. Emile Durkheim, pakar sosiolog dunia tentang teori Fakta Sosial, mengatakan bahwa adanya kesadaran sosial akan menumbuhkan solidaritas sosial.

Dengan Emo Demo yang mengacu Teori BCD diharapkan mampu membangun kesadaran sosial sehingga menumbuhkan solidaritas sosial. Pada akhirnya, program pemerintah hanya sebuah pemicu atau stimulan, yang berdampak dan bermakna. Selebihnya, untuk sustainability (keberlanjutan) adalah Bondowoso Melesat. Menuju Bondowoso yang sehat, berpendidikan, unggul, mandiri ekonomi, sejahtera, terdepan, religius dalam bingkai iman dan takwa.

Dengan demikian, bila cara implementasi program dari awal benar, maka Bondowoso yang mandiri dan maju terwujud. Bondowoso yang berkarakter terwujud, Bondowoso yang unggul terwujud, Bondowoso yang kompetitif terwujud. Hasil akhirnya adalah Bondowoso terdepan jadi terwujud. Visi Bondowoso Melesat juga terwujud. Allahu a’lam bish showab.

*) Penulis adalah anggota Persakmi Bondowoso.