alexametrics
29 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Mengukur Ziarah Kubur

Mobile_AP_Rectangle 1

Ketiga, ada sekelompok orang yang menilai ziarah sebagai perbuatan berdosa bahkan dinilai perbuatan haram dan dianggap syirik. Tidak dapat dipungkiri memang kalau akhir-akhir ini banyak bermunculan kelompok-kelompok keagamaan yang berani dan dengan gagahnya memberi label haram atas praktik budaya ziarah. Padahal seperti yang dijelaskan di awal, ziarah kubur memiliki dalil naqliyah yang kuat. Artinya ada contoh nyata dari nabi yang membolehkan untuk mengunjungi kuburan.

Keempat adalah rendahnya penguasaan para peneliti atas unsur-unsur kebudayaan lokal termasuk bahasa daerah. Padahal penelitian tentang ziarah kubur mensyaratkan pemahaman atas budaya lokal minimal bahasa daerah. Karena itu, tiadanya skill kultural akan menjadi penghambat serius dalam proses penelitian.

Kelima, studi-studi atas kehidupan beragama masyarakat Jawa di masa lalu tidak menampilkan budaya ziarah kubur sebagai fenomena keberagamaan. Misalnya penelitian Clifford Geertz yang kemudian mashur dengan judul The Religion of Java. Dampaknya para peneliti dewasa ini yang bertumpu penuh pada naskah-naskah klasik tersebut menganggap tradisi ziarah kubur bukanlah bidang riset yang menarik untuk diteliti.

Mobile_AP_Rectangle 2

Keenam, ini yang terakhir. Ziarah kubur tidak termasuk dalam arus utama penelitian. Ibarat pakaian, topik ziarah kubur unfashionable sehingga berefek pada minimnya sokongan dana penelitian. Hal ini sangat berbeda dengan tema untuk proyek penelitian yang bercorak terorisme, gender, dan demokrasi yang banyak sumber pendanaannya.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ziarah kubur bukan sekadar kemeriahan tahunan. Ia tidak hanya ritual musiman menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Tapi, ziarah kubur pada hakikatnya adalah ajaran agama yang hadir dan tumbuh dalam denyut nadi kesadaran masyarakat yang sudah menyatu dengan tradisi lokal.

Jika angka data statistik peziarah kubur yang terus naik dari tahun ke tahun dilihat dari kaca mata kebudayaan, maka kenyataan ini sangatlah membanggakan. Namun, bila grafik jumlah peneliti di bidang ziarah kubur yang tidak juga bertambah dilihat dari sudut pandang penelitian, tentu akan nampak menyedihkan. Paradoks ini muncul lantaran ziarah kubur diletakkan pada dua alat ukur yang berbeda ranah.

Apa pun alat ukurnya, berziarah ke kuburan leluhur dapat mengingatkan kita pada hakikat pertambahan umur. Karena itu, tradisi ziarah kubur akan begitu bermakna hanya bagi mereka yang mau bertafakur dan bertadabur.

 

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember

- Advertisement -

Ketiga, ada sekelompok orang yang menilai ziarah sebagai perbuatan berdosa bahkan dinilai perbuatan haram dan dianggap syirik. Tidak dapat dipungkiri memang kalau akhir-akhir ini banyak bermunculan kelompok-kelompok keagamaan yang berani dan dengan gagahnya memberi label haram atas praktik budaya ziarah. Padahal seperti yang dijelaskan di awal, ziarah kubur memiliki dalil naqliyah yang kuat. Artinya ada contoh nyata dari nabi yang membolehkan untuk mengunjungi kuburan.

Keempat adalah rendahnya penguasaan para peneliti atas unsur-unsur kebudayaan lokal termasuk bahasa daerah. Padahal penelitian tentang ziarah kubur mensyaratkan pemahaman atas budaya lokal minimal bahasa daerah. Karena itu, tiadanya skill kultural akan menjadi penghambat serius dalam proses penelitian.

Kelima, studi-studi atas kehidupan beragama masyarakat Jawa di masa lalu tidak menampilkan budaya ziarah kubur sebagai fenomena keberagamaan. Misalnya penelitian Clifford Geertz yang kemudian mashur dengan judul The Religion of Java. Dampaknya para peneliti dewasa ini yang bertumpu penuh pada naskah-naskah klasik tersebut menganggap tradisi ziarah kubur bukanlah bidang riset yang menarik untuk diteliti.

Keenam, ini yang terakhir. Ziarah kubur tidak termasuk dalam arus utama penelitian. Ibarat pakaian, topik ziarah kubur unfashionable sehingga berefek pada minimnya sokongan dana penelitian. Hal ini sangat berbeda dengan tema untuk proyek penelitian yang bercorak terorisme, gender, dan demokrasi yang banyak sumber pendanaannya.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ziarah kubur bukan sekadar kemeriahan tahunan. Ia tidak hanya ritual musiman menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Tapi, ziarah kubur pada hakikatnya adalah ajaran agama yang hadir dan tumbuh dalam denyut nadi kesadaran masyarakat yang sudah menyatu dengan tradisi lokal.

Jika angka data statistik peziarah kubur yang terus naik dari tahun ke tahun dilihat dari kaca mata kebudayaan, maka kenyataan ini sangatlah membanggakan. Namun, bila grafik jumlah peneliti di bidang ziarah kubur yang tidak juga bertambah dilihat dari sudut pandang penelitian, tentu akan nampak menyedihkan. Paradoks ini muncul lantaran ziarah kubur diletakkan pada dua alat ukur yang berbeda ranah.

Apa pun alat ukurnya, berziarah ke kuburan leluhur dapat mengingatkan kita pada hakikat pertambahan umur. Karena itu, tradisi ziarah kubur akan begitu bermakna hanya bagi mereka yang mau bertafakur dan bertadabur.

 

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember

Ketiga, ada sekelompok orang yang menilai ziarah sebagai perbuatan berdosa bahkan dinilai perbuatan haram dan dianggap syirik. Tidak dapat dipungkiri memang kalau akhir-akhir ini banyak bermunculan kelompok-kelompok keagamaan yang berani dan dengan gagahnya memberi label haram atas praktik budaya ziarah. Padahal seperti yang dijelaskan di awal, ziarah kubur memiliki dalil naqliyah yang kuat. Artinya ada contoh nyata dari nabi yang membolehkan untuk mengunjungi kuburan.

Keempat adalah rendahnya penguasaan para peneliti atas unsur-unsur kebudayaan lokal termasuk bahasa daerah. Padahal penelitian tentang ziarah kubur mensyaratkan pemahaman atas budaya lokal minimal bahasa daerah. Karena itu, tiadanya skill kultural akan menjadi penghambat serius dalam proses penelitian.

Kelima, studi-studi atas kehidupan beragama masyarakat Jawa di masa lalu tidak menampilkan budaya ziarah kubur sebagai fenomena keberagamaan. Misalnya penelitian Clifford Geertz yang kemudian mashur dengan judul The Religion of Java. Dampaknya para peneliti dewasa ini yang bertumpu penuh pada naskah-naskah klasik tersebut menganggap tradisi ziarah kubur bukanlah bidang riset yang menarik untuk diteliti.

Keenam, ini yang terakhir. Ziarah kubur tidak termasuk dalam arus utama penelitian. Ibarat pakaian, topik ziarah kubur unfashionable sehingga berefek pada minimnya sokongan dana penelitian. Hal ini sangat berbeda dengan tema untuk proyek penelitian yang bercorak terorisme, gender, dan demokrasi yang banyak sumber pendanaannya.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ziarah kubur bukan sekadar kemeriahan tahunan. Ia tidak hanya ritual musiman menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Tapi, ziarah kubur pada hakikatnya adalah ajaran agama yang hadir dan tumbuh dalam denyut nadi kesadaran masyarakat yang sudah menyatu dengan tradisi lokal.

Jika angka data statistik peziarah kubur yang terus naik dari tahun ke tahun dilihat dari kaca mata kebudayaan, maka kenyataan ini sangatlah membanggakan. Namun, bila grafik jumlah peneliti di bidang ziarah kubur yang tidak juga bertambah dilihat dari sudut pandang penelitian, tentu akan nampak menyedihkan. Paradoks ini muncul lantaran ziarah kubur diletakkan pada dua alat ukur yang berbeda ranah.

Apa pun alat ukurnya, berziarah ke kuburan leluhur dapat mengingatkan kita pada hakikat pertambahan umur. Karena itu, tradisi ziarah kubur akan begitu bermakna hanya bagi mereka yang mau bertafakur dan bertadabur.

 

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/