alexametrics
29.1 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Mengukur Ziarah Kubur

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada suatu kesempatan di ruang virtual, George Quinn, penulis buku Wali Berandal Tanah Jawa yang terbit beberapa bulan lalu mengatakan bahwa dalam dua puluh sampai tiga puluh tahun belakangan ini jumlah peziarah ke makam keramat di tanah Jawa mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Jumlah ini terjadi secara masif baik di pulau Jawa maupun Madura.

Kecenderungan angka peziarah yang semakin besar justru terjadi sejak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat. Menurutnya, makam Gus Dur telah menjadi destinasi baru bagi para peziarah. Bahkan sampai sekarang, akumulasi jumlah peziarah ke makam Gus Dur setiap tahun jauh lebih banyak ketimbang makam Wali Songo sekalipun. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ziarah kubur bukan sekadar ritual belaka. Ziarah kubur sudah menjelma sebagai tradisi yang diwarisi dari generasi ke generasi.

Pada kultur masyarakat Jawa misalnya. Setiap beberapa hari menjelang bulan Ramadan atau nanti di kala Hari Raya Idul Fitri tiba, masyarakat terbiasa untuk nyekar. Kata nyekar berasal dari bahasa Jawa, sekar. Artinya kembang atau bunga. Tradisi nyekar bermaksud mengunjungi makam leluhur untuk mendoakan dan sekaligus menaburi kembang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tradisi nyekar ini secara substansial sama maknanya dengan ziarah. Dalam bahasa arab, ziarah berasal dari kata zaara yazuuru ziyaaratan yang bisa diartikan dengan mengunjungi atau mendatangi. Ajaran ziarah ini ada sandaran dogmatisnya yang bersumber pada perilaku dan ucapan Nabi Muhammad. Karenanya wajar jika ziarah kemudian menjadi semacam kewajiban sosial.

Namun, yang perlu disesalkan menurut akademisi Australia itu, di kala jumlah peziarah yang semakin meningkat, tapi riset di bidang ziarah kubur justru sepi peminat. Tidak seperti bidang-bidang lain di ranah kehidupan beragama seperti terorisme, kajian gender maupun relasi negara dan agama. Padahal, ziarah kubur merupakan topik riset yang cukup menarik karena berkaitan erat dengan berbagai elemen kehidupan. Mulai dari psikologi sosial masyarakat, gerak laju pertumbuhan ekonomi komunitas lokal hingga persoalan komodifikasi agama.

Masih menurut George Quinn, setidaknya ada enam faktor penyebab minimnya penelitian yang berfokus pada bidang ziarah kubur. Pertama faktor geografis. Berdasarkan pengalaman pribadinya mengumpulkan data penelitian, dia sering kali merasa tidak nyaman dengan lokasi makam yang sulit diakses kendaraan karena berada di kawasan pelosok. Apalagi kalau sampai bermalam dan tidur di areal pemakaman.

Rasa-rasanya faktor ini terlalu ringan untuk dijadikan alasan pembenar dari minimnya minat peneliti di bidang ziarah kubur. Kenapa? Anda bisa membuktikan sendiri bagaimana ziarah kubur menjadi lahan bisnis yang menggiurkan bagi jasa angkutan. Saat ini hampir di semua destinasi ziarah bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Jadi tidak masuk akal sama sekali kalau lokasi dianggap sebagai faktor pemicu minimnya minat peneliti.

Kedua, ada anggapan umum kalau ziarah ke makam keramat itu identik dengan kampungan atau tradisional. Tradisi macam ini tidak relevan dengan alam pikir masyarakat perkotaan yang cenderung modern. Argumen George Quinn ini sangat mudah dipatahkan bila kita melihat fenomena tasawuf perkotaan sebagai realitas pembanding.

Beberapa puluh tahun lalu tasawuf identik dengan corak perilaku keagamaan masyarakat desa. Tapi kini banyak riset membuktikan bahwa orang-orang kota juga memiliki minat yang besar pada sufisme. Geliat tasawuf di masyarakat kota ini kemudian dipopulerkan oleh Julia Day Howell dengan diksi Urban Sufism. Begitupun dengan ziarah kubur yang sekarang tidak hanya didominasi oleh orang-orang desa.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada suatu kesempatan di ruang virtual, George Quinn, penulis buku Wali Berandal Tanah Jawa yang terbit beberapa bulan lalu mengatakan bahwa dalam dua puluh sampai tiga puluh tahun belakangan ini jumlah peziarah ke makam keramat di tanah Jawa mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Jumlah ini terjadi secara masif baik di pulau Jawa maupun Madura.

Kecenderungan angka peziarah yang semakin besar justru terjadi sejak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat. Menurutnya, makam Gus Dur telah menjadi destinasi baru bagi para peziarah. Bahkan sampai sekarang, akumulasi jumlah peziarah ke makam Gus Dur setiap tahun jauh lebih banyak ketimbang makam Wali Songo sekalipun. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ziarah kubur bukan sekadar ritual belaka. Ziarah kubur sudah menjelma sebagai tradisi yang diwarisi dari generasi ke generasi.

Pada kultur masyarakat Jawa misalnya. Setiap beberapa hari menjelang bulan Ramadan atau nanti di kala Hari Raya Idul Fitri tiba, masyarakat terbiasa untuk nyekar. Kata nyekar berasal dari bahasa Jawa, sekar. Artinya kembang atau bunga. Tradisi nyekar bermaksud mengunjungi makam leluhur untuk mendoakan dan sekaligus menaburi kembang.

Tradisi nyekar ini secara substansial sama maknanya dengan ziarah. Dalam bahasa arab, ziarah berasal dari kata zaara yazuuru ziyaaratan yang bisa diartikan dengan mengunjungi atau mendatangi. Ajaran ziarah ini ada sandaran dogmatisnya yang bersumber pada perilaku dan ucapan Nabi Muhammad. Karenanya wajar jika ziarah kemudian menjadi semacam kewajiban sosial.

Namun, yang perlu disesalkan menurut akademisi Australia itu, di kala jumlah peziarah yang semakin meningkat, tapi riset di bidang ziarah kubur justru sepi peminat. Tidak seperti bidang-bidang lain di ranah kehidupan beragama seperti terorisme, kajian gender maupun relasi negara dan agama. Padahal, ziarah kubur merupakan topik riset yang cukup menarik karena berkaitan erat dengan berbagai elemen kehidupan. Mulai dari psikologi sosial masyarakat, gerak laju pertumbuhan ekonomi komunitas lokal hingga persoalan komodifikasi agama.

Masih menurut George Quinn, setidaknya ada enam faktor penyebab minimnya penelitian yang berfokus pada bidang ziarah kubur. Pertama faktor geografis. Berdasarkan pengalaman pribadinya mengumpulkan data penelitian, dia sering kali merasa tidak nyaman dengan lokasi makam yang sulit diakses kendaraan karena berada di kawasan pelosok. Apalagi kalau sampai bermalam dan tidur di areal pemakaman.

Rasa-rasanya faktor ini terlalu ringan untuk dijadikan alasan pembenar dari minimnya minat peneliti di bidang ziarah kubur. Kenapa? Anda bisa membuktikan sendiri bagaimana ziarah kubur menjadi lahan bisnis yang menggiurkan bagi jasa angkutan. Saat ini hampir di semua destinasi ziarah bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Jadi tidak masuk akal sama sekali kalau lokasi dianggap sebagai faktor pemicu minimnya minat peneliti.

Kedua, ada anggapan umum kalau ziarah ke makam keramat itu identik dengan kampungan atau tradisional. Tradisi macam ini tidak relevan dengan alam pikir masyarakat perkotaan yang cenderung modern. Argumen George Quinn ini sangat mudah dipatahkan bila kita melihat fenomena tasawuf perkotaan sebagai realitas pembanding.

Beberapa puluh tahun lalu tasawuf identik dengan corak perilaku keagamaan masyarakat desa. Tapi kini banyak riset membuktikan bahwa orang-orang kota juga memiliki minat yang besar pada sufisme. Geliat tasawuf di masyarakat kota ini kemudian dipopulerkan oleh Julia Day Howell dengan diksi Urban Sufism. Begitupun dengan ziarah kubur yang sekarang tidak hanya didominasi oleh orang-orang desa.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pada suatu kesempatan di ruang virtual, George Quinn, penulis buku Wali Berandal Tanah Jawa yang terbit beberapa bulan lalu mengatakan bahwa dalam dua puluh sampai tiga puluh tahun belakangan ini jumlah peziarah ke makam keramat di tanah Jawa mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Jumlah ini terjadi secara masif baik di pulau Jawa maupun Madura.

Kecenderungan angka peziarah yang semakin besar justru terjadi sejak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat. Menurutnya, makam Gus Dur telah menjadi destinasi baru bagi para peziarah. Bahkan sampai sekarang, akumulasi jumlah peziarah ke makam Gus Dur setiap tahun jauh lebih banyak ketimbang makam Wali Songo sekalipun. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ziarah kubur bukan sekadar ritual belaka. Ziarah kubur sudah menjelma sebagai tradisi yang diwarisi dari generasi ke generasi.

Pada kultur masyarakat Jawa misalnya. Setiap beberapa hari menjelang bulan Ramadan atau nanti di kala Hari Raya Idul Fitri tiba, masyarakat terbiasa untuk nyekar. Kata nyekar berasal dari bahasa Jawa, sekar. Artinya kembang atau bunga. Tradisi nyekar bermaksud mengunjungi makam leluhur untuk mendoakan dan sekaligus menaburi kembang.

Tradisi nyekar ini secara substansial sama maknanya dengan ziarah. Dalam bahasa arab, ziarah berasal dari kata zaara yazuuru ziyaaratan yang bisa diartikan dengan mengunjungi atau mendatangi. Ajaran ziarah ini ada sandaran dogmatisnya yang bersumber pada perilaku dan ucapan Nabi Muhammad. Karenanya wajar jika ziarah kemudian menjadi semacam kewajiban sosial.

Namun, yang perlu disesalkan menurut akademisi Australia itu, di kala jumlah peziarah yang semakin meningkat, tapi riset di bidang ziarah kubur justru sepi peminat. Tidak seperti bidang-bidang lain di ranah kehidupan beragama seperti terorisme, kajian gender maupun relasi negara dan agama. Padahal, ziarah kubur merupakan topik riset yang cukup menarik karena berkaitan erat dengan berbagai elemen kehidupan. Mulai dari psikologi sosial masyarakat, gerak laju pertumbuhan ekonomi komunitas lokal hingga persoalan komodifikasi agama.

Masih menurut George Quinn, setidaknya ada enam faktor penyebab minimnya penelitian yang berfokus pada bidang ziarah kubur. Pertama faktor geografis. Berdasarkan pengalaman pribadinya mengumpulkan data penelitian, dia sering kali merasa tidak nyaman dengan lokasi makam yang sulit diakses kendaraan karena berada di kawasan pelosok. Apalagi kalau sampai bermalam dan tidur di areal pemakaman.

Rasa-rasanya faktor ini terlalu ringan untuk dijadikan alasan pembenar dari minimnya minat peneliti di bidang ziarah kubur. Kenapa? Anda bisa membuktikan sendiri bagaimana ziarah kubur menjadi lahan bisnis yang menggiurkan bagi jasa angkutan. Saat ini hampir di semua destinasi ziarah bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor. Jadi tidak masuk akal sama sekali kalau lokasi dianggap sebagai faktor pemicu minimnya minat peneliti.

Kedua, ada anggapan umum kalau ziarah ke makam keramat itu identik dengan kampungan atau tradisional. Tradisi macam ini tidak relevan dengan alam pikir masyarakat perkotaan yang cenderung modern. Argumen George Quinn ini sangat mudah dipatahkan bila kita melihat fenomena tasawuf perkotaan sebagai realitas pembanding.

Beberapa puluh tahun lalu tasawuf identik dengan corak perilaku keagamaan masyarakat desa. Tapi kini banyak riset membuktikan bahwa orang-orang kota juga memiliki minat yang besar pada sufisme. Geliat tasawuf di masyarakat kota ini kemudian dipopulerkan oleh Julia Day Howell dengan diksi Urban Sufism. Begitupun dengan ziarah kubur yang sekarang tidak hanya didominasi oleh orang-orang desa.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/