alexametrics
23.4 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Kreativitas Datang dari Keterbatasan

Mobile_AP_Rectangle 1

Berbicara kreativitas datang dari keterbatasan tentu hal ini sedikit menggelitik pemikiran kita. Logika dasarnya bagaimana mungkin dalam keterbatasan masih bisa membuat atau mengembangkan kreativitas. Mengacu dari hal ini, kita bisa berpikir kritis bagaimana sebuah iklan rokok yang sangat tidak menyambung dengan produk yang diiklankan. Akan tetapi, produk rokok tersebut masih laku keras di pasaran. Konsumennya tetap loyal dalam mengonsumsinya.

Kami coba mencontohkan bagaimana iklan rokok Djarum 76 membuat iklan yang identik dengan tampilan-tampilan Om Jin. Secara logika, sudah jelas bahwa rokok dan jin itu sangat berlawanan. Artinya, terjadi kontradiksi. PT Djarum Group yang membawahi banyak anak perusahaan tentunya berpikir keras atas regulasi terkait pemasaran rokok sehingga pihak manajemennya perlu berpikir keras bagaimana iklan yang disampaikan tetap mengikuti regulasi yang dibuat pemerintah, namun produk tetap diterima dan dibutuhkan oleh masyarakat (konsumennya).

Aturan mengenai periklanan rokok diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Pada pasal 27, 28, dan 29 disebutkan:

  1. Mencantumkan peringatan kesehatan dalam bentuk gambar dan tulisan sebesar paling sedikit 10 persen dari total durasi iklan dan/atau 15 persen dari total luas iklan.
  2. Mencantumkan penandaan/tulisan “18+” dalam iklan produk tembakau;
  3. Tidak memperagakan, menggunakan, dan/atau menampilkan wujud atau bentuk rokok atau sebutan lain yang dapat diasosiasikan dengan merek produk tembakau;
  4. Tidak mencantumkan nama produk yang bersangkutan adalah rokok;
  5. Tidak menggambarkan atau menyarankan bahwa merokok memberikan manfaat bagi kesehatan;
  6. Tidak menggunakan kata atau kalimat yang menyesatkan;
  7. Tidak merangsang atau menyarankan orang untuk merokok;
  8. Tidak menampilkan anak, remaja, dan/atau wanita hamil dalam bentuk gambar dan/atau tulisan;
  9. Tidak ditujukan terhadap anak, remaja, dan/atau wanita hamil;
  10. Tidak menggunakan tokoh kartun sebagai model iklan; dan
  11. Tidak bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Mobile_AP_Rectangle 2

Pada pasal 28 juga dijelaskan mengenai iklan produk tembakau di media cetak sebagai berikut:

  1. Tidak diletakkan di sampul depan dan/atau belakang media cetak, atau halaman depan surat kabar;
  2. Tidak diletakkan berdekatan dengan iklan makanan dan minuman;
  3. Luas kolom iklan tidak memenuhi seluruh halaman; dan
  4. Tidak dimuat di media cetak untuk anak, remaja, dan perempuan.

Tertulis juga pada pasal 29 bahwa selain pengendalian iklan produk tembakau sebagaimana dimaksud dalam pasal 27, iklan di media penyiaran hanya dapat ditayangkan setelah pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat.

Berangkat dari berbagai aturan yang mengikat ini tentu hal tersebut menjadi sebuah kendala dan keterbatasan bagi perusahaan rokok. Berangkat dari keterbatasan ini berbagai macam perusahaan rokok tetap berjuang keras dalam beriklan di berbagai media dengan harapan produknya tetap eksis di pasaran dan tetap di minati oleh konsumennya.

Manajemen dari perusahaan rokok tetap berkreasi aktif dalam mengiklankan produk meskipun mereka dikurung oleh berbagai aturan sah dari pemerintah. Periklanan mereka lebih membangun brand attitude yakni sebagaimana menurut pakar perilaku konsumen, Assael (2002) yang menyatakan bahwa brand attitude adalah evaluasi keseluruhan konsumen terhadap merek, dalam model ekuitas merek ditemukan bahwa peningkatan pangsa pasar terjadi ketika sikap terhadap merek makin positif.

Promosi yang dilakukan perusahaan rokok lebih ke arah menjual fungsinya dan menjual emosi yang akan dibangun pada konsumen. Bisa kita lihat pesan-pesan dalam iklan rokok bahwa dengan merokok produk tertentu akan memberikan ketenangan dan jiwa dinamis. Bisa kita lihat di dalam masyarakat bahwa para pecandu rokok yang mengonsumsi rokok Dji Sam Soe 234 ataupun Gudang Garam Surya akan cenderung memiliki kebanggaan karena telah mengonsumsi rokok berkelas dan orang lain juga akan memberikan penilaian lebih kepada perokok yang mengonsumsi rokok merek tersebut.

- Advertisement -

Berbicara kreativitas datang dari keterbatasan tentu hal ini sedikit menggelitik pemikiran kita. Logika dasarnya bagaimana mungkin dalam keterbatasan masih bisa membuat atau mengembangkan kreativitas. Mengacu dari hal ini, kita bisa berpikir kritis bagaimana sebuah iklan rokok yang sangat tidak menyambung dengan produk yang diiklankan. Akan tetapi, produk rokok tersebut masih laku keras di pasaran. Konsumennya tetap loyal dalam mengonsumsinya.

Kami coba mencontohkan bagaimana iklan rokok Djarum 76 membuat iklan yang identik dengan tampilan-tampilan Om Jin. Secara logika, sudah jelas bahwa rokok dan jin itu sangat berlawanan. Artinya, terjadi kontradiksi. PT Djarum Group yang membawahi banyak anak perusahaan tentunya berpikir keras atas regulasi terkait pemasaran rokok sehingga pihak manajemennya perlu berpikir keras bagaimana iklan yang disampaikan tetap mengikuti regulasi yang dibuat pemerintah, namun produk tetap diterima dan dibutuhkan oleh masyarakat (konsumennya).

Aturan mengenai periklanan rokok diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Pada pasal 27, 28, dan 29 disebutkan:

  1. Mencantumkan peringatan kesehatan dalam bentuk gambar dan tulisan sebesar paling sedikit 10 persen dari total durasi iklan dan/atau 15 persen dari total luas iklan.
  2. Mencantumkan penandaan/tulisan “18+” dalam iklan produk tembakau;
  3. Tidak memperagakan, menggunakan, dan/atau menampilkan wujud atau bentuk rokok atau sebutan lain yang dapat diasosiasikan dengan merek produk tembakau;
  4. Tidak mencantumkan nama produk yang bersangkutan adalah rokok;
  5. Tidak menggambarkan atau menyarankan bahwa merokok memberikan manfaat bagi kesehatan;
  6. Tidak menggunakan kata atau kalimat yang menyesatkan;
  7. Tidak merangsang atau menyarankan orang untuk merokok;
  8. Tidak menampilkan anak, remaja, dan/atau wanita hamil dalam bentuk gambar dan/atau tulisan;
  9. Tidak ditujukan terhadap anak, remaja, dan/atau wanita hamil;
  10. Tidak menggunakan tokoh kartun sebagai model iklan; dan
  11. Tidak bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Pada pasal 28 juga dijelaskan mengenai iklan produk tembakau di media cetak sebagai berikut:

  1. Tidak diletakkan di sampul depan dan/atau belakang media cetak, atau halaman depan surat kabar;
  2. Tidak diletakkan berdekatan dengan iklan makanan dan minuman;
  3. Luas kolom iklan tidak memenuhi seluruh halaman; dan
  4. Tidak dimuat di media cetak untuk anak, remaja, dan perempuan.

Tertulis juga pada pasal 29 bahwa selain pengendalian iklan produk tembakau sebagaimana dimaksud dalam pasal 27, iklan di media penyiaran hanya dapat ditayangkan setelah pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat.

Berangkat dari berbagai aturan yang mengikat ini tentu hal tersebut menjadi sebuah kendala dan keterbatasan bagi perusahaan rokok. Berangkat dari keterbatasan ini berbagai macam perusahaan rokok tetap berjuang keras dalam beriklan di berbagai media dengan harapan produknya tetap eksis di pasaran dan tetap di minati oleh konsumennya.

Manajemen dari perusahaan rokok tetap berkreasi aktif dalam mengiklankan produk meskipun mereka dikurung oleh berbagai aturan sah dari pemerintah. Periklanan mereka lebih membangun brand attitude yakni sebagaimana menurut pakar perilaku konsumen, Assael (2002) yang menyatakan bahwa brand attitude adalah evaluasi keseluruhan konsumen terhadap merek, dalam model ekuitas merek ditemukan bahwa peningkatan pangsa pasar terjadi ketika sikap terhadap merek makin positif.

Promosi yang dilakukan perusahaan rokok lebih ke arah menjual fungsinya dan menjual emosi yang akan dibangun pada konsumen. Bisa kita lihat pesan-pesan dalam iklan rokok bahwa dengan merokok produk tertentu akan memberikan ketenangan dan jiwa dinamis. Bisa kita lihat di dalam masyarakat bahwa para pecandu rokok yang mengonsumsi rokok Dji Sam Soe 234 ataupun Gudang Garam Surya akan cenderung memiliki kebanggaan karena telah mengonsumsi rokok berkelas dan orang lain juga akan memberikan penilaian lebih kepada perokok yang mengonsumsi rokok merek tersebut.

Berbicara kreativitas datang dari keterbatasan tentu hal ini sedikit menggelitik pemikiran kita. Logika dasarnya bagaimana mungkin dalam keterbatasan masih bisa membuat atau mengembangkan kreativitas. Mengacu dari hal ini, kita bisa berpikir kritis bagaimana sebuah iklan rokok yang sangat tidak menyambung dengan produk yang diiklankan. Akan tetapi, produk rokok tersebut masih laku keras di pasaran. Konsumennya tetap loyal dalam mengonsumsinya.

Kami coba mencontohkan bagaimana iklan rokok Djarum 76 membuat iklan yang identik dengan tampilan-tampilan Om Jin. Secara logika, sudah jelas bahwa rokok dan jin itu sangat berlawanan. Artinya, terjadi kontradiksi. PT Djarum Group yang membawahi banyak anak perusahaan tentunya berpikir keras atas regulasi terkait pemasaran rokok sehingga pihak manajemennya perlu berpikir keras bagaimana iklan yang disampaikan tetap mengikuti regulasi yang dibuat pemerintah, namun produk tetap diterima dan dibutuhkan oleh masyarakat (konsumennya).

Aturan mengenai periklanan rokok diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Pada pasal 27, 28, dan 29 disebutkan:

  1. Mencantumkan peringatan kesehatan dalam bentuk gambar dan tulisan sebesar paling sedikit 10 persen dari total durasi iklan dan/atau 15 persen dari total luas iklan.
  2. Mencantumkan penandaan/tulisan “18+” dalam iklan produk tembakau;
  3. Tidak memperagakan, menggunakan, dan/atau menampilkan wujud atau bentuk rokok atau sebutan lain yang dapat diasosiasikan dengan merek produk tembakau;
  4. Tidak mencantumkan nama produk yang bersangkutan adalah rokok;
  5. Tidak menggambarkan atau menyarankan bahwa merokok memberikan manfaat bagi kesehatan;
  6. Tidak menggunakan kata atau kalimat yang menyesatkan;
  7. Tidak merangsang atau menyarankan orang untuk merokok;
  8. Tidak menampilkan anak, remaja, dan/atau wanita hamil dalam bentuk gambar dan/atau tulisan;
  9. Tidak ditujukan terhadap anak, remaja, dan/atau wanita hamil;
  10. Tidak menggunakan tokoh kartun sebagai model iklan; dan
  11. Tidak bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Pada pasal 28 juga dijelaskan mengenai iklan produk tembakau di media cetak sebagai berikut:

  1. Tidak diletakkan di sampul depan dan/atau belakang media cetak, atau halaman depan surat kabar;
  2. Tidak diletakkan berdekatan dengan iklan makanan dan minuman;
  3. Luas kolom iklan tidak memenuhi seluruh halaman; dan
  4. Tidak dimuat di media cetak untuk anak, remaja, dan perempuan.

Tertulis juga pada pasal 29 bahwa selain pengendalian iklan produk tembakau sebagaimana dimaksud dalam pasal 27, iklan di media penyiaran hanya dapat ditayangkan setelah pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat.

Berangkat dari berbagai aturan yang mengikat ini tentu hal tersebut menjadi sebuah kendala dan keterbatasan bagi perusahaan rokok. Berangkat dari keterbatasan ini berbagai macam perusahaan rokok tetap berjuang keras dalam beriklan di berbagai media dengan harapan produknya tetap eksis di pasaran dan tetap di minati oleh konsumennya.

Manajemen dari perusahaan rokok tetap berkreasi aktif dalam mengiklankan produk meskipun mereka dikurung oleh berbagai aturan sah dari pemerintah. Periklanan mereka lebih membangun brand attitude yakni sebagaimana menurut pakar perilaku konsumen, Assael (2002) yang menyatakan bahwa brand attitude adalah evaluasi keseluruhan konsumen terhadap merek, dalam model ekuitas merek ditemukan bahwa peningkatan pangsa pasar terjadi ketika sikap terhadap merek makin positif.

Promosi yang dilakukan perusahaan rokok lebih ke arah menjual fungsinya dan menjual emosi yang akan dibangun pada konsumen. Bisa kita lihat pesan-pesan dalam iklan rokok bahwa dengan merokok produk tertentu akan memberikan ketenangan dan jiwa dinamis. Bisa kita lihat di dalam masyarakat bahwa para pecandu rokok yang mengonsumsi rokok Dji Sam Soe 234 ataupun Gudang Garam Surya akan cenderung memiliki kebanggaan karena telah mengonsumsi rokok berkelas dan orang lain juga akan memberikan penilaian lebih kepada perokok yang mengonsumsi rokok merek tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/