alexametrics
23 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

The Male Gaze: Objektivikasi Perempuan yang Menghambat Pemberdayaan Diri

Mobile_AP_Rectangle 1

Menjadi rahasia umum bahwa media itu begitu dekat dengan kita, dengan kehidupan sehari-hari kita, dan kita mengkonsumsi nya dalam keseharian tanpa henti. Semua yang kita cerna lama-kelamaan akan menjadi hal lumrah yang diinternalisasi dan diamini. Sehingga, cara berfikir (mindset), cara bertindak (tingkah laku) pada kehidupan nyata dipengaruhi dan mengikuti segala hal yang dikonsumsi atau dilihat dari media. Media pada akhirnya mengarahkan pada informasi harapan, budaya, dan identitas pribadi seseorang.

Adanya the male gaze yang mengobjektivikasi perempuan dalam media akhirnya membuat objektivikasi perempuan pada dunia nyata. Dampak dari the male gaze telah diinternalisasi sampai batas tertentu oleh laki-laki dan perempuan, dan mungkin kita bahkan tidak menyadarinya. Selain itu, the male gaze memberikan pengaruh yang signifikan pada cara pandang seseorang terhadap bagaimana laki-laki memandang perempuan, bagaimana perempuan memandang dirinya dan bagaimana perempuan memandang perempuan lainnya.

Pertama, laki-laki mereduksi perempuan sebagai makhluk (objek) yang pasif. Sehingga hal ini menjadi salah satu usaha patriarki untuk menjaga status-quo laki-laki sebagai pengendali seksual. Tidak hanya itu, apabila seorang perempuan mendapatkan perlakuan buruk dari laki-laki hal itu dilumrahkan dengan alasan bahwa “perempuan memang begitu takdirnya sebagai objek”. Selanjutnya, perempuan mengobjektivikasi dirinya sendiri dan mengakui bahwa perempuan hanyalah sebagai objek yang dipandang dan laki-laki yang memandang. Sehingga, secara alami pengaruh male gaze meresap ke dalam persepsi dan harga diri perempuan yang kemudian menghadirkan tekanan untuk dapat menyesuaikan diri dengan pandangan patriarki ini. Hal ini pun membentuk cara pikir perempuan tentang tubuh, kemampuan dan tempat untuk diri mereka di dunia serta di hadapan perempuan yang lain. Tidak jarang dijumpai perempuan yang memuji sesamanya atas kecantikan atau perawakan yang dimiliki. Implikasinya, perempuan mudah insecure dan melakukan berbagai hal untuk memenuhi standardisasi cantik yang dibuat oleh media terlebih dengan adanya the male gaze. Perempuan berlomba-lomba berpenampilan se-baik mungkin untuk menarik perhatian laki-laki. Sehingga tidak jarang perempuan menjadi sasaran empuk kapitalisme berkedok produk kecantikan, style berpakaian, dll.

Mobile_AP_Rectangle 2

Secara sederhana, the male gaze telah berhasil membawa perempuan yang semula adalah makhluk yang utuh berafiliasi menjadi objek semata yang direduksi melalui tatapan. Sehingga pada intinya, the male gaze telah berhasil menghambat pemberdayaan perempuan dan advokasi diri perempuan dengan mendorong objektivikasi dirinya dalam penghormatan kepada laki-laki serta patriarki pada umumnya.

Untuk memutus mata rantai adanya the male gaze tentu bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesadaran dari berbagai pihak untuk bersama-sama melakukan berbagai langkah supaya tidak lagi melanggengkannya diberbagai media. Di balik itu, kita bisa mencoba memutus mata rantai male gaze dimulai dari yang sederhana yaitu diri kita sendiri. Laki-laki sudah sepatutnya memandang perempuan sebagai manusia yang utuh dan teman sosial yang memiliki hak serta kewajiban yang sama dengannya. Sedangkan perempuan harus bisa memvalidasi dirinya sendiri, menghargai dirinya, dan menentukan nilai dari dirinya sendiri. Dalam hal ini, perempuan mampu meningkatkan elektabilitasnya melalui berbagai hal sehingga ia tidak hanya dipandang sebatas kecantikan yang ia miliki. Sebagai contoh, memperkaya khazanah keilmuwan dengan aktif membaca buku untuk muatan intelektual, memperkuat mentalitas diri melalui berbagai pelatihan dan seminar, menghasilkan berbagai karya pun aktif diberbagai kegiatan sosial sebagai bentuk aktualitas diri, dan sebagainya. Pada akhirnya, dengan kegigihan perempuan atas kesadaran diri sebagai manusia yang utuh (tidak lagi terkungkung oleh standardisasi cantik semata) perempuan mampu membuktikan diri pada mata dunia bahwa ia adalah makhluk Tuhan yang luar biasa dan begitu berharga.

Isna Asaroh

Mahasiswa S-1 Pendidikan Bahasa Inggris

Ketua Rayon PMII FKIP UIJ (2021-2022)

 

- Advertisement -

Menjadi rahasia umum bahwa media itu begitu dekat dengan kita, dengan kehidupan sehari-hari kita, dan kita mengkonsumsi nya dalam keseharian tanpa henti. Semua yang kita cerna lama-kelamaan akan menjadi hal lumrah yang diinternalisasi dan diamini. Sehingga, cara berfikir (mindset), cara bertindak (tingkah laku) pada kehidupan nyata dipengaruhi dan mengikuti segala hal yang dikonsumsi atau dilihat dari media. Media pada akhirnya mengarahkan pada informasi harapan, budaya, dan identitas pribadi seseorang.

Adanya the male gaze yang mengobjektivikasi perempuan dalam media akhirnya membuat objektivikasi perempuan pada dunia nyata. Dampak dari the male gaze telah diinternalisasi sampai batas tertentu oleh laki-laki dan perempuan, dan mungkin kita bahkan tidak menyadarinya. Selain itu, the male gaze memberikan pengaruh yang signifikan pada cara pandang seseorang terhadap bagaimana laki-laki memandang perempuan, bagaimana perempuan memandang dirinya dan bagaimana perempuan memandang perempuan lainnya.

Pertama, laki-laki mereduksi perempuan sebagai makhluk (objek) yang pasif. Sehingga hal ini menjadi salah satu usaha patriarki untuk menjaga status-quo laki-laki sebagai pengendali seksual. Tidak hanya itu, apabila seorang perempuan mendapatkan perlakuan buruk dari laki-laki hal itu dilumrahkan dengan alasan bahwa “perempuan memang begitu takdirnya sebagai objek”. Selanjutnya, perempuan mengobjektivikasi dirinya sendiri dan mengakui bahwa perempuan hanyalah sebagai objek yang dipandang dan laki-laki yang memandang. Sehingga, secara alami pengaruh male gaze meresap ke dalam persepsi dan harga diri perempuan yang kemudian menghadirkan tekanan untuk dapat menyesuaikan diri dengan pandangan patriarki ini. Hal ini pun membentuk cara pikir perempuan tentang tubuh, kemampuan dan tempat untuk diri mereka di dunia serta di hadapan perempuan yang lain. Tidak jarang dijumpai perempuan yang memuji sesamanya atas kecantikan atau perawakan yang dimiliki. Implikasinya, perempuan mudah insecure dan melakukan berbagai hal untuk memenuhi standardisasi cantik yang dibuat oleh media terlebih dengan adanya the male gaze. Perempuan berlomba-lomba berpenampilan se-baik mungkin untuk menarik perhatian laki-laki. Sehingga tidak jarang perempuan menjadi sasaran empuk kapitalisme berkedok produk kecantikan, style berpakaian, dll.

Secara sederhana, the male gaze telah berhasil membawa perempuan yang semula adalah makhluk yang utuh berafiliasi menjadi objek semata yang direduksi melalui tatapan. Sehingga pada intinya, the male gaze telah berhasil menghambat pemberdayaan perempuan dan advokasi diri perempuan dengan mendorong objektivikasi dirinya dalam penghormatan kepada laki-laki serta patriarki pada umumnya.

Untuk memutus mata rantai adanya the male gaze tentu bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesadaran dari berbagai pihak untuk bersama-sama melakukan berbagai langkah supaya tidak lagi melanggengkannya diberbagai media. Di balik itu, kita bisa mencoba memutus mata rantai male gaze dimulai dari yang sederhana yaitu diri kita sendiri. Laki-laki sudah sepatutnya memandang perempuan sebagai manusia yang utuh dan teman sosial yang memiliki hak serta kewajiban yang sama dengannya. Sedangkan perempuan harus bisa memvalidasi dirinya sendiri, menghargai dirinya, dan menentukan nilai dari dirinya sendiri. Dalam hal ini, perempuan mampu meningkatkan elektabilitasnya melalui berbagai hal sehingga ia tidak hanya dipandang sebatas kecantikan yang ia miliki. Sebagai contoh, memperkaya khazanah keilmuwan dengan aktif membaca buku untuk muatan intelektual, memperkuat mentalitas diri melalui berbagai pelatihan dan seminar, menghasilkan berbagai karya pun aktif diberbagai kegiatan sosial sebagai bentuk aktualitas diri, dan sebagainya. Pada akhirnya, dengan kegigihan perempuan atas kesadaran diri sebagai manusia yang utuh (tidak lagi terkungkung oleh standardisasi cantik semata) perempuan mampu membuktikan diri pada mata dunia bahwa ia adalah makhluk Tuhan yang luar biasa dan begitu berharga.

Isna Asaroh

Mahasiswa S-1 Pendidikan Bahasa Inggris

Ketua Rayon PMII FKIP UIJ (2021-2022)

 

Menjadi rahasia umum bahwa media itu begitu dekat dengan kita, dengan kehidupan sehari-hari kita, dan kita mengkonsumsi nya dalam keseharian tanpa henti. Semua yang kita cerna lama-kelamaan akan menjadi hal lumrah yang diinternalisasi dan diamini. Sehingga, cara berfikir (mindset), cara bertindak (tingkah laku) pada kehidupan nyata dipengaruhi dan mengikuti segala hal yang dikonsumsi atau dilihat dari media. Media pada akhirnya mengarahkan pada informasi harapan, budaya, dan identitas pribadi seseorang.

Adanya the male gaze yang mengobjektivikasi perempuan dalam media akhirnya membuat objektivikasi perempuan pada dunia nyata. Dampak dari the male gaze telah diinternalisasi sampai batas tertentu oleh laki-laki dan perempuan, dan mungkin kita bahkan tidak menyadarinya. Selain itu, the male gaze memberikan pengaruh yang signifikan pada cara pandang seseorang terhadap bagaimana laki-laki memandang perempuan, bagaimana perempuan memandang dirinya dan bagaimana perempuan memandang perempuan lainnya.

Pertama, laki-laki mereduksi perempuan sebagai makhluk (objek) yang pasif. Sehingga hal ini menjadi salah satu usaha patriarki untuk menjaga status-quo laki-laki sebagai pengendali seksual. Tidak hanya itu, apabila seorang perempuan mendapatkan perlakuan buruk dari laki-laki hal itu dilumrahkan dengan alasan bahwa “perempuan memang begitu takdirnya sebagai objek”. Selanjutnya, perempuan mengobjektivikasi dirinya sendiri dan mengakui bahwa perempuan hanyalah sebagai objek yang dipandang dan laki-laki yang memandang. Sehingga, secara alami pengaruh male gaze meresap ke dalam persepsi dan harga diri perempuan yang kemudian menghadirkan tekanan untuk dapat menyesuaikan diri dengan pandangan patriarki ini. Hal ini pun membentuk cara pikir perempuan tentang tubuh, kemampuan dan tempat untuk diri mereka di dunia serta di hadapan perempuan yang lain. Tidak jarang dijumpai perempuan yang memuji sesamanya atas kecantikan atau perawakan yang dimiliki. Implikasinya, perempuan mudah insecure dan melakukan berbagai hal untuk memenuhi standardisasi cantik yang dibuat oleh media terlebih dengan adanya the male gaze. Perempuan berlomba-lomba berpenampilan se-baik mungkin untuk menarik perhatian laki-laki. Sehingga tidak jarang perempuan menjadi sasaran empuk kapitalisme berkedok produk kecantikan, style berpakaian, dll.

Secara sederhana, the male gaze telah berhasil membawa perempuan yang semula adalah makhluk yang utuh berafiliasi menjadi objek semata yang direduksi melalui tatapan. Sehingga pada intinya, the male gaze telah berhasil menghambat pemberdayaan perempuan dan advokasi diri perempuan dengan mendorong objektivikasi dirinya dalam penghormatan kepada laki-laki serta patriarki pada umumnya.

Untuk memutus mata rantai adanya the male gaze tentu bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kesadaran dari berbagai pihak untuk bersama-sama melakukan berbagai langkah supaya tidak lagi melanggengkannya diberbagai media. Di balik itu, kita bisa mencoba memutus mata rantai male gaze dimulai dari yang sederhana yaitu diri kita sendiri. Laki-laki sudah sepatutnya memandang perempuan sebagai manusia yang utuh dan teman sosial yang memiliki hak serta kewajiban yang sama dengannya. Sedangkan perempuan harus bisa memvalidasi dirinya sendiri, menghargai dirinya, dan menentukan nilai dari dirinya sendiri. Dalam hal ini, perempuan mampu meningkatkan elektabilitasnya melalui berbagai hal sehingga ia tidak hanya dipandang sebatas kecantikan yang ia miliki. Sebagai contoh, memperkaya khazanah keilmuwan dengan aktif membaca buku untuk muatan intelektual, memperkuat mentalitas diri melalui berbagai pelatihan dan seminar, menghasilkan berbagai karya pun aktif diberbagai kegiatan sosial sebagai bentuk aktualitas diri, dan sebagainya. Pada akhirnya, dengan kegigihan perempuan atas kesadaran diri sebagai manusia yang utuh (tidak lagi terkungkung oleh standardisasi cantik semata) perempuan mampu membuktikan diri pada mata dunia bahwa ia adalah makhluk Tuhan yang luar biasa dan begitu berharga.

Isna Asaroh

Mahasiswa S-1 Pendidikan Bahasa Inggris

Ketua Rayon PMII FKIP UIJ (2021-2022)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/