alexametrics
24.6 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

The Male Gaze: Objektivikasi Perempuan yang Menghambat Pemberdayaan Diri

Mobile_AP_Rectangle 1

Pernahkah kalian menonton sebuah film atau iklan yang menempatkan actor perempuannya hanya sebagai iconic dari sebuah cerita saja? Tidak memiliki pengaruh pada plot cerita serta adanya perkembangan karakter yang minim, mereka hanya sebatas sebagai objek yang dilihat. Hal ini telah dibahas oleh Laura Mulvey (seorang ahli teori film feminis dari Inggris) pada tahun 1975 dalam essay-nya yang berjudul Visual Pleasure and Narrative Cinema dan diterbitkan dalam Majalah film Screen. Laura mengatakan fenomena yang tersebut di atas sebagai “the male gaze” dengan menjabarkan bagaimana film-film Hollywood menggunakan perempuan sebagai pengalaman visual belaka untuk memenuhi fantasi laki-laki.

Pada teori feminism, the male gaze (pandangan laki-laki) merupakan sebuah tindakan yang menggambarkan perempuan dalam seni rupa dan literatur melalui pers yang maskulin dan heteroseksual dengan menggambarkan perempuan sebagai objek seksual untuk menyenangkan pemirsa laki-laki. Pada film, the male gaze biasanya diterapkan dalam pengambilan gambar yaitu dengan menggunakan perspektif penonton pria. Lebih lanjut, the male gaze biasanya membuat perempuan ditampilkan dalam  dua level erotisme, yakni sebagai objek erotik bagi actor di dalam film ataupun objek erotik bagi penonton pria. Alur yang ditampilkan dengan menggambarkan perempuan sebagai objek yang dilihat laki-laki melalui kamera movement yang kemudian di forward untuk penonton.

Visualisasi yang demikian menciptakan peran laki-laki yang lebih dominan dengan menampilkan perempuan sebagai objek yang pasif. Sehingga, the male gaze memiliki dua komponen utama, yaitu: perempuan yang menjadi objek tatapan laki-laki, serta penonton yang akhirnya dituntut supaya bisa relate (menyesuaikan diri) dengan karakter laki-laki. Contoh khas penerapan the male gaze dalam film antaranya: bidikan close-up perempuan yang mengikuti arah gerak mata laki-laki dalam mengeksplorasi tubuh perempuan, bidikan bergerak dan akhirnya terpaku pada tubuh perempuan, dan sebagainya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Adapun teory of gaze (pandangan), pertama kali diperkenalkan oleh filsuf eksistensialis, Jean-Paul Sartre dalam concept of le regard. Di mana Sartre menjelaskan bahwa tindakan menatap pada seseorang dapat menciptakan perbedaan terhadap tenaga subjektif yang dirasakan oleh penatap ataupun yang ditatap. Hal ini disebabkan karena yang ditatap dianggap sebagai objek (benda), bukan manusia. Pada akhirnya, di tatanan dunia yang tidak seimbang ini (interm of gender) kenikmatan dalam menatap atau melihat terarah menjadi dua, yaitu: Aktif (laki-laki) dan sebaliknya perempuan sebagai objek pasifnya. Tentu hal ini sangat berkaitan dengan the male gaze. Di mana tubuh perempuan dijadikan sebagai objek yang memberikan kenikmatan melalui voyeurism (melihat atau menatap untuk memuaskan hasrat seksual) dan skopofilia (mendapatkan kesenangan dengan melihat).

Konsep ini (the male gaze) pada akhirnya meluas dari film ke berbagai media apa pun, di mana perempuan digambarkan sebagai pengalaman yang menarik dalam dunia nyata. Tubuh perempuan digunakan untuk menjual dan menarik perhatian (utamanya pria cis heteroseksual). Misalnya: perempuanlah yang lebih sering ditampilkan dalam iklan, sampul majalah, serta media sosial lainnya. Tidak hanya itu, biasanya selebriti perempuan berpose provokatif di sampul majalah, berpakaian minim, dan adanya penyanyi perempuan yang cenderung tampil memamerkan banyak kulit, dll. Selain itu, dalam dunia literasi juga masih banyak penulis laki-laki yang menggambarkan perempuan hanya sebagai objek di dalam bukunya dan kebanyakan sebagai objek seksual. Penulis yang cukup terkenal dalam hal ini adalah Haruki Murakami di mana ia selalu terobsesi dengan perempuan, namun bukan sebagai manusia yang utuh melainkan objek seksual belaka.

Tentu menjadi pertanyaan besar, mengapa media-media yang sering kita konsumsi begitu sarat akan male gaze?

Untuk menjawab hal tersebut, Laura Mulvey mengemukakan bahwa ketidaksetaraan gender dalam hal ini perbedaan kekuatan sosial dan politik antara laki-laki dan perempuan merupakan sebuah kekuatan sosial yang pada akhirnya dapat mengendalikan representasi gender dalam film. Selain itu, the male gaze (pandangan laki-laki) telah menjadi sebuah konstruksi sosial yang diturunkan dari industri patriarki. Pasalnya, industri perfilman, industri kreatif hakikatnya dibuat oleh laki-laki dan untuk laki-laki sebagai sarana untuk memenuhi fantasinya akan gambaran ideal seorang perempuan. Dalam dunia perfilman, kebanyakan laki-laki yang menjadi penulis film, laki-laki yang membuat film, dan ditargetkan kepada laki-laki pula. Oleh karenanya, kebanyakan film biasanya menjadikan laki-laki sebagai peran utama dalam cerita sedangkan perempuan hanya sebagai karakter yang diberikan fungsi terbatas untuk melayani atau mencapai tujuan protagonis si laki-laki.

Kendati konsep the male gaze dikemukakan oleh Laura Mulvey pada tahun 1970-an yang disesuaikan pada konteks situasi dan kondisi pada waktu itu. Kenyataannya, the male gaze-pun masih bisa dijumpai pada film-film modern masa kini. Contohnya: pada film Transformers (2017) karya Michael Bay, di mana pemeran perempuan dieksplorasi secara seksual dengan berbagai cara padahal tidak memiliki relevansi dengan alur ceritanya. Selain itu, yang begitu akrab dengan kita berbagai cinema dalam Disney Princess di mana putri-putri Disney hanya akan bahagia ketika bertemu dengan laki-laki. Hal itu seolah mengemukakan bahwa perempuan tidak bisa bahagia hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri. Tidak hanya di film Hollywood, pada film lokal Indonesia pun dapat banyak dijumpai the male gaze yang begitu sarat terjadi.

Pertanyaan terbesar selanjutnya, mengapa the male gaze menjadi masalah besar padahal sebatas terjadi pada media dan bukan pada dunia nyata?

- Advertisement -

Pernahkah kalian menonton sebuah film atau iklan yang menempatkan actor perempuannya hanya sebagai iconic dari sebuah cerita saja? Tidak memiliki pengaruh pada plot cerita serta adanya perkembangan karakter yang minim, mereka hanya sebatas sebagai objek yang dilihat. Hal ini telah dibahas oleh Laura Mulvey (seorang ahli teori film feminis dari Inggris) pada tahun 1975 dalam essay-nya yang berjudul Visual Pleasure and Narrative Cinema dan diterbitkan dalam Majalah film Screen. Laura mengatakan fenomena yang tersebut di atas sebagai “the male gaze” dengan menjabarkan bagaimana film-film Hollywood menggunakan perempuan sebagai pengalaman visual belaka untuk memenuhi fantasi laki-laki.

Pada teori feminism, the male gaze (pandangan laki-laki) merupakan sebuah tindakan yang menggambarkan perempuan dalam seni rupa dan literatur melalui pers yang maskulin dan heteroseksual dengan menggambarkan perempuan sebagai objek seksual untuk menyenangkan pemirsa laki-laki. Pada film, the male gaze biasanya diterapkan dalam pengambilan gambar yaitu dengan menggunakan perspektif penonton pria. Lebih lanjut, the male gaze biasanya membuat perempuan ditampilkan dalam  dua level erotisme, yakni sebagai objek erotik bagi actor di dalam film ataupun objek erotik bagi penonton pria. Alur yang ditampilkan dengan menggambarkan perempuan sebagai objek yang dilihat laki-laki melalui kamera movement yang kemudian di forward untuk penonton.

Visualisasi yang demikian menciptakan peran laki-laki yang lebih dominan dengan menampilkan perempuan sebagai objek yang pasif. Sehingga, the male gaze memiliki dua komponen utama, yaitu: perempuan yang menjadi objek tatapan laki-laki, serta penonton yang akhirnya dituntut supaya bisa relate (menyesuaikan diri) dengan karakter laki-laki. Contoh khas penerapan the male gaze dalam film antaranya: bidikan close-up perempuan yang mengikuti arah gerak mata laki-laki dalam mengeksplorasi tubuh perempuan, bidikan bergerak dan akhirnya terpaku pada tubuh perempuan, dan sebagainya.

Adapun teory of gaze (pandangan), pertama kali diperkenalkan oleh filsuf eksistensialis, Jean-Paul Sartre dalam concept of le regard. Di mana Sartre menjelaskan bahwa tindakan menatap pada seseorang dapat menciptakan perbedaan terhadap tenaga subjektif yang dirasakan oleh penatap ataupun yang ditatap. Hal ini disebabkan karena yang ditatap dianggap sebagai objek (benda), bukan manusia. Pada akhirnya, di tatanan dunia yang tidak seimbang ini (interm of gender) kenikmatan dalam menatap atau melihat terarah menjadi dua, yaitu: Aktif (laki-laki) dan sebaliknya perempuan sebagai objek pasifnya. Tentu hal ini sangat berkaitan dengan the male gaze. Di mana tubuh perempuan dijadikan sebagai objek yang memberikan kenikmatan melalui voyeurism (melihat atau menatap untuk memuaskan hasrat seksual) dan skopofilia (mendapatkan kesenangan dengan melihat).

Konsep ini (the male gaze) pada akhirnya meluas dari film ke berbagai media apa pun, di mana perempuan digambarkan sebagai pengalaman yang menarik dalam dunia nyata. Tubuh perempuan digunakan untuk menjual dan menarik perhatian (utamanya pria cis heteroseksual). Misalnya: perempuanlah yang lebih sering ditampilkan dalam iklan, sampul majalah, serta media sosial lainnya. Tidak hanya itu, biasanya selebriti perempuan berpose provokatif di sampul majalah, berpakaian minim, dan adanya penyanyi perempuan yang cenderung tampil memamerkan banyak kulit, dll. Selain itu, dalam dunia literasi juga masih banyak penulis laki-laki yang menggambarkan perempuan hanya sebagai objek di dalam bukunya dan kebanyakan sebagai objek seksual. Penulis yang cukup terkenal dalam hal ini adalah Haruki Murakami di mana ia selalu terobsesi dengan perempuan, namun bukan sebagai manusia yang utuh melainkan objek seksual belaka.

Tentu menjadi pertanyaan besar, mengapa media-media yang sering kita konsumsi begitu sarat akan male gaze?

Untuk menjawab hal tersebut, Laura Mulvey mengemukakan bahwa ketidaksetaraan gender dalam hal ini perbedaan kekuatan sosial dan politik antara laki-laki dan perempuan merupakan sebuah kekuatan sosial yang pada akhirnya dapat mengendalikan representasi gender dalam film. Selain itu, the male gaze (pandangan laki-laki) telah menjadi sebuah konstruksi sosial yang diturunkan dari industri patriarki. Pasalnya, industri perfilman, industri kreatif hakikatnya dibuat oleh laki-laki dan untuk laki-laki sebagai sarana untuk memenuhi fantasinya akan gambaran ideal seorang perempuan. Dalam dunia perfilman, kebanyakan laki-laki yang menjadi penulis film, laki-laki yang membuat film, dan ditargetkan kepada laki-laki pula. Oleh karenanya, kebanyakan film biasanya menjadikan laki-laki sebagai peran utama dalam cerita sedangkan perempuan hanya sebagai karakter yang diberikan fungsi terbatas untuk melayani atau mencapai tujuan protagonis si laki-laki.

Kendati konsep the male gaze dikemukakan oleh Laura Mulvey pada tahun 1970-an yang disesuaikan pada konteks situasi dan kondisi pada waktu itu. Kenyataannya, the male gaze-pun masih bisa dijumpai pada film-film modern masa kini. Contohnya: pada film Transformers (2017) karya Michael Bay, di mana pemeran perempuan dieksplorasi secara seksual dengan berbagai cara padahal tidak memiliki relevansi dengan alur ceritanya. Selain itu, yang begitu akrab dengan kita berbagai cinema dalam Disney Princess di mana putri-putri Disney hanya akan bahagia ketika bertemu dengan laki-laki. Hal itu seolah mengemukakan bahwa perempuan tidak bisa bahagia hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri. Tidak hanya di film Hollywood, pada film lokal Indonesia pun dapat banyak dijumpai the male gaze yang begitu sarat terjadi.

Pertanyaan terbesar selanjutnya, mengapa the male gaze menjadi masalah besar padahal sebatas terjadi pada media dan bukan pada dunia nyata?

Pernahkah kalian menonton sebuah film atau iklan yang menempatkan actor perempuannya hanya sebagai iconic dari sebuah cerita saja? Tidak memiliki pengaruh pada plot cerita serta adanya perkembangan karakter yang minim, mereka hanya sebatas sebagai objek yang dilihat. Hal ini telah dibahas oleh Laura Mulvey (seorang ahli teori film feminis dari Inggris) pada tahun 1975 dalam essay-nya yang berjudul Visual Pleasure and Narrative Cinema dan diterbitkan dalam Majalah film Screen. Laura mengatakan fenomena yang tersebut di atas sebagai “the male gaze” dengan menjabarkan bagaimana film-film Hollywood menggunakan perempuan sebagai pengalaman visual belaka untuk memenuhi fantasi laki-laki.

Pada teori feminism, the male gaze (pandangan laki-laki) merupakan sebuah tindakan yang menggambarkan perempuan dalam seni rupa dan literatur melalui pers yang maskulin dan heteroseksual dengan menggambarkan perempuan sebagai objek seksual untuk menyenangkan pemirsa laki-laki. Pada film, the male gaze biasanya diterapkan dalam pengambilan gambar yaitu dengan menggunakan perspektif penonton pria. Lebih lanjut, the male gaze biasanya membuat perempuan ditampilkan dalam  dua level erotisme, yakni sebagai objek erotik bagi actor di dalam film ataupun objek erotik bagi penonton pria. Alur yang ditampilkan dengan menggambarkan perempuan sebagai objek yang dilihat laki-laki melalui kamera movement yang kemudian di forward untuk penonton.

Visualisasi yang demikian menciptakan peran laki-laki yang lebih dominan dengan menampilkan perempuan sebagai objek yang pasif. Sehingga, the male gaze memiliki dua komponen utama, yaitu: perempuan yang menjadi objek tatapan laki-laki, serta penonton yang akhirnya dituntut supaya bisa relate (menyesuaikan diri) dengan karakter laki-laki. Contoh khas penerapan the male gaze dalam film antaranya: bidikan close-up perempuan yang mengikuti arah gerak mata laki-laki dalam mengeksplorasi tubuh perempuan, bidikan bergerak dan akhirnya terpaku pada tubuh perempuan, dan sebagainya.

Adapun teory of gaze (pandangan), pertama kali diperkenalkan oleh filsuf eksistensialis, Jean-Paul Sartre dalam concept of le regard. Di mana Sartre menjelaskan bahwa tindakan menatap pada seseorang dapat menciptakan perbedaan terhadap tenaga subjektif yang dirasakan oleh penatap ataupun yang ditatap. Hal ini disebabkan karena yang ditatap dianggap sebagai objek (benda), bukan manusia. Pada akhirnya, di tatanan dunia yang tidak seimbang ini (interm of gender) kenikmatan dalam menatap atau melihat terarah menjadi dua, yaitu: Aktif (laki-laki) dan sebaliknya perempuan sebagai objek pasifnya. Tentu hal ini sangat berkaitan dengan the male gaze. Di mana tubuh perempuan dijadikan sebagai objek yang memberikan kenikmatan melalui voyeurism (melihat atau menatap untuk memuaskan hasrat seksual) dan skopofilia (mendapatkan kesenangan dengan melihat).

Konsep ini (the male gaze) pada akhirnya meluas dari film ke berbagai media apa pun, di mana perempuan digambarkan sebagai pengalaman yang menarik dalam dunia nyata. Tubuh perempuan digunakan untuk menjual dan menarik perhatian (utamanya pria cis heteroseksual). Misalnya: perempuanlah yang lebih sering ditampilkan dalam iklan, sampul majalah, serta media sosial lainnya. Tidak hanya itu, biasanya selebriti perempuan berpose provokatif di sampul majalah, berpakaian minim, dan adanya penyanyi perempuan yang cenderung tampil memamerkan banyak kulit, dll. Selain itu, dalam dunia literasi juga masih banyak penulis laki-laki yang menggambarkan perempuan hanya sebagai objek di dalam bukunya dan kebanyakan sebagai objek seksual. Penulis yang cukup terkenal dalam hal ini adalah Haruki Murakami di mana ia selalu terobsesi dengan perempuan, namun bukan sebagai manusia yang utuh melainkan objek seksual belaka.

Tentu menjadi pertanyaan besar, mengapa media-media yang sering kita konsumsi begitu sarat akan male gaze?

Untuk menjawab hal tersebut, Laura Mulvey mengemukakan bahwa ketidaksetaraan gender dalam hal ini perbedaan kekuatan sosial dan politik antara laki-laki dan perempuan merupakan sebuah kekuatan sosial yang pada akhirnya dapat mengendalikan representasi gender dalam film. Selain itu, the male gaze (pandangan laki-laki) telah menjadi sebuah konstruksi sosial yang diturunkan dari industri patriarki. Pasalnya, industri perfilman, industri kreatif hakikatnya dibuat oleh laki-laki dan untuk laki-laki sebagai sarana untuk memenuhi fantasinya akan gambaran ideal seorang perempuan. Dalam dunia perfilman, kebanyakan laki-laki yang menjadi penulis film, laki-laki yang membuat film, dan ditargetkan kepada laki-laki pula. Oleh karenanya, kebanyakan film biasanya menjadikan laki-laki sebagai peran utama dalam cerita sedangkan perempuan hanya sebagai karakter yang diberikan fungsi terbatas untuk melayani atau mencapai tujuan protagonis si laki-laki.

Kendati konsep the male gaze dikemukakan oleh Laura Mulvey pada tahun 1970-an yang disesuaikan pada konteks situasi dan kondisi pada waktu itu. Kenyataannya, the male gaze-pun masih bisa dijumpai pada film-film modern masa kini. Contohnya: pada film Transformers (2017) karya Michael Bay, di mana pemeran perempuan dieksplorasi secara seksual dengan berbagai cara padahal tidak memiliki relevansi dengan alur ceritanya. Selain itu, yang begitu akrab dengan kita berbagai cinema dalam Disney Princess di mana putri-putri Disney hanya akan bahagia ketika bertemu dengan laki-laki. Hal itu seolah mengemukakan bahwa perempuan tidak bisa bahagia hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri. Tidak hanya di film Hollywood, pada film lokal Indonesia pun dapat banyak dijumpai the male gaze yang begitu sarat terjadi.

Pertanyaan terbesar selanjutnya, mengapa the male gaze menjadi masalah besar padahal sebatas terjadi pada media dan bukan pada dunia nyata?

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/