alexametrics
23.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Berpacu dengan Waktu

Hairus Salikin 

Mobile_AP_Rectangle 1

KITA sering mendengar pepatah Waktu adalah Uang; Waktu Bagaikan Pedang, kalau Tidak Berhati-hati Kita Akan Terluka Sendiri; Waktu Seperti Anak Panah, Ketika Sudah Melesat Dia Tidak Akan Kembali. Masih banyak ungkapan-ungkapan yang terkait dengan bagaimana cara melihat serta menggunakan waktu.

Terkait dengan waktu, tidak jarang di sekitar kita terdengar seseorang mengatakan, “Seperti baru kemarin hari Jumat, sekarang sudah hari Kamis lagi” atau “Seperti baru kemarin tahun baru, kini sudah bulan Desember lagi” atau “Mas/Mbak, kok sudah kuliah, ya, kapan itu kan masih SD” atau “Seperti baru beberapa waktu lalu kita tinggal bersama di rumah ini, kini kami hanya berdua saja.” Begitulah keluh suami istri yang putra putrinya sudah tidak serumah lagi, karena mereka sudah mempunyai rumah tangga sendiri.

Ungkapan-ungkapan tersebut menandakan bahwa waktu berjalan begitu cepat pergi meninggalkan kita. Sering sekali manusia baru tersadar ketika waktu yang disediakan untuk menyelesaikan sesuatu telah habis dan akibatnya kita panik bahkan sampai menjadi stres. Itulah yang sering dialami manusia, lalai akan tersedianya waktu yang ada.

Mobile_AP_Rectangle 2

Semua manusia di mana pun mereka berada di belahan bumi ini, dari ujung selatan sampai utara, dari ujung timur sampai barat, waktu yang harus dijalani selama sehari semalam durasinya sama, yaitu 24 jam, sama dengan 1,440 menit atau 86,400 detik. tidak lebih dan tidak kurang. Dari 24 jam yang tersedia, kitalah yang dapat mengatur dan mengelolanya supaya produktif atau sebaliknya. Apa pun pilihan kita, yang pasti waktu tetap akan berjalan meninggalkan kita.

Kalau direnungkan, dalam waktu 24 jam, ada orang yang mampu serta sanggup mengurus negara sebagai kepala negara, menteri, dan sebagainya. Ada pula mereka yang mampu menjalankan amanah di tingkat provinsi, menjadi pelayan rakyat di kabupaten, kecamatan, kelurahan, rukun warga, rukun tetangga, dan mampu mengurus rumah tangga sendiri. Akan tetapi, ada pula orang yang jangankan mengurus rumah tangga, apalagi negara, mengurus diri sendiri saja tidak mampu. Padahal waktu yang tersedia selama sehari semalam sama jumlahnya dengan yang mampu mengurus urusan yang diserahkan padanya.

Dalam kehidupan ini, ada sebagian orang yang menghabiskan waktunya untuk hanya beradu gengsi tanpa mengukir prestasi. Ada yang menggunakan waktunya sekadar mengurus penampilan kendatipun sangat miskin keterampilan. Tidak jarang kita mendengar manusia yang sering sekali mengeluarkan pernyataan padahal tidak pernah menampilkan kenyataan. Model yang begini ini disebut NATO (no action, talk only).

Ada orang yang memaksimalkan waktunya berjuang untuk menjalankan kegiatan yang amat produktif dan positif, serta memberi manfaat di tengah masyarakat. Mereka biasanya memadatkan waktunya dengan berbagai karya nyata. Namun, di sisi lain ada pula orang yang sudah merasa cukup hidup dengan apa adanya. Asal kebutuhan dasar sudah terpenuhi, selesai semua urusan. Bahkan tidak jarang dijumpai mereka yang hidupnya hanya pasrah dan terkungkung dengan perasaan pesimistis, tidak berbuat apa-apa, tidak mau bergerak dan berusaha. Mereka menghabiskan waktunya untuk hal yang sisa-sia. Biasanya yang seperti ini akan mejadi beban keluarga dan orang lain.

Di antara kita ada orang yang menghabiskan waktunya dengan menjalani kehidupan yang keras, berdiri tegak menghadapi berbagai rintangan dengan segala risiko yang ada di tangan. Apakah dia gagal atau berhasil dalam menggunakan waktu yang seperti ini, penilaian orang hanya satu, dia adalah pemberani. Di sisi lain, ada pula model manusia yang memilih hidup mengalir saja, tenang, santai bagaikan pantai di pagi yang sejuk. Gaya seperti ini biasanya lebih disukai mereka yang tidak memiliki jiwa pejuang.

- Advertisement -

KITA sering mendengar pepatah Waktu adalah Uang; Waktu Bagaikan Pedang, kalau Tidak Berhati-hati Kita Akan Terluka Sendiri; Waktu Seperti Anak Panah, Ketika Sudah Melesat Dia Tidak Akan Kembali. Masih banyak ungkapan-ungkapan yang terkait dengan bagaimana cara melihat serta menggunakan waktu.

Terkait dengan waktu, tidak jarang di sekitar kita terdengar seseorang mengatakan, “Seperti baru kemarin hari Jumat, sekarang sudah hari Kamis lagi” atau “Seperti baru kemarin tahun baru, kini sudah bulan Desember lagi” atau “Mas/Mbak, kok sudah kuliah, ya, kapan itu kan masih SD” atau “Seperti baru beberapa waktu lalu kita tinggal bersama di rumah ini, kini kami hanya berdua saja.” Begitulah keluh suami istri yang putra putrinya sudah tidak serumah lagi, karena mereka sudah mempunyai rumah tangga sendiri.

Ungkapan-ungkapan tersebut menandakan bahwa waktu berjalan begitu cepat pergi meninggalkan kita. Sering sekali manusia baru tersadar ketika waktu yang disediakan untuk menyelesaikan sesuatu telah habis dan akibatnya kita panik bahkan sampai menjadi stres. Itulah yang sering dialami manusia, lalai akan tersedianya waktu yang ada.

Semua manusia di mana pun mereka berada di belahan bumi ini, dari ujung selatan sampai utara, dari ujung timur sampai barat, waktu yang harus dijalani selama sehari semalam durasinya sama, yaitu 24 jam, sama dengan 1,440 menit atau 86,400 detik. tidak lebih dan tidak kurang. Dari 24 jam yang tersedia, kitalah yang dapat mengatur dan mengelolanya supaya produktif atau sebaliknya. Apa pun pilihan kita, yang pasti waktu tetap akan berjalan meninggalkan kita.

Kalau direnungkan, dalam waktu 24 jam, ada orang yang mampu serta sanggup mengurus negara sebagai kepala negara, menteri, dan sebagainya. Ada pula mereka yang mampu menjalankan amanah di tingkat provinsi, menjadi pelayan rakyat di kabupaten, kecamatan, kelurahan, rukun warga, rukun tetangga, dan mampu mengurus rumah tangga sendiri. Akan tetapi, ada pula orang yang jangankan mengurus rumah tangga, apalagi negara, mengurus diri sendiri saja tidak mampu. Padahal waktu yang tersedia selama sehari semalam sama jumlahnya dengan yang mampu mengurus urusan yang diserahkan padanya.

Dalam kehidupan ini, ada sebagian orang yang menghabiskan waktunya untuk hanya beradu gengsi tanpa mengukir prestasi. Ada yang menggunakan waktunya sekadar mengurus penampilan kendatipun sangat miskin keterampilan. Tidak jarang kita mendengar manusia yang sering sekali mengeluarkan pernyataan padahal tidak pernah menampilkan kenyataan. Model yang begini ini disebut NATO (no action, talk only).

Ada orang yang memaksimalkan waktunya berjuang untuk menjalankan kegiatan yang amat produktif dan positif, serta memberi manfaat di tengah masyarakat. Mereka biasanya memadatkan waktunya dengan berbagai karya nyata. Namun, di sisi lain ada pula orang yang sudah merasa cukup hidup dengan apa adanya. Asal kebutuhan dasar sudah terpenuhi, selesai semua urusan. Bahkan tidak jarang dijumpai mereka yang hidupnya hanya pasrah dan terkungkung dengan perasaan pesimistis, tidak berbuat apa-apa, tidak mau bergerak dan berusaha. Mereka menghabiskan waktunya untuk hal yang sisa-sia. Biasanya yang seperti ini akan mejadi beban keluarga dan orang lain.

Di antara kita ada orang yang menghabiskan waktunya dengan menjalani kehidupan yang keras, berdiri tegak menghadapi berbagai rintangan dengan segala risiko yang ada di tangan. Apakah dia gagal atau berhasil dalam menggunakan waktu yang seperti ini, penilaian orang hanya satu, dia adalah pemberani. Di sisi lain, ada pula model manusia yang memilih hidup mengalir saja, tenang, santai bagaikan pantai di pagi yang sejuk. Gaya seperti ini biasanya lebih disukai mereka yang tidak memiliki jiwa pejuang.

KITA sering mendengar pepatah Waktu adalah Uang; Waktu Bagaikan Pedang, kalau Tidak Berhati-hati Kita Akan Terluka Sendiri; Waktu Seperti Anak Panah, Ketika Sudah Melesat Dia Tidak Akan Kembali. Masih banyak ungkapan-ungkapan yang terkait dengan bagaimana cara melihat serta menggunakan waktu.

Terkait dengan waktu, tidak jarang di sekitar kita terdengar seseorang mengatakan, “Seperti baru kemarin hari Jumat, sekarang sudah hari Kamis lagi” atau “Seperti baru kemarin tahun baru, kini sudah bulan Desember lagi” atau “Mas/Mbak, kok sudah kuliah, ya, kapan itu kan masih SD” atau “Seperti baru beberapa waktu lalu kita tinggal bersama di rumah ini, kini kami hanya berdua saja.” Begitulah keluh suami istri yang putra putrinya sudah tidak serumah lagi, karena mereka sudah mempunyai rumah tangga sendiri.

Ungkapan-ungkapan tersebut menandakan bahwa waktu berjalan begitu cepat pergi meninggalkan kita. Sering sekali manusia baru tersadar ketika waktu yang disediakan untuk menyelesaikan sesuatu telah habis dan akibatnya kita panik bahkan sampai menjadi stres. Itulah yang sering dialami manusia, lalai akan tersedianya waktu yang ada.

Semua manusia di mana pun mereka berada di belahan bumi ini, dari ujung selatan sampai utara, dari ujung timur sampai barat, waktu yang harus dijalani selama sehari semalam durasinya sama, yaitu 24 jam, sama dengan 1,440 menit atau 86,400 detik. tidak lebih dan tidak kurang. Dari 24 jam yang tersedia, kitalah yang dapat mengatur dan mengelolanya supaya produktif atau sebaliknya. Apa pun pilihan kita, yang pasti waktu tetap akan berjalan meninggalkan kita.

Kalau direnungkan, dalam waktu 24 jam, ada orang yang mampu serta sanggup mengurus negara sebagai kepala negara, menteri, dan sebagainya. Ada pula mereka yang mampu menjalankan amanah di tingkat provinsi, menjadi pelayan rakyat di kabupaten, kecamatan, kelurahan, rukun warga, rukun tetangga, dan mampu mengurus rumah tangga sendiri. Akan tetapi, ada pula orang yang jangankan mengurus rumah tangga, apalagi negara, mengurus diri sendiri saja tidak mampu. Padahal waktu yang tersedia selama sehari semalam sama jumlahnya dengan yang mampu mengurus urusan yang diserahkan padanya.

Dalam kehidupan ini, ada sebagian orang yang menghabiskan waktunya untuk hanya beradu gengsi tanpa mengukir prestasi. Ada yang menggunakan waktunya sekadar mengurus penampilan kendatipun sangat miskin keterampilan. Tidak jarang kita mendengar manusia yang sering sekali mengeluarkan pernyataan padahal tidak pernah menampilkan kenyataan. Model yang begini ini disebut NATO (no action, talk only).

Ada orang yang memaksimalkan waktunya berjuang untuk menjalankan kegiatan yang amat produktif dan positif, serta memberi manfaat di tengah masyarakat. Mereka biasanya memadatkan waktunya dengan berbagai karya nyata. Namun, di sisi lain ada pula orang yang sudah merasa cukup hidup dengan apa adanya. Asal kebutuhan dasar sudah terpenuhi, selesai semua urusan. Bahkan tidak jarang dijumpai mereka yang hidupnya hanya pasrah dan terkungkung dengan perasaan pesimistis, tidak berbuat apa-apa, tidak mau bergerak dan berusaha. Mereka menghabiskan waktunya untuk hal yang sisa-sia. Biasanya yang seperti ini akan mejadi beban keluarga dan orang lain.

Di antara kita ada orang yang menghabiskan waktunya dengan menjalani kehidupan yang keras, berdiri tegak menghadapi berbagai rintangan dengan segala risiko yang ada di tangan. Apakah dia gagal atau berhasil dalam menggunakan waktu yang seperti ini, penilaian orang hanya satu, dia adalah pemberani. Di sisi lain, ada pula model manusia yang memilih hidup mengalir saja, tenang, santai bagaikan pantai di pagi yang sejuk. Gaya seperti ini biasanya lebih disukai mereka yang tidak memiliki jiwa pejuang.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/