alexametrics
23.9 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Satu Pohon Sejuta Potensi dan Harapan

Mobile_AP_Rectangle 1

SEORANG bijak pernah berkata, “ketika pohon terakhir ditebang, barulah manusia menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.” Kalimat tersebut mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga kelestarian pepohonan.

Pohon yang tumbuh di hutan maupun di sekitar kita memiliki peranan yang sangat penting di dalam kehidupan. Polutan hasil pembakaran dan aktivitas manusia yang bertebaran di udara akan diserap dan disaring oleh pohon. Sebagai gantinya, pohon akan menghasilkan oksigen sebagai sumber napas dalam kehidupan kita. Pohon juga berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi manusia dan hewan. Beberapa jenis pohon tertentu hampir setiap bagiannya dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi. Buahnya, daunnya, batangnya, bahkan kulit dan akarnya pun dapat dimanfaatkan. Pohon jenis tertentu bahkan dapat digunakan sebagai ramuan tradisional untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Berkurangnya pohon berarti juga berkurangnya sumber nutrisi bagi kita. Pohon juga berfungsi sebagai tempat bernaung. Beberapa jenis hewan dan bahkan manusia pada suku-suku tertentu memanfaatkan keberadaan pohon sebagai rumah tempat mereka berlindung.

Pada zaman modern ini, pohon memiliki peranan yang lebih krusial lagi, yaitu sebagai pencegah kerusakan iklim. Global warming bukan lagi sebagai sebuah isu, namun fakta yang harus kita hadapi dan kita carikan solusi. Global warming terjadi akibat polusi gas karbondioksida dari bahan bakar yang digunakan manusia dalam berbagai aktivitasnya. Polusi gas karbondioksida inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya efek rumah kaca. Efek rumah kaca membuat panas matahari menjadi tertahan dan suhu bumi menjadi meningkat. Hal ini diperparah dengan adanya penggundulan hutan di berbagai belahan bumi. Padahal, pepohonan memiliki kemampuan untuk menyerap gas karbondioksida.

Mobile_AP_Rectangle 2

Untuk meningkatkan semangat dalam menanam dan melestarikan pohon, maka setiap tanggal 10 Januari masyarakat dari seluruh belahan dunia memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon Sedunia. Berbicara tentang kerusakan lingkungan, tidak perlu banyak selebrasi, namun kita perlu segera beraksi. Menanam pohon bisa dimulai dari keluarga kita dengan menjadikan menanam pohon sebagai budi pekerti yang diwariskan secara turun-temurun. Dimulai dari menanam di halaman rumah dan berlanjut pada semangat menghijaukan hutan.

Berbicara tentang pohon, tidak bisa lepas kaitannya dengan hutan. Apalagi, Indonesia merupakan negara yang terkenal sebagai paru-paru dunia. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa deforestasi di Indonesia pada tahun 2020 sebesar 115,46 ribu hektare. Angka tersebut turun kurang lebih 75,03 persen dibandingkan deforestasi tahun 2019 yang mencapai 462,46 ribu hektare. Angka deforestasi ini merupakan angka deforestasi netto, yaitu angka deforestasi bruto yang sudah dikurangi dengan angka reforestasi. Hasil pantauan hutan Indonesia 2020 juga menunjukkan bahwa luas lahan berhutan seluruh daratan Indonesia adalah 95,60 juta hektare. Sekitar 50,90 persen dari total daratan. Di mana 92,50 persen dari total luas berhutan tersebut atau 88,4 juta hektare berada di dalam kawasan hutan. Sebaran deforestasi netto paling besar terjadi di Pulau Kalimantan, yaitu 41,50 ribu hektare (sekitar 35,90 persen dari total deforestasi netto Indonesia) diikuti oleh Kepulauan Bali dan Nusa Tenggara sebesar 21.3 ribu hektare. Secara umum, dalam lima tahun terakhir laju deforestasi netto Indonesia menunjukkan tren yang menurun.

- Advertisement -

SEORANG bijak pernah berkata, “ketika pohon terakhir ditebang, barulah manusia menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.” Kalimat tersebut mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga kelestarian pepohonan.

Pohon yang tumbuh di hutan maupun di sekitar kita memiliki peranan yang sangat penting di dalam kehidupan. Polutan hasil pembakaran dan aktivitas manusia yang bertebaran di udara akan diserap dan disaring oleh pohon. Sebagai gantinya, pohon akan menghasilkan oksigen sebagai sumber napas dalam kehidupan kita. Pohon juga berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi manusia dan hewan. Beberapa jenis pohon tertentu hampir setiap bagiannya dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi. Buahnya, daunnya, batangnya, bahkan kulit dan akarnya pun dapat dimanfaatkan. Pohon jenis tertentu bahkan dapat digunakan sebagai ramuan tradisional untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Berkurangnya pohon berarti juga berkurangnya sumber nutrisi bagi kita. Pohon juga berfungsi sebagai tempat bernaung. Beberapa jenis hewan dan bahkan manusia pada suku-suku tertentu memanfaatkan keberadaan pohon sebagai rumah tempat mereka berlindung.

Pada zaman modern ini, pohon memiliki peranan yang lebih krusial lagi, yaitu sebagai pencegah kerusakan iklim. Global warming bukan lagi sebagai sebuah isu, namun fakta yang harus kita hadapi dan kita carikan solusi. Global warming terjadi akibat polusi gas karbondioksida dari bahan bakar yang digunakan manusia dalam berbagai aktivitasnya. Polusi gas karbondioksida inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya efek rumah kaca. Efek rumah kaca membuat panas matahari menjadi tertahan dan suhu bumi menjadi meningkat. Hal ini diperparah dengan adanya penggundulan hutan di berbagai belahan bumi. Padahal, pepohonan memiliki kemampuan untuk menyerap gas karbondioksida.

Untuk meningkatkan semangat dalam menanam dan melestarikan pohon, maka setiap tanggal 10 Januari masyarakat dari seluruh belahan dunia memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon Sedunia. Berbicara tentang kerusakan lingkungan, tidak perlu banyak selebrasi, namun kita perlu segera beraksi. Menanam pohon bisa dimulai dari keluarga kita dengan menjadikan menanam pohon sebagai budi pekerti yang diwariskan secara turun-temurun. Dimulai dari menanam di halaman rumah dan berlanjut pada semangat menghijaukan hutan.

Berbicara tentang pohon, tidak bisa lepas kaitannya dengan hutan. Apalagi, Indonesia merupakan negara yang terkenal sebagai paru-paru dunia. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa deforestasi di Indonesia pada tahun 2020 sebesar 115,46 ribu hektare. Angka tersebut turun kurang lebih 75,03 persen dibandingkan deforestasi tahun 2019 yang mencapai 462,46 ribu hektare. Angka deforestasi ini merupakan angka deforestasi netto, yaitu angka deforestasi bruto yang sudah dikurangi dengan angka reforestasi. Hasil pantauan hutan Indonesia 2020 juga menunjukkan bahwa luas lahan berhutan seluruh daratan Indonesia adalah 95,60 juta hektare. Sekitar 50,90 persen dari total daratan. Di mana 92,50 persen dari total luas berhutan tersebut atau 88,4 juta hektare berada di dalam kawasan hutan. Sebaran deforestasi netto paling besar terjadi di Pulau Kalimantan, yaitu 41,50 ribu hektare (sekitar 35,90 persen dari total deforestasi netto Indonesia) diikuti oleh Kepulauan Bali dan Nusa Tenggara sebesar 21.3 ribu hektare. Secara umum, dalam lima tahun terakhir laju deforestasi netto Indonesia menunjukkan tren yang menurun.

SEORANG bijak pernah berkata, “ketika pohon terakhir ditebang, barulah manusia menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.” Kalimat tersebut mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga kelestarian pepohonan.

Pohon yang tumbuh di hutan maupun di sekitar kita memiliki peranan yang sangat penting di dalam kehidupan. Polutan hasil pembakaran dan aktivitas manusia yang bertebaran di udara akan diserap dan disaring oleh pohon. Sebagai gantinya, pohon akan menghasilkan oksigen sebagai sumber napas dalam kehidupan kita. Pohon juga berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi manusia dan hewan. Beberapa jenis pohon tertentu hampir setiap bagiannya dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi. Buahnya, daunnya, batangnya, bahkan kulit dan akarnya pun dapat dimanfaatkan. Pohon jenis tertentu bahkan dapat digunakan sebagai ramuan tradisional untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Berkurangnya pohon berarti juga berkurangnya sumber nutrisi bagi kita. Pohon juga berfungsi sebagai tempat bernaung. Beberapa jenis hewan dan bahkan manusia pada suku-suku tertentu memanfaatkan keberadaan pohon sebagai rumah tempat mereka berlindung.

Pada zaman modern ini, pohon memiliki peranan yang lebih krusial lagi, yaitu sebagai pencegah kerusakan iklim. Global warming bukan lagi sebagai sebuah isu, namun fakta yang harus kita hadapi dan kita carikan solusi. Global warming terjadi akibat polusi gas karbondioksida dari bahan bakar yang digunakan manusia dalam berbagai aktivitasnya. Polusi gas karbondioksida inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya efek rumah kaca. Efek rumah kaca membuat panas matahari menjadi tertahan dan suhu bumi menjadi meningkat. Hal ini diperparah dengan adanya penggundulan hutan di berbagai belahan bumi. Padahal, pepohonan memiliki kemampuan untuk menyerap gas karbondioksida.

Untuk meningkatkan semangat dalam menanam dan melestarikan pohon, maka setiap tanggal 10 Januari masyarakat dari seluruh belahan dunia memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon Sedunia. Berbicara tentang kerusakan lingkungan, tidak perlu banyak selebrasi, namun kita perlu segera beraksi. Menanam pohon bisa dimulai dari keluarga kita dengan menjadikan menanam pohon sebagai budi pekerti yang diwariskan secara turun-temurun. Dimulai dari menanam di halaman rumah dan berlanjut pada semangat menghijaukan hutan.

Berbicara tentang pohon, tidak bisa lepas kaitannya dengan hutan. Apalagi, Indonesia merupakan negara yang terkenal sebagai paru-paru dunia. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa deforestasi di Indonesia pada tahun 2020 sebesar 115,46 ribu hektare. Angka tersebut turun kurang lebih 75,03 persen dibandingkan deforestasi tahun 2019 yang mencapai 462,46 ribu hektare. Angka deforestasi ini merupakan angka deforestasi netto, yaitu angka deforestasi bruto yang sudah dikurangi dengan angka reforestasi. Hasil pantauan hutan Indonesia 2020 juga menunjukkan bahwa luas lahan berhutan seluruh daratan Indonesia adalah 95,60 juta hektare. Sekitar 50,90 persen dari total daratan. Di mana 92,50 persen dari total luas berhutan tersebut atau 88,4 juta hektare berada di dalam kawasan hutan. Sebaran deforestasi netto paling besar terjadi di Pulau Kalimantan, yaitu 41,50 ribu hektare (sekitar 35,90 persen dari total deforestasi netto Indonesia) diikuti oleh Kepulauan Bali dan Nusa Tenggara sebesar 21.3 ribu hektare. Secara umum, dalam lima tahun terakhir laju deforestasi netto Indonesia menunjukkan tren yang menurun.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/