alexametrics
21.9 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Belanja, Geliat Ekonomi dan Ideologi Lingkungan

Mobile_AP_Rectangle 1

Masih ingat global warming? Pemanasan global karena suhu bumi yang semakin meningkat. Hal tersebut merupakan suatu proses dengan tanda-tanda naiknya suhu atmosfer, laut, dan daratan. Suhu rata-rata global pada permukaan bumi telah melonjak 0.74 ± 0.18 derajat Celsius (1.33 ± 0.32 derajat Fahrenheit) dalam seratus tahun terakhir. Faktor-faktor yang menjadi penyebab adalah emisi gas rumah kaca, konsumsi rumah tangga, dan produksi massal yang telah menempatkan tekanan terhadap bumi dan bisa merusak sumber daya alam untuk generasi masa depan (Reisch et al., 2021). Terjadi perubahan iklim yang drastis, bencana alam kenaikan suhu, pandemi (Covid-19), kebakaran, banjir, angin topan, dan tsunami, berkurangnya ketahanan sistem lingkungan. Dengan demikian, gerakan untuk meninjau kembali mengubah pola produksi, konsumsi, dan perilaku yang ada menjadi lebih berkelanjutan, bersih, dan sadar lingkungan (Reisch et al., 2021).

Konsumsi rumah tangga sendiri menyumbang hampir 60 persen dari emisi pemanasan global, termasuk 50–80 persen penggunaan sumber daya alam (Reisch et al., 2021). Faktor besar lain adalah produksi masal. Produksi modern tidak bisa kita hindari kecepatan yang selalu ditambahkan para pengusaha bahkan sekarang metode yang lagi digunakan adalah berdasarkan respon cepat dan filosofi Just-in-Time, persaingan berbasis waktu dan siklus hidup produk yang pendek bersama dengan ketersediaan informasi dan pilihan mudah yang lebih lanjut mengubah prilaku konsumen meningkatkan nafsu untuk selalu menambah berbagai produk dan layanan, yang akhirnya akan berpindah bermuara ke tempat pembuangan akhir, yaitu sampah (Rafi-Ul-Shan et al., 2018).

Besarnya produksi modern menggiring masyarakat saat ini bergeser ke arah konsumerisme. Konsumerisme menurut KBBI adalah gerakan atau paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya; gaya hidup yang tidak hemat. Tujuan menata ulang metode demi kenyamanan konsumen, dengan iklan-iklan berseliweran dan mengajak kita melakukan tindakan pembelian besar-besaran. Belum lagi pinjaman-pinjaman online menawarkan pinjaman tanpa syarat atau agunan, dengan kemudahan bertransaksi peminjaman. Kemudahan bertransaksi secara global yang ditandai dengan besarnya arus barang dan jasa, produksi barang internasional, dan meningkatnya transaksi penjualan terutama transaksi online.

Mobile_AP_Rectangle 2

Salah satu proses konsumerisme dilakukan dengan pembelian besar-besaran saat momen besar masyarakat. Hajatan kawinan, sunatan, peringatan kematian, Lebaran, Natal, dan berbagai kegiatan masyarakat. Belanja akan memberikan geliat perekonomian membaik, nampak dengan ramainya beberapa sektor usaha. Geliat pembelanjaan, transportasi, wisata, fashion baru, produk-produk makanan dengan kemasan plastik atau kaleng, produk makanan ringan, produk-produk minuman mulai dari kemasan saset menjadi laris di pasaran. Geliat perekonomian pascapandemi Covid-19 terasa menyenangkan. Masyarakat telah menikmati kegembiraan di berbagai perbelanjaan baik di dunia nyata ataupun dunia maya. Proses pembelian yang besar seperti kita ketahui bersama tidak hanya pada saat Lebaran. Perayaan tahun baru, Natal, dan berbagai kegiatan masyarakat seperti pernikahan, khitanan, dan perayaan-perayaan lain memberi potensi konsumerisme.

Secara literatur proses pembelian ini dapat menjadi model yang berguna untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pendapatan melalui pertumbuhan ekonomi, namun juga sebagai model yang membawa individualisme dan kesenjangan yang tinggi (Aulenbacher et al., 2018). Masyarakat berbelanja menjadi proses pertumbuhan ekonomi dan membawa perekonomian ke arah yang meningkatkan perputaran ekonomi. Tapi apa efek terhadap alam tentunya butuh kita cermati. Sebagai konsumen harus mulai menyadari dampak lingkungan dari tindakan pembelian baik barang atau jasa.

Beberapa perkembangan terakhir sudah mulai menjadi tren tindakan konsumen dapat memilih untuk menghindari membeli produk yang tidak sesuai dengan ideologi lingkungan mereka (Golob dan Kronegger, 2019). Ideologi lingkungan adalah cerminan cara berpikir orang atau masyarakat yang sekaligus membentuknya menuju cita-citanya tentang kelestarian lingkungan. Masyarakat mengedepankan konservasi sumber daya alam dan menjaganya. Kampanye tentang lingkungan membentuk konsumen peduli lingkungan memberi dampak positif sehingga bisnis mulai mengikuti fokus pada produksi berkelanjutan melalui bahan dan inisiatif berkelanjutan yang bersandar ramah lingkungan. Mulai lebih peduli terhadap limbah dan selalu memproduksi serta mempromosikan produk-produk ramah lingkungan. Bisnis memang memperhitungkan keinginan konsumen, apabila konsumen memiliki kesadaran tinggi terhadap isu-isu lingkungan maka produsen mengikuti dengan produksi-produksi ramah lingkungan. Bisnis memperhitungkan keinginan konsumen melihat dampak lingkungan. Konsumsi berkelanjutan mencakup berbagai perilaku dan jenis konsumsi yang berbeda (Akehurst et al., 2012)

Pengusaha-pengusaha saat ini juga telah sibuk memberikan citra kepedulian terhadap lingkungan dengan memberikan produk-produk ramah lingkungan atau memberikan sebagian dana mereka ke dalam program-program peduli lingkungan. Sebuah gerakan yang bagus akan memberikan bumi memiliki napas lebih panjang. Tentunya para konsumen sebagai target pasar memiliki kemampuan memilih menolak dan menghindari produk yang tidak sesuai dengan kaidah pelestarian alam. Tidak melulu terpancing iklan yang memang bertujuan menginternalisasi motif membeli. Konsumen saat ini dapat menjadi dirigen agar tindakan konsumerisme melangkah kepada ideologi lingkungan. Memandu pelaku pasar lebih membumi dan peduli terhadap alam sebagai sumber daya yang harus dijaga semua manusia di dunia. Memberi ruang potensial kepada publik atau pebisnis yang bergerak untuk memanfaatkan kembali sampah menjadi produk recylcle layak guna sebagai wujud pelestarian lingkungan.

- Advertisement -

Masih ingat global warming? Pemanasan global karena suhu bumi yang semakin meningkat. Hal tersebut merupakan suatu proses dengan tanda-tanda naiknya suhu atmosfer, laut, dan daratan. Suhu rata-rata global pada permukaan bumi telah melonjak 0.74 ± 0.18 derajat Celsius (1.33 ± 0.32 derajat Fahrenheit) dalam seratus tahun terakhir. Faktor-faktor yang menjadi penyebab adalah emisi gas rumah kaca, konsumsi rumah tangga, dan produksi massal yang telah menempatkan tekanan terhadap bumi dan bisa merusak sumber daya alam untuk generasi masa depan (Reisch et al., 2021). Terjadi perubahan iklim yang drastis, bencana alam kenaikan suhu, pandemi (Covid-19), kebakaran, banjir, angin topan, dan tsunami, berkurangnya ketahanan sistem lingkungan. Dengan demikian, gerakan untuk meninjau kembali mengubah pola produksi, konsumsi, dan perilaku yang ada menjadi lebih berkelanjutan, bersih, dan sadar lingkungan (Reisch et al., 2021).

Konsumsi rumah tangga sendiri menyumbang hampir 60 persen dari emisi pemanasan global, termasuk 50–80 persen penggunaan sumber daya alam (Reisch et al., 2021). Faktor besar lain adalah produksi masal. Produksi modern tidak bisa kita hindari kecepatan yang selalu ditambahkan para pengusaha bahkan sekarang metode yang lagi digunakan adalah berdasarkan respon cepat dan filosofi Just-in-Time, persaingan berbasis waktu dan siklus hidup produk yang pendek bersama dengan ketersediaan informasi dan pilihan mudah yang lebih lanjut mengubah prilaku konsumen meningkatkan nafsu untuk selalu menambah berbagai produk dan layanan, yang akhirnya akan berpindah bermuara ke tempat pembuangan akhir, yaitu sampah (Rafi-Ul-Shan et al., 2018).

Besarnya produksi modern menggiring masyarakat saat ini bergeser ke arah konsumerisme. Konsumerisme menurut KBBI adalah gerakan atau paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya; gaya hidup yang tidak hemat. Tujuan menata ulang metode demi kenyamanan konsumen, dengan iklan-iklan berseliweran dan mengajak kita melakukan tindakan pembelian besar-besaran. Belum lagi pinjaman-pinjaman online menawarkan pinjaman tanpa syarat atau agunan, dengan kemudahan bertransaksi peminjaman. Kemudahan bertransaksi secara global yang ditandai dengan besarnya arus barang dan jasa, produksi barang internasional, dan meningkatnya transaksi penjualan terutama transaksi online.

Salah satu proses konsumerisme dilakukan dengan pembelian besar-besaran saat momen besar masyarakat. Hajatan kawinan, sunatan, peringatan kematian, Lebaran, Natal, dan berbagai kegiatan masyarakat. Belanja akan memberikan geliat perekonomian membaik, nampak dengan ramainya beberapa sektor usaha. Geliat pembelanjaan, transportasi, wisata, fashion baru, produk-produk makanan dengan kemasan plastik atau kaleng, produk makanan ringan, produk-produk minuman mulai dari kemasan saset menjadi laris di pasaran. Geliat perekonomian pascapandemi Covid-19 terasa menyenangkan. Masyarakat telah menikmati kegembiraan di berbagai perbelanjaan baik di dunia nyata ataupun dunia maya. Proses pembelian yang besar seperti kita ketahui bersama tidak hanya pada saat Lebaran. Perayaan tahun baru, Natal, dan berbagai kegiatan masyarakat seperti pernikahan, khitanan, dan perayaan-perayaan lain memberi potensi konsumerisme.

Secara literatur proses pembelian ini dapat menjadi model yang berguna untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pendapatan melalui pertumbuhan ekonomi, namun juga sebagai model yang membawa individualisme dan kesenjangan yang tinggi (Aulenbacher et al., 2018). Masyarakat berbelanja menjadi proses pertumbuhan ekonomi dan membawa perekonomian ke arah yang meningkatkan perputaran ekonomi. Tapi apa efek terhadap alam tentunya butuh kita cermati. Sebagai konsumen harus mulai menyadari dampak lingkungan dari tindakan pembelian baik barang atau jasa.

Beberapa perkembangan terakhir sudah mulai menjadi tren tindakan konsumen dapat memilih untuk menghindari membeli produk yang tidak sesuai dengan ideologi lingkungan mereka (Golob dan Kronegger, 2019). Ideologi lingkungan adalah cerminan cara berpikir orang atau masyarakat yang sekaligus membentuknya menuju cita-citanya tentang kelestarian lingkungan. Masyarakat mengedepankan konservasi sumber daya alam dan menjaganya. Kampanye tentang lingkungan membentuk konsumen peduli lingkungan memberi dampak positif sehingga bisnis mulai mengikuti fokus pada produksi berkelanjutan melalui bahan dan inisiatif berkelanjutan yang bersandar ramah lingkungan. Mulai lebih peduli terhadap limbah dan selalu memproduksi serta mempromosikan produk-produk ramah lingkungan. Bisnis memang memperhitungkan keinginan konsumen, apabila konsumen memiliki kesadaran tinggi terhadap isu-isu lingkungan maka produsen mengikuti dengan produksi-produksi ramah lingkungan. Bisnis memperhitungkan keinginan konsumen melihat dampak lingkungan. Konsumsi berkelanjutan mencakup berbagai perilaku dan jenis konsumsi yang berbeda (Akehurst et al., 2012)

Pengusaha-pengusaha saat ini juga telah sibuk memberikan citra kepedulian terhadap lingkungan dengan memberikan produk-produk ramah lingkungan atau memberikan sebagian dana mereka ke dalam program-program peduli lingkungan. Sebuah gerakan yang bagus akan memberikan bumi memiliki napas lebih panjang. Tentunya para konsumen sebagai target pasar memiliki kemampuan memilih menolak dan menghindari produk yang tidak sesuai dengan kaidah pelestarian alam. Tidak melulu terpancing iklan yang memang bertujuan menginternalisasi motif membeli. Konsumen saat ini dapat menjadi dirigen agar tindakan konsumerisme melangkah kepada ideologi lingkungan. Memandu pelaku pasar lebih membumi dan peduli terhadap alam sebagai sumber daya yang harus dijaga semua manusia di dunia. Memberi ruang potensial kepada publik atau pebisnis yang bergerak untuk memanfaatkan kembali sampah menjadi produk recylcle layak guna sebagai wujud pelestarian lingkungan.

Masih ingat global warming? Pemanasan global karena suhu bumi yang semakin meningkat. Hal tersebut merupakan suatu proses dengan tanda-tanda naiknya suhu atmosfer, laut, dan daratan. Suhu rata-rata global pada permukaan bumi telah melonjak 0.74 ± 0.18 derajat Celsius (1.33 ± 0.32 derajat Fahrenheit) dalam seratus tahun terakhir. Faktor-faktor yang menjadi penyebab adalah emisi gas rumah kaca, konsumsi rumah tangga, dan produksi massal yang telah menempatkan tekanan terhadap bumi dan bisa merusak sumber daya alam untuk generasi masa depan (Reisch et al., 2021). Terjadi perubahan iklim yang drastis, bencana alam kenaikan suhu, pandemi (Covid-19), kebakaran, banjir, angin topan, dan tsunami, berkurangnya ketahanan sistem lingkungan. Dengan demikian, gerakan untuk meninjau kembali mengubah pola produksi, konsumsi, dan perilaku yang ada menjadi lebih berkelanjutan, bersih, dan sadar lingkungan (Reisch et al., 2021).

Konsumsi rumah tangga sendiri menyumbang hampir 60 persen dari emisi pemanasan global, termasuk 50–80 persen penggunaan sumber daya alam (Reisch et al., 2021). Faktor besar lain adalah produksi masal. Produksi modern tidak bisa kita hindari kecepatan yang selalu ditambahkan para pengusaha bahkan sekarang metode yang lagi digunakan adalah berdasarkan respon cepat dan filosofi Just-in-Time, persaingan berbasis waktu dan siklus hidup produk yang pendek bersama dengan ketersediaan informasi dan pilihan mudah yang lebih lanjut mengubah prilaku konsumen meningkatkan nafsu untuk selalu menambah berbagai produk dan layanan, yang akhirnya akan berpindah bermuara ke tempat pembuangan akhir, yaitu sampah (Rafi-Ul-Shan et al., 2018).

Besarnya produksi modern menggiring masyarakat saat ini bergeser ke arah konsumerisme. Konsumerisme menurut KBBI adalah gerakan atau paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya; gaya hidup yang tidak hemat. Tujuan menata ulang metode demi kenyamanan konsumen, dengan iklan-iklan berseliweran dan mengajak kita melakukan tindakan pembelian besar-besaran. Belum lagi pinjaman-pinjaman online menawarkan pinjaman tanpa syarat atau agunan, dengan kemudahan bertransaksi peminjaman. Kemudahan bertransaksi secara global yang ditandai dengan besarnya arus barang dan jasa, produksi barang internasional, dan meningkatnya transaksi penjualan terutama transaksi online.

Salah satu proses konsumerisme dilakukan dengan pembelian besar-besaran saat momen besar masyarakat. Hajatan kawinan, sunatan, peringatan kematian, Lebaran, Natal, dan berbagai kegiatan masyarakat. Belanja akan memberikan geliat perekonomian membaik, nampak dengan ramainya beberapa sektor usaha. Geliat pembelanjaan, transportasi, wisata, fashion baru, produk-produk makanan dengan kemasan plastik atau kaleng, produk makanan ringan, produk-produk minuman mulai dari kemasan saset menjadi laris di pasaran. Geliat perekonomian pascapandemi Covid-19 terasa menyenangkan. Masyarakat telah menikmati kegembiraan di berbagai perbelanjaan baik di dunia nyata ataupun dunia maya. Proses pembelian yang besar seperti kita ketahui bersama tidak hanya pada saat Lebaran. Perayaan tahun baru, Natal, dan berbagai kegiatan masyarakat seperti pernikahan, khitanan, dan perayaan-perayaan lain memberi potensi konsumerisme.

Secara literatur proses pembelian ini dapat menjadi model yang berguna untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pendapatan melalui pertumbuhan ekonomi, namun juga sebagai model yang membawa individualisme dan kesenjangan yang tinggi (Aulenbacher et al., 2018). Masyarakat berbelanja menjadi proses pertumbuhan ekonomi dan membawa perekonomian ke arah yang meningkatkan perputaran ekonomi. Tapi apa efek terhadap alam tentunya butuh kita cermati. Sebagai konsumen harus mulai menyadari dampak lingkungan dari tindakan pembelian baik barang atau jasa.

Beberapa perkembangan terakhir sudah mulai menjadi tren tindakan konsumen dapat memilih untuk menghindari membeli produk yang tidak sesuai dengan ideologi lingkungan mereka (Golob dan Kronegger, 2019). Ideologi lingkungan adalah cerminan cara berpikir orang atau masyarakat yang sekaligus membentuknya menuju cita-citanya tentang kelestarian lingkungan. Masyarakat mengedepankan konservasi sumber daya alam dan menjaganya. Kampanye tentang lingkungan membentuk konsumen peduli lingkungan memberi dampak positif sehingga bisnis mulai mengikuti fokus pada produksi berkelanjutan melalui bahan dan inisiatif berkelanjutan yang bersandar ramah lingkungan. Mulai lebih peduli terhadap limbah dan selalu memproduksi serta mempromosikan produk-produk ramah lingkungan. Bisnis memang memperhitungkan keinginan konsumen, apabila konsumen memiliki kesadaran tinggi terhadap isu-isu lingkungan maka produsen mengikuti dengan produksi-produksi ramah lingkungan. Bisnis memperhitungkan keinginan konsumen melihat dampak lingkungan. Konsumsi berkelanjutan mencakup berbagai perilaku dan jenis konsumsi yang berbeda (Akehurst et al., 2012)

Pengusaha-pengusaha saat ini juga telah sibuk memberikan citra kepedulian terhadap lingkungan dengan memberikan produk-produk ramah lingkungan atau memberikan sebagian dana mereka ke dalam program-program peduli lingkungan. Sebuah gerakan yang bagus akan memberikan bumi memiliki napas lebih panjang. Tentunya para konsumen sebagai target pasar memiliki kemampuan memilih menolak dan menghindari produk yang tidak sesuai dengan kaidah pelestarian alam. Tidak melulu terpancing iklan yang memang bertujuan menginternalisasi motif membeli. Konsumen saat ini dapat menjadi dirigen agar tindakan konsumerisme melangkah kepada ideologi lingkungan. Memandu pelaku pasar lebih membumi dan peduli terhadap alam sebagai sumber daya yang harus dijaga semua manusia di dunia. Memberi ruang potensial kepada publik atau pebisnis yang bergerak untuk memanfaatkan kembali sampah menjadi produk recylcle layak guna sebagai wujud pelestarian lingkungan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/