Menggapai Puncak Kenikmatan Ibadah puasa

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa hari ke depan puasa Ramadan tahun ini (1442H/2021M) akan segera “rampung”. Kita akan meninggalkan ibadah yang sangat istimewa yaitu ibadah yang Allah katakan bahwa “puasa itu untuk-Ku dan Aku yang mengurus pahalanya“ (Hadis).

Puasa Ramadan wajib bagi umat Islam yang beriman sebagaimana perintah Allah dalam Alquran Surah Al Baqarah (183). Dengan mengedepankan pikiran positif, dari sisi ritual, kita seharusnya yakin bahwa puasa Ramadan yang kita kerjakan dengan penuh keimanan dan keikhlasan sudah sesuai dengan syarat rukun yang harus dipenuhi, sehingga Insya Allah, kita tergolong manusia yang bertakwa. Bagaimana dengan sisi yang lain yaitu sisi kemanusiaan, dampak sosial atau pesan moral yang harus tersampaikan kepada masyarakat di sekitar kita? Seperti yang telah kita pahami bahwa setiap ajaran Islam selalu memiliki dua dimensi yang harus berjalan bersama-sama: dimensi ritual dan dimensi sosial (pesan moral).

Dalam Alquran dikatakan bahwa “mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah (dimensi ritual) dan tali (perjanjian) dengan manusia (dimensi sosial) (QS. 3:112). Bahkan dimensi yang kedua menjadi penentu baik buruknya kualitas dimensi ritual kita. Idealnya, umat Islam harus mampu merawat dua dimensi tersebut pada setiap langkah kehidupannya.

Tulisan ini mengajak melihat kembali sejauh mana dimensi sosial atau pesan moral ibadah puasa dapat tersampaikan kepada sesama makhluk Allah. Ketika kita hanya mampu memenuhi syarat dan ketentuan puasa Ramadan secara ritual, tetapi merusak pesan moral di tengah masyarakat, maka puasa kita hanyalah mendapatkan lapar dan dahaga. Begitulah yang dipesankan oleh Rasulullah SAW. Sangat penting bagi kita bahwa pesan moral ibadah puasa harus dipertahankan di luar bulan Ramadan.

Pesan moral yang pertama adalah merawat kesabaran. Yaitu bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak pahala puasa. Bahkan andai kita diajak bertengkar atau kita diolok-olok oleh orang lain, kita diminta tetap bersabar serta berkata “saya sedang berpuasa” (Hadis).

Pendidikan bersabar ini harus tetap kita jaga selepas bulan Ramadan. Jangan sampai begitu Ramadan berlalu, pergi pulalah kesabaran dalam diri kita. Kita sabar menghadapi berbagai karakter tetangga, kerabat, serta sahabat. Pemimpin sabar menghadapi keberagaman (dalam arti luas) orang-orang yang di bawah kepemimpinannya. Bawahan sabar menghadapi atasan yang terkadang tidak mau menerima masukan. Suami-istri saling sabar menghadapi persoalan hidup. Orang tua sabar menghadapi putra putrinya yang sering agak sulit diarahkan. Anak-anak sabar menghadapi orang tua yang kemauannya sering berbeda dengan kemauan anak. Bersabar bukan berarti pasrah tanpa usaha karena di dalam Islam sabar harus sejalan dengan usaha maksimal untuk mengatasi persoalan. Setelah usaha maksimal, hasilnya kita terima dengan penuh kesabaran.

Kejujuran adalah pesan moral kedua yang perlu kita pertahankan selepas bulan Ramadan. Saat bulan Ramadan, umat Islam betul-betul dididik untuk menjadi orang jujur. Tidak makan dan minum walau sedang sendirian, karena yakin bahwa dirinya diawasi Allah yang Maha Mengetahui. Begitu juga seharusnya di luar bulan Ramadan. Kita harus terus berusaha memelihara keyakinan bahwa semua yang kita kerjakan, baik yang tampak atau yang tidak tampak, baru berupa niat misalnya, pasti diketahui oleh Allah. Ketika keyakinan ini menghunjam di hati, kejujuran akan menjadi pakaian indah kehidupan kita.

Orang yang yakin bahwa dirinya selalu diawasi Tuhan, akan selalu memegang amanah yang dititipkan. Orang bisa berbohong kepada siapa pun, tetapi tidak akan pernah bisa berbohong pada Tuhan dan hati nuraninya atau diri sendiri. Pesan Nabi, “hendaklah kamu selalu jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa ke dalam surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).