alexametrics
23.9 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Panjang Umur Seni-senian

Mobile_AP_Rectangle 1

Panjang umur di sini sulit untuk dimaknai secara harafiah saja agar sehat sentosa, bahagia dan panjang umur, ini juga tidak berkaitan dengan ulang tahun, ter-ulang tahun, atau hanya mengulang tahun-tahun sebelumnya. Memangnya tahun-tahun sebelumnya seperti apa? Semoga seperti seharusnya agar menjadi sehat sentosa, bahagia, dan panjang umur.

University Collage London (UCL) menyebutkan dalam penelitiannya jika orang yang bekerja maupun beraktivitas kesenian memiliki risiko kematian 14 persen lebih rendah dibanding orang-orang yang sama sekali tidak pernah melakukan aktivitas kesenian. Beruntunglah kita sebagai masyarakat seni, panjang umur seni-senian dan senimannya.

Kenapa seni-senian? Sampean ndak serius, ya? Kita coba kaji bersama satu per satu. Konotasi kata ulang dengan akhiran “-an” dalam setiap kata selalu menjadi penggambaran tidak seriusnya objek penyebut di situ. Piring-piringan, sendok-sendokan, dewan-dewanan, berarti itu bukan piring sungguhan, itu bukan sendok sungguhan, itu bukan dewan sungguhan, jadi mohon bersabar dan jangan sensi. Jika ada yang sensi tentang “an-an” lainnya, berarti kita lupa caranya bersua di secangkir kopi robusta.  Seni-senian biarkan panjang umur dengan segala perjalanannya yang juga menghantarkan Anda, kalian dan siapa pun untuk tertarik membaca tulisan saya ini, meskipun terkadang saya lelah untuk mencari definisi seni itu sendiri. Ada yang bisa membantu mungkin?

Mobile_AP_Rectangle 2

Sepelik apa pun kesenian atau seni-senian sekalipun adalah sesuatu yang tidak bisa kita ukur, timbang, takar, atau menyeragamkan persepsi agar semua menjadi sepakat. Sebagaimana pun usaha adalah keikhlasan yang sudah dilakukan agar kesenian tetap mampu menjadi suar seluruh masyarakat kesenian maupun umum di Kabupaten tercinta ini. Semua harus sepakat, “lho kok?”

Delapan tahun lalu saya meninggalkan Jember untuk menimba ilmu ke kota sebelah, sebelahnya lagi agak jauh tepatnya, di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dua tahun lalu saya kembali ke kabupaten tercinta ini dengan banyak cita-cita luhur yang saya bawa. Cuman ternyata saya tidak seluhur dengan cita-cita kesenian di sini. Semua orang punya cita-cita dan berhak untuk memperjuangkan cita-citanya. Akan menjadi aneh ketika cita-cita tersebut dipaksakan kepada yang lain dan menganggap yang tidak sepaham dengan hal tersebut adalah hama padi. Saya yakin pelangi itu lebih indah jika warnanya berbeda-beda dan tidak saling menenggelamkan antarwarna tersebut. Tapi, saya tidak tahu juga karena saya tidak memahami bahasa antarpelangi maupun bahasa pelangi kepada awan setelah hujan. Menjadi puitis juga sebenarnya bukan keahlian saya.

Atas nama kesenian, semua dirasa menjadi sangat pelik dan karut-marut, sebagai pendatang baru. Hal demikian membuat saya cukup salting (keasinan) untuk terus bergerak dan membentuk support system sendiri dengan koridor besar bernama kesenian, yang nantinya segala hal tersebut akan bermuara kepada masyarakat itu sendiri. Lantas, siapa dan cita-cita seperti apa yang dirasa berhak dan pantas untuk kembali membentuk sebuah ruang pengelolaan dan lembaga kesenian agar segala hal tentang kesenian mampu tersusun rapi dan terstruktur dengan tata kelola yang baik.

Apakah sepakat ketika saya berpendapat jika semua itu adalah manifestasi dari pengalaman mental dan estetika yang akhirnya kita tuangkan semua ke dalam bentuk lain melalui tulisan, musik, gambar, sajak, gerak juga ideologi yang memaksa untuk berkata “iya”. Kembali lagi ke paragraf 3 saja.

ASSALAMUALAIKUM BAPAK

- Advertisement -

Panjang umur di sini sulit untuk dimaknai secara harafiah saja agar sehat sentosa, bahagia dan panjang umur, ini juga tidak berkaitan dengan ulang tahun, ter-ulang tahun, atau hanya mengulang tahun-tahun sebelumnya. Memangnya tahun-tahun sebelumnya seperti apa? Semoga seperti seharusnya agar menjadi sehat sentosa, bahagia, dan panjang umur.

University Collage London (UCL) menyebutkan dalam penelitiannya jika orang yang bekerja maupun beraktivitas kesenian memiliki risiko kematian 14 persen lebih rendah dibanding orang-orang yang sama sekali tidak pernah melakukan aktivitas kesenian. Beruntunglah kita sebagai masyarakat seni, panjang umur seni-senian dan senimannya.

Kenapa seni-senian? Sampean ndak serius, ya? Kita coba kaji bersama satu per satu. Konotasi kata ulang dengan akhiran “-an” dalam setiap kata selalu menjadi penggambaran tidak seriusnya objek penyebut di situ. Piring-piringan, sendok-sendokan, dewan-dewanan, berarti itu bukan piring sungguhan, itu bukan sendok sungguhan, itu bukan dewan sungguhan, jadi mohon bersabar dan jangan sensi. Jika ada yang sensi tentang “an-an” lainnya, berarti kita lupa caranya bersua di secangkir kopi robusta.  Seni-senian biarkan panjang umur dengan segala perjalanannya yang juga menghantarkan Anda, kalian dan siapa pun untuk tertarik membaca tulisan saya ini, meskipun terkadang saya lelah untuk mencari definisi seni itu sendiri. Ada yang bisa membantu mungkin?

Sepelik apa pun kesenian atau seni-senian sekalipun adalah sesuatu yang tidak bisa kita ukur, timbang, takar, atau menyeragamkan persepsi agar semua menjadi sepakat. Sebagaimana pun usaha adalah keikhlasan yang sudah dilakukan agar kesenian tetap mampu menjadi suar seluruh masyarakat kesenian maupun umum di Kabupaten tercinta ini. Semua harus sepakat, “lho kok?”

Delapan tahun lalu saya meninggalkan Jember untuk menimba ilmu ke kota sebelah, sebelahnya lagi agak jauh tepatnya, di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dua tahun lalu saya kembali ke kabupaten tercinta ini dengan banyak cita-cita luhur yang saya bawa. Cuman ternyata saya tidak seluhur dengan cita-cita kesenian di sini. Semua orang punya cita-cita dan berhak untuk memperjuangkan cita-citanya. Akan menjadi aneh ketika cita-cita tersebut dipaksakan kepada yang lain dan menganggap yang tidak sepaham dengan hal tersebut adalah hama padi. Saya yakin pelangi itu lebih indah jika warnanya berbeda-beda dan tidak saling menenggelamkan antarwarna tersebut. Tapi, saya tidak tahu juga karena saya tidak memahami bahasa antarpelangi maupun bahasa pelangi kepada awan setelah hujan. Menjadi puitis juga sebenarnya bukan keahlian saya.

Atas nama kesenian, semua dirasa menjadi sangat pelik dan karut-marut, sebagai pendatang baru. Hal demikian membuat saya cukup salting (keasinan) untuk terus bergerak dan membentuk support system sendiri dengan koridor besar bernama kesenian, yang nantinya segala hal tersebut akan bermuara kepada masyarakat itu sendiri. Lantas, siapa dan cita-cita seperti apa yang dirasa berhak dan pantas untuk kembali membentuk sebuah ruang pengelolaan dan lembaga kesenian agar segala hal tentang kesenian mampu tersusun rapi dan terstruktur dengan tata kelola yang baik.

Apakah sepakat ketika saya berpendapat jika semua itu adalah manifestasi dari pengalaman mental dan estetika yang akhirnya kita tuangkan semua ke dalam bentuk lain melalui tulisan, musik, gambar, sajak, gerak juga ideologi yang memaksa untuk berkata “iya”. Kembali lagi ke paragraf 3 saja.

ASSALAMUALAIKUM BAPAK

Panjang umur di sini sulit untuk dimaknai secara harafiah saja agar sehat sentosa, bahagia dan panjang umur, ini juga tidak berkaitan dengan ulang tahun, ter-ulang tahun, atau hanya mengulang tahun-tahun sebelumnya. Memangnya tahun-tahun sebelumnya seperti apa? Semoga seperti seharusnya agar menjadi sehat sentosa, bahagia, dan panjang umur.

University Collage London (UCL) menyebutkan dalam penelitiannya jika orang yang bekerja maupun beraktivitas kesenian memiliki risiko kematian 14 persen lebih rendah dibanding orang-orang yang sama sekali tidak pernah melakukan aktivitas kesenian. Beruntunglah kita sebagai masyarakat seni, panjang umur seni-senian dan senimannya.

Kenapa seni-senian? Sampean ndak serius, ya? Kita coba kaji bersama satu per satu. Konotasi kata ulang dengan akhiran “-an” dalam setiap kata selalu menjadi penggambaran tidak seriusnya objek penyebut di situ. Piring-piringan, sendok-sendokan, dewan-dewanan, berarti itu bukan piring sungguhan, itu bukan sendok sungguhan, itu bukan dewan sungguhan, jadi mohon bersabar dan jangan sensi. Jika ada yang sensi tentang “an-an” lainnya, berarti kita lupa caranya bersua di secangkir kopi robusta.  Seni-senian biarkan panjang umur dengan segala perjalanannya yang juga menghantarkan Anda, kalian dan siapa pun untuk tertarik membaca tulisan saya ini, meskipun terkadang saya lelah untuk mencari definisi seni itu sendiri. Ada yang bisa membantu mungkin?

Sepelik apa pun kesenian atau seni-senian sekalipun adalah sesuatu yang tidak bisa kita ukur, timbang, takar, atau menyeragamkan persepsi agar semua menjadi sepakat. Sebagaimana pun usaha adalah keikhlasan yang sudah dilakukan agar kesenian tetap mampu menjadi suar seluruh masyarakat kesenian maupun umum di Kabupaten tercinta ini. Semua harus sepakat, “lho kok?”

Delapan tahun lalu saya meninggalkan Jember untuk menimba ilmu ke kota sebelah, sebelahnya lagi agak jauh tepatnya, di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dua tahun lalu saya kembali ke kabupaten tercinta ini dengan banyak cita-cita luhur yang saya bawa. Cuman ternyata saya tidak seluhur dengan cita-cita kesenian di sini. Semua orang punya cita-cita dan berhak untuk memperjuangkan cita-citanya. Akan menjadi aneh ketika cita-cita tersebut dipaksakan kepada yang lain dan menganggap yang tidak sepaham dengan hal tersebut adalah hama padi. Saya yakin pelangi itu lebih indah jika warnanya berbeda-beda dan tidak saling menenggelamkan antarwarna tersebut. Tapi, saya tidak tahu juga karena saya tidak memahami bahasa antarpelangi maupun bahasa pelangi kepada awan setelah hujan. Menjadi puitis juga sebenarnya bukan keahlian saya.

Atas nama kesenian, semua dirasa menjadi sangat pelik dan karut-marut, sebagai pendatang baru. Hal demikian membuat saya cukup salting (keasinan) untuk terus bergerak dan membentuk support system sendiri dengan koridor besar bernama kesenian, yang nantinya segala hal tersebut akan bermuara kepada masyarakat itu sendiri. Lantas, siapa dan cita-cita seperti apa yang dirasa berhak dan pantas untuk kembali membentuk sebuah ruang pengelolaan dan lembaga kesenian agar segala hal tentang kesenian mampu tersusun rapi dan terstruktur dengan tata kelola yang baik.

Apakah sepakat ketika saya berpendapat jika semua itu adalah manifestasi dari pengalaman mental dan estetika yang akhirnya kita tuangkan semua ke dalam bentuk lain melalui tulisan, musik, gambar, sajak, gerak juga ideologi yang memaksa untuk berkata “iya”. Kembali lagi ke paragraf 3 saja.

ASSALAMUALAIKUM BAPAK

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/