alexametrics
27.1 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Meneguhkan Akar Kebangsaan

Mobile_AP_Rectangle 1

Bulan Agustus merupakan bulan yang sacral bagi bangsa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia telah dikumandangkan 77 tahun silam oleh Proklamator kita atas nama bangsa Indonesia Soekarno-Hatta. Pertanyaan yang sering muncul dibenak kita, sudahkah kematangan kita dalam berbangsa dan bernegara selama 77 tahun telah sesuai dengan cita-cita para founding fathers?  Apakah setiap peringatan Hari Proklamasi telah membawa dampak moral bagi segenap komponen bangsa? Atau masihkah kita terjebak dalam peringatan-peringatan rutinitas belaka tanpa dampak moral yang nyata?

Masih hangat peringatan Hari Koperasi, 31 Juli, yang dirayakan diseluruh penjuru negeri dengan berbagai jenis acara. Semoga berbagai kegiatan yang digelar itu merupakan alat untuk meneguhkan kualitas berkoperasi kita. Kegiatan acara itu seharusnya bukanlah tujuan dari makna sebuah peringatan. Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 (UUD Negara RI 1945) sebagai landasan konstitusional telah menjelaskan dalam Pasal 33 ayat (1) bahwa, Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Badan hukum yang tepat mengemban amanah itu adalah Koperasi sebagai mana diatur dalam UU Nomor 25 Tahun 1992  tentang Perkoperasian. Perlu diingat bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 28/PUU-XI/2013, UU Nomor 17 Tahun 2012 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dan untuk sementara waktu sampai dengan terbentuknya Undang-Undang yang baru, berlaku kembali UU Nomor 25 Tahun 1992. Ciri utama koperasi adalah mengutamakan kumpulan orang dan kolektivisme.

Konsep modal sosial dalam jati diri koperasi inilah mencerminkan kondisi rakyat Indonesia yang telah memiliki tradisi gotong royong. Implementasinya adalah badan hukum yang memiliki label koperasi wajib sifatnya menerapkan rasa saling percaya antarindividu maupun antarkelompok (trust), pranata sosial (institution), dan jaringan sosial (network). Sudah selayaknya di usia Indonesia yang 77 tahun ini kehadiran koperasi harus mengayomi anggotanya, meneduhkan semua pihak dan memberikan manfaat kepada anggotanya dan berfungsi keadilan bagi masyarakat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia kali ini strategis karena berada di ujung terbukanya masa pandemi Covid-19 meski masih diintai dengan varian baru. Euforia masyarakat terkadang tidak terkontrol karena lama terkungkung dengan berbagai pembatasan. Sementara, kondisi ekonomi harus terus diperjuangkan untuk mampu bangkit. Sekali lagi masyarakat perlu disadarkan atas makna sebuah peringatan kemerdekaan negaranya. Bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh atas perjuangan panjang dan pengorbanan para pahlawan dan rakyat Indonesia. Sepanjang perjalanan sejarah bangsa Indonesia mengalami pasang surut dan kondisi serta tuntutan yang berbeda sesuai dengan zamannya.

Bangsa Indonesia menanggapi dinamika itu dengan kesamaan nilai-nilai perjuangan bangsa yang dilandasi oleh jiwa, tekad, dan semangat sehingga menjadi kuat yang mampu mendorong proses terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semangat perjuangan bangsa Indonesia yang tak kenal menyerah merupakan kekuatan mental spiritual yang dapat melahirkan sikap dan perilaku heroik dan patriotik yang harus dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia. Nilai-nilai perjuangan bangsa tersebut masih relevan dalam memecahkan setiap permasalahan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sudah terbukti keandalannya.

Nilai-nilai inilah yang harus dipertahankan dan dilestarikan melalui makna setiap peringatan mulai hal-hal yang mendasar. Saat ini perintah pengibaran bendera merah putih oleh pemerintah tidak lagi diikuti dengan sungguh-sungguh oleh masyarakat. Di sana-sini masih terlihat masyarakat yang abai. Selain tidak ada pihak yang berfungsi mengingatkan secara langsung, bendera merah putih tidak dimaknai sebagai kebutuhan mereka atas peneguhan akar kebangsaan. Semuanya seakan-akan lupa bahwa untuk mengibarkan bendera merah putih di masa prakemerdekaan membutuhkan pengorbanan jiwa dan raga yang luar biasa.

- Advertisement -

Bulan Agustus merupakan bulan yang sacral bagi bangsa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia telah dikumandangkan 77 tahun silam oleh Proklamator kita atas nama bangsa Indonesia Soekarno-Hatta. Pertanyaan yang sering muncul dibenak kita, sudahkah kematangan kita dalam berbangsa dan bernegara selama 77 tahun telah sesuai dengan cita-cita para founding fathers?  Apakah setiap peringatan Hari Proklamasi telah membawa dampak moral bagi segenap komponen bangsa? Atau masihkah kita terjebak dalam peringatan-peringatan rutinitas belaka tanpa dampak moral yang nyata?

Masih hangat peringatan Hari Koperasi, 31 Juli, yang dirayakan diseluruh penjuru negeri dengan berbagai jenis acara. Semoga berbagai kegiatan yang digelar itu merupakan alat untuk meneguhkan kualitas berkoperasi kita. Kegiatan acara itu seharusnya bukanlah tujuan dari makna sebuah peringatan. Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 (UUD Negara RI 1945) sebagai landasan konstitusional telah menjelaskan dalam Pasal 33 ayat (1) bahwa, Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Badan hukum yang tepat mengemban amanah itu adalah Koperasi sebagai mana diatur dalam UU Nomor 25 Tahun 1992  tentang Perkoperasian. Perlu diingat bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 28/PUU-XI/2013, UU Nomor 17 Tahun 2012 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dan untuk sementara waktu sampai dengan terbentuknya Undang-Undang yang baru, berlaku kembali UU Nomor 25 Tahun 1992. Ciri utama koperasi adalah mengutamakan kumpulan orang dan kolektivisme.

Konsep modal sosial dalam jati diri koperasi inilah mencerminkan kondisi rakyat Indonesia yang telah memiliki tradisi gotong royong. Implementasinya adalah badan hukum yang memiliki label koperasi wajib sifatnya menerapkan rasa saling percaya antarindividu maupun antarkelompok (trust), pranata sosial (institution), dan jaringan sosial (network). Sudah selayaknya di usia Indonesia yang 77 tahun ini kehadiran koperasi harus mengayomi anggotanya, meneduhkan semua pihak dan memberikan manfaat kepada anggotanya dan berfungsi keadilan bagi masyarakat.

Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia kali ini strategis karena berada di ujung terbukanya masa pandemi Covid-19 meski masih diintai dengan varian baru. Euforia masyarakat terkadang tidak terkontrol karena lama terkungkung dengan berbagai pembatasan. Sementara, kondisi ekonomi harus terus diperjuangkan untuk mampu bangkit. Sekali lagi masyarakat perlu disadarkan atas makna sebuah peringatan kemerdekaan negaranya. Bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh atas perjuangan panjang dan pengorbanan para pahlawan dan rakyat Indonesia. Sepanjang perjalanan sejarah bangsa Indonesia mengalami pasang surut dan kondisi serta tuntutan yang berbeda sesuai dengan zamannya.

Bangsa Indonesia menanggapi dinamika itu dengan kesamaan nilai-nilai perjuangan bangsa yang dilandasi oleh jiwa, tekad, dan semangat sehingga menjadi kuat yang mampu mendorong proses terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semangat perjuangan bangsa Indonesia yang tak kenal menyerah merupakan kekuatan mental spiritual yang dapat melahirkan sikap dan perilaku heroik dan patriotik yang harus dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia. Nilai-nilai perjuangan bangsa tersebut masih relevan dalam memecahkan setiap permasalahan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sudah terbukti keandalannya.

Nilai-nilai inilah yang harus dipertahankan dan dilestarikan melalui makna setiap peringatan mulai hal-hal yang mendasar. Saat ini perintah pengibaran bendera merah putih oleh pemerintah tidak lagi diikuti dengan sungguh-sungguh oleh masyarakat. Di sana-sini masih terlihat masyarakat yang abai. Selain tidak ada pihak yang berfungsi mengingatkan secara langsung, bendera merah putih tidak dimaknai sebagai kebutuhan mereka atas peneguhan akar kebangsaan. Semuanya seakan-akan lupa bahwa untuk mengibarkan bendera merah putih di masa prakemerdekaan membutuhkan pengorbanan jiwa dan raga yang luar biasa.

Bulan Agustus merupakan bulan yang sacral bagi bangsa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia telah dikumandangkan 77 tahun silam oleh Proklamator kita atas nama bangsa Indonesia Soekarno-Hatta. Pertanyaan yang sering muncul dibenak kita, sudahkah kematangan kita dalam berbangsa dan bernegara selama 77 tahun telah sesuai dengan cita-cita para founding fathers?  Apakah setiap peringatan Hari Proklamasi telah membawa dampak moral bagi segenap komponen bangsa? Atau masihkah kita terjebak dalam peringatan-peringatan rutinitas belaka tanpa dampak moral yang nyata?

Masih hangat peringatan Hari Koperasi, 31 Juli, yang dirayakan diseluruh penjuru negeri dengan berbagai jenis acara. Semoga berbagai kegiatan yang digelar itu merupakan alat untuk meneguhkan kualitas berkoperasi kita. Kegiatan acara itu seharusnya bukanlah tujuan dari makna sebuah peringatan. Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 (UUD Negara RI 1945) sebagai landasan konstitusional telah menjelaskan dalam Pasal 33 ayat (1) bahwa, Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Badan hukum yang tepat mengemban amanah itu adalah Koperasi sebagai mana diatur dalam UU Nomor 25 Tahun 1992  tentang Perkoperasian. Perlu diingat bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 28/PUU-XI/2013, UU Nomor 17 Tahun 2012 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dan untuk sementara waktu sampai dengan terbentuknya Undang-Undang yang baru, berlaku kembali UU Nomor 25 Tahun 1992. Ciri utama koperasi adalah mengutamakan kumpulan orang dan kolektivisme.

Konsep modal sosial dalam jati diri koperasi inilah mencerminkan kondisi rakyat Indonesia yang telah memiliki tradisi gotong royong. Implementasinya adalah badan hukum yang memiliki label koperasi wajib sifatnya menerapkan rasa saling percaya antarindividu maupun antarkelompok (trust), pranata sosial (institution), dan jaringan sosial (network). Sudah selayaknya di usia Indonesia yang 77 tahun ini kehadiran koperasi harus mengayomi anggotanya, meneduhkan semua pihak dan memberikan manfaat kepada anggotanya dan berfungsi keadilan bagi masyarakat.

Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia kali ini strategis karena berada di ujung terbukanya masa pandemi Covid-19 meski masih diintai dengan varian baru. Euforia masyarakat terkadang tidak terkontrol karena lama terkungkung dengan berbagai pembatasan. Sementara, kondisi ekonomi harus terus diperjuangkan untuk mampu bangkit. Sekali lagi masyarakat perlu disadarkan atas makna sebuah peringatan kemerdekaan negaranya. Bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh atas perjuangan panjang dan pengorbanan para pahlawan dan rakyat Indonesia. Sepanjang perjalanan sejarah bangsa Indonesia mengalami pasang surut dan kondisi serta tuntutan yang berbeda sesuai dengan zamannya.

Bangsa Indonesia menanggapi dinamika itu dengan kesamaan nilai-nilai perjuangan bangsa yang dilandasi oleh jiwa, tekad, dan semangat sehingga menjadi kuat yang mampu mendorong proses terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semangat perjuangan bangsa Indonesia yang tak kenal menyerah merupakan kekuatan mental spiritual yang dapat melahirkan sikap dan perilaku heroik dan patriotik yang harus dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia. Nilai-nilai perjuangan bangsa tersebut masih relevan dalam memecahkan setiap permasalahan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang sudah terbukti keandalannya.

Nilai-nilai inilah yang harus dipertahankan dan dilestarikan melalui makna setiap peringatan mulai hal-hal yang mendasar. Saat ini perintah pengibaran bendera merah putih oleh pemerintah tidak lagi diikuti dengan sungguh-sungguh oleh masyarakat. Di sana-sini masih terlihat masyarakat yang abai. Selain tidak ada pihak yang berfungsi mengingatkan secara langsung, bendera merah putih tidak dimaknai sebagai kebutuhan mereka atas peneguhan akar kebangsaan. Semuanya seakan-akan lupa bahwa untuk mengibarkan bendera merah putih di masa prakemerdekaan membutuhkan pengorbanan jiwa dan raga yang luar biasa.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/