alexametrics
28.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Meretas Kritik di Bulan Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

Kritik adalah sebuah kata. Enak diucapkan tapi pahit untuk diterima. Apalagi ditelan. “Cinta” itu ringan diucapkan, bahkan semua orang memburunya. “Kritik” dan “cinta” adalah dua kata, beda pengucapan dan mengundang respons berseberangan. Namun orang lupa, ketika pujian menyesatkan dan kritik menyelamatkan. Kritik adalah mengingatkan. Siapa pun yang menerimanya.

Kritik itu beda dengan cacian. Caci maki membangun amarah, menyulut emosi, sementara kritik membuka ruang introspeksi. Kritik tentu saja bukan untuk menjatuhkan. Kritik dikemukakan atas dasar data, diformulasi dengan konsistensi logika, didukung dengan ragam pendekatan, disempurnakan dengan postulat yang maslahat, disampaikan dengan kesantunan, dilandasi dengan hati sebagai wujud rasa memiliki dan pikiran terang untuk menuntaskan persoalan. Dengan kata lain, kritik itu berakar dari cinta untuk membangun senyum bersama. Ketika kritik dan cinta diposisikan secara dikotomis, maka indikatornya ada pada neraca keseimbangan.

Betapa pentingnya kritik sebagai kontrol, masyarakat internasional pernah dibuat terkejut ketika Greenpeace, LSM internasional di bidang lingkungan hidup beroperasi juga atas ‘sokongan’ dana pemerintah Amerika. Sepanjang sejarah, Greenpeace sangat berani melakukan kritik terhadap berbagai negara yang tidak ramah lingkungan. Termasuk Amerika sebagai adidaya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Adi daya merasa butuh kritik yang secara fungsional untuk membangun keseimbangan kebijakan. Adi daya memahami bahwa kritik adalah energi mempertahankan hegemoni sehingga ada eksternal warning yang menuntut perhatian bersama untuk mengikis friksi internal. Bahkan ruang kritik bisa jadi wahana membangun simpati dan dukungan karena otoritas merasa tidak benar sendiri. Dengan demikian, maka membuka keran kritik adalah strategi teoritis guna menjaga establishment otoritas. Bahkan tidak berlebihan jika kritik juga merupakan metode menjaga kelanggengan kapitalisme.

Sekitar tahun 1997, buruh perusahaan retail ternama di tanah air pernah dibuat takjub dengan strategi brand manajer asing di perusahaannya. Sebelum menduduki kursi menjalankan rutinitasnya, sang manajer turun dan keliling menghampiri penanggung jawab masing-masing divisi di lingkungan perusahaan dengan tegur sapa menggali kritik untuk kelancaran operasional. ‘Apa kritik, saran dan masukan untuk saya sebagai manajer pagi ini agar perusahaan ini terus berkembang? Kalimat itu diucapkan ringan sembari senyum menghiasi sang manajer setiap pagi.

Perilaku manajer yang notabene orang asing adalah teladan bahwa mendengar itu penting. Menggali saran masukan, juga kritik dirasa sangat bermanfaat guna membangun rasa memiliki dari keluarga besar perusahaan. Cuma satu yang dibutuhkan, keberanian untuk mendengar.

Mendengar adalah aksi perilaku yang tidak semua orang mau dan mampu menjalani. Budaya ‘to show’ cenderung membangun panggung bagi penepuk dada. Aku benar, engkau salah. Dalam konteks birokrasi akan menutup pintu kritik. Kritik adalah indikasi tidak loyal dan harus dipinggirkan. Otoritas menjadi ringan tangan menebar ketakutan. Pada gilirannya tercipta iklim loyalitas sebatas formalitas. Miskin kemerdekaan berekspresi dan pendapat menjadi terdistorsi.

Jika budaya semacam ini merambah dalam dunia pendidikan tinggi maka tradisi beda pendapat menjadi mati suri. Perguruan tinggi menjadi sunyi. Persemaian tesa dan antitesa menjadi sebatas mimpi. Bahkan bisa jadi banyak ilmuwan baper ketika terjadi silang pendapat dengan mahasiswa. Melahirkan kebencian dalam forum akademik karena kritik sebagai wujud beda pendapat ditakar dalam ukuran yang subjektif dan sesat nalar.

- Advertisement -

Kritik adalah sebuah kata. Enak diucapkan tapi pahit untuk diterima. Apalagi ditelan. “Cinta” itu ringan diucapkan, bahkan semua orang memburunya. “Kritik” dan “cinta” adalah dua kata, beda pengucapan dan mengundang respons berseberangan. Namun orang lupa, ketika pujian menyesatkan dan kritik menyelamatkan. Kritik adalah mengingatkan. Siapa pun yang menerimanya.

Kritik itu beda dengan cacian. Caci maki membangun amarah, menyulut emosi, sementara kritik membuka ruang introspeksi. Kritik tentu saja bukan untuk menjatuhkan. Kritik dikemukakan atas dasar data, diformulasi dengan konsistensi logika, didukung dengan ragam pendekatan, disempurnakan dengan postulat yang maslahat, disampaikan dengan kesantunan, dilandasi dengan hati sebagai wujud rasa memiliki dan pikiran terang untuk menuntaskan persoalan. Dengan kata lain, kritik itu berakar dari cinta untuk membangun senyum bersama. Ketika kritik dan cinta diposisikan secara dikotomis, maka indikatornya ada pada neraca keseimbangan.

Betapa pentingnya kritik sebagai kontrol, masyarakat internasional pernah dibuat terkejut ketika Greenpeace, LSM internasional di bidang lingkungan hidup beroperasi juga atas ‘sokongan’ dana pemerintah Amerika. Sepanjang sejarah, Greenpeace sangat berani melakukan kritik terhadap berbagai negara yang tidak ramah lingkungan. Termasuk Amerika sebagai adidaya.

Adi daya merasa butuh kritik yang secara fungsional untuk membangun keseimbangan kebijakan. Adi daya memahami bahwa kritik adalah energi mempertahankan hegemoni sehingga ada eksternal warning yang menuntut perhatian bersama untuk mengikis friksi internal. Bahkan ruang kritik bisa jadi wahana membangun simpati dan dukungan karena otoritas merasa tidak benar sendiri. Dengan demikian, maka membuka keran kritik adalah strategi teoritis guna menjaga establishment otoritas. Bahkan tidak berlebihan jika kritik juga merupakan metode menjaga kelanggengan kapitalisme.

Sekitar tahun 1997, buruh perusahaan retail ternama di tanah air pernah dibuat takjub dengan strategi brand manajer asing di perusahaannya. Sebelum menduduki kursi menjalankan rutinitasnya, sang manajer turun dan keliling menghampiri penanggung jawab masing-masing divisi di lingkungan perusahaan dengan tegur sapa menggali kritik untuk kelancaran operasional. ‘Apa kritik, saran dan masukan untuk saya sebagai manajer pagi ini agar perusahaan ini terus berkembang? Kalimat itu diucapkan ringan sembari senyum menghiasi sang manajer setiap pagi.

Perilaku manajer yang notabene orang asing adalah teladan bahwa mendengar itu penting. Menggali saran masukan, juga kritik dirasa sangat bermanfaat guna membangun rasa memiliki dari keluarga besar perusahaan. Cuma satu yang dibutuhkan, keberanian untuk mendengar.

Mendengar adalah aksi perilaku yang tidak semua orang mau dan mampu menjalani. Budaya ‘to show’ cenderung membangun panggung bagi penepuk dada. Aku benar, engkau salah. Dalam konteks birokrasi akan menutup pintu kritik. Kritik adalah indikasi tidak loyal dan harus dipinggirkan. Otoritas menjadi ringan tangan menebar ketakutan. Pada gilirannya tercipta iklim loyalitas sebatas formalitas. Miskin kemerdekaan berekspresi dan pendapat menjadi terdistorsi.

Jika budaya semacam ini merambah dalam dunia pendidikan tinggi maka tradisi beda pendapat menjadi mati suri. Perguruan tinggi menjadi sunyi. Persemaian tesa dan antitesa menjadi sebatas mimpi. Bahkan bisa jadi banyak ilmuwan baper ketika terjadi silang pendapat dengan mahasiswa. Melahirkan kebencian dalam forum akademik karena kritik sebagai wujud beda pendapat ditakar dalam ukuran yang subjektif dan sesat nalar.

Kritik adalah sebuah kata. Enak diucapkan tapi pahit untuk diterima. Apalagi ditelan. “Cinta” itu ringan diucapkan, bahkan semua orang memburunya. “Kritik” dan “cinta” adalah dua kata, beda pengucapan dan mengundang respons berseberangan. Namun orang lupa, ketika pujian menyesatkan dan kritik menyelamatkan. Kritik adalah mengingatkan. Siapa pun yang menerimanya.

Kritik itu beda dengan cacian. Caci maki membangun amarah, menyulut emosi, sementara kritik membuka ruang introspeksi. Kritik tentu saja bukan untuk menjatuhkan. Kritik dikemukakan atas dasar data, diformulasi dengan konsistensi logika, didukung dengan ragam pendekatan, disempurnakan dengan postulat yang maslahat, disampaikan dengan kesantunan, dilandasi dengan hati sebagai wujud rasa memiliki dan pikiran terang untuk menuntaskan persoalan. Dengan kata lain, kritik itu berakar dari cinta untuk membangun senyum bersama. Ketika kritik dan cinta diposisikan secara dikotomis, maka indikatornya ada pada neraca keseimbangan.

Betapa pentingnya kritik sebagai kontrol, masyarakat internasional pernah dibuat terkejut ketika Greenpeace, LSM internasional di bidang lingkungan hidup beroperasi juga atas ‘sokongan’ dana pemerintah Amerika. Sepanjang sejarah, Greenpeace sangat berani melakukan kritik terhadap berbagai negara yang tidak ramah lingkungan. Termasuk Amerika sebagai adidaya.

Adi daya merasa butuh kritik yang secara fungsional untuk membangun keseimbangan kebijakan. Adi daya memahami bahwa kritik adalah energi mempertahankan hegemoni sehingga ada eksternal warning yang menuntut perhatian bersama untuk mengikis friksi internal. Bahkan ruang kritik bisa jadi wahana membangun simpati dan dukungan karena otoritas merasa tidak benar sendiri. Dengan demikian, maka membuka keran kritik adalah strategi teoritis guna menjaga establishment otoritas. Bahkan tidak berlebihan jika kritik juga merupakan metode menjaga kelanggengan kapitalisme.

Sekitar tahun 1997, buruh perusahaan retail ternama di tanah air pernah dibuat takjub dengan strategi brand manajer asing di perusahaannya. Sebelum menduduki kursi menjalankan rutinitasnya, sang manajer turun dan keliling menghampiri penanggung jawab masing-masing divisi di lingkungan perusahaan dengan tegur sapa menggali kritik untuk kelancaran operasional. ‘Apa kritik, saran dan masukan untuk saya sebagai manajer pagi ini agar perusahaan ini terus berkembang? Kalimat itu diucapkan ringan sembari senyum menghiasi sang manajer setiap pagi.

Perilaku manajer yang notabene orang asing adalah teladan bahwa mendengar itu penting. Menggali saran masukan, juga kritik dirasa sangat bermanfaat guna membangun rasa memiliki dari keluarga besar perusahaan. Cuma satu yang dibutuhkan, keberanian untuk mendengar.

Mendengar adalah aksi perilaku yang tidak semua orang mau dan mampu menjalani. Budaya ‘to show’ cenderung membangun panggung bagi penepuk dada. Aku benar, engkau salah. Dalam konteks birokrasi akan menutup pintu kritik. Kritik adalah indikasi tidak loyal dan harus dipinggirkan. Otoritas menjadi ringan tangan menebar ketakutan. Pada gilirannya tercipta iklim loyalitas sebatas formalitas. Miskin kemerdekaan berekspresi dan pendapat menjadi terdistorsi.

Jika budaya semacam ini merambah dalam dunia pendidikan tinggi maka tradisi beda pendapat menjadi mati suri. Perguruan tinggi menjadi sunyi. Persemaian tesa dan antitesa menjadi sebatas mimpi. Bahkan bisa jadi banyak ilmuwan baper ketika terjadi silang pendapat dengan mahasiswa. Melahirkan kebencian dalam forum akademik karena kritik sebagai wujud beda pendapat ditakar dalam ukuran yang subjektif dan sesat nalar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/