Tanggap Perubahan Iklim, Selamatkan Nyawa Bedadung

Oleh : Fariz Kustiawan Alfarisy, SP

BUMI adalah media berlangsungnya kehidupan manusia dan seisinya. Saat ini bumi sedang memasuki masa ketidaknormalan. Isu pemanasan global atau global warming dalam istilah bahasa Inggris telah diperbincangkan dunia dan sampai saat ini pelik untuk dipecahkan. Pemanasan global merupakan kejadian naiknya suhu di bumi sehingga memicu timbulnya bencana kekeringan. Peningkatan suhu dipengaruhi oleh jumlah gas karbondioksida (CO2) yang lebih dominan dibandingkan dengan jumlah gas oksigen (O2).

IKLAN

Sungai Bedadung merupakan tumpuan dan harapan masyarakat Kabupaten Jember. Menurut Badan Pusat Statistik Jember Dalam Angka menyebutkan bahwa Sungai Bedadung memiliki panjang 92.752 meter dengan memiliki kapasitas mengaliri sawah sebesar 93.000 hektar. Peruntukan air dari sungai mulai dari bidang pertanian, jasa air minum oleh PDAM, peternakan, kebutuhan domestik dan industri. Realitanya setiap musim kemarau Sungai Bedadung tidak mengalirkan air tetapi mengalirkan sisa sampah plastik.

Musim kemarau pada tahun 2019 diprediksi akan lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan terjadinya fenomena El Nino yang bersamaan dengan datangnya musim kemarau. El Nino adalah peristiwa meningkatnya suhu di lautan samudra pasifik. Fenomena tersebut ditandai dengan menurunnya jumlah curah hujan sehingga produksi air akan berkurang. Pasalnya kondisi demikian akan mengancam irigasi dalam mengairi sawah.

Berdasarkan data ekstrim perubahan iklim yang dikutip dari laman website Badan Meteorologi dan Geofisika bahwa peningkatan suhu rata-rata pada Bulan Juni terakhir tahun 2019 tercatat 26 derajat Celsius untuk area Jawa Timur. Suhu akan mengalami kenaikan sebesar 1-1,25 derajat Celcius. Secara klimatologis wilayah Indonesia memiliki 407 pola iklim yang terbagi menjadi 342 pola Zona Musim (ZOM) dan 65 pola Non Zona Musim (Non ZOM). Musim kemarau diprediksi akan terjadi pada Bulan Agustus 2019 sebanyak 233 ZOM dengan nilai sebanding (68.1 persen). Pemetaan sifat hujan musim pada musim kemarau 2019 di Jawa Timur bahwa Kabupaten Jember termasuk dalam kategori BN (Bawah Normal).

Ketika Sungai Bedadung mengalami kekeringan maka masyarakat Jember harus melakukan pengehematan air untuk bertahan hidup. Kawasan hulu ditetapkan sebagai daerah konservasi tangakapan air hujan untuk bisa dialirkan ke hilir. Secara fakta, kondisi hulu Bedadung saat ini kian mengenaskan tidak dengan air tetapi penuh dengan sampah. Parahnya jumlah luasan hutan dari tahun ke tahun semakin menurun.

Perubahan tata guna lahan hutan menjadi area ladang dan persawahan di Jember kian meningkat. Jumlah air di daerah aliran sungai sangat bergantung dengan kondisi musim. Pada saat musim kemarau ditandai dengan menurunnya jumlah debit air. Sedangkan pada musim hujan sering terjadi banjir. Melihat dari kondisi kedua musim tersebut seyogyanya masyarakat turut sadar terhadap fenomena perubahan iklim.

Upaya mitigasi dikatakan sebagai restorasi ekosistem hutan. Konservasi hutan melalui mitigasi juga di atur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Adanya peraturan tersebut menjadi kontrol manusia dalam melakukan tindakan ekplorasi sumberdaya alam (hutan). Apabila hanya dilakukan ekplorasi dan tidak melakukan konservasi maka berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup merujuk pada Pasal 1 poin ke 18 bahwa segala aktivitas yang berkaitan dengan perubahan iklim baik yang diakibatkan secara langsung maupun tidak langsung oleh aktivitas manusia maka diperlukan pemantauan dan pengelolaan.

Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai-Lingkungan Hutan (2013) mencatat bahwa daerah kawasan hutan di hulu Sungai Bedadung mengalami perubahan. Pada tahun 2009 hutan lahan kering berjumlah 1.057,02 hektar dan naik menjadi 4.909,02 hektar pada tahun 2012. Sedangkan pada tahun 2017 terjadi penurunan secara signifikan menjadi 11,72 hektar. Hingga kondisi saat ini Sungai Bedadung mempunyai tutupan lahan non hutan sebesar 37,37 hektar. Berdasarkan hal tersebut indikatif rehabilitasi hutan lindung (RHL) di Sungai Bedadung seluas 360,24 hektar. Maka diperlukan optimasi pengelolaan hutan sehingga dapat mengembalikan fungsi hutan sebagai daerah tangkapan hujan. Contoh upaya mitigasi dalam pengelolaan hutan yaitu dengan menerapkan sistem agroforestri.

Agroforestri merupakan optimalisasi hutan dikombinasikan dengan pertanian. Contoh tanaman kopi dengan pohon jati. Kegiatan bercocok tanam tersebut petani masih bisa merasakan manfaatnya baik hasil panen kopi serta hasil menanam pohon yang tidak bisa dinilai secara ekonomi tetapi ternilai oleh jasa lingkungan. Manfaat yang diperoleh dari menerapkan sistem agroforestri, pertama meningkatkan daerah tangkapan hujan, kedua berkontribusi dalam produksi oksigen dunia, ketiga mengurangi laju erosi, dan keempat sebagai kesetimbangan iklim makro mikro.

Adaptasi bagi masyarakat dengan adanya bencana kekeringan bisa menggunakan biopori atau sumur resapan. Pembuatan biopori tidak membutuhkan biaya besar serta mudah dilakukan. Pembuatannya cukup dengan membuat lubang tanah sedalam tiga meter dan diisi dengan limbah sayur atau pertanian. Ketika terjadi hujan maka air memenuhi lubang dan mempercepat proses dekomposisi. Hasil dekomposisi akan memperkuat ikatan partikel tanah sehingga air tertahan.

Prinsip dalam upaya sedini mungkin sama halnya dengan peribahasa “sedia payung sebelum hujan”. Persamaanya adalah jangan menunggu bencana kekeringan terjadi masyarakat akan membuat biopori. Buatlah dari detik ini untuk adaptasi dalam menghadapi kekeringan di masa mendatang. Hasil penelitian oleh Hesti, Tri Diyah, dan Sri Suhasti (2015) bahwa RW 016 Patrang, Kelurahan Patrang telah menerapkan pembuatan biopori sebagai tempat penyerapan air.

Peran pemerintah sangat penting sebagai upaya pemantauan dan pengendali. Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai dan Lingkungan Hutan dapat mengajak masyarakat hulu untuk melakukan reboisasi. kegiatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan daerah tangkapan air hujan. Sedangkan untuk Perum. Perhutani adalah merencanakan dan mengelola perlindungan hutan terhadap gangguan ekosistem hutan. Konsolidasi antar lembaga pemerintahan sangat diharapkan untuk mewujudkan ekosistem selaras dan setimbang.

*) penulis adalah mahasiswa Pengelolaan Sumberdaya Air Pertanian, Pascasarjana Universitas Jember.

Reporter :

Fotografer :

Editor :