alexametrics
26.5 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Terorisme dan  Kritisisme

Mobile_AP_Rectangle 1

Kembali sebentar dengan namanya Hari Pancasila. Sudah satu bulan kemarin peringatan Hari Lahir Pancasila, berarti juga telah satu bulan kita merayakan kegembiraan atas damainya serta tenteramnya negeri ini. Namun, pada awal Juni kemarin yang masih senang-senangnya dengan Hari Lahir Pancasila juga dikejutkan dengan penangkapan pimpinan Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Baraja, yang pernah berafiliasi dengan kelompok teroris, Abu Bakar Baasyir, yang merupakan sahabat karibnya sempat terlibat dalam pengeboman pada 1985. Itu artinya rumah kita bernama Indonesia ini masih potensial kedodoran penjahat dan menuntut pengawasan intens—kita masih memiliki tantangan besar dalam merawat dan menjaga keutuhan negeri ini.

Dalam kasus yang kini tengah beredar luas, yang mula-mulanya sempat mencuat aksi konvoi “Kebangkitan Khilafah” di wilayah Cawang, Jakarta Timur, salah satu Amir Khilafatul Muslimin ini, Muhammad Abudan, mengklaim bahwa organisasinya itu berbeda dengan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Jika pengakuannya demikian, lantas mengapa ketika konvoi berlangsung banyak gambar-gambar bertuliskan Khilafah Solusi Tuntas Problematika Ummat (dan kalimat serupa lainnya)? Bukankah slogan-slogan ini tidak jauh berbeda dengan kelompok HTI tersebut?

Jika kita mencermati atribut-atribut yang dipakai, cara mereka menyebarkan paham,  kajian-kajian yang mereka sajian, bahkan hingga ideologi yang mereka imani—tidak jauh berbeda dengan kelompok lain seperti JI, NII, JAD, dan ISIS. Hanya saja pola dakwah Khilafatul Muslimin ini dipoles sedemikian rupa untuk menutupi visi misinya dengan mengaku bahwa “kami tidak bertentangan dengan Pancasila”. Yang perlu dicatat ideologi mereka ini adalah bahwa mereka berani mengkafirkan sistem negara yang tidak sesuai dengan pandangan mereka. Idealisasi pandangan yang konon paling benar dan di luar pandangnya adalah salah!

Mobile_AP_Rectangle 2

Sesuatu yang sudah kuno dan basi kalau berasumsi bahwa Pancasila tidak sesuai dengan agama! Seolah-olah kalau kita bernegara—itu berarti kita anti agama. Padahal agama dan negara (begitu sebaliknya) ini sudah bersuami istri sakinah mawaddah warahmah. Jelas ini akan merusak sumberdaya ideologis negara yang bernama Pancasila. Organisasi Khilafatul Muslimin ini masuk ke dalam ciri-ciri kelompok radikalisme, ekstremisme, dan konsumerisme, yang mencoba-gantikan Pancasila menjadi negara agama, maka, dapat kita pastikan bahwa kelompok ini berbahaya dan harus kita waspadai dan kalau perlu kita perangi gagasan-gagasannya!

Satu hal yang harus diperhatikan terhadap munculnya gejala terorisme ini yaitu generasi muda. Kita tidak menihilkan bahwa sebagian generasi muda rentang sekali tersengat ajaran terorisme sebab pemahaman agama mereka masih sangat dangkal dan terbatas. Sehingga alam pikiran mereka gampang tersusupi dan bahaya sekali jika doktrin terorisme mengakar dalam benaknya. Untuk itu kesadaran kritis sangat dibutuhkan—baik orang dewasa maupun muda—manakala kita dihadapkan pada ajaran dan doktrin yang mencoba membentur-benturkan Pancasila dengan agama.

Orang yang terperangkap ajaran terorisme pada dasarnya lemah dalam mencerna doktrin ajaran terorisme. Maka yang bakal terjadi, setelah mereka terperangkap dalam kubangan ajaran itu, nilai-nilai kritisisme dalam alam pikiran hilang dan imajinasi tidak mampu membedakan mana ajaran agama suci dan mana kejahatan berbasis agama yang ternodai.

Para korban itu terlampau patuh pada doktrin ajaran (atau aturan ideologi mereka) yang sebenarnya merusak sendi-sendi pokok ajaran agama dan, akibatnya, segala perintah ajaran terorisme itulah mereka imani secara buta. Adolf Eichmann, tokoh penting pengorganisasian holocaust (pembunuhan massal), ketika ditanya Hanna Arent mengapa mendeportasi orang-orang Yahudi di kamp konsentrasi Jerman terkait pembunuhan massal itu—menjawab bahwa ia melakukan semua itu dalam rangka menjalankan tugas.

- Advertisement -

Kembali sebentar dengan namanya Hari Pancasila. Sudah satu bulan kemarin peringatan Hari Lahir Pancasila, berarti juga telah satu bulan kita merayakan kegembiraan atas damainya serta tenteramnya negeri ini. Namun, pada awal Juni kemarin yang masih senang-senangnya dengan Hari Lahir Pancasila juga dikejutkan dengan penangkapan pimpinan Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Baraja, yang pernah berafiliasi dengan kelompok teroris, Abu Bakar Baasyir, yang merupakan sahabat karibnya sempat terlibat dalam pengeboman pada 1985. Itu artinya rumah kita bernama Indonesia ini masih potensial kedodoran penjahat dan menuntut pengawasan intens—kita masih memiliki tantangan besar dalam merawat dan menjaga keutuhan negeri ini.

Dalam kasus yang kini tengah beredar luas, yang mula-mulanya sempat mencuat aksi konvoi “Kebangkitan Khilafah” di wilayah Cawang, Jakarta Timur, salah satu Amir Khilafatul Muslimin ini, Muhammad Abudan, mengklaim bahwa organisasinya itu berbeda dengan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Jika pengakuannya demikian, lantas mengapa ketika konvoi berlangsung banyak gambar-gambar bertuliskan Khilafah Solusi Tuntas Problematika Ummat (dan kalimat serupa lainnya)? Bukankah slogan-slogan ini tidak jauh berbeda dengan kelompok HTI tersebut?

Jika kita mencermati atribut-atribut yang dipakai, cara mereka menyebarkan paham,  kajian-kajian yang mereka sajian, bahkan hingga ideologi yang mereka imani—tidak jauh berbeda dengan kelompok lain seperti JI, NII, JAD, dan ISIS. Hanya saja pola dakwah Khilafatul Muslimin ini dipoles sedemikian rupa untuk menutupi visi misinya dengan mengaku bahwa “kami tidak bertentangan dengan Pancasila”. Yang perlu dicatat ideologi mereka ini adalah bahwa mereka berani mengkafirkan sistem negara yang tidak sesuai dengan pandangan mereka. Idealisasi pandangan yang konon paling benar dan di luar pandangnya adalah salah!

Sesuatu yang sudah kuno dan basi kalau berasumsi bahwa Pancasila tidak sesuai dengan agama! Seolah-olah kalau kita bernegara—itu berarti kita anti agama. Padahal agama dan negara (begitu sebaliknya) ini sudah bersuami istri sakinah mawaddah warahmah. Jelas ini akan merusak sumberdaya ideologis negara yang bernama Pancasila. Organisasi Khilafatul Muslimin ini masuk ke dalam ciri-ciri kelompok radikalisme, ekstremisme, dan konsumerisme, yang mencoba-gantikan Pancasila menjadi negara agama, maka, dapat kita pastikan bahwa kelompok ini berbahaya dan harus kita waspadai dan kalau perlu kita perangi gagasan-gagasannya!

Satu hal yang harus diperhatikan terhadap munculnya gejala terorisme ini yaitu generasi muda. Kita tidak menihilkan bahwa sebagian generasi muda rentang sekali tersengat ajaran terorisme sebab pemahaman agama mereka masih sangat dangkal dan terbatas. Sehingga alam pikiran mereka gampang tersusupi dan bahaya sekali jika doktrin terorisme mengakar dalam benaknya. Untuk itu kesadaran kritis sangat dibutuhkan—baik orang dewasa maupun muda—manakala kita dihadapkan pada ajaran dan doktrin yang mencoba membentur-benturkan Pancasila dengan agama.

Orang yang terperangkap ajaran terorisme pada dasarnya lemah dalam mencerna doktrin ajaran terorisme. Maka yang bakal terjadi, setelah mereka terperangkap dalam kubangan ajaran itu, nilai-nilai kritisisme dalam alam pikiran hilang dan imajinasi tidak mampu membedakan mana ajaran agama suci dan mana kejahatan berbasis agama yang ternodai.

Para korban itu terlampau patuh pada doktrin ajaran (atau aturan ideologi mereka) yang sebenarnya merusak sendi-sendi pokok ajaran agama dan, akibatnya, segala perintah ajaran terorisme itulah mereka imani secara buta. Adolf Eichmann, tokoh penting pengorganisasian holocaust (pembunuhan massal), ketika ditanya Hanna Arent mengapa mendeportasi orang-orang Yahudi di kamp konsentrasi Jerman terkait pembunuhan massal itu—menjawab bahwa ia melakukan semua itu dalam rangka menjalankan tugas.

Kembali sebentar dengan namanya Hari Pancasila. Sudah satu bulan kemarin peringatan Hari Lahir Pancasila, berarti juga telah satu bulan kita merayakan kegembiraan atas damainya serta tenteramnya negeri ini. Namun, pada awal Juni kemarin yang masih senang-senangnya dengan Hari Lahir Pancasila juga dikejutkan dengan penangkapan pimpinan Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Baraja, yang pernah berafiliasi dengan kelompok teroris, Abu Bakar Baasyir, yang merupakan sahabat karibnya sempat terlibat dalam pengeboman pada 1985. Itu artinya rumah kita bernama Indonesia ini masih potensial kedodoran penjahat dan menuntut pengawasan intens—kita masih memiliki tantangan besar dalam merawat dan menjaga keutuhan negeri ini.

Dalam kasus yang kini tengah beredar luas, yang mula-mulanya sempat mencuat aksi konvoi “Kebangkitan Khilafah” di wilayah Cawang, Jakarta Timur, salah satu Amir Khilafatul Muslimin ini, Muhammad Abudan, mengklaim bahwa organisasinya itu berbeda dengan kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Jika pengakuannya demikian, lantas mengapa ketika konvoi berlangsung banyak gambar-gambar bertuliskan Khilafah Solusi Tuntas Problematika Ummat (dan kalimat serupa lainnya)? Bukankah slogan-slogan ini tidak jauh berbeda dengan kelompok HTI tersebut?

Jika kita mencermati atribut-atribut yang dipakai, cara mereka menyebarkan paham,  kajian-kajian yang mereka sajian, bahkan hingga ideologi yang mereka imani—tidak jauh berbeda dengan kelompok lain seperti JI, NII, JAD, dan ISIS. Hanya saja pola dakwah Khilafatul Muslimin ini dipoles sedemikian rupa untuk menutupi visi misinya dengan mengaku bahwa “kami tidak bertentangan dengan Pancasila”. Yang perlu dicatat ideologi mereka ini adalah bahwa mereka berani mengkafirkan sistem negara yang tidak sesuai dengan pandangan mereka. Idealisasi pandangan yang konon paling benar dan di luar pandangnya adalah salah!

Sesuatu yang sudah kuno dan basi kalau berasumsi bahwa Pancasila tidak sesuai dengan agama! Seolah-olah kalau kita bernegara—itu berarti kita anti agama. Padahal agama dan negara (begitu sebaliknya) ini sudah bersuami istri sakinah mawaddah warahmah. Jelas ini akan merusak sumberdaya ideologis negara yang bernama Pancasila. Organisasi Khilafatul Muslimin ini masuk ke dalam ciri-ciri kelompok radikalisme, ekstremisme, dan konsumerisme, yang mencoba-gantikan Pancasila menjadi negara agama, maka, dapat kita pastikan bahwa kelompok ini berbahaya dan harus kita waspadai dan kalau perlu kita perangi gagasan-gagasannya!

Satu hal yang harus diperhatikan terhadap munculnya gejala terorisme ini yaitu generasi muda. Kita tidak menihilkan bahwa sebagian generasi muda rentang sekali tersengat ajaran terorisme sebab pemahaman agama mereka masih sangat dangkal dan terbatas. Sehingga alam pikiran mereka gampang tersusupi dan bahaya sekali jika doktrin terorisme mengakar dalam benaknya. Untuk itu kesadaran kritis sangat dibutuhkan—baik orang dewasa maupun muda—manakala kita dihadapkan pada ajaran dan doktrin yang mencoba membentur-benturkan Pancasila dengan agama.

Orang yang terperangkap ajaran terorisme pada dasarnya lemah dalam mencerna doktrin ajaran terorisme. Maka yang bakal terjadi, setelah mereka terperangkap dalam kubangan ajaran itu, nilai-nilai kritisisme dalam alam pikiran hilang dan imajinasi tidak mampu membedakan mana ajaran agama suci dan mana kejahatan berbasis agama yang ternodai.

Para korban itu terlampau patuh pada doktrin ajaran (atau aturan ideologi mereka) yang sebenarnya merusak sendi-sendi pokok ajaran agama dan, akibatnya, segala perintah ajaran terorisme itulah mereka imani secara buta. Adolf Eichmann, tokoh penting pengorganisasian holocaust (pembunuhan massal), ketika ditanya Hanna Arent mengapa mendeportasi orang-orang Yahudi di kamp konsentrasi Jerman terkait pembunuhan massal itu—menjawab bahwa ia melakukan semua itu dalam rangka menjalankan tugas.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/