Menyaksikan keindahan pesona tenggelamnya matahari sekaligus meneropong hilal di ufuk barat menjelang magrib, merupakan aktivitas rutinan kami penggiat, pemburu, dan pecinta hilal. Meminjam istilah ahli peribahasa: sambil menyelam minum air. Why not? Sejak zaman nabi-nabi hingga zaman modern kini, aktivitas penentuan awal bulan yang berkaitan khusus dengan ibadah mahdhoh tidak dianggap cukup sekadar dihitung di selembar kertas, namun perlu dibuktikan dengan saksi mata atas penampakan hilal. Saking seriusnya pengamatan ini, maka saksi yang mengaku melihat hilal harus disumpah di bawah alquran oleh pejabat berwenang. Hal ini karena melihat hilal telah mengejawantah sebagai tradisi yang sarat dengan pahala dan nilai ibadah.

Namun demikian, dengan ilmu astronomi modern, dengan metode perhitungan matematik, penampakan hilal di ufuk barat pada tanggal 12 April 2021 telah memenuhi standar kriteria tinggi bulan minimal dua derajat versi kalender NU, kalender takwim pemerintah, ataupun kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) serta telah memenuhi kriteria wujudul hilal versi Muhammadiyah. Dengan demikian, antara NU dan Muhammadiyah kemungkinan besar akan “kompromi” dalam memulai awal puasa Ramadan, yaitu mulai tanggal 13 April 2021.

Akan halnya saat mengakhiri puasa Ramadan, kita akan kembali “kompak” saat berhari raya. Pada tanggal 12 Mei 2021, berbarengan dengan indahnya panorama terbenamnya matahari di ufuk barat. Jika tidak terhalang awan, penampakan hilal akan lebih jelas jika dipotret dengan teropong modern karena tinggi hilal telah memenuhi semua kriteria yang telah kita sebutkan di atas. Bahkan berdasarkan perhitungan astronomi modern, pada titik koordinat tertentu, tinggi hilal dan elongasi bulan mencapai angka delapan derajat. Sehingga 1 Syawal 1442 H pasti akan jatuh pada tanggal 13 Mei 2021. Oleh karenanya, setelah bersama-sama meneropong hilal, ada baiknya jika kita berfoto bersama sambil mengacungkan kedua jari kita membentuk huruf V: cakep?

Bulan Ramadan kali ini merupakan bulan Ramadan kedua selama pandemi Covid-19 berlangsung. Suasana puasa Ramadan kali ini agaknya akan berbeda dengan tahun lalu. Pada puasa Ramadan tahun lalu kita baru memasuki era “semaraknya” suasana Covid-19 dan belum memasuki era new normal. Sehingga kita lebih banyak di rumah dalam menikmati ibadah Ramadan. Hal ini karena pemerintah melarang semua aktivitas ritual ibadah di semua rumah ibadah dan menyarankan agar kita beribadah dan beraktivitas di rumah masing-masing untuk menghindari meluasnya penyebaran Covid-19. Tetapi Ramadan tahun ini, semua tempat ibadah boleh dibuka dengan tetap mematuhi aturan protokol dan prosedur operasional standar kesehatan sehingga kita dapat melaksanakan ritual ibadah di Masjid atau Musalla.

Dalam menyambut datangnya Ramadan, mantan Wakil Presiden RI Yusuf Kalla sebagai mantan Mustasyar (penasehat) PBNU (2015-2020) sekaligus ketua umum DMI (Dewan Masjid Indonesia) periode 2017-2022 telah menyampaikan pesan moral dan mengusulkan agar salat Tarawih dilaksanakan bergelombang menjadi dua shift. Usulan bijak ini direspon dan disambut baik oleh ketua PBNU Kyai Robikin Emha yang menegaskan bahwa: “pandemi Covid-19 jangan sampai mengurangi sedikitpun syiar Ramadan. Pandemi ini harus dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas peribadatan di bulan suci. Kaidahnya jelas, Lha Dharara Wa La Dhirara. Intinya, jangan membahayakan dirinya sendiri dan orang lain dengan mengatur shift waktu pelaksanaan Tarawih. Toh waktu masuk dan batas akhir salat Tarawih cukup panjang”.

Berbeda pemikiran dengan kedua tokoh tersebut, sekretaris umum PP Muhamadiyah, Prof Abdul Mu’ti menegaskan bahwa ia tidak keberatan dengan ide Tarawih dibuat dua shift, namun ia menyarankan agar pelaksanaan salat Tarawih di rumah saja mengingat pandemi belum berakhir. Seperti diberitakan awak media ia menyampaikan: “Secara hukum fikih tidak ada masalah Tarawih dibuat dua shift. Walaupun, karena masih dalam suasana pandemi Covid-19 sebaiknya Tarawih dilaksanakan di rumah. Itu jauh lebih aman. Tarawih di masjid atau musala harus dengan protokol yang ketat”.

Pelaksanaan salat Tarawih “dua shift” sejatinya telah menjadi tradisi dan telah banyak dilakukan di sebagian pesantren ataupun masyarakat pada suasana normal sebelum pandemi. “Shift pertama” adalah seperti umumnya kita melaksanakan salat Tarawih yaitu setelah salat

Isyak. “Shift kedua” juga banyak dilakukan oleh kalangan kyai dan santri yang melaksanakan salat Tarawih di sepertiga malam terakhir dengan harapan bahwa salat Tarawih di masa tersebut adalah waktu istijabah (waktu dikabulkan doa) dan waktu yang berkah, sekalipun segala waktu Ramadan baik siang atau malam adalah sama-sama masa mustajab untuk berdoa.

Di Pondok pesantren (Ponpes) Darussalam Kampung Cidewa, Desa Dewasari, Ciamis, misalnya, ribuan santri ponpes ini telah biasa melaksanakan salat Tarawih “dua shift” sejak tahun 1987 dan cenderung lebih banyak peserta Tarawih pada shift kedua yaitu di sepertiga malam terakhir. Ponpes Al-Fatah Cileungsi, Bogor, juga sudah lama terbiasa salat Tarawih dua gelombang dengan gaya shift yang sama.

Walhasil, apa pun teknis shift yang akan digagas oleh para takmir masjid, namun yang terpenting adalah pelaksanaan salat Tarawih terlaksana dengan tertib dan tidak menimbulkan kerumunan massa sehingga pelaksanaan salat Tarawih berjalan dengan khidmat. Akhirnya, Marhaban ya Ramadan (selamat datang Ramadan).

*) Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN KH Achmad Siddiq Jember dan juga Anggota Asosiasi Jurnal Kajian Islam Indonesia.