alexametrics
24.4 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Pemuda Desa Lokomotif Membangun Peradaban Desa

Mobile_AP_Rectangle 1

Negara merupakan organisasi terbesar dalam masyarakat, yang memiliki tatanan struktur yang tersistem. Mulai dari tatanan pembuat legasi produk hukum atau undang-undang, penyelenggara yang menjalankan undang-undang sampai pengawas undang-undang. Memiliki hierarki dari skala nasional (pusat) hingga ke daerah dan sampai yang terkecil, yaitu desa. Desa adalah daerah otonom yang paling tua, di mana desa lahir sebelum lahirnya daerah koordinasi yang lebih besar dan sebelum lahirnya kerajaan (negara), sehingga ia mempunyai otonomi yang penuh dan asli. Di Indonesia, diperkirakan lebih dari tiga perempat penduduk di Indonesia tinggal di daerah perdesaan. Sehingga selalu menjadi masalah pelik dalam pemajuannya.

Tersendatnya pembangunan nasional salah satu faktornya adalah tidak begitu baiknya mengatrol pembangunan di tataran akar rumput, yaitu desa itu sendiri. Persoalan ini mencoba dipecahkan di era reformasi ini. Pascaruntuhnya era Orde Baru negara mulai memberikan perhatiannya pada desa dengan legitimasi hukum sebagai penguatnya. Contoh UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengakhiri sistem yang sentralistik. Sehingga membuka kembali sebuah wacana dan harapan baru untuk mengembalikan satu perspektif tentang desa, terutama yang berkaitan dengan desa terberdayakan. Namun, legitimasi hukum ini belum sepenuhnya mampu menyelesaikan berbagai problema di desa itu sendiri.

Kemiskinan, angka buta huruf yang tinggi, pengangguran, hingga kesenjangan sosial masih merebak dalam masyarakat desa. Negara belum memiliki stimulus yang efektif dalam menangani hal ini, terutama pemerintah desa. Sedangkan dalam struktur kerja dan pengorganisasian desa cukup komplet mulai dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD), PKK, Posyandu, Gerbangmas, dan karang taruna. Namun, masih dirasa sulit untuk sekadar mengatrol pembangunan di desa secara signifikan. Kebanyakan dari banyaknya desa justru seakan lupa bahwa mereka mempunyai unsur dan elemen penting di dalamnya, yaitu pemuda. Pemuda sebagai generasi harapan bangsa yang memiliki peran sangat penting dalam proses pembangunan bangsa, baik pembangunan di bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya (Londa, 2015). Pemuda desa lebih tepatnya, menjadikan elemen yang diikut sertakan dalam pembangunan desa.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pemuda dinilai menjadi formula yang tepat dalam menggapai agenda kemajuan di suatu wilayah, khususnya desa. Mengingat bahwa sosok pemuda sebagai aset masa depan. Ulung, tangkas, tanggap, dan responsif dalam menyikapi sesuatu. Memiliki tenaga dan pikiran yang masih fresh atau segar dan rasional terhadap dinamisme kehidupan. Kita pikir bahwa sumber daya manusia (SDM) pemuda di desa cukup melimpah. Namun, masih belum mampu terakomodasi dengan baik dan belum mampu terintegrasi secara peran untuk wacana pembangunan desa. Sudah selayaknya pemuda desa dilibatkan dalam wacana pembangunan. Pelibat elemen pemuda ini perlu dibangun secara struktural dan lembaga, untuk menyatukan visi. Jadi, terbentuk hubungan antara pemuda desa dengan rencana pembangunan desa.

Seperti yang disebutkan di atas, elemen kelembagaan desa salah satunya yang mewadahi pemuda adalah karang taruna. Karang taruna sebagai tempat atau wadah pembinaan generasi muda. Berdasarkan hal tersebut keberadaan organisasi kepemudaan desa ini merupakan wadah pengembangan generasi muda yang mempunyai posisi yang cukup strategis dan semakin diperlukan dalam menjawab permasalahan sosial (Novitasari, Triana & Susanto, Fajar, 2019). Maksudnya adalah melalui organisasi kepemudaan desa ini mereka para pemuda mampu menyinergikan antara lembaga desa satu dengan lembaga desa yang lain. Dapat menjadi penerjemah antara pemerintahan desa dengan masyarakat. Tak terkecuali juga dapat membuat sebuah program kepemudaan atau aktivitas kepemudaan yang linier dengan program pemerintah desa itu sendiri. Contoh dalam segmentasi kehidupan desa. Pemuda atau organisasi pemuda desa melakukan pendampingan terhadap kegiatan pertanian, pendidikan, ekonomi, atau pelayanan publik kepada masyarakat.

Membantu para petani yang ada di desa dalam melakukan inovasi terbaru untuk menunjang pertanian masyarakat desa. Teknisnya, pemuda ikut andil langsung dalam hal tersebut, baik secara pengkajian ataupun telaah permasalahan pertanian atau dengan melibatkan pemuda dalam bertani secara praktis dengan metode yang lebih modern. Apalagi metode bertani secara modern dari rumah dewasa ini juga menjadi tren lokal bisnis. Pemuda harus mampu menerapkan hal ini untuk paling tidak menjadi role model bertani dengan teknik modern. Dalam segi memajukan pendidikan dan pembangunan manusia desa, mereka yang terinventarisasi oleh organisasi pemuda dapat melakukan sebuah bimbingan belajar, baik bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu maupun lansia. Ini bertujuan untuk menaikkan kualitas sumber daya manusia desa melalui pendidikan yang digawangi oleh pemuda. Sumber daya pemuda yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik bagi masyarakat desa yang lain harus mengimplementasikan ke desanya dalam mengurangi angka buta huruf dan keterbelakangan pendidikan.

- Advertisement -

Negara merupakan organisasi terbesar dalam masyarakat, yang memiliki tatanan struktur yang tersistem. Mulai dari tatanan pembuat legasi produk hukum atau undang-undang, penyelenggara yang menjalankan undang-undang sampai pengawas undang-undang. Memiliki hierarki dari skala nasional (pusat) hingga ke daerah dan sampai yang terkecil, yaitu desa. Desa adalah daerah otonom yang paling tua, di mana desa lahir sebelum lahirnya daerah koordinasi yang lebih besar dan sebelum lahirnya kerajaan (negara), sehingga ia mempunyai otonomi yang penuh dan asli. Di Indonesia, diperkirakan lebih dari tiga perempat penduduk di Indonesia tinggal di daerah perdesaan. Sehingga selalu menjadi masalah pelik dalam pemajuannya.

Tersendatnya pembangunan nasional salah satu faktornya adalah tidak begitu baiknya mengatrol pembangunan di tataran akar rumput, yaitu desa itu sendiri. Persoalan ini mencoba dipecahkan di era reformasi ini. Pascaruntuhnya era Orde Baru negara mulai memberikan perhatiannya pada desa dengan legitimasi hukum sebagai penguatnya. Contoh UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengakhiri sistem yang sentralistik. Sehingga membuka kembali sebuah wacana dan harapan baru untuk mengembalikan satu perspektif tentang desa, terutama yang berkaitan dengan desa terberdayakan. Namun, legitimasi hukum ini belum sepenuhnya mampu menyelesaikan berbagai problema di desa itu sendiri.

Kemiskinan, angka buta huruf yang tinggi, pengangguran, hingga kesenjangan sosial masih merebak dalam masyarakat desa. Negara belum memiliki stimulus yang efektif dalam menangani hal ini, terutama pemerintah desa. Sedangkan dalam struktur kerja dan pengorganisasian desa cukup komplet mulai dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD), PKK, Posyandu, Gerbangmas, dan karang taruna. Namun, masih dirasa sulit untuk sekadar mengatrol pembangunan di desa secara signifikan. Kebanyakan dari banyaknya desa justru seakan lupa bahwa mereka mempunyai unsur dan elemen penting di dalamnya, yaitu pemuda. Pemuda sebagai generasi harapan bangsa yang memiliki peran sangat penting dalam proses pembangunan bangsa, baik pembangunan di bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya (Londa, 2015). Pemuda desa lebih tepatnya, menjadikan elemen yang diikut sertakan dalam pembangunan desa.

Pemuda dinilai menjadi formula yang tepat dalam menggapai agenda kemajuan di suatu wilayah, khususnya desa. Mengingat bahwa sosok pemuda sebagai aset masa depan. Ulung, tangkas, tanggap, dan responsif dalam menyikapi sesuatu. Memiliki tenaga dan pikiran yang masih fresh atau segar dan rasional terhadap dinamisme kehidupan. Kita pikir bahwa sumber daya manusia (SDM) pemuda di desa cukup melimpah. Namun, masih belum mampu terakomodasi dengan baik dan belum mampu terintegrasi secara peran untuk wacana pembangunan desa. Sudah selayaknya pemuda desa dilibatkan dalam wacana pembangunan. Pelibat elemen pemuda ini perlu dibangun secara struktural dan lembaga, untuk menyatukan visi. Jadi, terbentuk hubungan antara pemuda desa dengan rencana pembangunan desa.

Seperti yang disebutkan di atas, elemen kelembagaan desa salah satunya yang mewadahi pemuda adalah karang taruna. Karang taruna sebagai tempat atau wadah pembinaan generasi muda. Berdasarkan hal tersebut keberadaan organisasi kepemudaan desa ini merupakan wadah pengembangan generasi muda yang mempunyai posisi yang cukup strategis dan semakin diperlukan dalam menjawab permasalahan sosial (Novitasari, Triana & Susanto, Fajar, 2019). Maksudnya adalah melalui organisasi kepemudaan desa ini mereka para pemuda mampu menyinergikan antara lembaga desa satu dengan lembaga desa yang lain. Dapat menjadi penerjemah antara pemerintahan desa dengan masyarakat. Tak terkecuali juga dapat membuat sebuah program kepemudaan atau aktivitas kepemudaan yang linier dengan program pemerintah desa itu sendiri. Contoh dalam segmentasi kehidupan desa. Pemuda atau organisasi pemuda desa melakukan pendampingan terhadap kegiatan pertanian, pendidikan, ekonomi, atau pelayanan publik kepada masyarakat.

Membantu para petani yang ada di desa dalam melakukan inovasi terbaru untuk menunjang pertanian masyarakat desa. Teknisnya, pemuda ikut andil langsung dalam hal tersebut, baik secara pengkajian ataupun telaah permasalahan pertanian atau dengan melibatkan pemuda dalam bertani secara praktis dengan metode yang lebih modern. Apalagi metode bertani secara modern dari rumah dewasa ini juga menjadi tren lokal bisnis. Pemuda harus mampu menerapkan hal ini untuk paling tidak menjadi role model bertani dengan teknik modern. Dalam segi memajukan pendidikan dan pembangunan manusia desa, mereka yang terinventarisasi oleh organisasi pemuda dapat melakukan sebuah bimbingan belajar, baik bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu maupun lansia. Ini bertujuan untuk menaikkan kualitas sumber daya manusia desa melalui pendidikan yang digawangi oleh pemuda. Sumber daya pemuda yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik bagi masyarakat desa yang lain harus mengimplementasikan ke desanya dalam mengurangi angka buta huruf dan keterbelakangan pendidikan.

Negara merupakan organisasi terbesar dalam masyarakat, yang memiliki tatanan struktur yang tersistem. Mulai dari tatanan pembuat legasi produk hukum atau undang-undang, penyelenggara yang menjalankan undang-undang sampai pengawas undang-undang. Memiliki hierarki dari skala nasional (pusat) hingga ke daerah dan sampai yang terkecil, yaitu desa. Desa adalah daerah otonom yang paling tua, di mana desa lahir sebelum lahirnya daerah koordinasi yang lebih besar dan sebelum lahirnya kerajaan (negara), sehingga ia mempunyai otonomi yang penuh dan asli. Di Indonesia, diperkirakan lebih dari tiga perempat penduduk di Indonesia tinggal di daerah perdesaan. Sehingga selalu menjadi masalah pelik dalam pemajuannya.

Tersendatnya pembangunan nasional salah satu faktornya adalah tidak begitu baiknya mengatrol pembangunan di tataran akar rumput, yaitu desa itu sendiri. Persoalan ini mencoba dipecahkan di era reformasi ini. Pascaruntuhnya era Orde Baru negara mulai memberikan perhatiannya pada desa dengan legitimasi hukum sebagai penguatnya. Contoh UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengakhiri sistem yang sentralistik. Sehingga membuka kembali sebuah wacana dan harapan baru untuk mengembalikan satu perspektif tentang desa, terutama yang berkaitan dengan desa terberdayakan. Namun, legitimasi hukum ini belum sepenuhnya mampu menyelesaikan berbagai problema di desa itu sendiri.

Kemiskinan, angka buta huruf yang tinggi, pengangguran, hingga kesenjangan sosial masih merebak dalam masyarakat desa. Negara belum memiliki stimulus yang efektif dalam menangani hal ini, terutama pemerintah desa. Sedangkan dalam struktur kerja dan pengorganisasian desa cukup komplet mulai dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD), PKK, Posyandu, Gerbangmas, dan karang taruna. Namun, masih dirasa sulit untuk sekadar mengatrol pembangunan di desa secara signifikan. Kebanyakan dari banyaknya desa justru seakan lupa bahwa mereka mempunyai unsur dan elemen penting di dalamnya, yaitu pemuda. Pemuda sebagai generasi harapan bangsa yang memiliki peran sangat penting dalam proses pembangunan bangsa, baik pembangunan di bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya (Londa, 2015). Pemuda desa lebih tepatnya, menjadikan elemen yang diikut sertakan dalam pembangunan desa.

Pemuda dinilai menjadi formula yang tepat dalam menggapai agenda kemajuan di suatu wilayah, khususnya desa. Mengingat bahwa sosok pemuda sebagai aset masa depan. Ulung, tangkas, tanggap, dan responsif dalam menyikapi sesuatu. Memiliki tenaga dan pikiran yang masih fresh atau segar dan rasional terhadap dinamisme kehidupan. Kita pikir bahwa sumber daya manusia (SDM) pemuda di desa cukup melimpah. Namun, masih belum mampu terakomodasi dengan baik dan belum mampu terintegrasi secara peran untuk wacana pembangunan desa. Sudah selayaknya pemuda desa dilibatkan dalam wacana pembangunan. Pelibat elemen pemuda ini perlu dibangun secara struktural dan lembaga, untuk menyatukan visi. Jadi, terbentuk hubungan antara pemuda desa dengan rencana pembangunan desa.

Seperti yang disebutkan di atas, elemen kelembagaan desa salah satunya yang mewadahi pemuda adalah karang taruna. Karang taruna sebagai tempat atau wadah pembinaan generasi muda. Berdasarkan hal tersebut keberadaan organisasi kepemudaan desa ini merupakan wadah pengembangan generasi muda yang mempunyai posisi yang cukup strategis dan semakin diperlukan dalam menjawab permasalahan sosial (Novitasari, Triana & Susanto, Fajar, 2019). Maksudnya adalah melalui organisasi kepemudaan desa ini mereka para pemuda mampu menyinergikan antara lembaga desa satu dengan lembaga desa yang lain. Dapat menjadi penerjemah antara pemerintahan desa dengan masyarakat. Tak terkecuali juga dapat membuat sebuah program kepemudaan atau aktivitas kepemudaan yang linier dengan program pemerintah desa itu sendiri. Contoh dalam segmentasi kehidupan desa. Pemuda atau organisasi pemuda desa melakukan pendampingan terhadap kegiatan pertanian, pendidikan, ekonomi, atau pelayanan publik kepada masyarakat.

Membantu para petani yang ada di desa dalam melakukan inovasi terbaru untuk menunjang pertanian masyarakat desa. Teknisnya, pemuda ikut andil langsung dalam hal tersebut, baik secara pengkajian ataupun telaah permasalahan pertanian atau dengan melibatkan pemuda dalam bertani secara praktis dengan metode yang lebih modern. Apalagi metode bertani secara modern dari rumah dewasa ini juga menjadi tren lokal bisnis. Pemuda harus mampu menerapkan hal ini untuk paling tidak menjadi role model bertani dengan teknik modern. Dalam segi memajukan pendidikan dan pembangunan manusia desa, mereka yang terinventarisasi oleh organisasi pemuda dapat melakukan sebuah bimbingan belajar, baik bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu maupun lansia. Ini bertujuan untuk menaikkan kualitas sumber daya manusia desa melalui pendidikan yang digawangi oleh pemuda. Sumber daya pemuda yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik bagi masyarakat desa yang lain harus mengimplementasikan ke desanya dalam mengurangi angka buta huruf dan keterbelakangan pendidikan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/