22.8 C
Jember
Tuesday, 21 March 2023

Setelah Muktamar, Menuju NU Progresif Humoris

Mobile_AP_Rectangle 1

MUKTAMAR NU ke-34 telah dilaksanakan. Perhelatan akbar yang sakral dan dinanti-nanti umat nahdliyin di seluruh tanah air bahkan mungkin dunia. NU tercatat sebagai organisasi Islam terbesar di dunia. Berdasarkan hasil riset yang dikeluarkan oleh lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA (29/2/2020), NU memiliki basis massa yang berjumlah kurang lebih 108 juta orang. Dengan tingkat populasi sedemikian banyaknya, NU menjadi organisasi Islam yang tidak luput dari sorotan dunia. Dan oleh sebab itu, secara tidak langsung, mau tidak mau NU menjadi harapan Islam dan sudah menjadi tanggung jawab NU untuk mencipta peradaban dunia yang maju di satu sisi dan beradab di sisi yang lain. Tidak aneh kemudian ketika tema Muktamar NU ke-34 ini bertajuk “Menuju Satu Abad NU, Membangun Kemandirian Warga untuk Peradaban Dunia”.

Secara semiotik bisa dilihat pada gambar bumi yang ada pada lambang NU sendiri. Sebuah tanda dan penanda yang sangat dalam arti dan maknanya. Gambar bumi yang ada pada lambang NU mengisyaratkan bahwa selain NU menaruh kepedulian pada Indonesia secara komunal, NU juga memiliki tanggung jawab pada nasib dunia secara global. Cita-cita luhur yang telah ditanamkan oleh para muassis (sebutan bagi pendiri NU).

Sedikit ingin penulis ulas mengenai hal itu. Namun, sebelum berbicara ke sana, penulis ingin bercerita beberapa hal menarik, berharga, dan sayang sekali jika dilewatkan. Tontonan yang sekaligus menjadi tuntunan, pelajaran luar biasa dari tokoh Nahdlatul Ulama. Pertama tentang kematangan berdemokrasi. Sebagaimana juga disampaikan oleh salah satu pakar politik, Burhanuddin Muhtadi, dalam sebuah wawancara televisi bahwa apa yang ditunjukkan dua pasangan calon ketua umum PBNU sangatlah luar biasa, menunjukkan nilai demokrasi yang indah, demokrasi santun beradab (tvOne, 25/12/2021).

Mobile_AP_Rectangle 2

Mengutip Henry Bertram Mayo dalam An Introduction to Democratic Theory bahwa prinsip-prinsip demokrat yaitu menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam masyarakat yang sedang mengalami perubahan dan menyelesaikan segala perselisihan dengan damai dan secara kelembagaan. Dan prinsip itu telah ditunjukkan oleh Kiai Said dan Gus Yahya dengan baik. Perdebatan atau adu program tidak menghilangkan sisi moralitas. Sesuai dengan apa yang menjadi prinsip adagium yang pernah diutarakan Abdurrahman Wahid arau Gus Dur, yang paling penting dari politik adalah kemanusiaan.

Kiai Said Aqil Siradj dan Gus Yahya Cholil Staquf sebagai calon ketua umum PBNU masing-masing menunjukkan dan mengajarkan kepada kita, Indonesia secara khusus bahkan dunia secara umum, bahwa demokrasi yang identik dengan debat, adu program, perang gagasan, dan semacamnya tidak sampai menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Beliau berdua menampilkan wajah demokrasi yang terbungkus moralitas yang sangat tinggi. Bisa dilihat ketika prosesi pemilihan, sambutan kesediaan, dan sambutan kemenangan, antara Gus Yahya dan Kiai Said sekali lagi sama-sama menampilkan sikap yang elegan. Gus Yahya meraih tangan Kiai Said, bersalaman sebagaimana adab seorang murid terhadap guru. Begitu pula Kiai Said menaruh hormat pada Gus Yahya bahwa beliau sebenarnya adalah keturunan dari guru ayah Kiai Said sendiri.

Kemudian, pemandangan indah berikutnya adalah bagaimana keteduhan dan kesantunan para kiai AHWA dalam menetapkan Rais Aam sebagai pemimpin tertinggi dalam Nahdlatul Ulama. Dalam tradisi NU ada istilah AHWA, di mana di dalamnya berisi para kiai-kiai sepuh yang dipasrahi tanggung jawab oleh para muktamirin (sebutan bagi peserta NU) untuk memilih Rais Aam atau Rais Akbar. Rais Aam sendiri adalah penasihat tertinggi dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama. Ia menjadi penasihat bagi Ketua Umum sebagai pelaksana program. Kira-kira begitu singkatnya, di samping juga banyak tugas lain. Pemilihan Rais Aam dipasarkan kepada para kiai AHWA. Bisa dilihat bagaimana prosesi musyawarah para kiai AHWA ini, penuh keakraban, kesantunan beliau-beliau. Itulah sedikit pelajaran yang ingin penulis tampilkan sebagai pelajaran buat semua. Lebih-lebih bagi penulis sendiri.

Selain menjadi forum pertanggungjawaban kepengurusan yang akan lengser dan kemudian memilih kepengurusan yang baru, muktamar juga menjadi ajang berkumpulnya para kiai dan cendikiawan untuk membahas hal-hal penting. Dalam muktamar ada forum bahtsul masail waqi’iyyah yang membahas seputar isu-isu sosial keagamaan. Secara singkat dalam forum ini NU menawarkan solusi sosial keagamaan dan kemasyarakatan lewat pendekatan konvensional yakni kitab-kitab turats (klasik) dan juga pendekatan nonkonvensional atau modern meski tidak secara langsung teori-teori sosial digunakan istilahnya. Namun, para kiai dalam mengambil keputusan dan pendapat tidak mengabaikan realitas masyarakat di lapangan. Buktinya tidak jarang atau bahkan harus adanya seorang ahli dalam bidang tertentu terkait objek yang akan dibahas sebelum dicari landasan teorinya dalam literatur agama. Sungguh sebuah pendekatan epistemik dan cara pandang yang elegan. Maju tidak antikekinian, namun tetap menjaga warisan Islam lewat literatur klasik.

Selain itu, muktamar juga membahas sosial ekonomi kemasyarakatan. Ekonomi yang menjadi fondasi awal stabilitas masyarakat menjadi objek penting bagi NU guna terciptanya tatanan masyarakat yang mapan. Indonesia dengan kekayaan alamnya yang sangat melimpah disadari atau tidak masih belum bisa diambil manfaatnya secara masif oleh rakyat Indonesia sendiri. Sebagaimana Karl Marx berkata bahwa kebijakan ekonomi harus dilakukan dan dikelola secara mandiri oleh rakyat sendiri. Sedang di Indonesia hanya didominasi bahkan dimonopoli oleh korporat-korporat kaya. Sementara, rakyat biasa belum bisa merasakan manfaatnya secara maksimal. Padahal bumi dan seisinya adalah hak semua orang. Bukan orang tertentu saja. Dan NU sangat berpotensi untuk menunjang masalah ekonomi ini. Sebagaimana Presiden Jokowi ketika membuka muktamar NU Jokowi mengatakan, NU memiliki kekuatan anak muda dan santri yang berkualitas dengan kompetensi baik. Hal itu perlu dioptimalkan. Jokowi pun menawarkan membuat sebuah wadah berupa kelompok usaha atau konsesi. Sehingga anak muda NU mengembangkan kompetensinya dalam bidang pertanian maupun mineral dan batu bara.

Namun, di samping program-program maju yang sangat progresif di atas, NU tetaplah NU yang humoris dan mencairkan suasana. Nilai-nilai humor NU telah mendarah daging sejak awal NU berdiri. Tanpa humor, bukan NU namanya. Hormon-hormon humor yang ada dalam tubuh NU dan tertanam dalam diri warga NU membuat mereka berpikir lebih jernih. Dan yang terpenting dapat menjaga mereka dari serangan ideologi keras yang tertutup. Dengan humor, warga NU dapat membendung dan menolak radikalisme yang berbahaya. Tanpa dalil-dalil agama sebenarnya, warga NU dapat menepis pemikiran-pemikiran radikal secara spontan. Sisi humor juga banyak terlihat dalam muktamar kemarin. Sandal tertukar dan lainnya.

Yang ingin penulis sampaikan bahwa selain NU tetap terus bergerak maju, namun jangan sampai nilai-nilai humoris hilang. Singkatnya, menjadi NU yang pintar tapi tidak terlalu serius sehingga selera humornya berkurang. Ala kulli hal, semoga NU tetap jaga dan kiai-kiai kita selalu diberi kesehatan oleh Tuhan. Amiin. Wallahu a’lam bis showab.

 

*Penulis adalah warga NU mahasiswa sekolah pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

- Advertisement -

MUKTAMAR NU ke-34 telah dilaksanakan. Perhelatan akbar yang sakral dan dinanti-nanti umat nahdliyin di seluruh tanah air bahkan mungkin dunia. NU tercatat sebagai organisasi Islam terbesar di dunia. Berdasarkan hasil riset yang dikeluarkan oleh lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA (29/2/2020), NU memiliki basis massa yang berjumlah kurang lebih 108 juta orang. Dengan tingkat populasi sedemikian banyaknya, NU menjadi organisasi Islam yang tidak luput dari sorotan dunia. Dan oleh sebab itu, secara tidak langsung, mau tidak mau NU menjadi harapan Islam dan sudah menjadi tanggung jawab NU untuk mencipta peradaban dunia yang maju di satu sisi dan beradab di sisi yang lain. Tidak aneh kemudian ketika tema Muktamar NU ke-34 ini bertajuk “Menuju Satu Abad NU, Membangun Kemandirian Warga untuk Peradaban Dunia”.

Secara semiotik bisa dilihat pada gambar bumi yang ada pada lambang NU sendiri. Sebuah tanda dan penanda yang sangat dalam arti dan maknanya. Gambar bumi yang ada pada lambang NU mengisyaratkan bahwa selain NU menaruh kepedulian pada Indonesia secara komunal, NU juga memiliki tanggung jawab pada nasib dunia secara global. Cita-cita luhur yang telah ditanamkan oleh para muassis (sebutan bagi pendiri NU).

Sedikit ingin penulis ulas mengenai hal itu. Namun, sebelum berbicara ke sana, penulis ingin bercerita beberapa hal menarik, berharga, dan sayang sekali jika dilewatkan. Tontonan yang sekaligus menjadi tuntunan, pelajaran luar biasa dari tokoh Nahdlatul Ulama. Pertama tentang kematangan berdemokrasi. Sebagaimana juga disampaikan oleh salah satu pakar politik, Burhanuddin Muhtadi, dalam sebuah wawancara televisi bahwa apa yang ditunjukkan dua pasangan calon ketua umum PBNU sangatlah luar biasa, menunjukkan nilai demokrasi yang indah, demokrasi santun beradab (tvOne, 25/12/2021).

Mengutip Henry Bertram Mayo dalam An Introduction to Democratic Theory bahwa prinsip-prinsip demokrat yaitu menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam masyarakat yang sedang mengalami perubahan dan menyelesaikan segala perselisihan dengan damai dan secara kelembagaan. Dan prinsip itu telah ditunjukkan oleh Kiai Said dan Gus Yahya dengan baik. Perdebatan atau adu program tidak menghilangkan sisi moralitas. Sesuai dengan apa yang menjadi prinsip adagium yang pernah diutarakan Abdurrahman Wahid arau Gus Dur, yang paling penting dari politik adalah kemanusiaan.

Kiai Said Aqil Siradj dan Gus Yahya Cholil Staquf sebagai calon ketua umum PBNU masing-masing menunjukkan dan mengajarkan kepada kita, Indonesia secara khusus bahkan dunia secara umum, bahwa demokrasi yang identik dengan debat, adu program, perang gagasan, dan semacamnya tidak sampai menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Beliau berdua menampilkan wajah demokrasi yang terbungkus moralitas yang sangat tinggi. Bisa dilihat ketika prosesi pemilihan, sambutan kesediaan, dan sambutan kemenangan, antara Gus Yahya dan Kiai Said sekali lagi sama-sama menampilkan sikap yang elegan. Gus Yahya meraih tangan Kiai Said, bersalaman sebagaimana adab seorang murid terhadap guru. Begitu pula Kiai Said menaruh hormat pada Gus Yahya bahwa beliau sebenarnya adalah keturunan dari guru ayah Kiai Said sendiri.

Kemudian, pemandangan indah berikutnya adalah bagaimana keteduhan dan kesantunan para kiai AHWA dalam menetapkan Rais Aam sebagai pemimpin tertinggi dalam Nahdlatul Ulama. Dalam tradisi NU ada istilah AHWA, di mana di dalamnya berisi para kiai-kiai sepuh yang dipasrahi tanggung jawab oleh para muktamirin (sebutan bagi peserta NU) untuk memilih Rais Aam atau Rais Akbar. Rais Aam sendiri adalah penasihat tertinggi dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama. Ia menjadi penasihat bagi Ketua Umum sebagai pelaksana program. Kira-kira begitu singkatnya, di samping juga banyak tugas lain. Pemilihan Rais Aam dipasarkan kepada para kiai AHWA. Bisa dilihat bagaimana prosesi musyawarah para kiai AHWA ini, penuh keakraban, kesantunan beliau-beliau. Itulah sedikit pelajaran yang ingin penulis tampilkan sebagai pelajaran buat semua. Lebih-lebih bagi penulis sendiri.

Selain menjadi forum pertanggungjawaban kepengurusan yang akan lengser dan kemudian memilih kepengurusan yang baru, muktamar juga menjadi ajang berkumpulnya para kiai dan cendikiawan untuk membahas hal-hal penting. Dalam muktamar ada forum bahtsul masail waqi’iyyah yang membahas seputar isu-isu sosial keagamaan. Secara singkat dalam forum ini NU menawarkan solusi sosial keagamaan dan kemasyarakatan lewat pendekatan konvensional yakni kitab-kitab turats (klasik) dan juga pendekatan nonkonvensional atau modern meski tidak secara langsung teori-teori sosial digunakan istilahnya. Namun, para kiai dalam mengambil keputusan dan pendapat tidak mengabaikan realitas masyarakat di lapangan. Buktinya tidak jarang atau bahkan harus adanya seorang ahli dalam bidang tertentu terkait objek yang akan dibahas sebelum dicari landasan teorinya dalam literatur agama. Sungguh sebuah pendekatan epistemik dan cara pandang yang elegan. Maju tidak antikekinian, namun tetap menjaga warisan Islam lewat literatur klasik.

Selain itu, muktamar juga membahas sosial ekonomi kemasyarakatan. Ekonomi yang menjadi fondasi awal stabilitas masyarakat menjadi objek penting bagi NU guna terciptanya tatanan masyarakat yang mapan. Indonesia dengan kekayaan alamnya yang sangat melimpah disadari atau tidak masih belum bisa diambil manfaatnya secara masif oleh rakyat Indonesia sendiri. Sebagaimana Karl Marx berkata bahwa kebijakan ekonomi harus dilakukan dan dikelola secara mandiri oleh rakyat sendiri. Sedang di Indonesia hanya didominasi bahkan dimonopoli oleh korporat-korporat kaya. Sementara, rakyat biasa belum bisa merasakan manfaatnya secara maksimal. Padahal bumi dan seisinya adalah hak semua orang. Bukan orang tertentu saja. Dan NU sangat berpotensi untuk menunjang masalah ekonomi ini. Sebagaimana Presiden Jokowi ketika membuka muktamar NU Jokowi mengatakan, NU memiliki kekuatan anak muda dan santri yang berkualitas dengan kompetensi baik. Hal itu perlu dioptimalkan. Jokowi pun menawarkan membuat sebuah wadah berupa kelompok usaha atau konsesi. Sehingga anak muda NU mengembangkan kompetensinya dalam bidang pertanian maupun mineral dan batu bara.

Namun, di samping program-program maju yang sangat progresif di atas, NU tetaplah NU yang humoris dan mencairkan suasana. Nilai-nilai humor NU telah mendarah daging sejak awal NU berdiri. Tanpa humor, bukan NU namanya. Hormon-hormon humor yang ada dalam tubuh NU dan tertanam dalam diri warga NU membuat mereka berpikir lebih jernih. Dan yang terpenting dapat menjaga mereka dari serangan ideologi keras yang tertutup. Dengan humor, warga NU dapat membendung dan menolak radikalisme yang berbahaya. Tanpa dalil-dalil agama sebenarnya, warga NU dapat menepis pemikiran-pemikiran radikal secara spontan. Sisi humor juga banyak terlihat dalam muktamar kemarin. Sandal tertukar dan lainnya.

Yang ingin penulis sampaikan bahwa selain NU tetap terus bergerak maju, namun jangan sampai nilai-nilai humoris hilang. Singkatnya, menjadi NU yang pintar tapi tidak terlalu serius sehingga selera humornya berkurang. Ala kulli hal, semoga NU tetap jaga dan kiai-kiai kita selalu diberi kesehatan oleh Tuhan. Amiin. Wallahu a’lam bis showab.

 

*Penulis adalah warga NU mahasiswa sekolah pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

MUKTAMAR NU ke-34 telah dilaksanakan. Perhelatan akbar yang sakral dan dinanti-nanti umat nahdliyin di seluruh tanah air bahkan mungkin dunia. NU tercatat sebagai organisasi Islam terbesar di dunia. Berdasarkan hasil riset yang dikeluarkan oleh lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA (29/2/2020), NU memiliki basis massa yang berjumlah kurang lebih 108 juta orang. Dengan tingkat populasi sedemikian banyaknya, NU menjadi organisasi Islam yang tidak luput dari sorotan dunia. Dan oleh sebab itu, secara tidak langsung, mau tidak mau NU menjadi harapan Islam dan sudah menjadi tanggung jawab NU untuk mencipta peradaban dunia yang maju di satu sisi dan beradab di sisi yang lain. Tidak aneh kemudian ketika tema Muktamar NU ke-34 ini bertajuk “Menuju Satu Abad NU, Membangun Kemandirian Warga untuk Peradaban Dunia”.

Secara semiotik bisa dilihat pada gambar bumi yang ada pada lambang NU sendiri. Sebuah tanda dan penanda yang sangat dalam arti dan maknanya. Gambar bumi yang ada pada lambang NU mengisyaratkan bahwa selain NU menaruh kepedulian pada Indonesia secara komunal, NU juga memiliki tanggung jawab pada nasib dunia secara global. Cita-cita luhur yang telah ditanamkan oleh para muassis (sebutan bagi pendiri NU).

Sedikit ingin penulis ulas mengenai hal itu. Namun, sebelum berbicara ke sana, penulis ingin bercerita beberapa hal menarik, berharga, dan sayang sekali jika dilewatkan. Tontonan yang sekaligus menjadi tuntunan, pelajaran luar biasa dari tokoh Nahdlatul Ulama. Pertama tentang kematangan berdemokrasi. Sebagaimana juga disampaikan oleh salah satu pakar politik, Burhanuddin Muhtadi, dalam sebuah wawancara televisi bahwa apa yang ditunjukkan dua pasangan calon ketua umum PBNU sangatlah luar biasa, menunjukkan nilai demokrasi yang indah, demokrasi santun beradab (tvOne, 25/12/2021).

Mengutip Henry Bertram Mayo dalam An Introduction to Democratic Theory bahwa prinsip-prinsip demokrat yaitu menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam masyarakat yang sedang mengalami perubahan dan menyelesaikan segala perselisihan dengan damai dan secara kelembagaan. Dan prinsip itu telah ditunjukkan oleh Kiai Said dan Gus Yahya dengan baik. Perdebatan atau adu program tidak menghilangkan sisi moralitas. Sesuai dengan apa yang menjadi prinsip adagium yang pernah diutarakan Abdurrahman Wahid arau Gus Dur, yang paling penting dari politik adalah kemanusiaan.

Kiai Said Aqil Siradj dan Gus Yahya Cholil Staquf sebagai calon ketua umum PBNU masing-masing menunjukkan dan mengajarkan kepada kita, Indonesia secara khusus bahkan dunia secara umum, bahwa demokrasi yang identik dengan debat, adu program, perang gagasan, dan semacamnya tidak sampai menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Beliau berdua menampilkan wajah demokrasi yang terbungkus moralitas yang sangat tinggi. Bisa dilihat ketika prosesi pemilihan, sambutan kesediaan, dan sambutan kemenangan, antara Gus Yahya dan Kiai Said sekali lagi sama-sama menampilkan sikap yang elegan. Gus Yahya meraih tangan Kiai Said, bersalaman sebagaimana adab seorang murid terhadap guru. Begitu pula Kiai Said menaruh hormat pada Gus Yahya bahwa beliau sebenarnya adalah keturunan dari guru ayah Kiai Said sendiri.

Kemudian, pemandangan indah berikutnya adalah bagaimana keteduhan dan kesantunan para kiai AHWA dalam menetapkan Rais Aam sebagai pemimpin tertinggi dalam Nahdlatul Ulama. Dalam tradisi NU ada istilah AHWA, di mana di dalamnya berisi para kiai-kiai sepuh yang dipasrahi tanggung jawab oleh para muktamirin (sebutan bagi peserta NU) untuk memilih Rais Aam atau Rais Akbar. Rais Aam sendiri adalah penasihat tertinggi dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama. Ia menjadi penasihat bagi Ketua Umum sebagai pelaksana program. Kira-kira begitu singkatnya, di samping juga banyak tugas lain. Pemilihan Rais Aam dipasarkan kepada para kiai AHWA. Bisa dilihat bagaimana prosesi musyawarah para kiai AHWA ini, penuh keakraban, kesantunan beliau-beliau. Itulah sedikit pelajaran yang ingin penulis tampilkan sebagai pelajaran buat semua. Lebih-lebih bagi penulis sendiri.

Selain menjadi forum pertanggungjawaban kepengurusan yang akan lengser dan kemudian memilih kepengurusan yang baru, muktamar juga menjadi ajang berkumpulnya para kiai dan cendikiawan untuk membahas hal-hal penting. Dalam muktamar ada forum bahtsul masail waqi’iyyah yang membahas seputar isu-isu sosial keagamaan. Secara singkat dalam forum ini NU menawarkan solusi sosial keagamaan dan kemasyarakatan lewat pendekatan konvensional yakni kitab-kitab turats (klasik) dan juga pendekatan nonkonvensional atau modern meski tidak secara langsung teori-teori sosial digunakan istilahnya. Namun, para kiai dalam mengambil keputusan dan pendapat tidak mengabaikan realitas masyarakat di lapangan. Buktinya tidak jarang atau bahkan harus adanya seorang ahli dalam bidang tertentu terkait objek yang akan dibahas sebelum dicari landasan teorinya dalam literatur agama. Sungguh sebuah pendekatan epistemik dan cara pandang yang elegan. Maju tidak antikekinian, namun tetap menjaga warisan Islam lewat literatur klasik.

Selain itu, muktamar juga membahas sosial ekonomi kemasyarakatan. Ekonomi yang menjadi fondasi awal stabilitas masyarakat menjadi objek penting bagi NU guna terciptanya tatanan masyarakat yang mapan. Indonesia dengan kekayaan alamnya yang sangat melimpah disadari atau tidak masih belum bisa diambil manfaatnya secara masif oleh rakyat Indonesia sendiri. Sebagaimana Karl Marx berkata bahwa kebijakan ekonomi harus dilakukan dan dikelola secara mandiri oleh rakyat sendiri. Sedang di Indonesia hanya didominasi bahkan dimonopoli oleh korporat-korporat kaya. Sementara, rakyat biasa belum bisa merasakan manfaatnya secara maksimal. Padahal bumi dan seisinya adalah hak semua orang. Bukan orang tertentu saja. Dan NU sangat berpotensi untuk menunjang masalah ekonomi ini. Sebagaimana Presiden Jokowi ketika membuka muktamar NU Jokowi mengatakan, NU memiliki kekuatan anak muda dan santri yang berkualitas dengan kompetensi baik. Hal itu perlu dioptimalkan. Jokowi pun menawarkan membuat sebuah wadah berupa kelompok usaha atau konsesi. Sehingga anak muda NU mengembangkan kompetensinya dalam bidang pertanian maupun mineral dan batu bara.

Namun, di samping program-program maju yang sangat progresif di atas, NU tetaplah NU yang humoris dan mencairkan suasana. Nilai-nilai humor NU telah mendarah daging sejak awal NU berdiri. Tanpa humor, bukan NU namanya. Hormon-hormon humor yang ada dalam tubuh NU dan tertanam dalam diri warga NU membuat mereka berpikir lebih jernih. Dan yang terpenting dapat menjaga mereka dari serangan ideologi keras yang tertutup. Dengan humor, warga NU dapat membendung dan menolak radikalisme yang berbahaya. Tanpa dalil-dalil agama sebenarnya, warga NU dapat menepis pemikiran-pemikiran radikal secara spontan. Sisi humor juga banyak terlihat dalam muktamar kemarin. Sandal tertukar dan lainnya.

Yang ingin penulis sampaikan bahwa selain NU tetap terus bergerak maju, namun jangan sampai nilai-nilai humoris hilang. Singkatnya, menjadi NU yang pintar tapi tidak terlalu serius sehingga selera humornya berkurang. Ala kulli hal, semoga NU tetap jaga dan kiai-kiai kita selalu diberi kesehatan oleh Tuhan. Amiin. Wallahu a’lam bis showab.

 

*Penulis adalah warga NU mahasiswa sekolah pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca