alexametrics
27.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Setelah Muktamar, Menuju NU Progresif Humoris

Mobile_AP_Rectangle 1

MUKTAMAR NU ke-34 telah dilaksanakan. Perhelatan akbar yang sakral dan dinanti-nanti umat nahdliyin di seluruh tanah air bahkan mungkin dunia. NU tercatat sebagai organisasi Islam terbesar di dunia. Berdasarkan hasil riset yang dikeluarkan oleh lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA (29/2/2020), NU memiliki basis massa yang berjumlah kurang lebih 108 juta orang. Dengan tingkat populasi sedemikian banyaknya, NU menjadi organisasi Islam yang tidak luput dari sorotan dunia. Dan oleh sebab itu, secara tidak langsung, mau tidak mau NU menjadi harapan Islam dan sudah menjadi tanggung jawab NU untuk mencipta peradaban dunia yang maju di satu sisi dan beradab di sisi yang lain. Tidak aneh kemudian ketika tema Muktamar NU ke-34 ini bertajuk “Menuju Satu Abad NU, Membangun Kemandirian Warga untuk Peradaban Dunia”.

Secara semiotik bisa dilihat pada gambar bumi yang ada pada lambang NU sendiri. Sebuah tanda dan penanda yang sangat dalam arti dan maknanya. Gambar bumi yang ada pada lambang NU mengisyaratkan bahwa selain NU menaruh kepedulian pada Indonesia secara komunal, NU juga memiliki tanggung jawab pada nasib dunia secara global. Cita-cita luhur yang telah ditanamkan oleh para muassis (sebutan bagi pendiri NU).

Sedikit ingin penulis ulas mengenai hal itu. Namun, sebelum berbicara ke sana, penulis ingin bercerita beberapa hal menarik, berharga, dan sayang sekali jika dilewatkan. Tontonan yang sekaligus menjadi tuntunan, pelajaran luar biasa dari tokoh Nahdlatul Ulama. Pertama tentang kematangan berdemokrasi. Sebagaimana juga disampaikan oleh salah satu pakar politik, Burhanuddin Muhtadi, dalam sebuah wawancara televisi bahwa apa yang ditunjukkan dua pasangan calon ketua umum PBNU sangatlah luar biasa, menunjukkan nilai demokrasi yang indah, demokrasi santun beradab (tvOne, 25/12/2021).

Mobile_AP_Rectangle 2

Mengutip Henry Bertram Mayo dalam An Introduction to Democratic Theory bahwa prinsip-prinsip demokrat yaitu menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam masyarakat yang sedang mengalami perubahan dan menyelesaikan segala perselisihan dengan damai dan secara kelembagaan. Dan prinsip itu telah ditunjukkan oleh Kiai Said dan Gus Yahya dengan baik. Perdebatan atau adu program tidak menghilangkan sisi moralitas. Sesuai dengan apa yang menjadi prinsip adagium yang pernah diutarakan Abdurrahman Wahid arau Gus Dur, yang paling penting dari politik adalah kemanusiaan.

Kiai Said Aqil Siradj dan Gus Yahya Cholil Staquf sebagai calon ketua umum PBNU masing-masing menunjukkan dan mengajarkan kepada kita, Indonesia secara khusus bahkan dunia secara umum, bahwa demokrasi yang identik dengan debat, adu program, perang gagasan, dan semacamnya tidak sampai menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Beliau berdua menampilkan wajah demokrasi yang terbungkus moralitas yang sangat tinggi. Bisa dilihat ketika prosesi pemilihan, sambutan kesediaan, dan sambutan kemenangan, antara Gus Yahya dan Kiai Said sekali lagi sama-sama menampilkan sikap yang elegan. Gus Yahya meraih tangan Kiai Said, bersalaman sebagaimana adab seorang murid terhadap guru. Begitu pula Kiai Said menaruh hormat pada Gus Yahya bahwa beliau sebenarnya adalah keturunan dari guru ayah Kiai Said sendiri.

Kemudian, pemandangan indah berikutnya adalah bagaimana keteduhan dan kesantunan para kiai AHWA dalam menetapkan Rais Aam sebagai pemimpin tertinggi dalam Nahdlatul Ulama. Dalam tradisi NU ada istilah AHWA, di mana di dalamnya berisi para kiai-kiai sepuh yang dipasrahi tanggung jawab oleh para muktamirin (sebutan bagi peserta NU) untuk memilih Rais Aam atau Rais Akbar. Rais Aam sendiri adalah penasihat tertinggi dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama. Ia menjadi penasihat bagi Ketua Umum sebagai pelaksana program. Kira-kira begitu singkatnya, di samping juga banyak tugas lain. Pemilihan Rais Aam dipasarkan kepada para kiai AHWA. Bisa dilihat bagaimana prosesi musyawarah para kiai AHWA ini, penuh keakraban, kesantunan beliau-beliau. Itulah sedikit pelajaran yang ingin penulis tampilkan sebagai pelajaran buat semua. Lebih-lebih bagi penulis sendiri.

Selain menjadi forum pertanggungjawaban kepengurusan yang akan lengser dan kemudian memilih kepengurusan yang baru, muktamar juga menjadi ajang berkumpulnya para kiai dan cendikiawan untuk membahas hal-hal penting. Dalam muktamar ada forum bahtsul masail waqi’iyyah yang membahas seputar isu-isu sosial keagamaan. Secara singkat dalam forum ini NU menawarkan solusi sosial keagamaan dan kemasyarakatan lewat pendekatan konvensional yakni kitab-kitab turats (klasik) dan juga pendekatan nonkonvensional atau modern meski tidak secara langsung teori-teori sosial digunakan istilahnya. Namun, para kiai dalam mengambil keputusan dan pendapat tidak mengabaikan realitas masyarakat di lapangan. Buktinya tidak jarang atau bahkan harus adanya seorang ahli dalam bidang tertentu terkait objek yang akan dibahas sebelum dicari landasan teorinya dalam literatur agama. Sungguh sebuah pendekatan epistemik dan cara pandang yang elegan. Maju tidak antikekinian, namun tetap menjaga warisan Islam lewat literatur klasik.

- Advertisement -

MUKTAMAR NU ke-34 telah dilaksanakan. Perhelatan akbar yang sakral dan dinanti-nanti umat nahdliyin di seluruh tanah air bahkan mungkin dunia. NU tercatat sebagai organisasi Islam terbesar di dunia. Berdasarkan hasil riset yang dikeluarkan oleh lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA (29/2/2020), NU memiliki basis massa yang berjumlah kurang lebih 108 juta orang. Dengan tingkat populasi sedemikian banyaknya, NU menjadi organisasi Islam yang tidak luput dari sorotan dunia. Dan oleh sebab itu, secara tidak langsung, mau tidak mau NU menjadi harapan Islam dan sudah menjadi tanggung jawab NU untuk mencipta peradaban dunia yang maju di satu sisi dan beradab di sisi yang lain. Tidak aneh kemudian ketika tema Muktamar NU ke-34 ini bertajuk “Menuju Satu Abad NU, Membangun Kemandirian Warga untuk Peradaban Dunia”.

Secara semiotik bisa dilihat pada gambar bumi yang ada pada lambang NU sendiri. Sebuah tanda dan penanda yang sangat dalam arti dan maknanya. Gambar bumi yang ada pada lambang NU mengisyaratkan bahwa selain NU menaruh kepedulian pada Indonesia secara komunal, NU juga memiliki tanggung jawab pada nasib dunia secara global. Cita-cita luhur yang telah ditanamkan oleh para muassis (sebutan bagi pendiri NU).

Sedikit ingin penulis ulas mengenai hal itu. Namun, sebelum berbicara ke sana, penulis ingin bercerita beberapa hal menarik, berharga, dan sayang sekali jika dilewatkan. Tontonan yang sekaligus menjadi tuntunan, pelajaran luar biasa dari tokoh Nahdlatul Ulama. Pertama tentang kematangan berdemokrasi. Sebagaimana juga disampaikan oleh salah satu pakar politik, Burhanuddin Muhtadi, dalam sebuah wawancara televisi bahwa apa yang ditunjukkan dua pasangan calon ketua umum PBNU sangatlah luar biasa, menunjukkan nilai demokrasi yang indah, demokrasi santun beradab (tvOne, 25/12/2021).

Mengutip Henry Bertram Mayo dalam An Introduction to Democratic Theory bahwa prinsip-prinsip demokrat yaitu menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam masyarakat yang sedang mengalami perubahan dan menyelesaikan segala perselisihan dengan damai dan secara kelembagaan. Dan prinsip itu telah ditunjukkan oleh Kiai Said dan Gus Yahya dengan baik. Perdebatan atau adu program tidak menghilangkan sisi moralitas. Sesuai dengan apa yang menjadi prinsip adagium yang pernah diutarakan Abdurrahman Wahid arau Gus Dur, yang paling penting dari politik adalah kemanusiaan.

Kiai Said Aqil Siradj dan Gus Yahya Cholil Staquf sebagai calon ketua umum PBNU masing-masing menunjukkan dan mengajarkan kepada kita, Indonesia secara khusus bahkan dunia secara umum, bahwa demokrasi yang identik dengan debat, adu program, perang gagasan, dan semacamnya tidak sampai menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Beliau berdua menampilkan wajah demokrasi yang terbungkus moralitas yang sangat tinggi. Bisa dilihat ketika prosesi pemilihan, sambutan kesediaan, dan sambutan kemenangan, antara Gus Yahya dan Kiai Said sekali lagi sama-sama menampilkan sikap yang elegan. Gus Yahya meraih tangan Kiai Said, bersalaman sebagaimana adab seorang murid terhadap guru. Begitu pula Kiai Said menaruh hormat pada Gus Yahya bahwa beliau sebenarnya adalah keturunan dari guru ayah Kiai Said sendiri.

Kemudian, pemandangan indah berikutnya adalah bagaimana keteduhan dan kesantunan para kiai AHWA dalam menetapkan Rais Aam sebagai pemimpin tertinggi dalam Nahdlatul Ulama. Dalam tradisi NU ada istilah AHWA, di mana di dalamnya berisi para kiai-kiai sepuh yang dipasrahi tanggung jawab oleh para muktamirin (sebutan bagi peserta NU) untuk memilih Rais Aam atau Rais Akbar. Rais Aam sendiri adalah penasihat tertinggi dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama. Ia menjadi penasihat bagi Ketua Umum sebagai pelaksana program. Kira-kira begitu singkatnya, di samping juga banyak tugas lain. Pemilihan Rais Aam dipasarkan kepada para kiai AHWA. Bisa dilihat bagaimana prosesi musyawarah para kiai AHWA ini, penuh keakraban, kesantunan beliau-beliau. Itulah sedikit pelajaran yang ingin penulis tampilkan sebagai pelajaran buat semua. Lebih-lebih bagi penulis sendiri.

Selain menjadi forum pertanggungjawaban kepengurusan yang akan lengser dan kemudian memilih kepengurusan yang baru, muktamar juga menjadi ajang berkumpulnya para kiai dan cendikiawan untuk membahas hal-hal penting. Dalam muktamar ada forum bahtsul masail waqi’iyyah yang membahas seputar isu-isu sosial keagamaan. Secara singkat dalam forum ini NU menawarkan solusi sosial keagamaan dan kemasyarakatan lewat pendekatan konvensional yakni kitab-kitab turats (klasik) dan juga pendekatan nonkonvensional atau modern meski tidak secara langsung teori-teori sosial digunakan istilahnya. Namun, para kiai dalam mengambil keputusan dan pendapat tidak mengabaikan realitas masyarakat di lapangan. Buktinya tidak jarang atau bahkan harus adanya seorang ahli dalam bidang tertentu terkait objek yang akan dibahas sebelum dicari landasan teorinya dalam literatur agama. Sungguh sebuah pendekatan epistemik dan cara pandang yang elegan. Maju tidak antikekinian, namun tetap menjaga warisan Islam lewat literatur klasik.

MUKTAMAR NU ke-34 telah dilaksanakan. Perhelatan akbar yang sakral dan dinanti-nanti umat nahdliyin di seluruh tanah air bahkan mungkin dunia. NU tercatat sebagai organisasi Islam terbesar di dunia. Berdasarkan hasil riset yang dikeluarkan oleh lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA (29/2/2020), NU memiliki basis massa yang berjumlah kurang lebih 108 juta orang. Dengan tingkat populasi sedemikian banyaknya, NU menjadi organisasi Islam yang tidak luput dari sorotan dunia. Dan oleh sebab itu, secara tidak langsung, mau tidak mau NU menjadi harapan Islam dan sudah menjadi tanggung jawab NU untuk mencipta peradaban dunia yang maju di satu sisi dan beradab di sisi yang lain. Tidak aneh kemudian ketika tema Muktamar NU ke-34 ini bertajuk “Menuju Satu Abad NU, Membangun Kemandirian Warga untuk Peradaban Dunia”.

Secara semiotik bisa dilihat pada gambar bumi yang ada pada lambang NU sendiri. Sebuah tanda dan penanda yang sangat dalam arti dan maknanya. Gambar bumi yang ada pada lambang NU mengisyaratkan bahwa selain NU menaruh kepedulian pada Indonesia secara komunal, NU juga memiliki tanggung jawab pada nasib dunia secara global. Cita-cita luhur yang telah ditanamkan oleh para muassis (sebutan bagi pendiri NU).

Sedikit ingin penulis ulas mengenai hal itu. Namun, sebelum berbicara ke sana, penulis ingin bercerita beberapa hal menarik, berharga, dan sayang sekali jika dilewatkan. Tontonan yang sekaligus menjadi tuntunan, pelajaran luar biasa dari tokoh Nahdlatul Ulama. Pertama tentang kematangan berdemokrasi. Sebagaimana juga disampaikan oleh salah satu pakar politik, Burhanuddin Muhtadi, dalam sebuah wawancara televisi bahwa apa yang ditunjukkan dua pasangan calon ketua umum PBNU sangatlah luar biasa, menunjukkan nilai demokrasi yang indah, demokrasi santun beradab (tvOne, 25/12/2021).

Mengutip Henry Bertram Mayo dalam An Introduction to Democratic Theory bahwa prinsip-prinsip demokrat yaitu menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam masyarakat yang sedang mengalami perubahan dan menyelesaikan segala perselisihan dengan damai dan secara kelembagaan. Dan prinsip itu telah ditunjukkan oleh Kiai Said dan Gus Yahya dengan baik. Perdebatan atau adu program tidak menghilangkan sisi moralitas. Sesuai dengan apa yang menjadi prinsip adagium yang pernah diutarakan Abdurrahman Wahid arau Gus Dur, yang paling penting dari politik adalah kemanusiaan.

Kiai Said Aqil Siradj dan Gus Yahya Cholil Staquf sebagai calon ketua umum PBNU masing-masing menunjukkan dan mengajarkan kepada kita, Indonesia secara khusus bahkan dunia secara umum, bahwa demokrasi yang identik dengan debat, adu program, perang gagasan, dan semacamnya tidak sampai menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan. Beliau berdua menampilkan wajah demokrasi yang terbungkus moralitas yang sangat tinggi. Bisa dilihat ketika prosesi pemilihan, sambutan kesediaan, dan sambutan kemenangan, antara Gus Yahya dan Kiai Said sekali lagi sama-sama menampilkan sikap yang elegan. Gus Yahya meraih tangan Kiai Said, bersalaman sebagaimana adab seorang murid terhadap guru. Begitu pula Kiai Said menaruh hormat pada Gus Yahya bahwa beliau sebenarnya adalah keturunan dari guru ayah Kiai Said sendiri.

Kemudian, pemandangan indah berikutnya adalah bagaimana keteduhan dan kesantunan para kiai AHWA dalam menetapkan Rais Aam sebagai pemimpin tertinggi dalam Nahdlatul Ulama. Dalam tradisi NU ada istilah AHWA, di mana di dalamnya berisi para kiai-kiai sepuh yang dipasrahi tanggung jawab oleh para muktamirin (sebutan bagi peserta NU) untuk memilih Rais Aam atau Rais Akbar. Rais Aam sendiri adalah penasihat tertinggi dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama. Ia menjadi penasihat bagi Ketua Umum sebagai pelaksana program. Kira-kira begitu singkatnya, di samping juga banyak tugas lain. Pemilihan Rais Aam dipasarkan kepada para kiai AHWA. Bisa dilihat bagaimana prosesi musyawarah para kiai AHWA ini, penuh keakraban, kesantunan beliau-beliau. Itulah sedikit pelajaran yang ingin penulis tampilkan sebagai pelajaran buat semua. Lebih-lebih bagi penulis sendiri.

Selain menjadi forum pertanggungjawaban kepengurusan yang akan lengser dan kemudian memilih kepengurusan yang baru, muktamar juga menjadi ajang berkumpulnya para kiai dan cendikiawan untuk membahas hal-hal penting. Dalam muktamar ada forum bahtsul masail waqi’iyyah yang membahas seputar isu-isu sosial keagamaan. Secara singkat dalam forum ini NU menawarkan solusi sosial keagamaan dan kemasyarakatan lewat pendekatan konvensional yakni kitab-kitab turats (klasik) dan juga pendekatan nonkonvensional atau modern meski tidak secara langsung teori-teori sosial digunakan istilahnya. Namun, para kiai dalam mengambil keputusan dan pendapat tidak mengabaikan realitas masyarakat di lapangan. Buktinya tidak jarang atau bahkan harus adanya seorang ahli dalam bidang tertentu terkait objek yang akan dibahas sebelum dicari landasan teorinya dalam literatur agama. Sungguh sebuah pendekatan epistemik dan cara pandang yang elegan. Maju tidak antikekinian, namun tetap menjaga warisan Islam lewat literatur klasik.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/