BERBAUR di tengah kehidupan masyarakat desa, peran aktif para guru selalu dinanti. Guru masih dipersepsi sebagai sosok yang mudah berpartisipasi dalam beragam lini. Ibarat Semar dalam pewayangan, seorang guru dianggap sosok yang bajik dan bijak. Kehadirannya yang mampu mendidik anak-anak bangsa di bawah atap langit-langit kelas, sekaligus dianggap piawai mengedukasi masyarakat di bawah langit yang sangat luas. Kompetensi sosial yang dimilikinya, yang terpatri dalam ragam kegiatan selama ini menjadi alasan kuat bahwa guru memiliki magnet hebat untuk senantiasa dilibatkan dalam kancah pembangunan bangsa.

IKLAN

Dengan kasat mata kita bisa menyaksikan peran ganda guru di lapangan. Terdepan mencerdaskan anak-anak bangsa, sekaligus sebagai kekuatan moral intelectual dan penggerak perubahan ke arah kehidupan masyarakat yang lebih baik. Dalam denyut nadi kehidupan nyata, bilik-bilik penting banyak diisi para guru. Sejak menjadi Ketua RT, RW, Ketua Rukun Kifayah, Panitia Pilkades, guru ngaji, memelopori bakti sosial, hampir semuanya berasal dari guru.

Menjelang akhir tahun 2019, beberapa daerah akan menyelenggarakan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) secara serentak. Sebuah pentas demokrasi paling panas jika dibandingkan dengan pilpres, pileg, pilgub, bahkan pilbub. Inilah pesta demokrasi yang sangat rentan dengan intrik, konspirasi, perseteruan, disintegrasi, dan conflict of interest. Munculnya spekulan politik dan para petaruh yang hanya ingin menangguk keuntungan sesaat telah merecoki bangunan politik yang mulai mapan, menjadi beban tersendiri dalam proses pendewasaan demokrasi masyarakat desa.

Infiltrasi dan intervensi dari pihak eksternal dengan kekuatan modal bisa saja mempengaruhi model politik masyarakat desa. Kedaaan yang seperti ini harus dilawan dengan budaya politik baru yang lebih beradab dan bermartabat. Rekuitment kepemimpinan dengan cara-cara yang tidak elegan harus disudahi. Watak politik baru yang lebih rahmatan lil alamin, santun, berkompetisi secara sehat, siap kalah siap menang, secepatnya bisa menggeser pendekatan yang distruktif tadi.

Pilkades menjadi kontestasi yang paling hidup dibanding dengan kegiatan pesta demokrasi lainnya. Semangat memenangkan sang calon pujaan begitu luar biasa. Hal ini dikarenakan yang menjadi calon adalah saudara sendiri, tetangga dekat, teman dekat, yang wajah dan kepribadiannya melekat dalam gerak sehari-hari. Karakternya begitu familiar dalam kehidupan nyata. Para pemilih merasa include dengan sang calon. Bahkan spirit perjuangan yang ditunjukkan kadang berlebihan dalam pemberian dukungan. Di sinilah awal gesekan antar pendukung sangat mungkin terjadi. Muncullah saling mem-bully, bahkan saling menghabisi.

Pada saat pilpres atau pileg, para pemilih tak terlalu banyak tahu tentang rekam jejaknya sang calon. Beda dengan pilkades, sang calon akan benar-benar ditelanjangi perjalanan hidupnya, dibedah habis-habisan hitam putih kepribadiannya. Dalam hitungan detik masyarakat akan menutup mata atas kebaikan-kebaikan yang telah ditorehnya, melupakan segala atribut keberhasilannya. Para pemilih akan fokus menyoroti noda yang menempel pada dirinya, bukan sibuk dengan program yang ditawarkannya. Para pemilih benar-benar menjadikan pilkades sebagai panggung untuk menguliti sang calon. Betapa sadis dan mengerikan bukan!

Dalam kondisi seperti itulah, sosok guru memiliki probabilitas tinggi untuk menawarkan gaya politik yang lebih soft untuk menekan gejolak yang kian meningkat. Hal ini berfungsi sebagai upaya membantu proses pematangan wajah politik masyarakat desa. Kampanye hitam, fanatisme sempit, primordialisme basi sudah saatnya dikubur diganti dengan narasi-narasi segar yang menstimulasi para pemilih untuk menggunakan logika. Output kepemimpinan yang terkesan fanatis, lambat laun akan diganti oleh output kepemimpinan rasional dan logis.

Mengingat peran strategisnya para guru, sebagai motivator dan inspirator, terlalu naïf jika sosok guru harus memasuki wilayah supporter politik. Urgensi kehadiran peran guru sejatinya mulai beralih dari menjatuhkan dukungan secara vulgar kepada salah seorang calon, menjadi sang pencerah terhadap proses politik yang sedang berjalan. Peran mencerahkan akan lebih signifikan dibanding terlibat langsung menjadi voter, follower apalagi sebagai vote getter.

Pengetahuan politik masyarakat desa yang serba terbatas ditambah lagi dengan pengalaman belajar yang rata-rata terlalu singkat, berakibat pada pemaknaan tentang politik dalam pilkades menjadi bias. Dalam masyarakat yang terpelajar, memaknai politik sebagai permainan yang menggembirakan (fun game), akan tetapi bagi masyarakat akar rumput, politik menjadi permainan yang begitu mengerikan (danger game). Kegaduhan bukan lagi pada perbedaan program strategis tapi cenderung pada fanatisme membabi jauh meninggalkan wilayah rasionalitas.

Dalam situasi politik yang krusial seperti itulah sosok guru bisa tampil menawarkan semangat kemajuan, mengalirkan kesejukan, sekaligus berfungsi sebagai perajut kemajemukan. Riak-riak perpecahan lima tahunan bisa secepatnya ditutup dengan peran nyata mempropagandakan arti penting persaudaraan dan persatuan. Diskusi dan perdebataan bukan lagi berada pada wilayah saling menjatuhkan dalam kampanye hitam, akan tetapi melihat secara jernih kemampuan soft skill, leadership, kemampuan komunikasi, kematangan kepribadian, keunggulan spiritual, dan kecerdasan emosionalnya, sudah saatnya dikedepankan.

Pendidikan karakter dan kearifan lokal yang disemai di sekolah-sekolah sudah saatnya ditransformasikan ke dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas, yang masih hidup bisa dioptimalkan, sehingga menjadi daya dorong terhadap hidup matinya demokrasi itu sendiri. Eskalasi politik yang cenderung naik prapilkades bisa ditahan dengan jargon-jargon demokrasi yang lebih mendidik. Meminjam istilah Buya Syafii Maarif, dalam persoalan demokrasi kita berbeda dalam persaudaraan dan bersaudara dalam perbedaan.

Sebagai sosok Semar, guru sejatinya dapat mengambil peran sebagai panutan dalam membangun pilkades yang lebih beritegritas. Kehangatan dan kedekatan dengan semua calon sebagai ikhtiar baru berdemokrasi untuk meredam emosi pemilih yang bergejolak. Peran-peran magnetis seperti itulah yang akan menjadi pilihan berdemokrasi. Terlalu murah jika keberpihakannya kepada salah seorang calon harus merontokkan nilai-nilai persatuan dan persaudaraan yang sudah terbangun indah selama ini. Kearifan orang Madura bisa dijadikan referensi: Soal péléan ollé bhidhâ, tapé sé atarétan tak ollé aobâ (soal pilihan boleh beda, tapi persaudaran tidak boleh berubah). Selamat berdemokrasi!

*) Penulis adalah praktisi pendidikan dan Sekretaris PGRI Bondowoso.